2

1314 Words
Sampai di bandara, segera Cessa mengunjungi Customer Service bandara dan ia langsung diantar ke tempat pengaduan dan penyimpanan barang-barang penumpang yang tertukar atau lainnya. “Cess, gue ke toilet dulu. Nanti gue kesini lagi.” kata Ken yang disambut anggukan dari Cessa. Cessa menghampiri meja pengaduan tersebut dan menjelaskan bahwa kopernya tertukar. “Silakan tunggu disini sebentar, mba. Saya akan memanggil petugas kami.” petugas customer service itu pun berlalu meninggalkan Cessa dan tas kopernya. Suasana tempat pengaduan ini sepi, hanya ada dua orang yang bernasib sama dengan Cessa. pandangannya tercuri oleh seorang lelaki jangkung yang gesturnya dikenal Cessa. siapa lagi, lelaki yang tadi protes didalam pesawat pastinya. Ya Tuhan, jangan bilang kalau tas koperku tertukar dengannya. “Why God, why.” Ternyata suara Cessa mampu menarik perhatian lelaki itu. Ia melihat Cessa kemudian tersenyum. “Gue nggak butuh senyuman,” Cessa mulai mendumal. Ia menggunakan bahasa Indonesia karena menurutnya, lelaki itu tidak mengerti bahasa Indonesia. “Sepertinya dua kali gue bertemu dengan lo, dua kali juga gue sial. Dan semua terjadi saat hujan, gue sangat membenci hujan. Sekarang gue berharap, sangat berharap jangan sampai tas koper gue ter—“ “Tuan Arnold Hujan Baskara.” Suara petugas itu memaksa Cessa melihat Arnold—yang baru ia ketahui namanya— dan petugas. Ada harap-harap cemas di hatinya. Namun ada hal yang membuatnya tertawa. Wajah bule tulen, namanya Baskara. “Ini sebagai pengganti dari tas anda yang pecah, namun kami mohon maaf karena untuk ukuran tas anda, persediaan tas koper pengganti kami sedang kosong.” kata sang petugas bandara itu sambil memberikan sebuah tas koper baru kepada Arnold. Suara percakapan mereka terdengar oleh Cessa karena memang ruangan ini tidak besar. “Terima kasih, pak. Bukan masalah, yang terpenting dari pihak maskapai sudah mau bertanggung jawab atas kelalaiannya.” Arnold segera memindahkan seisi tasnya ke dalam tas baru. Setelahnya ia berjalan keluar dari ruang pengaduan itu dan berjalan tepat di hadapan Cessa yang masih shock setelah mengetahui bahwa Arnold orang Indonesia dan bisa, bahkan fasih berbahasa Indonesia. “Panggil aja gue Hujan. Dan gue bisa berbahasa Indonesia,” Langkah Arnold—atau mulai sekarang ia dipanggil Hujan—kembali terhenti dan kembali menghadap Cessa. “Satu lagi, jangan pernah membenci hujan.” Dan sekarang ia benar-benar meninggalkan Cessa yang masih terdiam atas kejadian sebelumnya. *** Ken yang baru saja kembali dari toilet menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang dikenalnya keluar dari ruangan yang sama dengan Cessa. Ya, Hujan. Setelah ia berlalu, Ken segera masuk dan menemui Cessa yang masih menunggu disana. “Gimana?” “Sebentar lagi beres.” Ken hanya mengangguk, namun merasa lega. Kenapa? Karena ternyata Cessa tidak mengenal Hujan. *** Hari yang panjang baru saja dilalui oleh Cessa. Hari penuh keterkejutan. Untungnya saat ini ia sudah ada di apartmentnya dan ia bisa merasa sangat nyaman. “Sudah bangun, Princess?” Cessa hanya tersenyum mendengar Ken memanggilnya demikian. Ken memang memiliki satu kunci duplikat apartmentnya, sengaja Cessa berikan kepadanya, entah apa alasannya. “Gimana perjalananmu disana?” Cessa bangun dari tidurnya lalu terduduk sambil menyandarkan kepalanya dibahu Ken yang memegang segelas teh hangat. “Nggak gimana-gimana. Disana gue hanya diam di hotel dan di tempat seminar selama tiga hari. Dua hari sisanya hanya gue habiskan di hotel. Mood gue hancur karena hujan.” “Pasti cuma alasan.” Ken memotong pembicaraannya. “Gue serius,” kata Cessa, “lagi-lagi saat gue mau pulang, gue ketemu seorang lelaki yang menyebalkan.” “Menyebalkan gimana?” “Namanya Arnold, atau Hujan. Or whatever his name is, ia berhasil membuat gue malu di depan petugas bandara karena tidak tahu kalau ia bisa berbahasa indonesia.” Ken terkejut. Berarti mereka sudah saling kenal? “Yang penting dia nggak menuduhmu yang macam-macam, Cess.” Ken lalu mengeluarkan sebuah kertas undangan ke sebuah acara bazar buku. “Datang, ya. Ada bazar buku. Siapa tahu disana elo bisa menemukan novel-novel lama yang lo cari.” Cessa menerima undangan itu. “Sorry, Ken. Besok gue udah harus masuk kerja. Tapi.. makasih ya.” “Untuk?” “Semuanya.” Ken tersenyum, dan memberikan gelas berisi teh tadi ke Cessa. Ia lalu beranjak menuju sisi lain apartment Cessa, tempat dimana kertas-kertas berhamburan dimana-mana. Kali ini Ken bukan ingin membereskan kertas tersebut karena bukan kertas pekerjaan Cessa yang berhamburan seperti biasanya, melainkan miliknya sendiri. Ken bilang ini kertas kerjaan dia. Tapi Cessa masih tidak mengerti. Kertas-kertas itu berisi tanggal, tempat, dan susunan acara. Cessa mengambil salah satu kertas yang berada didekatnya dan mulai membacanya, “Wa—“ “Apaan sih Cess, main ambil kertas kerjaan orang aja.” kata Ken yang sigap mengambil kertas ditangan Cessa. “Kalau memang itu kerjaan lo kenapa gue nggak boleh lihat?” “Ini kerjaan... ini kerjaan rahasia.” “Rahasia apaan? Mana ada fotografer yang pekerjaannya rahasia. Kalau paparazzi baru, rahasia.” Ken tidak menanggapi omongan Cessa. “Oke. Kalau nggak boleh lihat kerjaan lo, gimana kalau kita ke rumah lo? Sudah lama berteman tapi gue sama sekali nggak tahu isi rumah lo sama sekali.” “No.” “Why?” “No, Cess.” “Why, Ken? Semua tentang gue, lo tahu. Tapi gue? Setitik pun gue nggak tahu tentang elo. Tentang kehidupan lo. Yang gue tahu hanya lo adalah Kendeka Allen. Teman gue dari awal gue masuk high—“ omongan Cessa terhenti saat ada seseorang yang mengetuk pintu apartmentnya. Tanpa bicara apapun Ken bangkit dan membukakan pintu. “Kenzo..” “Hi, Ken, Cess. Di luar badai.” kata Kenzo—saudara kembar Ken—sambil menggantungkan mantelnya. “Itu alasan kenapa gue nggak mau membawa lo ke rumah, Cess.” kata Ken yang kembali duduk di dekat Cessa. Cessa tidak menanggapinya, melainkan ia langsung bangkit dan beranjak ke toilet. Ia sudah mulai bosan dengan segala alasan yang diberikan Ken agar ia tidak datang ke rumahnya. Entah kenapa Cessa sama sekali tidak boleh menginjakkan kaki di rumah Ken, seperti ada yang disembunyikan darinya. *** Ken menatap Cessa sampai ia menghilang dibalik pintu toilet, lalu mengubah pandang ke arah Kenzo. “Sekali lagi elo menyelamatkan hidup gue.” “Gue sama sekali nggak menyelamatkan hidup lo,” kata Kenzo sambil mengeluarkan roti dari tasnya. “lagian, mau sampai kapan lo menyembunyikan semuanya?” Ken menatap kertas yang berhamburan dihadapannya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Kenzo begitu saja. Pekerjaan yang sudah ia jalani dua tahun belakangan ini membuatnya selalu berbohong dengan Cessa. Ken sengaja menutupi pekerjaannya karena ia tidak mau pada akhirnya Cessa pergi menjauh karena pekerjaannya itu. Ken bukan seorang fotografer, melainkan seorang social media star berkat video-video yang diunggahnya ke berbagai jejaring sosial. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kenzo. Namun bedanya, Kenzo tidak ingin menutupi semuanya. “Cessa nggak akan membenci lo, Ken, kalau lo memberitahu dia dari awal. Daripada dia tahu dari orang lain? Saat itu malah dia akan membenci lo dengan sepenuh hatinya.” “Tapi gue nggak bisa. Gue bekerja di bidang yang bahkan Cessa tidak mau melihatnya, kalau gue memberitahu dia bahwa gue buat video lalu gue upload ke social media, apa dia nggak membenci gue?” “Elo terlalu takut, Ken. Cessa seorang perempuan yang open minded, kok. Ia tidak menyentuh social media sama sekali karena menurutnya itu tidak ada untungnya bagi dia. Sedangkan rekan kerjanya yang lain? Mereka selalu menggunakan jejaring sosial itu, bahkan dihadapan Cessa. Apa Cessa membencinya? Tidak. Ketakutan lo itu jauh dari kata ‘takut ditinggal sahabat’, melainkan ‘takut ditinggal orang yang dicinta’.” Ken masih diam. Ia melihat Cessa keluar dari toilet dan masuk ke kamarnya. Ia terus menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu. Pikirannya menjadi campur aduk. "I can't, Kenzo. Gue nggak mau buat Cessa menjauh dari gue." "Terserah elo, gue mau pulang. Selalu percuma gue bicara panjang lebar sama elo." Kata Kenzo lalu bangkit dari tempatnya duduk. Ken juga langsung merapikan seluruh kertasnya dan berniat untuk ikut Kenzo pulang. "Cess, gue pulang." Kata Ken lalu ia keluar dari unit apartment Cessa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD