"Gitu deh ceritanya, Za. Ngeselin emang tuh si Betty! Bikin gue seumur hidup trauma sama kaca salon!" Kaliya menyudahi cerita pengalaman kelamnya dengan emosi yang terlihat jelas. Teraza tidak berhenti tertawa mendengar cerita Kaliya. Membuat Kaliya sangat kesal dan mengancam Teraza agar diam. Namun masih sulit untuk menghentikan tawa, Teraza benar-benar meyakini bahwa Kaliya memang aneh. Kaliya memukul bahu Teraza.
"Nggak asyik lo. Males deh gue cerita-cerita lagi sama lo." Kaliya kembali menonjok tangan Teraza dan melakukan aksi ngambek.
"Sorry, Kal. Gue cuma nggak bisa bayangin aja kalau lo ternyata pernah kutuan, upsss." Adit coba membungkam mulutnya yang menahan tawa dengan tangan.
"Itu karena temen gue si Neni, Za. Ternyata dia biang dan sarang kutu kupret yang sudah bikin gue ngeri seumur hidup."
Teraza masih berusaha mencoba menahan tawa. Tapi, demi melihat wajah Kaliya yang semakin merengut akhirnya Teraza diam.
"Terus sekarang Betty di mana?"
"Sukses gila dia! Sekarang kerjanya di Paris."
"Waw!" Teraza berdecak kagum.
"Itu berkat kutu gue!" Kaliya mulai bisa tersenyum. Dia geli sendiri pada dirinya yang pernah kutuan.
"Ya udah, ya udah. Itu kan masa lalu, Kal. Sekarang lo mau pesen makanan apa? Biar gue pesenin."
"Nasi goreng sefood ya, Za! Gue laper banget nih." Kaliya menyebutkan pesanannya.
"Nasi?" Teraza merengut mendengar pesanan Kaliya.
"Iya! Nasi ya, Za. Pedes!" Kaliya tidak menangkap wajah Teraza yang berubah karena mendengar kata 'nasi'.
Dengan malas akhirnya Teraza berjalan menuju counter makanan pesanan Kaliya dan makanan yang hendak dia makan, zuppa soup.
Beberapa saat kemudian, pesanan Kaliya datang. Satu porsi besar nasi goreng seafood dengan telur mata sapi di atasnya. Kaliya langsung mengambil makanan itu dan segera makan dengan semangat dan cepat. Teraza yang melihat Kaliya memakan dengan lahap nasi gorengnya bergidik dalam diam.
"Lo pesen apa, Za?" Kaliya bertanya pada Teraza dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Sebelum Teraza menjawab pertanyaan Kaliya, seorang pelayan sudah datang membawa semangkuk sup yang sama dan sering Teraza makan setiap kali berkunjung ke sana.
"Oh, zuppa soup." Kaliya melanjutkan makannya.
"Makannya pelan-pelan, Kal!" Teraza gemas melihat cewek di hadapannya yang melahap makanan seperti belum makan tiga hari.
"Laper gue, Za! Eh iya. Gue cobain dong zuppa lu. Gue kan belum pernah makan itu." Kaliya hendak menyendok zuppa soup milik Teraza dengan sendoknya yang berlumuran sisa nasi. Namun, sebelum dia melakukan itu, Teraza sudah menyuapkan sesendok penuh zuppa soup ke mulut Kaliya yang membuat Kaliya sedikit tersedak.
"Duh, Za. Kenapa lo yang nyuapin sih?"
"Jangan pake sendok lo! Gue geli itu kan bekas nasi!" Teraza menjawab dengan tatapan memelas menatap nasi dan piring Kaliya.
"Ah, belagu lo, Za! Sini biar gue suapin lo nasi goreng kesukaan gue." Kaliya menyendok nasinya banyak-banyak lalu bersiap menyuapkan nasi itu pada Teraza yang langsung ditepis Teraza sehingga membuat sendok itu terjatuh dengan nasi yang berhamburan. Kaliya melotot. "Za! Lo kenapa? Kok kayak orang kesurupan?" Kaliya kesal akan hal yang dilakukan Teraza. Hampir seluruh mata pengunjung jadi tertuju pada mereka berdua.
"Kan udah gue bilang kalau gue geli sama nasi! Tapi malah ngeyel!" Teraza tampak marah dan bangkit ingin meninggalkan Kaliya. Melihat Teraza yang benar-benar terlihat ngambek dan ingin pergi, Kaliya langsung membujuk Teraza untuk kembali duduk. Akhirnya, Teraza mengalah dan kembali duduk.
"Lu serius geli sama nasi, Za? Terus lo makan apa dong?" Kaliya melembutkan suaranya untuk membuat Teraza berhenti kesal.
"Apa saja, Kal! Asal bukan nasi atau apa pun yang terbuat dari beras," Adit menjelaskan ketidaksukaannya. Kaliya teetawa mendengar penuturan Teraza. Ternyata, bukan hanya dia yang aneh. Teraza juga lebih aneh!
"Nasi kan sumber karbohodrat, Za."
"Kan bisa diganti umbi."
Kaliya kembali tertawa. Bahkan lebih kencang dari pada tawa Teraza yang tadi geli karena keanehan Kaliya akan kaca salon.
"Iya, iya! Udah puas ketawa, Kal? Ampun deh gue. Mainannya jangan sama nasi." Teraza mencubit hidung mancung Kaliya sambil meringis menatap nasi Kaliya yang berantakan.
"Ya udah. Sama-sama aneh kan kita? Jadi jangan saling menghina." Kaliya masih belum bisa menghentikan tawanya.
"Pindah tempat duduk yuk, Kal!" Teraza memindahkan makanannya ke tempat duduk lain yang mau tak mau diikuti Kaliya.
"Gue mau pesen zuppa soup juga dong, Za. Makanan gue kan tumpah! Zuppa soup ternyata enak." Kaliya cengengesan sambil mengusap perut langsingnya yang masih terasa lapar.
"Makan lagi, Kal? Nasi lo kan tadi tinggal sedikit." Teraza kaget melihat cewek yang bertubuh sangat ideal itu ternyata memiliki nafsu makan yang sangat besar. Hari ini benar-benar banyak kejutan dari Kaliya untuk Teraza begitu juga sebaliknya.
(*)
"Weekend ke mana, Kal?" Gensi bertanya sembari duduk di samping Kaliya. Kaliya tersenyum dan menyibakkan rambut agar wanginya tercium oleh Gensi. "Cie... ke salon." Kaliya mengangguk-angguk senang.
"Eh, Tiny mana? Kok pas upacara gue nggak lihat dia? Sekarang udah bel mau masuk lagi tapi badan gemuknya belum kelihatan sih?" Kaliya melihat ke sekeliling. Teman sekelasnya sudah hampir masuk semua. Suasananya pun sangat gaduh. Terlebih Tania, sang ketua kelas, masih berada di luar kelas. Jadi, belum ada yang bisa menertibkan anak-anak. Gensi mengangkat bahunya.
"Tadi gue lihat dia baru dateng di gerbang. Dianter Kak Reno," jelas Gensi.
"Lu nggak nyamperin dia?" tanya Kaliya. Gensi menggeleng. "Gue kan bawa mobil sendiri, Kal. Pas gue ninggalin parkiran, Tiny udah nggak ada. Kirain sih udah di kelas atau ikut berbaris.
"Waduh."
"Mungkin di kantin," tebakD Gensi. Kaliya mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Nah, lo weekend ke mana, Gen?"
"Biasa. Nganter kakak gue latihan nembak."
"Lo ikut latihan?" tanya Kaliya antusias. Gensi menggeleng.
"Gue kan takut sama suara ledakannya."
Kaliya terawa dan menoyor kepala Gensi. "Dasar manja!" Gensi mencoba balik menoyor kepala Kaliya. Namun, Kaliya menangkisnya dengan cepat.
Bel tanda masuk sudah menggema dan terdengar sangat nyaring. Namun, tubuh gemuk Tiny belum juga terindentifikasi keberadaannya. Kaliya memutuskan untuk menghubungi handphone Tiny. Namun, tidak ada jawaban. Saat melihat ibu Riska, guru fisika yang sudah paruh baya, Kaliya dan Gensi mulai gelisah. Tiny memang rakus. Tapi, tidak mungkin dia tuli dan tidak mendengar bel sekolah yang menyakitkan gendang telinga. Kaliya memutuskan untuk izin ke kamar mandi kepada Ibu Riska. Bu Riska pun mengangguk.
"Langsung kabarin gue, ya?" bisik Gensi. Kaliya mengangguk dan berlalu.