03 – Salah Ruangan

2255 Words
What If I Fallin’ Love (Again)? 03 – Salah Ruangan “Kamu beneran mau jalan pakai bus trans, kamu bisa pakai mobilku.” Luna menawarkan pada Aiyana, gadis itu sedang memasukkan semua kebutuhannya untuk ke kampus. Melihat kembali penampilan dirinya di cermin, ia hanya memakai kemeja ungu polos, celana panjang dan flatshoes. Sangat sederhana untuk seseorang yang bekerja di sebuah butik. Aiyana hanya menjadi Aiyana, seorang gadis yang sederhana dan tidak ingin mengubah apapun dari dirinya. Aiyana memastikan jika dandanannya tidak terlalu menor dan lipstik yang digunakan tak terlalu mencolok. “Bagaimana penampilanku?” tanya Aiyana. “Yakin banget sampai dikampus tuh dandanan pasti luntur.” “Enak aja! Aku pake yang waterproof kok ini jadi tahan lama.” “Iya waterproof, bukan ke-ri-nget-proof.” “Ih, apaan sih, Lun … Nggak lucu.” Wajah Aiyana pun seketika cemberut tapi dia tetap menghampiri temannya yang sudah lebih dulu memasang wajah cemberutnya. Aiyana meraih tangan Luna dan menepuknya perlahan. “Aku bukannya nggak mau pakai mobil kamu,” ucapnya lirih. “Kan kamu tahu aku nggak bisa bawa mobil.” Luna menghela nafasnya, dia memang tidak pernah bisa memenangkan sebuah perdebatan jika musuhnya Aiyana. Ada saja alasannya untuk menerima sebuah bantuan, jika memang sangat tidak terdesak sama sekali maka Aiyana tidak akan pernah menerima sebuah bantuan sekecil apapun. Masih jelas dalam ingatan Luna saat mendirikan butik ini tiga tahun yang lalu, Aiyana hanya memiliki uang yang terbatas. Ia sudah gunakan uang tersebut untuk menyewa ruko ini, untuk modalnya Luna pun ingin memberikannya bantuan, bukan memberinya secara cuma-Cuma, tapi apa yang dikatakan oleh Aiyana waktu itu, “Aku masih ada perhiasan pemberiannya Mas Satya waktu kami nikah dulu, aku akan gunakan itu untuk modal usaha, Lun. Nanti kalau kurang aku pasti pakai uang kamu.” Seperti hari ini, Luna hanya bisa menghela nafasnya melihat sahabatnya sejak kecil itu sangat keras kepala. Jika sudah berkemauan tidak ada yang bisa menghentikannya, termasuk … perceraiannya sendiri. Hingga saat ini, Luna tidak tahu apa alasan sesungguhnya dibalik perceraian yang diajukan oleh Aiyana. Gadis itu hanya datang padanya, dan mengatakan jika dia sudah mengajukan perceraian tapi ditolak oleh pengadilan. Setelah mendengar penuturannya, Luna tertawa sepanjang malam mentertawakan alasan konyol yang dibuat Aiyana sebagai pengajuan perceraian yang sudah pasti ditolak oleh hakim pengadilan. Namun, setelahnya Luna tidak bisa tidur, ia terus memikirkan jika pasti ada sesuatu di balik alasan tidak masuk akal itu. Hanya saja sampai sekarang dia tidak mengetahuinya. “Kamu bisa minta Saga untuk antar kamu ke kampus, dia pasti mau kok.” “Syaluna Herlambang.” Luna tahu jika Aiyana sudah memanggil nama lengkapnya seperti ini berarti Aiyana sudah berada di batas kesabarannya. “Aku bisa pergi naik bus trans, aku yakin juga sama amannya dan akan lebih cepat karena bebas macet.” Lagi-lagi Aiyana berdalih, kali ini memasangkan sebuah senyuman agar Luna luluh padanya. “Ah, oke deh. Emang nggak ada yang bisa ngalahin kamu, ‘kan?” “Ada kok.” “Satya?” Luna menyahut tanpa berpikir panjang. Tahu betul jika memang hanya Satya yang bisa membujuk Aiyana. Seketika itu Aiyana melepaskan tangannya, ia memberikan kecupan ringan pada Luna sahabatnya dan berlalu pergi. “Aku pergi dulu ya!” Aiyana melambaikan tangannya dan berjalan pergi meninggalkan Luna di kamar. “Sampai kapan sih dia mau menghindarinya?” gumam Luna. Setiap kali Luna menyebutkan nama Satya, maka Aiyana akan selalu menghindar. Entah itu mengalihkan topik pembicaraan atau yaa, seperti yang bisa dilihat dia pergi begitu saja. * AIYANA “Satya?” Entah dari mana pikiran Luna itu berasal hingga dengan mudahnya bibir pinknya mengatakan satu kata—satu nama—yang selalu ingin aku lupakan. Dan entah mengapa nama itu terus saja muncul sejak semalam dan sepertinya menghantuiku. Sudah hampir empat tahun berlalu, aku masih berusaha keras untuk melupakan sosok pria yang pernah menjadi cinta kedua dalam hidupku, yang pertama tentu saja ayahku—Pak Ibrahim. Sekeras apapun aku berusaha, nama itu dan bayangan pemilik nama itu akan kembali datang. Selama tiga tahun terakhir, aku berusaha untuk tidak berlari kembali pulang setiap kali merindukannya. Lalu kenapa aku menggugat cerai dirinya? Karena Satya adalah satu-satunya orang yang bisa mengalahkanku dalam berdebat, karena dia satu-satunya orang yang bisa membujukku jika aku sedang keras kepala, karena dia orang yang terlalu baik. Satya masih terlalu baik untukku dan aku tidak bisa menerima kebaikan semacam itu. Seandainya hari ini Satya ada di depanku, dia tidak akan tinggal diam. Ia pasti sudah menyeretku masuk ke dalam mobilnya dan dengan sabar mengantarkanku ke kampus. Lalu saat pulang dia pasti sudah menunggu di depan kampus. “Tidak!” pekikku pelan. Mengapa aku memikirkannya? Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak boleh memikirkannya. Aiyana sadarlah! Kalian sudah berpisah! B-E-R-P-I-S-A-H. Bisa jadi Satya juga sudah memiliki kekasih yang baru, aku tidak boleh memikirkannya. “Uhuk-Uhuk.” Suara batuk dari samping membuatku spontan menoleh, aku melihat seorang ibu hamil dengan perut yang besar terbatuk-batuk. Dan alasannya karena seorang pria di sampingnya sedang merokok. Ini tidak bisa dibiarkan, seseorang sedang hamil dan pria itu malah merokok di sembarang tempat padahal sudah disediakan smooking room yang tak jauh dari tempat kami duduk menungguh bus. “Pak … mohon maaf, boleh nggak kalau bapak merokok di sana?” tanyaku sambil menunjukkan tempat smooking room. Pria itu melotot ke arahku, dia akan marah sepertinya. “Emang apa urusannya sama kamu? Ini rokok juga rokok saya, kok kamu yang ribut!” Benar ‘kan dia marah. Memang kalau urusannya dengan orang yang keras kepala itu susah, eh, aku harusnya bercermin ya, aku sendiri juga keras kepala tapi malah menyalahkan bapak-bapak ini. “Tapi, Pak. Bukan hanya saya yang terganggu … Ibu ini juga, dia sedang hamil.” Aku berusaha menjaga nada suaraku agar tak meninggi. “Istri saya yang hamil kok kamu yang repot.” Deg! Istri? Wanita ini istrinya dan seenaknya dia merokok tanpa memikirkan kesehatan sang istri dan janin yang dikandung istrinya. Ingin sekali rasanya aku marah tapi orang-orang mulai memperhatikan kami. Ah sudahlah! Masa bodoh dengan pandangan orang-orang. “Seharusnya karena dia istri bapak dan sedang hamil … bapak harusnya lebih bisa menjaga kesehatannya dong! Jangan seenaknya gitu!” Tidak tahan suaraku pun naik satu oktaf dan benar-benar mencuri perhatian orang-orang disekitarku. “Mbak … udah mbak. Saya nggak apa-apa.” Ibu hamil itu meraih tanganku, berusaha untuk menenangkanku. “Pak, bapak itu harusnya tahu aturan! Di sana tuh tempat ngerokok! Ganggu banget sih!” Akhirnya ada orang lain yang menyahut, seorang wanita berparas cantik dengan pakaian karyawan. Setelahnya beberapa orang pun mulai bergunjing dan tampaknya karena tak mau malu si bapak tersebut akhirnya pindah. Sungguh aku tidak habis pikir, bagaimana ada pria yang begitu egois dan mementingkan kesenangannya sendiri daripada menjaga kesehatan istri dan calon anaknya. Seandainya pria itu adalah Satya, dia tidak akan pernah membahayakan aku dan calon anak kami. Ya … seandainya … Dan kenapa pula aku kembali memikirkannya dan kenapa pula aku membandingkan sikap Satya dengan bapak-bapak itu?! Jelas Satya itu kebaikannya tidak tertandingi, sudah pernah kukatakan kalau dia itu adalah seorang Budha ‘kan?. Astaga aku masih saja memikirkannya! Otakku … bolehkah jangan memikirkan Satya? Please? Tidak lama setelah itu, bus yang aku tunggu-tunggu pun datang. Bersama dengan beberapa orang yang lain aku mulai memasuki bus tersebut. Bapak-bapak yang merokok tadi tergopoh-gopoh mematikan puntung rokok dan menghampiri istrinya, meminta istrinya untuk segera naik tanpa membantunya sama sekali. Aku ingin sekali membantu ibu hamil itu, tapi tidak ingin melangkahi wewenang suaminya, jadi aku menyingkir dan memberikannya akses untuk masuk ke dalam bus. Si bapak itu melotot padaku, seolah-olah dari tatapannya itu dia mengatakan ‘awas kau ya!’ Perjalanan menuju ke kampus tempatku akan menimba ilmu itu cukup lama, kurang lebih setengah jam baru bus ini berhenti di halte yang jaraknya paling dekat dengan kampus. Dari Halte aku harus berlari karena ternyata jam masuk kelasku sudah terlewat satu menit, jika aku hanya berjalan bisa setengah jam sampai ke gedungnya. Beruntung sebelumnya aku dan Luna pergi melihat kondisi kampus, aku masih ingat jalan menuju ke gedung pascasarjana, tapi tetap saja … ini melelahkan. Setelah berlari beberapa lama dan masih harus menunggu naiknya lift hingga ke lantai lima tempat kelasku berada akhirnya sekarang aku di depan pintu kelas. Kuatur nafasku agar tidak terlihat jika aku baru saja berlari cukup lama dan berdoa dalam hati supaya dosen pagi ini adalah dosen yang baik, bukan dosen killer yang akan mengusirku. Dia tidak akan mengusirku ‘kan? Lagipula ini hari pertama kami melakukan perkuliahan tidak mungkin dosennya mengusirku di hari pertama. Ya, tidak mungkin … Tok Tok Tok Setelah mengetuknya perlahan aku membuka pintu tersebut, sedikit demi sedikit aku melongokkan kepalaku, tidak ingin langsung masuk karena aku bersiap jika dosen itu mengusirku aku langsung bisa pergi. “Sial,” dengusku lirih setelah melihat seluruh teman sekelasku mengarahkan perhatian mereka padaku. Mau tidak mau aku pun akhirnya masuk dengan senyuman canggung. Aku mencari sosok dosen yang mengajar kelasku, dan melihat ada seorang pria berdiri memunggungiku di tengah-tengah kelas. “Mohon maaf, Pak … saya terlam—” OH SIAL! Tubuhku langsung membeku seketika itu juga saat mata kami saling beradu. Lidahku kelu dan semua kata-kata yang tersusun di otakku terasa menguap begitu saja. Apakah ini yang di namakan kebetulan? Tidak … ini pasti mimpi! Sepertinya karena otakku sering memikirkan dia akhir-akhir ini jadi sekarang mataku berusaha untuk memvisualisasikan wujudnya di hadapanku. Ini pasti mimpi. “Anda terlambat dua puluh menit,” Tidak! Mengapa senyata ini? Jika ini hanya imajinasiku mengapa suaranya pun terdengar sama? Masih hangat seperti dulu? Suara yang selalu mengantarkanku tidur, suara yang selalu mampu membuat hatiku berbunga-bunga. Ini pasti imajinasi, Aiyana sadarkan dirimu! Diam-diam aku mencubit pahaku, meyakinkan diriku jika ini bukanlah sebuah mimpi atau imajinasi belaka. Sakit! Berarti ini bukan mimpi atau imajinasi, ini nyata, pria yang ada di depanku ini nyata adalah Satya! SATYA! “Se-sepertinya saya … ummm salah ruangan, maaf ya, Pak.” Ini adalah salah satu cara untuk lari, buru-buru aku pun berbalik dan melangkah pergi. “Aiyana Gantari?” Lagi-lagi langkahku terhenti saat suaranya yang hangat itu memanggilku. Aku merindukannya, aku merindukan caranya memanggilku. Aku memejamkan mata, menghapus semua keinginan konyolku itu, berusaha untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di dalam hatiku meski sebenarnya rasanya saat ini sangat tidak tenang. “Y-ya?” perlahan aku berbalik lagi, menatap seisi ruangan yang kini hanya tertuju padaku dan terakhir akan menatap Satya yang sedang berdiri memandang ke arahku. “Benar nama anda adalah Aiyana Gantari?” tanyanya lagi. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, meremas tanganku untuk menyingkirkan perasaan gugup yang entah kenapa bisa menyerangku begini. “Ya, itu nama saya.” “Kalau begitu anda tidak salah ruangan, silakan duduk.” Sial. Sial. Sial. Haruskah dia mempermalukanku begini? Tidak bisakah melepaskanku sekali saja? Aku benar-benar tidak siap jika harus berada dalam satu ruangan dengannya, ini menyiksaku, menyiksa hatiku yang seringkali masih merindukannya.    “Silakan duduk, Nona Aiyana Gantari.” Satya mengulanginya lagi, membuatku semakin malu. Terpaksa aku pun berjalan masuk melewati jalan antara meja teman kelasku dan memilih untuk duduk di tempat yang paling belakang, paling gelap, dan paling tidak mungkin untuk dijangkau. Setelah duduk segera aku mengambil sebuah buku dari dalam tasku, membukanya tepat di depan wajahku untuk menyembunyikan wajahku darinya, tidak, lebih tepatnya agar aku tidak memandangi wajahnya terus menerus selama berada di kelas ini. Kurasa ini adalah cara terbaikku untuk menghindarinya sekarang. Sepanjang kelas berlangsung, Satya membicarakan persoalan kontark belajar yang harus kami patuhi bersama-sama. Karena ini adalah hari pertama maka tidak ada pelajaran sama sekali. Sepanjang itu pula aku menenggelamkan mukaku ke buku, karena hanya mendengar suaranya saja hatiku sudah bergemuruh, jika harus melihat wajahnya maka pertahananku mungkin saja roboh. “Nona Aiyana Gantari?” Demi Tuhan, kenapa dia harus memanggilku! “Nona Aiyana?” Mendadak buku yang kupegang itu diturunkan. Aku bisa melihat sepasang sepatu cokelat mengkilap itu ada di bawah meja, jantungku berdegup dengan sangat kencang dan tak beraturan. Perlahan-lahan aku mendongak ke atas, dan melihatnya sedang menatapku dengan sebuah senyuman yang sepertinya ditujukan untuk mengejekku. “Iya, Pak?” “Saya lihat dari tadi kamu sangat rajin sampai tidak memperhatikan saya.” Kenapa dia jadi orang yang sangat menuntut begini? Sejak kapan? Untuk apa?! Tanpa sadar mulutku ternganga mendengarnya. “Saya ini pak ….” “Apakah saya sangat mengganggu kamu?” Aku melihat ke sekelilingku dan lagi-lagi teman-temanku memperhatikaku—kami. Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke kampus dan harus mengalami banyak drama? Perlahan aku menggeleng pelan untuk menjawab Satya, tidak ingin menarik lebih banyak perhatian. Tidak seharusnya gadis sepertiku mendapat begitu banyak sorotan di hari pertamanya masuk kuliah. Aku pun tidak nyaman jika semua pasang mata itu hanya tertuju ke arahku, seolah-olah aku ini selebriti yang berjalan di atas red carpet. “Datang ke ruangan saya setelah kelasmu selesai.” “Apa?!” tanpa sadar aku memeki keras dan teman sekelasku pun melihatku dengan bingung. Pasti mereka berpikir jika aku sangat berani menaikkan suara dengan dosen pengampu kelas kami. Tentu aku tidak seberani itu, maksudku mengapa Satya terlihat seolah-olah ingin menunjukkan pada semua orang jika kami memiliki hubungan khusus. “Kau terpilih menjadi penanggung jawab kelas untuk mata kuliahku.” “Tunggu! Kenapa saya?!” protesku. Sementara teman sekelasku menatapku tidak suka setelah aku mengatakannya. Apakah mereka sudah sepakat untuk menjadikanku penanggung jawab kelas dan aku tidak mengetahuinya. Sepertinya aku melewatkan sesuatu di sini. “Karena kau datang terlambat dan semua teman sekelasmu sudah setuju.” Aku mengedarkan pandanganku ke seisi ruangan dan tampaknya mereka memang telah bersekongkol untuk menjebakku. Tidak kuduga jika ketenanganku akan direnggut paksa di hari pertama aku kuliah. “Saya tunggu kamu di ruanganku.” =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD