Di setiap laraku menanti balasmu, ada rindu membeku dalam kalbu. Namun, bodohnya aku tetap tergugu dengan suara hati yang memanggil namamu selalu... -Naya- *** Adrian mendelik mendengar jawaban Naya yang tak sesuai instruksi dan diskusi tadi. Namun, buru-buru Naya melanjutkan bicaranya. "Saya ini calon jodohnya." Ayu tersenyum, sementara Adrian menarik napas lega. Rasanya ingin ia lempar semangkuk soto ayam ini ke muka Naya karena berani membuatnya hampir spot jantung. "Kalian kenal di mana?" "Di tempat kerja. Pak Adrian ini bos saya." "Kok manggilnya masih Pak?" Ayu bingung. Adrian tepuk jidat. "Bagaimana pun juga Pak Adrian kan masih atasan saya, Mbak. Kecuali nanti kami sudah sah jadi suami istri, baru saya nggak panggil pak lagi." Alasan yang masuk di akal. Ayu salu

