Menit demi menit sudah berlalu, artikel pertama Cessa sudah selesai. Matahari pagi sudah bersinar menandakan hari baru sudah dimulai. Ia mengambil ponselnya yang mati karena kehabisan baterai. Setelah ia men-charge, Cessa kembali berjalan ke arah printer untuk memasukkan kertas. Sialnya, printer Cessa macet. Hal tersebut mampu membuat Cessa panik.
“Cess?”
Cessa menoleh ke arah suara itu. Ken sudah berdiri di ambang pintu dengan dua gelas kopi di tangannya.
“Thank God lo datang, Ken! Tolong bantu gue, printer gue nggak mau bekerja. Ini udah jam setengah tujuh, deadline jam delapan. gue harus buru-buru!”
“Yasudah, lo lebih baik sekarang mandi. Biar gue yang memperbaiki printer nya.”
Tanpa berbicara apapun lagi, Cessa langsung memeluk Ken dan berlari ke arah toilet. Ken yang ditinggalkan disana langsung berusaha memperbaiki printer Cessa yang tidak mau bekerja itu.
Limabelas menit kemudian seluruh pekerjaan Cessa sudah tercetak dan tersedia diatas mejanya. Cessa yang keluar dari kamar dengan sudah siap langsung mengambil kertas-kertas itu dan dimasukkan ke dalam tasnya.
“Terimakasih banyak, Ken. I owe you ice cream. Tapi nggak sekarang, gue harus segera ke kantor. Bye, Ken!” kata Cessa lalu memeluk sebentar tubuh Ken sebelum ia pergi.
“Kalau udah selesai urusannya, langsung pulang. Istirahat.”
“Nggak bisa, gue ada wawancara!”
“Tapi Cess, rambut lo..”
“Nggak penting, biarin aja. Kalau lo keluar nanti, jangan lupa dikunci pintunya.”
Dengan langkah seribu Cessa langsung menuju ke kantornya. Jam sibuk seperti ini pasti sangat susah mendapatkan kendaraan umum, dan juga pasti dimana-mana sedang macet.
Tepat lima menit sebelum jam delapan, Cessa sudah masuk ke dalam ruangan Nayla yang hari itu entah mengapa dipenuhi karyawan lain.
“Permisi, permisi.” Kata Cessa yang menyerobot ke depan meja Nayla. “Nay, ini artikel pertama gue. Dan sekarang gue harus segera ke kedai kopi untuk wawancara, thank you loh, Nay, janjiannya jam sembilan hari ini.”
Nayla hanya tersenyum, “sorry, Cess.”
“Kalau ada revisi, besok aja, ya. Gue harus wawancara sekarang.” Setelah berbicara seperti itu, Cessa langsung keluar dari ruangan Nayla dan segera berangkat menuju tempat perjanjian hari itu.
Setelah keluar dari gedung kantornya, Cessa segera berdiri di tepi jalan untuk naik angkutan umum menuju ke tempat ia wawancara nantinya. Jakarta hari ini sungguh penuh, sampai pukul delapan jalanan masih ramai saja.
Dan kemacetan Jakarta yang seperti tidak ada habisnya pagi itu membuat Cessa terlambat lebih dari sepuluh menit dari janjinya. Sampai di Kedai Kopi Kita, ia melihat Hujan sudah duduk di kursi yang ada di tengah-tengah ruangan itu. Segera saja Cessa menghampirinya.
“Selamat pagi,” Sapa Cessa yang membuat Hujan menoleh. “Maaf saya terlambat. Lalu lintas pagi ini kacau sekali.”
“Tidak apa-apa, saya juga belum lama sampai. Silakan duduk.”
Cessa lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Hujan. Segera saja ia mengeluarkan recorder dan buku yang menyimpan semua pertanyaannya.
“Ready?” tanya Cessa.
“Tunggu sebentar,” Hujan memperhatikan wajah Cessa lekat-lekat. “Kamu perempuan yang tiba-tiba mendumal di bandara itu, kan?”
“Benar sekali. Saya Cessa Roberts, reporter dari Hello Magazine yang akan mewawancarai anda pagi ini.”
“Baiklah, gue nggak mau terlalu kaku karena gue sudah tahu lo siapa. Nggak mau pesan makanan atau minuman dulu?”
“Tidak, terima kasih. Dan ini adalah wawancara, oleh karenanya saya harus profesional dan tidak dibawa santai. Bisa kita mulai sekarang?”
“Tunggu, sepertinya lo kurang tidur. Mau diundur aja wawancaranya supaya lo bisa istirahat dulu? Gue masih ada waktu sampai jam empat sore ini.”
