Part 54 Sehari setelahnya, Hartono menerima sebuah surat yang dikirim. Lebih tepatnya sebuah berkas, karena dalam ukuran yang besar. Ia yang duduk di kursi teras sambil menikmati secangkir kopi. Dengan santai membuka kertas yang ada di tangan tanpa nama pengirimnya. Matanya membelalak sempurna, saat tahu isi dalam amplop besar berwarna coklat berperangko itu. Napasnya naik turun menahan emosi. Tuduhannya jelas langsung terarah pada Rasti. Menantu yang sangat dibencinya itu. Lelaki yang sangat cerdik itu, tentu saja tidak langsung percaya dengan benda yang saat ini ada di tangannya. Secepat kilat bersiap menuju kantor BPN untuk mengecek apakah sertifikat itu masih bisa digunakan atau tidak. Ia bahkan lupa, bila Firna, menantu kesayangan sudah tidak ada lagi di rumahnya. Sementara Wening

