04 – Memberi Batas

2093 Words
What If I Fallin’ Love (Again)? 04 – Memberi Batas Sebuah senyuman samar—sangat samar—terukir di wajah tampan milik Satya ketika melihat bagaimana raut wajah Aiyana saat pertama kali mata mereka saling bertatapan. Padahal sebelumnya, tepat dibalik tulang rusuknya jantung Satya berdetak dengan sangat kencang dengan irama yang kacau layaknya sebuah orkestra tanpa konduktor. Itu sebabnya, Satya tak langsung menoleh ketika pintu ruang kelasnya terbuka. Dalam hatinya sangat yakin jika yang membuka pintu dan terlambat itu adalah Aiyana karena dirinya baru saja mengabsen satu persatu mahasiswa yang hadir di dalam kelas dan memang hanya Aiyana saja yang belum nampak batang hidungnya. Benar saja dugaannya, tepat saat dirinya memutar tubuh secara perlahan, saat itu juga dunia berputar secara perlahan, detak jantungnya yang tadinya berpacu sangat kencang layaknya orang yang habis lari sprint itu menjadi lebih tenang, ada kehangatan yang mulai merayap ke hatinya, dan yang paling berbahaya adalah keinginan Satya untuk memeluk Aiyana pun timbul—rasa rindu, ya itu adalah kerinduan Satya untuk memeluk tubuh mungil Aiyana. “Dasar gadis bodoh, sejak dulu sifatnya tidak berubah,” gumam Satya sembari memandangi sebuah bingkai foto yang berisi foto dirinya dan Aiyana. “Salah ruangan katanya?” Satya kembali mengenang apa yang terjadi di dalam kelasnya pagi ini. Tawanya bergema di seluruh ruangan, untung saja dia memiliki ruangannya sendiri hingga tidak begitu menarik perhatian. “Bagaimana kamu bisa kepikiran begitu, Ay … Ay … kamu kok lucu banget.” Satya masih tak bisa menghentikan kekehannya, hingga ketukan di pintu membuatnya berhenti tertawa dan memasang wajah seriusnya, wajah yang selalu dia tunjukkan kepada semua koleganya. “Masuk,” ujar Satya mempersilakan siapapun yang ada di balik pintu ruangannya untuk masuk. Satya bersiap-siap menerima kedatangan Aiyana. Di dalam otaknya saat ini hanya ada Aiyana, Aiyana, Aiyana, dan Aiyana. Pintu perlahan dibuka dan jantung Satya berdegup dengan kencang seperti seorang remaja yang sedang kasmaran menunggu jawaban dari orang yang baru saja ditembak. Ketika pintu terbuka muncul sosok wanita sedikit paruh baya, berbeda sekali dengan Aiyana. Wanita itu menggunakan kacamata, pakaiannya dari ujung kepala hingga ujung kakinya sangat matching warnanya dan cukup mencolok bagi Satya, karena dia tidak terlalu suka warna turqoise yang digunakan oleh wanita itu. Menurut Satya warna itu seperti warna yang tanggung, dia tidak biru tidak juga hijau, sesuatu yang seperti itu tak bisa masuk ke dalam list favoritnya termasuk juga hubungannya dengan Aiyana. Tiga tahun mereka ‘berpisah’ tapi tidak benar-benar berpisah, mereka tidak bercerai, secara hukum Aiyana masih istrinya yang sah, secara agama pun Satya belum pernah mengatakan akan menceraikan Aiyana, tetapi Aiyana sendiri yang meminta untuk berpisah. “Bu Ratna … silakan masuk, Bu.” Satya tampak kecewa setelah melihat Bu Ratnalah yang datang ke ruangannya dan bukannya Aiyana. Padahal dirinya sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan sang istri dengan tangan terbuka. “Terima kasih, Pak Satya.” Wanita bernama Ratna itu pun duduk dengan anggun di depan meja kerja Satya, ia menatap sekeliling ruangan tersebut dengan seksama kemudian pandangannya berhenti pada Satya yang terlihat tampan, gagah, berwibawa dan terlihat cerdas. “Ada apa ya, Bu Ratna sampai repot-repot datang ke ruangan saya. Harusnya ibu panggil saya saja biar saya yang datang ke ruangan Ibu.” “Aduh, jangan terlalu formal begitu lah, Pak Satya. Saya kemari Cuma mau menyapa saja kok. Pak Satya kan sudah lama nggak ngajar jadi saya penasaran, apakah ada alasan khusus kenapa Pak Satya menawarkan diri untuk mengajar pada periode tahun ini?” tampaknya si Ibu Ratna ini bukan orang yang suka basa-basi. Satya bisa memahaminya karena Ibu Ratna adalah ketua program studi di fakultas, dan kehadiran Satya kembali ke kampus merupakan sesuatu yang mendadak. Satya sudah mengurus semua administrasi agar dirinya bisa kembali mengajar hanya saja apa alasannya dia kembali tidak seorang pun tahu. “Tidak ada alasan khusus, Bu. Saya hanya ingin menambah pengalaman saja. Ini juga salah satu keinginan kakek, jadi yaa hanya sebatas itu saja.” Satya tak sepenuhnya berbohong, kampus tempatnya mengajar ini adalah tempat di mana kakeknya menjadi salah satu donatur utama, dulunya sang kakek juga merupakan salah satu pengajar di kampus ini sebelum akhirnya menjadi salah satu pemilik firma hukum terbesar di Indonesia. Kakek menginginkan Satya memiliki pengalaman mengajar untuk mengasah kemampuannya juga untuk membentuk calon praktisi hukum agar lebih baik lagi. “Bisakah saya artikan jika Pak Dewangga mulai berpikir untuk—” “Tentu saja tidak.” Satya menyelanya dengan cepat, ia tahu arah pembicaraan Bu Ratna ini pasti mengenai keputusan untuk pensiun dan menyerahkan semua hartanya kepada cucunya pertama lelakinya.  “Anda juga tidak perlu cemas mengenai hal itu, meski kakek saya pensiun, donasi akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tolong sampaikan itu kepada direktur pascasarjana, Bu Ratna.” Satya menegaskan. “Sudah saya duga, anda memang sangat bijak. Mirip seperti Pak Dewangga.” Satya hanya tersenyum menanggapinya, sebenarnya dia tidak ingin terlibat terlalu jauh untuk urusan harta dan yang lainnya. Karena tujuannya kembali mengajar adalah untuk menemui Aiyana. Satya melihat jam tangan Franck Muller miliknya, waktu menunjukkan sudah semakin sore dan belum ada tanda-tanda akan adanya kedatangan Aiyana. Sementara ia sudah jengah dengan kehadiran Bu Ratna di dalam ruangannya.  “Bu Ratna … apakah masih ada yang bisa saya bantu?” tanya Satya setengah mengusir halus si Ibu Ratna yang tampaknya betah sekali di dalam ruangannya. “Tidak, Pak. Baiklah kalau begitu selamat kembali ke kampus ya, pak.” Setelah itu akhirnya wanita itu pun beranjak pergi dari ruangan Satya. Sepeninggal wanita itu, Satya menghela nafasnya sembari menyandarkan punggungnya di kursi. Ia memejamkan matanya untuk sejenak, menunggu kedatangan Aiyana ternyata cukup melelahkan, padahal dia sudah menunggu selama tiga tahun tapi kali ini terasa berbeda walau hanya menunggu beberapa jam saja. “Pe-permisi?” Deg. Seketika itu juga Satya bangkit dari tempat duduknya sembari menoleh ke arah pintu. Di sana ia melihat gadis yang selama ini dia tunggu itu akhirnya muncul juga. Satya ingin sekali berlari menghampiri Aiyana kemudian memeluknya, tapi dia hanya bisa menelan pahitnya keinginannya sendiri karena tahu jika Aiyana tidak akan menyambutnya dengan hangat seperti dulu. “Masuklah … silakan.” Satya merasa sangat bodoh seketika itu juga karen kata-kata yang terucap dari bibirnya terdengar payah baginya. Aiyana berjalan lebih dekat ke meja kerja Satya, ketika jarak mereka sudah lebih dekat keduanya saling memandang satu dengan lainnya. Orang lain pun akan mengira jika mereka memiliki sebuah koneksi yang tidak bisa dipahami, ada cinta di mata mereka, ada rindu di mata mereka, tapi entah mengapa di antara mereka seperti ada sebuah dinding tebal di antara mereka hingga keduanya tidak bisa bersatu. “Duduklah.” Satya kembali meminta, dirinya sendiri pun kemudian duduk agar Aiyana mengikutinya. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Satya?” * Aiyana menutup wajahnya menahan malu, tidak puas hanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Aiyana menenggelamkan wajahnya di lipatan sikunya. Jika ia memikirkan apa yang terjadi di kampusnya, sungguh Aiyana ingin sekali mengundurkan diri menjadi mahasiswa saat ini juga agar tidak kembali bertemu dengan Satya. Bagaimana bisa dia seberani itu dan mengapa dia sangat bodoh sekali. “Sebenarnya kamu juga nggak salah kok, Ai.” Luna berusaha untuk menenangkan sahabatnya, meski sebenarnya dirinya sendiri juga menahan tawa setelah mendengar penuturan Aiyana tentang pertemuannya dengan Satya. “Aku tahu aku nggak salah, aku malu Lunaaaa,” rengek Aiyana dengan wajah yang masih ditutupi oleh lengannya. “Bagaimana aku bisa menghadapinya nanti?” keluhnya lagi. Aiyana menegakkan kepalanya, wajahnya terlihat lesu dan memerah. “Seharusnya aku bisa menjaga mulutku dan nggak terlalu kepedean,” keluhnya lagi, wajah Aiyana semakin merah. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana dia begitu percaya diri jika sebenarnya Satya memiliki maksud terselubung dengan menjadikannya penanggung jawab mata kuliah dan memanggilnya ke ruangannya. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Satya?” Itu adalah kalimat pertama yang Aiyana lontarkan karena dia sungguh kesal pada Satya yang memanfaatkan situasi, atau setidaknya itulah asumsinya terhadap Satya waktu itu. Aiyana masih ingat bagaimana mata hangat Satya membulat mendengarnya, seolah-olah Satya mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Semua orang pasti akan sangat terkejut jika orang yang seharusnya jadi mahasiswanya malah bertanya padanya tanpa sopan santun seperti itu seolah-olah tidak pernah diajari etika saja. “Saya tidak—” “Aku tahu kamu pasti memiliki maksud terselubung, ‘kan?” Dengan tingkat kepercayaan diri yang selangit Aiyana masih mendesak Satya untuk mengatakan kebenarannya. Rasa curiga Aiyana tidak berkurang sedikitpun. “Sebelum kamu mengatakan apapun, kamu harus dengar … Apapun yang kamu rencanakan itu nggak akan bisa ngubah keputusan aku, mas. Jadi aku mohon kamu berhenti memanfaatkan situasi dan jangan persulit hidupku di sini.” Sementara Satya masih menatap Aiyana tanpa menyelanya, menunggu gadis itu sampai semua unek-uneknya keluar. “Sudah?” tanya Satya setelah Aiyana akhirnya berhenti bicara. Alis Aiyana sempat terangkat satu sisi, Aiyana tidak mengerti mengapa Satya terlihat begitu tenang. Memang sih, Satya selalu terlihat tenang, sudah pembawaannya sejak jaman dulu. Pria yang selalu tenang dan tidak mudah emosi. “Sudah bicaranya?” tanya Satya lagi untuk memastikan. Waktu itu, Aiyana semakin bingung. “Sudah.” Aiyana pun hanya bisa menjawab seadanya saja. “Kalau begitu sekarang giliran saya.” Satya menyandarkan tubuhnya sembari menatap Aiyana lekat-lekat. Sementara waktu itu, di d**a Aiyana sedang bergemuruh, entah mengapa ada perasaan gugup yang merasuk dalam hatinya. Semakin lama Satya tak mengatakan apa yang harus dia katakan membuat jantung Aiyana berdebar semakin keras. “Kamu sudah salah paham dengan saya, Aiyana.” Insting Aiyana mengatakan jika ini bukan pertanda baik, Satya hampir tidak pernah menyebut nama lengkapnya kecuali pertemuan pagi tadi dan … ketika dia hendak marah. Tapi itu jarang sekali terjadi, Satya hampir tidak pernah marah padanya setelah mereka menikah. Dan kali ini panggilan itu terasa berbeda, terasa sangat profesional. “Boleh, ‘kan saya panggil begitu?” “…” Aiyana tidak mengerti arah pembicaraan Satya. “Hanya panggilan itu yang bisa saya berikan agar kamu nyaman di kampus.” Benar sekali dugaan Aiyana, ternyata Satya melakukan itu—memanggilnya dengan full nama—karena Satya yang pengertian. Ada perasaan bersalah dalam diri Aiyana yang muncul perlahan karena telah berpikiran buruk. “Saya tidak memiliki maksud apapun, saya hanya mengikuti arahan kelas saja. Kamu tidak memperhatikan saat di kelas, itu sebabnya kamu tidak tahu jika nama kamu diajukan menjadi penanggung jawab kelas.” Satya tidak sepenuhnya berbohong, hanya bagian ‘tidak memiliki maksud apapun’ yang memiliki makna ambigu. “Saya memanggil kamu kemari untuk meluruskan beberapa hal.” “Me-meluruskan beberapa hal?” tanya Aiyana spontan. “Apa maksudnya itu?” “Saya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman di kelas karena saya. Itu sebabnya saya harus menjelaskan beberapa hal agar hubungan kita di masa lalu tidak mengganggu hubungan kita di masa depan, maksud saya sebagai mahasiswa dan dosen.” Deg. Wajah Aiyana memerah seketika itu juga, dia benar-benar merasa dipermalukan dua kali hari ini. Dan yang terakhir itu selain memalukan juga sangat menyakitkan baginya. Di satu sisi, Aiyana malu karena dia begitu percaya diri jika Satya memiliki maksud terselubung dengan memanfaatkan keadaan mereka saat ini. Di sisi lainnya, Aiyana merasa sakit hati karena ucapan Satya menandakan jika Satya memang benar-benar sudah melupakan tentangnya, tentang mereka. “Jadi … saat di kampus anggap saja saya sebagai dosen seperti dosen lainnya, saya pun akan berusaha melakukan hal yang sama. Jika saya menghubungimu jangan berpikir itu urusan pribadi, tapi itu adalah urusan tugas perkuliahan kampus. Orang-orang di kampus ini tidak tahu tentang kita, jadi kamu tidak perlu cemas, karena bagi saya masa lalu adalah masa lalu dan masa kini adalah masa yang harus saya jalani dengan sebaik-baiknya. Saya tidak akan merugikan kamu, Aiyana.” Aiyana menatap Satya lekat-lekat, ternyata dugaannya salah. Ternyata Satya benar-benar melupakan masa lalu mereka. Tapi mengapa … mengapa saat diberi batas yang nyata seperti ini perasaan Aiyana malah semakin kacau dan hatinya terasa seperti baru saja dicubit, sakit. Kenapa? “Udah, kamu nggak perlu mikirin itu terus-terusan, Ai. Lagipula Satya udah jelas bilang ‘kan kalau dia nggak mau hubungan kalian di masa lalu bakalan ganggu hubungan kalian sebagai mahasiswa dan dosen, itu artinya dia tidak ingin mengganggu kehidupanmu juga.” Luna menepuk punggung Aiyana pelan untuk memberikan sahabatnya itu sedikit kekuatan menghadapi drama di hari pertamanya masuk kuliah. “Dia masih sama, Lun.” Suara Aiyana terdengar sendu. “Masih baik?” Aiyana menganggukkan kepalan perlahan-lahan. “Masih pengertian seperti dulu.” “Kamu kangen sama dia?” tanya Luna. “…” Aiyana tidak menjawab, dia memang merindukan pria itu—sangat merindukan. Tapi apakah karena dia rindu lalu harus kembali? Tidak. Aiyana lebih memilih untuk memendam semua kerinduannya daripada harus kembali. Benar kata Satya sebelumnya, dia tidak bisa membiarkan masa lalu mereka untuk merusak masa kini. Yang lalu biarlah berlalu. ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD