What If I Fallin’ Love (Again)?
10 – Si Hati Pemenangnya
Mata Aiyana terlihat sembab, terlihat jejak-jejak basah di matanya ketika berdiri di depan sebuah kaca yang menjadi pembatas antara dirinya dan seorang pria di dalam ruang ICU. Tepat di sebelahnya, Satya masih setia menemaninya berdiri di balik dinding kaca itu hampir dua jam lamanya. Beberapa kali ibu mertuanya meminta Satya untuk beristirahat tapi ia enggan untuk meninggalkan Aiyana yang sedang bersedih melihat penderitaan ayahnya.
Abraham—ayah Aiyana, harus menjalani perawatan di ruang ICU setelah terjatuh saat sedang mencuci beras untuk dimasak, diagnosa sementara dokter adalah Abraham mendapatkan serangan jantung pertamanya. Beruntung adik Aiyana menemukan ayahnya dengan cepat sehingga mereka bisa membawa Abraham ke rumah sakit tepat waktu, seandainya saja terlambat sedikit saja mungkin nyawa Abraham tidak akan tertolong.
Hal itu juga yang membuat Satya akhirnya memutuskan untuk melanggar permintaan ibu mertuanya dan memberitahu Aiyana tentang keadaan ayahnya. Bagaimana bisa hal sebesar ini disembunyikan dari Aiyana, bagaimana pun juga sebagai putri sulung ayahnya, Aiyana berhak mengetahui kondisi ayahnya daripada mengetahui apa yang terjadi setelah hal buruk yang tak diinginkan terjadi.
“Nak … Satya,” panggil Mayang, ibu mertuanya. Satya menoleh, sedikit menundukkan kepalanya karena ibu mertuanya memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan Aiyana.
“Iya, Ma?”
“Kamu coba ajak Aiyana istirahat gih … sudah lama lho kalian berdiri di sini begini.”
Satya pun ingin mengajak Aiyana untuk sekedar meletakkan tubuh mereka duduk untuk sebentar, rasanya pasti lelah berdiri di sana sekian lama. Namun, sepertinya jika Satya mengajak Aiyana akan percuma saja. Satya sudah lebih dari tiga kali meminta Aiyana untuk beristirahat, jawabannya tetap sama.
“Bentar ya, aku mau nemenin ayah.”
Jika Satya diberikan kesempatan yang sama dengan Aiyana saat ini maka dia akan melakukan hal yang sama. Lebih baik menemani orang yang kamu sayangi dalam keadaan terburuk sekalipun daripada melepas mereka menuju ke surga. Satya sangat memahami perasaan seperti itu.
“Iya, nanti Satya coba lagi ya, Ma … Ganesh di mana, Ma?”
“Kayanya dia istirahat di luar, syok banget dia.”
Semua pasti syok, tidak ada seorang pun yang dapat tenang-tenang saja jika mendapati orang yang mereka sayangi mendadak tidak sadarkan diri dan mendapatkan diagnosa serangan jantung?
“Kalau gitu, Mama istirahat sama Satya aja, gimana?”
“Kamu nggak mau ajak Ai?”
Satya menoleh ke arah Aiyana, tampaknya saat ini Aiyana masih ingin berdua dengan ayahnya, tidak ingin diganggu sedikit pun. Satya memahami perasaan itu lebih dari siapapun, ia pun dulu juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Aiyana saat ini, ia berdiri di depan makam orang tuanya yang basah seharian setelah keduanya dikubur hingga malam tiba, hingga sang kakek meminta sopir pribadinya untuk menggendongnya yang tertidur di makam orang tuanya.
Perasaan seperti itu tidak akan pernah dilupakan oleh Satya, selamanya.
“Biar dia puas menemani papa dulu, Ma.” Satya kemudian merangkul ibu mertuanya, ia memang sangat akrab dengan Mayang, ia juga akrab dengan ayah dan adik Aiyana. Bagaimana pun juga mereka pernah bertetangga dulu dan kebetulan Mayang juga merupakan sahabat ibu Satya, sehingga bagi Mayang mendapatkan Satya sebagai menantunya seperti mendapatkan anak lelaki lainnya.
Satya dan Mayang pun berjalan menuju ke coffee shop rumah sakit, setelah memesan minuman keduanya duduk di salah satu kursi yang terletak dekat dengan pintu masuk. Satya menghela nafasnya, merasa lega bisa meluruskan kakinya barang sejenak. Di seberangnya, Mayang memperhatikan gerak-gerik Satya, ia juga menghela nafasnya merasa lega karena memiliki menantu yang baik seperti Satya.
“Kamu tahu nggak, kenapa mama minta kamu jangan kasih tahu Aiyana soal ini?” tanya Mayang memecah keheningan di antara mereka. Satya menatap Mayang lekat-lekat, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mayang dan tak tahu apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Pelan-pelan Satya menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak tahu apa-apa, pikirnya karena ibu mertuanya ini tidak mau membuat Aiyana cemas karena keadaan sang ayah.
“Sebelumnya … pagi hari, ibu dengar dari tetangga … kamu tahu nggak Bu Laras yang tinggal di sebelah belokan gang itu?” tanya Mayang.
“Iya tahu, Ma … yang anjingnya pernah ngejar Aiyana itu ‘kan?” Entah mengapa hanya itu yang bisa diingat Satya tentang tetangganya yang memiliki rumah di sebelah belokan gang itu. Dulu sepulang sekolah, Aiyana yang memang jahil menggoda anjing milik Bu Laras, eh tidak tahunya pagar rumah Bu Laras ternyata tidak dikunci sehingga anjing tersebut bisa keluar dan mengejar Aiyana. Waktu itu bukannya langsung berlari ke rumah, Aiyana dengan kekuatan super yang mendadak dia miliki memanjat sebuah pohon nangka yang ada di depan rumah Satya. Alhasil, Satya yang melihatnya tertawa terpngkal-pingkal karena ulah konyol Aiyana itu dan setelahnya Satya harus mengusir si anjing dan membantu Aiyana turun dari pohon nangka.
“Iyaa, yang itu.”
“Jadi kenapa sama Bu Laras, Ma?”
“Katanya dia baru pergi ke butik dan … katanya butik itu adalah tempat kerja Aiyana? Apa itu benar.”
Deg.
Satya terpaksa harus menelan salivanya dengan susah payah, pertanyaan yang harusnya hanya memiliki satu jawaban yaitu ‘ya’, seolah terdengar jika pertanyaan itu menanyakan tentang perceraiannya dengan Aiyana. Seperti halnya keluarga besar Satya kecuali kakeknya tidak mengetahui perihal perceraian mereka, keluarga Aiyana pun tidak mengetahui kebenarannya, kebenaran tentang perceraian mereka yang gagal.
“Apa benar jika Aiyana membuka butiknya sendiri, Nak?”
“Hah? Mama tadi tanya apa?”
“Aiyana … Apa dia buka butik?”
“I-iya … Ma.”
Mayang tidak mengerti mengapa menantunya itu terlihat gugup hanya untuk menjawab pertanyaan yang sangat sederhana. Padahal hal yang paling meresahkan belum diungkapkan oleh Mayang.
“Jadi … Bu Laras itu sebar gosip di ibu-ibu kompleks kalau Aiyana lagi dekat sama cowok tapi bukan kamu, katanya dia lihat mereka ngobrol akrab banget.”
Tangan Satya terkepal di atas pahanya, sepertinya dia tahu siapa lelaki itu, tidak lain adalah pria yang telah meninjunya dengan keras sampai bibirnya berdarah.
“Papamu dengar itu, dia kira anak gadisnya selingkuh … dia memikirkanmu, Nak. Itu sebabnya aku minta kamu untuk tidak bawa Aiyana dulu sampai keadaannya tenang.”
“Astaga … Papa kepikiran itu sampai kena serangan jantung, Ma?”
“Iya … itu yang bisa mama simpulkan, nggak tahu lagi kalau ada alasan lainnya.”
Satya kemudian meraih tangan ibu mertuanya, “Aiyana nggak melakukan hal sehina itu, Ma … cowok yang diajak ngobrol sama Aiyana itu temannya, teman Luna juga, Satya juga kenal kok. Jadi Mama nggak perlu cemas, nanti kalau papa sadar, Satya akan kasih tahu papa pelan-pelan.”
