Kesepakatan Damai

1139 Words
Seperti yang dijanjikan oleh Dendi tepat dua jam setelah mereka berpisah, pemuda itu datang ke Vein Karaoke sendirian dengan membawa ransel hitam. Yudha yang kebetulan berdiri di dekat pintu masuk menatap dingin padanya. Di dalam ruangan Garen, Hera hanya menatap sengit kepada Kaliya. Gadis itu tengah sibuk memainkan kukunya dengan gaya tengil yang membuat Hera kesal. "Kamu gak kayak orang sakit," telisik Hera. Dengan santai Kaliya menjawab, "Tangan gue yang mulus ini harus menerima konsekuensi dari perbuatan si tamu edan itu. Wajar kalau gue minta ganti rugi gede lagian jumlah segitu gak akan bisa buat tangan gue mulus lagi." Entah kenapa Hera langsung meraung, "Kamu hanya memikirkan kulit yang gak seberapa itu tanpa memikirkan citra Karaoke ini. Kamu tau tindakanmu sama saja dengan pemerasan!" "Terus gue kudu nerima maaf aja gitu? Apa kabar dengan nyeri yang gue tanggung sekarang?" "Seharusnya kamu memikirkan juga nama baik tempat ini!" "Untuk apa?" tanya Kaliya dengan nada menantang. "Kok nanya untuk apa?! Ya jelas seharusnya kamu melakukan itu karena kamu karyawan terbaik disini. Dimana loyalitas kamu sebagai karyawan terbaik?" "Loyalitas terhadap perusahaan cuma dapat bonus seperempat gaji. Kalau cuma demi gelar gue kudu menderita— sorry, gue bukan penjilat." "Kamu!!!" Garen segera menghentikan perdebatan keduanya. Dia tahu Hera tidak akan mendapatkan jawaban menyenangkan dari Kaliya. Bahkan gadis itu sama sekali tak menghormati Hera sebagai istri bosnya. Sepertinya tidak ada yang membuatnya gentar di dunia ini selain Yudha. Suara interkom berbunyi di meja Garen, terdengar suara Tina ketika tombol ditekan. "Pak ada tamu yang ingin bertemu katanya sudah janjian." Garen menyuruh Tina masuk membawa tamu tersebut. Tak lama Komar ikut masuk ke ruangan itu. "Saya sudah menyiapkan uang dan surat perjanjiannya." Garen menghampiri dan menyuruhnya duduk di sofa. Kaliya otomatis bergeser ke sudut sementara Hera beralih ke kursi kebesaran suaminya. "Silahkan dibaca dulu," ucap Dendi menyerahkan surat perjanjian tersebut. Kaliya mengambil surat itu dan membacanya. Tidak banyak yang tertulis disitu, sama seperti surat damai pada umumnya. Namun ada yang menarik perhatiannya, tentang poin korban perempuan. Siapa lagi kalau bukan Kaliya? Di kertas itu tertulis bahwa korban perempuan bernama Kaliya akan mendapat kompensasi seumur hidup. Tak ayal poin itu membuat Garen berang. Dia menangkap ada unsur kebucinan yang hakiki si pemuda mabuk itu dengan Kaliya. Sontak Garen menghempaskan surat perjanjian damai itu ke atas meja. "Saya mau poin terakhir dihapus!" Kaliya melotot tak percaya Garen menentang poin itu. Ada nilai tambah walau sedikit terhadap pria pemaksa itu. Meskipun Kaliya mata duitan, untuk terikat pada seseorang jelas dia akan menolak. "Memangnya kenapa, Pak? Saya berniat baik padanya." Hera spontan beranjak menghampiri mereka, tangannya merebut surat perjanjian itu dari Garen. Sama halnya dengan Kaliya; Hera lebih tak percaya Garen mau ikut campur dengan poin yang bersifat pribadi itu. "Kamu gak perlu repot-repot memberi kompensasi semacam ini. Saya tidak mau ada akibat lain dari poin tersebut," tolak Garen dengan tegas. "Setuju!" jawab Kaliya cepat. Tanpa malu-malu pemuda itu menatap Kaliya. "Saya merasa bersalah sudah menyerang kamu, mohon pikirkan lagi tawaran ini." "Kalau memang lo merasa bersalah, seharusnya ke Komar bukan gue! Dia yang lebih parah!" "Tapi—" "Hapus atau saya bawa kasus ini ke jalur hukum!" lontar Garen dengan mata menyala. Hera terkejut mendengar ancaman Garen, instingnya berkata ada sesuatu yang aneh antara suaminya dan gadis tidak tahu tata krama itu. "Baiklah! Saya akan menghapusnya," mau tak mau Dendi mencoret bagian itu. Setelah surat itu ditandatangani oleh pihak terkait. Dendi mengeluarkan dua amplop tebal dari tasnya. Apalagi isinya kalau bukan uang damai. "Silahkan dihitung." Dendi menyodorkan amplop itu ke Kaliya dan Komar. Tangan Komar bergetar hebat menerima lima gepok ikatan uang berbau harum itu. Sungguh tidak diduga insiden ini membuatnya jadi mendadak tajir. Kaliya berkata, "Gak perlu dihitung, Terima kasih." "Boleh saya minta nomor telepon kamu?" Garen langsung berseru, "Nggak!" Spontan mereka semua kompak menatap heran padanya. "Kenapa jadi kamu yang nolak?" tanya Hera curiga. "Nanti aku jelaskan," ucap Garen santai. Saat itu juga Hera mengecam dalam hati, "Apa-apaan sih, kok dia keras banget ngebelain Kaliya? Liat aja nanti pas di rumah aku bakal usut masalah ini." Setelah kesepakatan damai selesai, mereka semua keluar dari ruangan Garen kecuali Hera. Ia terus melototi pria itu dengan tatapan penuh kecurigaan. "Ayo kita pulang, aku ingin bertanya tentang masalah ini padamu." "Tanyakan saja di sini," sahut Garen cuek. "Ren! Kenapa sih akhir-akhir ini sikap kamu ke aku tuh dingin banget?" "Daripada kamu menuntutku dengan pertanyaan konyol itu mendingan tanya sama diri kamu sendiri apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat aku kecewa padamu." "Masalah istri pilihanku?" "Nada bertanya kamu seolah itu hanya masalah sepele. Hera, kamu sadar gak sih sudah meremehkan harga diriku sebagai kepala keluarga? Oke, aku akui memang kamu lebih kaya dari aku, setidaknya aku bisa menghidupi dan membiayai hasrat glamor kamu selama dua tahun ini." "Kenapa kamu jadi mengungkit soal itu? Aku cuma memilih yang terbaik buatmu." "Untukku? Hahaha, lucu banget sih?!" "Apanya yang lucu?" "Gimana bisa kamu menikahkan aku dengan gadis tak berdaya itu hanya karena dia miskin? Kamu yakin aku gak bakal jatuh cinta padanya?" "Dia jelek dan kampungan, cewek kayak gitu jelas bukan selera kamu." "Tolonglah! Kamu itu wanita berwawasan luas tapi tidak memiliki pikiran yang terbuka. Wanita berasal dari manapun bisa dengan mudah berubah tergantung dengan keadaan. Bisa saja aku menyulap dia jadi cantik dan modis kalau memang perasaanku kau ukur dengan penampilan fisik." "Garen!!!" teriakan histeris Hera mengaung memenuhi ruangan. "Aku sekarat, Ren! Aku cuma mau menjaga cinta kita." "Apa kamu pikir aku rela ditinggalkan? Kalau memang ajal akan memisahkan kita sebentar lagi, seharusnya kau dengarkan aku dari awal. Aku ingin menghabiskan sisa kebersamaan kita dengan indah bukan malah dihadiri oleh orang ketiga!" "Kamu sudah tahu bukan tujuanku apa?" "Alasan kamu melakukan itu demi kepuasan pribadi sementara kamu gak memikirkan perasaanku. Kalau memang hatiku tetap berpihak padamu sampai akhir tanpa kau melakukan hal seperti ini perasaan itu gak akan berubah. Sekalipun kau mengantisipasi agar aku tidak bisa jatuh cinta lagi kalau memang cinta itu datang aku juga gak bisa menghindarinya." "Berarti kau gak benar-benar mencintaiku." "Terkadang perasaan itu bisa berubah hanya karena tertekan. Camkan itu!" "Maksud kamu apa?" "Kau tadi bertanya padaku; kenapa aku jadi suka gak pulang kerumah, bukan? Asal kau tau aku malas pulang karena harus menghadapi dua wanita yang berstatus istriku." "Kau cukup mengabaikan dia, Ren!" "Lalu untuk apa kau menikahkan dia denganku?" "Demi anak kita." Garen tertawa frustasi. "Apa cuma kepentingan anak kita yang ada dalam pikiranmu? Lalu aku ini kau anggap apa?" "Disatu sisi aku ingin cintamu hanya untukku tapi disisi lain aku juga ingin memberikan figur seorang ibu untuk anakku. Aku mohon mengertilah, Garen!" "Oke! Kalau begitu aku bakal mempercepat pernikahan ketiga dengan begitu keadaan kita seri." "Ren," sebutnya dengan tatapan memelas. "Kau sudah menyetujui syarat itu. Perempuan yang akan aku nikahi adalah sosok yang kau dambakan; seorang perempuan oportunis yang lebih mengutamakan uang daripada cinta. Bukankah itu yang kau inginkan?" Hera hanya bisa tertunduk lemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD