Bintang tersentak ketika suara Tsabit menyapa pendengarannya. “Kita jalan sekarang?” tanya Tsabit. “I—iya, Mas.” Dengan berat hati, Bintang masuk ke dalam mobil Tsabit, duduk di kursi penumpang. Matanya tetap awas melihat ke arah mobil Abi, sementara Tsabit tidak menyadari keberadaan Abi beberapa langkah di hadapan mereka. “Okey, kita pulang.” Pikiran Bintang melayang, hatinya terasa berat, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Bintang kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela, ia melihat mobil Abi yang perlahan menjauh. Hatinya terasa seperti tercubit. Bintang menggigit bibirnya, menahan perasaan yang mulai menghantui pikirannya. "Abi tidak mungkin seperti Zafran, kan?" pikirnya, setengah meyakinkan diri sendiri. Namun, bayangan tentang Abi dan senyuman wanita itu mem

