Pagi itu kepergian Cessa ke London diantar oleh Benji. Satu buah koper berukuran sedang itu telah keluar dari dalam bagasi mobil. “Benar, nggak mau ditungguin sampai kamu boarding?” tanya Benji saat menutup pintu bagasinya. “Kak Benji, ini bukan pertama kalinya aku berangkat ke luar negeri. Pulang aja. Ini hari Minggu, kasihan kak Nina—isteri Benji—nungguin kakak buat weekend ini. Biasanya kan, kakak sibuk.” Benji mengacak lembut rambut Cessa, “Hati-hati, ya. kalau sudah sampai dan dapet wifi gratis, cepat kabari aku.” “Pasti,” kata Cessa lalu memeluk Benji sebagai tanda perpisahan sementaranya. “Aku berangkat, ya.” Seiring Cessa masuk ke dalam terminal keberangkatan, Benji pun melaju pergi meninggalkan bandara. Setelah Cessa mendapatkan boarding pass-nya, ia masih harus menunggu sela