“Syukurlah kalau memang begitu, Bu Laras itu memang harusnya nggak boleh ngejudge orang sembarangan.”
“Bener, Ma … kadang apa yang kita lihat itu tidak sepenuhnya benar.”
*
“Bang … kenapa nggak jujur aja sih sama orang rumah?”
Satya mematikan batang rokoknya yang sudah sampai di ujung dan tak lagi bisa dihisap itu, mematikan baranya hingga hanya tertinggal asap tipisnya saja. Di sampingnya, Ganesha sedang menenggak kopi yang dibelikan oleh Satya, meski begitu diam-diam dia juga memperhatikan sang kakak ipar, Satya hampir tidak pernah merokok sepanjang hidupnya, tapi jika rokok itu tersemat di antara bibirnya berarti Satya benar-benar mengalami tekanan yang cukup membuatnya frustasi.
“Dari mana kamu tahu?” tanya Satya datar.
“Mbak Ai sendiri yang bilang sama aku dua tahun lalu.”
“Kamu nggak kasih tahu mama papa?”
“Mbak Ai ngelarang aku bang, katanya kalian tidak resmi bercerai.”
“ ….” Satya terdiam untuk sesaat, ia mendongakkan kepalanya menatap langit yang mulai memberikan semburat jingga menunjukkan sebentar lagi akan ada pergantian malam.
“Kenapa nggak ngelepasin Mbak Ai aja sih Bang? Lihat kalian berdua kayanya benar-benar kacau sekarang.”
“Apa maksudnya?”
“Ya lihat aja kamu bang, ada jarak di antara kalian … jarak yang entah kenapa bisa ada padahal kalian ini suami istri. Aku lihat Mbak Ai kaya butuh sandaran tapi dia nggak bisa nyandarin bebannya ke kamu, dan kamu juga kaya pengen menghibur tapi takut kalau Mbak Ai marah.”
Ucapan Ganesha ini tepat sekali, Satya pun merasakan hal yang sama. Bagaimana mereka yang dulu begitu dekat seperti perangko dan amplop bisa berubah layaknya kutub utara dan kutub selatan? Mereka berada dalam satu ruangan yang sama tapi jarak yang menghalangi mereka membentang begitu jauh.
“Aku nggak bisa ngelepasin, Aiyana.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Satya.
“Tapi Bang –” Ucapan Ganesha terpotong karena suara Aiyana yang menyeruak menyelanya. Keduanya menoleh ke arah Aiyana, melihat gadis itu terlihat lelah tapi ada secercah kebahagian dari pandangan matanya.
“Papa siuman, Ganesh! Papa sadar!” serunya. Seketika itu juga Ganesha melompat dari tempatnya dan berlari ke arah Aiyana. Satya pun berdiri dan berjalan cepat ke arah gadisnya yang saat ini sedang menangis haru.
Satya memutuskan untuk menghapus penghalang di antara mereka, ia tidak ingin perempuan yang telah membuatkannya rumah baru itu tak memiliki tempat bersandar. Satya berjalan dengan cepat ke arah Aiyana, kemudian meraih bahunya, menarik Aiyana ke dalam dekapannya.
Pada akhirnya, Aiyana menumpahkan semua emosinya dalam dekapan Satya, ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua emosi yang terpaksa dia tahan karena tidak ingin ayahnya melihatnya menangis.
“Papa sadar, akhirnya papa sadar … aku takut banget, aku … aku, aku takut banget.”
“Menangislah Ay … Nangis aja … aku ada di sini, aku nggak akan biarin kamu sendiri.” Satya mengusap punggung Aiyana dengan lembut, berusaha memberikan kenyamanan padanya.
Aiyana terus menangis hingga tanpa sadar air matanya sudah membasahi baju Satya, hingga tidak sadar jika dua sudah menangis cukup lama hingga wajahnya, matanya, dan hidungnya memerah semua. Puas telah meluapkan perasaannya, Aiyana ingin mendorong pelan tubuh Satya, ia mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Satya lekat-lekat.
Sepertinya, kamu yang menang kali ini, hati.
Dorongan hati Aiyana membuatnya berjinjit, perlahan tapi pasti ia berusaha untuk mendekatkan wajahnya yang memerah itu pada wajah Satya, dan sedetik kemudian bibir hangat dan basah Aiyana menempel pada bibir lembut milik Satya. Mata Satya melebar menerima ciuman yang sangat mendadak dan tidak terduga itu.
Apa yang kamu lakukan, Aiyana! Pikiran Aiyana menyadarkan Aiyana, membuat gadis itu membelalak lebar dan sesaat kemudian ia pun menarik kembali kepalanya. Wajahnya memerah menahan rasa malu.
Namun, kali ini Satya tidak tinggal diam. Ia melingkarkan tangan kokohnya pada pinggang Aiyana dan menariknya lebih dekat, satu tangannya meraih dagu Aiyana, mendongakkannya hingga Aiyana kini menghadapnya.
“Kamu tahu kalau aku nggak suka sesuatu yang nanggung, Ay.” Dan bibir Satya kini memagut bibir basah Aiyana dengan lembut, membiarkan bibir mereka menyatu tanpa gerak apapun, Satya ingin merasakan kelembutan bibir Aiyana nyata di bibirnya.
Kamu pasti sudah gila Aiyana …. Tapi kamu juga kangen ‘kan? Pikiran Aiyana bergulat dengan hatinya sendiri saat ini. Pada akhirnya, kerinduan yang akhirnya menunjukkan taringnya membantu Si Hati menjadi seorang pemenang dalam pergumulan batin yang sengit.
Tidak mendapatkan penolakan dari Aiyana, bibir Satya pun akhirnya mulai bergerak, begitu lembut tidak menuntut, begitu seirama dengan detak jantung keduanya, dan seirama dengan kerinduan yang kini meletup-letup di hati ke duanya. Letupan yang tanpa sadar membuat kedua insan itu meneteskan bulir bening dari sudut matanya.
Dering ponsel Satya terdengar sangat keras dan sangat tiba-tiba hingga keduanya terperanjat dan melepaskan tautan kerinduan mereka secara mendadak pula. Aiyana memalingkan wajahnya menahan rasa malu karena telah hanyut oleh perasaan yang coba dikuburnya selama ini, di sisi lain Satya merasa kesal kepada di penelepon yang mengganggu momen indahnya bersama dengan Aiyana. Keduanya pun segera mengusap bekas air mata yang tercetak di wajah mereka.
Melihat siapa yang mengganggunya membuat kerut di kening Satya semakin dalam tapi dia tetap mengangkatnya meski suara ketusnya tidak bisa disembunyikan. “Ada apa, Martha?!”
“Pak, ada beberapa berkas yang Pak Satya minta cari.”
“Kamu nggak perlu telepon saya untuk masalah sepele ini,” kesalnya.
“Bapak lagi sama istri?”
Kini alis Satya yang terangkat, bagaimana bisa Martha menebaknya dengan benar. Spontan Satya pun menoleh ke kanan atau ke kiri untuk mencari siapa tahu Martha sedang ada di sekitar sini.
“Bercanda pak, bercanda.”
“Kalau begitu saya tutup … eh, tolong kosongkan jadwal bertemu dengan klien untuk satu minggu ke depan, beritahu juga asisten saya di kampus.”
“Wah, ada apa pak?” selidik Martha dengan kekehan yang menyertai di seberang saluran.
“Bulan madu!” jawabnya ketus sambil menutup ponselnya kesal. Setelahnya Satya menatap Aiyana yang berdiri di depannya, rupanya gadis itu menatapnya tidak percaya akibat ucapan yang baru saja dia lontarkan pada Martha itu.
“Ini sekertarisku di firma, dia agak sinting belakangan ini.”
“Kamu tidak perlu mengambil cuti, aku bisa mengurus Papa sendiri kok.”
Satya tahu jika Aiyana telah kembali pada mode defensifnya, mode keras kepala yang akan sangat sulit untuk dikalahkan.
“Ay … aku di sini bukan hanya untuk kamu … tapi untuk papa. Lebih baik saat ini kita utamakan papa dulu, ya?”
Kali ini Aiyana tampaknya mulai berdamai dengan kepala batunya, ia mengangguk begitu saja menyetujui ucapan Satya tanpa protes sedikit pun.
::Bersambung::