“Tuan Arnold Baskara, bisa kita mulai sekarang?” kata Cessa yang emosinya mulai tidak terkendali karena kurang istirahat.
Hujan menyandarkan punggungnya disandaran kursi sambil tersenyum. “Gue mau mulai kalau setelah selesai wawancara nanti lo mau ikut ke apartment gue.”
Pandangan lurus Cessa ke Hujan lebih tajam dibandingkan mata pisau. Pandangannya mengisyaratkan pertanyaan yang harus segera di jawab Hujan.
"Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo. I promise.”
“Baiklah kalau jawaban itu bisa buat wawancara ini cepat selesai. Bisa kita mulai sekarang?” Cessa mengulangi pertanyaannya lagi. Ia mulai geram dengan tingkah Hujan.
“Silakan pertanyaan pertama, nona Cessa.”
Berilah hamba kesabaran lebih banyak lagi ya Tuhan.
Cessa menghela napas panjang yang dilanjutkan dengan menghidupkan recorder nya. Ia mulai mewawancarai Hujan yang diawali dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang umum ditanyakan oleh masyarakat luas, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan yang telah Cessa buat sedemikian rupa tentang perjalanan karir dan apa saja yang sudah dan belum didapatkan oleh seorang Arnold Hujan Baskara.
Seiring berjalannya waktu, Cessa mulai bisa mengendalikan dirinya dan meredam emosinya. Wawancaranya berjalan sesuai dengan apa yang ia rencanakan pagi tadi. Segala khayalan buruk yang ada di pikiran Cessa nyatanya tidak terjadi.
“Terima kasih atas waktunya, Arnold Hujan Baskara.” Kata Cessa seraya merapikan semua keperluan wawancara yang ada di meja.
“Jadi, lo harus ikut ke apartment gue. Dan jangan kaku lagi, wawancaranya sudah beres.”
Oh, ternyata kejadian buruk ada yang terjadi juga, namun ini diluar khayalan Cessa tadi pagi.
“Kalau lo melakukan hal buruk ke gue, gue bakal buat laporan ke kantor polisi.” Kata Cessa setengah mengancam.
“Gue nggak ada niat untuk melakukan hal buruk. Gue cuma mau lo istirahat, dan gue punya sesuatu yang mau gue tunjukkan ke lo.”
“Apa?”
“Lo bakalan tahu nanti. Ayo.”
Hujan bangkit dari kursinya dan mengulurkan tangannya ke Cessa. Cessa masih terdiam melihat uluran tangan dan wajah Hujan secara bergantian. “Oh c’mon, Cess, ini Jakarta, bukan California. Nggak bakalan ada paparazzi yang bakal foto-foto di jalanan.”
“Tapi lo sekarang model dunia, nggak mungkin nggak ada paparazzi yang ngikutin lo sampai Indonesia,” Pandangan Hujan membuat Cessa terdiam. “Okay, okay, ayo kita ke apartment lo.”
Cessa bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari kedai kopi ini dengan Hujan. Mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan kedai kopi itu.
“Ini... apartment lo?” pertanyaan Cessa sesaat setelah mereka sampai dan hanya dijawab anggukan oleh Hujan.
Mereka masuk ke gedung apartment itu dan naik ke lantai empatbelas, tempat unit Hujan berada. Saat pintu apartment Hujan dibuka, Cessa mulai merasakan kenyamanan. Unit apartment milik Hujan ini tertata rapi, berbanding terbalik dengan unit apartment Cessa. Mungkin juga karena apartment ini jarang dihuni makanya bisa sangat nyaman begini.
“Anggap apartment sendiri, ya. Gue mau ganti pakaian dulu, nanti gue kembali kesini.” Kata Hujan yang dijawab anggukan Cessa.
Setelah Hujan masuk ke kamarnya, Cessa mulai memperhatikan ruang tamu ini. Ruangan yang tidak terlalu besar disulap menjadi ruangan yang sangat nyaman. Ada dua sofa tamu berwarna abu-abu dengan bantal putih diatasnya dan satu meja kaca ditengahnya. Dibawanya ada permadani dengan bulu yang sewarna dengan sofa tamu. Lalu Cessa melangkahkan kaki ke sebuah sofa panjang berwarna biru tua tepat disebelah jendela besar yang menghadap langsung ke kota. Cessa meletakkan tas nya di atas permadani, dan ia merebahkan tubuhnya di atas sofa itu.
Suhu dingin dari pendingin ruangan dan panas matahari yang masuk dari jendela menciptakan rasa nyaman didalam ruangan itu. Rasa kantuk yang menyerang karena kurangnya tidur selama tiga hari belakangan itu membuat Cessa mau tidak mau mulai memejamkan matanya.
***
Harum teh yang diseduh memaksa Cessa untuk membuka matanya. Ia melihat Hujan baru saja meletakkan segelas teh diatas meja. Segera ia menatap keluar jendela, langit Jakarta mulai kelam yang menandakan hujan akan segera turun.
“Jam berapa sekarang?” kata Cessa sambil membuat tubuhnya duduk.
“Sudah bangun?” kata Hujan sambil menoleh ke arah Cessa. “Jam tiga sore.”
“Gue tidur selama itu?!” Hujan mengangguk, “dan lo nggak bangunin gue?”
“Gue tahu lo lelah, makanya gue biarkan lo tidur. Teh?”
“Terima kasih.”
Cessa menerima segelas teh dari Hujan dan meminumnya. Rasa hangat langsung menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Ia merasa tubuhnya mulai terasa lebih segar.
“So, apa yang mau lo tunjukkan ke gue?”
“Sebentar,” Hujan bangkit dari duduknya dan mengambil sesuatu itu di kamarnya. Ia kembali dengan selembar foto di tangannya, yang kemudian ia berikan ke Cessa. “Ini.”
Cessa mengambil selembar foto yang diserahkan Hujan. Ia mengenal foto itu, foto kelasnya saat ia masih di taman kanak-kanak di Los Angeles. Ia mula memerhatikan satu per satu wajah teman-teman sekelasnya yang sekarang tidak tahu bagaimana kabarnya. Akhirnya ia terpaku pada sosok Cessa kecil yang duduk tepat disebelah gurunya dengan rambut yang dikuncir dua dan senyumnya yang sangat ceria.
“Darimana lo dapatkan foto ini?”
“Dari Mrs. Julia.”
“Mrs. Ju—“ Cessa menghentikan omongannya dan mulai mencari sosok Hujan di foto itu. Perlahan, kembali ia perhatikan satu per satu wajah yang ada didalam foto itu. Sampai akhirnya ia menemukan sosok anak laki-laki bertubuh gempal yang berdiri paling ujung dengan sebuah permen lolipop di tangannya. Cessa menunjuk wajah itu dan menoleh ke Hujan. Hujan hanya tersenyum untuk menjawab kebingungan Cessa itu.
“Lo... Jonathan?” tanya Cessa. Hujan mengangguk pasti, dan masih dengan senyuman di wajahnya. “Bukannya nama lo—“
“Dulu nama gue memang Jonathan, setelah orang tua gue bercerai dan gue hanya di urus oleh Ayah, dia memutuskan agar gue merubah nama gue. Alasannya karena nama Jonathan adalah nama selingkuhan ibu gue. Ayah sangat membenci nama itu.”
“I’m sorry to hear that, Hujan.” Kata Cessa merasa tidak enak.
“Nggak apa-apa, semua sudah lewat. Gue bahagia dengan hidup gue yang sekarang.”
Kilat yang tiba-tiba membuat Cessa sontak menoleh ke arah jendela. Hujan mulai turun membasahi ibukota.
“Ini alasan kenapa gue membenci hujan.” Kata Cessa tanpa memalingkan wajahnya dari jendela.
Sosok Hujan mendekat dan duduk di sebelah Cessa, menemaninya melihat ke arah jendela, “Apa alasannya?”
“Semua yang buruk, entah itu terjadi pada diri gue atau di diri teman gue saat sedang bersama gue itu terjadi saat hujan. Hujan juga membuat aktivitas orang-orang diluar sana bisa terhenti, mengacaukan rencana orang yang mau pergi, dan masih banyak alasan mengapa gue sangat membenci hujan.”
“Tapi hujan bisa membuat orang-orang tertidur nyenyak, hujan juga bisa membuat orang yang tadinya stranger bisa jadi saling kenal saat sama-sama berteduh, hujan juga bisa membantu membangkitkan memori lama yang mungkin tidak bisa diingat saat sedang cerah, dan terakhir, hujan bisa membuat hubungan satu keluarga menjadi hangat. Lagipula, orangtua gue yang divorced itu sudah lama. Tadi, gue hanya cerita. Jadi, kejadian yang buruk tidak terjadi di gue saat hujan.”
Cessa terdiam. Ia tidak mau beradu pendapat dengan Hujan saat ini.
“Cessa, dengar, gue akan membuat lo kembali menyukai hujan.”