"Mamiii!" Kaliya berteriak dan masuk begitu saja ke dalam salon yang tak lain dan tak bukan adalah milik Maminya.
Teriakan Kaliya yang seperti kebakaran jenggot, membuat para kapster dan pelanggan yang sedang menikmati fasilitas salon itu menatap heran pada cewek cantik yang terlihat begitu berantakan. Tak lama kemudian, Mami yang berada di ruang kerjanya sontak keluar lantaran mendengar suara yang sangat jelas adalah suara putri semata wayangnya.
"Kaliya? Ngapain sih kamu teriak-teriak?!" Tanpa banyak bicara Mami pun langsung menyeret Kaliya ke dalam ruang kerjanya sebelum anak gadis itu membuat semua pelanggan yang ada di sana melarikan diri ketakutan.
"Mami keterlaluan!" Kaliya mengempaskan tubuh langsingnya ke atas sofa empuk yang terletak di depan meja kerja Mami. Ruangan itu punya fasilitas yang cukup lengkap dan berukuran 4x3 meter dengan kamar mandi yang terletak di sudut belakang.
"Keterlaluan apa sih maksud kamu?" Mami yang keheranan melihat putrinya itu mengamuk bertanya sembari memberikan sebotol soft drink yang berasal dari kulkas mini yang terletak di sudut ruangan.
"Ya Mami emang keterlaluan banget!" Kaliya berujar hal yang sama terus-menerus sambil bersungut-sungut membuat Mami teringat sesuatu.
"Eh, iya!" Sebelum marah-marah, Mami yang mau marah dulu sama kamu, Kaliya! Kenapa kamu melarikan diri dari tempat les?"
Kaliya yang semakin kesal dengan pertanyaan Mami lanjut mengomel sendiri. Dia melepaskan wedges yang sedari tadi dia gunakan dan menaruhnya sembarangan.
"Mami kenapa namain aku kaya nama Caffe nya di foodcourt?!" Akhirnya Kaliya bersuara kembali dan menatap tajam Mami yang terlihat begitu anggun dengan setelan gaun kerja berwarna pink dan rambut yang digelung sederhana. Menampakkan kecantikan yang luar biasa yang juga dia wariskan terhadap Kaliya.
"Nama? Foodcourt?" Mami mengerutkan kening.
"Iya, Mi! Kenapa? Aku lihat nama couter yang sama dengan namaku di foodcourt yang biasa aku ke sana!" Kaliya sangat jengkel dan frustasi dengan reaksi Mami yang justru seperti tidak mengingat apa pun.
Omelan panjang Kaliya itu sontak membuat Mami terkekeh dan tersenyum sendiri karena Mami kembali mengenang awal mula dan asal muasal nama putri tercintanya, Kaliya Zuppa.
"Papi, sebentar lagi anak kita lahir loh," ujar Mami pada pria yang begitu dia cintai yang duduk di sebelahnya. Mami lalu mengusap perut dan menikmati makanan yang tersaji di tempat favorit mereka, foodcourt.
"Iya, Mi. Kata dokter, anak kita nanti perempuan, ya?"
"Iya. Mau kita kasih nama siapa anak kita nanti, Pi?" tanya Mami manja setelah menghabiskan suapan terakhir Zuppa Soup di hadapannya.
"Siapa ya, Mi? Papi masih bingung," jawaban itu membuat sepasang suami istri yang terlihat begitu saling mencintai itu terdiam dan berpikir dalam.
"Gimana kalau Kaliya Zuppa, Pi?" ujar Mami ketika melihat nama restoran favoritnya, Kaliya Zuppa.
"Unik namanya, Mi. Boleh juga. Papi pernah dengar, 'Kalia' atau bisa juga 'Kaliya' menurut bahasa Hawaiian itu nama artinya cantik. Dan putri kita kelak pasti secantik nama dan ibunya," ujar Papi mesra smebari mengusap perut Mami yang sudah begitu.besar.
Mendengar jawaban itu, Mami tersenyum bahagia. Nama yang cantik dan unik untuk Putri yang kelak akan menjadi sumber kebahagiaan dalam keluarga kecil mereka. Nama yang melambangkan tempat dimana cinta mereka pertama kali bertemu dan menjadi favorit mereka, foodcourt dan zuppa soup.
Mami tersenyum bahagia hingga kibasan tangam Kaliya membuatnya tersentak dan lamunannya buyar seketika. Wajah Mami tiba-tiba murung. Hal itu tertangkap oleh Kaliya namun buru-buru Mami sembunyikan.
"Mami, jawab pertanyaan aku! Kok malah bengong?" Kaliya melembutkan suaranya karena melihat senyuman yang menghiasi wajah Mami tiba-tiba menghilang.
"Eh iya, Sayang... nama kamu, ya. Itu panjang ceritanya. Nggak apa-apa kan nama kamu kaya foodcourt? Artinya bagus kok. 'Kaliya' atau 'Kalia' itu artinya cantik loh, Sayang. 'Zuppa' itu dalam bahasa Italia artinya sup. Kebetulan nama kamu mirip foodcourt itu karena dulu Mami suka ke sana," jawab Mami kembali ceria, meskipun Mami tidak menceritakan semuanya.
"Mami, kalau supnya udah dingin?" cetus Kaliya asal. Penjelasan Mami tidak membuatnya puas. Menurut Kaliya, itu sangat memalukan.
Melihat putrinya masih ngambek Mami mendiamkan dan menatap lembut. Suatu hari kamu akan tahu seberapa berarti nama kamu, Nak.
(*)
Kelas XI IPA 2 terasa Lenggang karena Kaliya masih membungkam mulutnya. Meski beberapa kali geng cewek-cewek lebay, yang tiada lain adalah Black Angel, terus mengganggunya. Diamnya Kaliya membuat Gensi dan Tiny menjadi bingung. Pagi tadi, Kaliya masih ngambek dan tak ingin diantar ke sekolah oleh Mami. Dia terpaksa menelepon Tiny agar bersedia menjemputnya.
"Kata Mama gue, mending lo makan deh. Biar nggak bete dan sedih lagi," ucap Tiny yang perutnya padahal sudah keroncongan. Namun, dia tak ingin dianggap sebagai sahabat yang tidak solid. Gensi hanya mengangguk-angguk menanggapi perkataan Tiny.
"Alaaah, Mama lo tahu soal apa tentang kesedihan gue?" bantah Kaliya. Gensi melihat Sapto yang berdiri santai di depan kelas. Sudah hampir sepuluh menit waktu istirahat berlalu. Gensi tak ingin Tiny berat badannya turun hanya karena jam istirahat kali ini dia tak makan apa pun.
"Sapto! Sini lo!" Gensi anak seorang tentara dengan jabatan yang tinggi dan dengan dandanan yang tomboy abis lumayan ditakuti disekolah. Sapto mengangguk dan menghampiri Gensi.
"Tolong beliin roti dong. Empat, ya. Sama minuman dinginnya tiga. Nih duitnya," ucap Gensi sembari menyerahkan uang selembar lima puluh ribu yang dia ambil dari saku baju. Sapto mengangguk dan segera berlalu. Tiny tersenyum bahagia. Kaliya mengernyitkan dahi.
"Lo pesen empat roti?" Tanya Kaliya.
"Kan buat Tiny dua. Iya nggak, ndut?" Gensi tersenyum dan menepuk bahu Tiny. Tiny mengangguk dan tertawa. Pandangan Gensi beralih kepada Kaliya.
"Lu ada apa? Ayolah cerita! Apa karena kamaren kita nggak bisa nganterin lo makan di foodcourt?"
"Lebih mengerikan dari daripada itu,Gen."
"Maksud lo, kamaren pas gue nemenin adik gue belajar, di luar sana bumi mulai dikuasai alien?" timpal Tiny yang hobi menonton film fantasi.
"Lebih dari itu, Tiny."
"Atau ternyata Toni blair itu perempuan?" tebak Gensi.
"Lebih buruk daripada fakta itu." Kaliya masih berkelit.
"Apa dong?" teriak Gensi dan Tiny bersamaan karena frustasi.
"Ternyata, nama gue itu sama kayak nama salah satu counter di foodcourt favorit kita!"
"What?!"
"Nggak usah lebay deh!"
Kaliya meremas rambutnya dengan ekspresi seolah kucing tetangganya mati karena tertabrak mobil. Begitu juga Gensi dan Tiny.