"Mulai sekarang kamu harus beritahu saya jika kamu akan keluar dari rumah ini!"
Viola tidak menjawab atau membantah perintah Ezra. Ia sadar jika Ezra mengatakan hal yang benar. Sebagai istri seharusnya Viola meminta izin jika akan keluar dari rumah.
Paper bag yang dibawa oleh Viola tadi mengalihkan pandangan Ezra. Ia menatap banyaknya paper bag yang ada di kasur Viola sekarang.
"Dari mana uang kamu bisa belanja sebanyak ini?" tanya Ezra. Viola ingin tertawa mendengar pertanyaan bodoh Ezra. Ia menanyakan asal uangnya. Tentu saja Viola bisa dari mana saja mendapatkan uang. Kedua orang tuanya cukup mampu hanya untuk membeli barang-barang seperti ini.
"Aku punya cukup tabungan untuk membeli barang-barang ini," jawab Viola dengan bangga.
Tangan Ezra mengeluarkan dompet dari saku celananya. Ia membuka dompet tersebut dan mengeluarkan tiga kartu bewarna hitam. Setelah menyimpan kembali dompetnya, Ezra memberikan ketiga kartu itu kepada Viola.
"Kamu bisa menggunakan kartu ini jika kamu mau belanja. Baik itu keperluan rumah maupun keperluan pribadi kamu. Jadi kamu tidak peru mengeluarkan uang kamu untuk hal apapun. Sekarang, kamu tanggung jawab saya."
Viola mengambil kartu yang diberikan Ezra. "Terimakasih.." Ucap Viola ketika memgambil kartu itu. Sebenarnya ia tidak terlalu membutuhkan kartu ini dari Ezra. Tapi jika ia menolaknya, ia yakin akan terjadi pertengkaran nantinya.
"Besok.. Tolong antar Thalia ke sekolahnya. Thalia kepingin kamu antar dia ke sekolah," pinta Ezra.
"Tentu saja.. Akan aku antarkan besok," balas Viola. Ezra menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia pergi meninggalkan Viola dan kembali ke kamarnya.
Sepeninggalan Ezra, Viola kembali menatap barang belanjaanya. Suasana hatinya seketika kembali baik ketika melihat berbagai belanjaannya. Dengan penuh semangat ia membuka satu persatu barangnya.
****
Pagi ini Viola sangat bersemangat. Ia juga sudah memakai pakaian kantornya dengan lengkap. Kemeja dan rok span diatas lulutnya. Ia sangat suka memakai roknya ini. Walaupun dulu ia sering ditegur atasannya, tetapi Viola tetap memakainya. Karena memang atasannya sudah sangat bosan menegurnya, baik di kantor maupun di rumah.
Viola juga membawa tas selempangnya. Setelah ia rasa penampilannya sudah sempurna, ia pun memutuskan untuk keluar kamar untuk sarapan.
Ia dapat melihat Thalia dan Ezra sudah berada lebih dulu dari dirinya di meja makan. Sepertinya karena ia membutuhkan waktu lama untuk memilih pakaiannya hari ini, makannya Ezra mendahuluinya.
Pandangan Ezra dan Thalia terpusat pada pakaian yang digunakan Viola. Tetapi Viola malah melebarkan senyumannya melihat tatapan Ezra. Ia merasa Ezra sedikit menyukai pakaian yang ia pakai hari ini.
"Kamu mau kemana?" tanya Ezra ketika Viola sudah duduk. Viola mengecup singkat pipi Thalia sebelum ia menjawab pertanyaan Ezra.
"Aku mau ngantar Thalia sekolah, setelah itu aku mau kerja."
Ezra mengeryitkan dahinya mendengar jika Viola akan bekerja. "Kerja? Kerja di mana kamu?" tanya Ezra lagi.
"Iya kerja di tempat ayah. Aku ka sebelum nikah sama kamu, aku kerja di sana. Semalam aku udah bilang ke mama kalau aku akan kembali kerja lagi dan mama setuju, jadi hari ini aku kerja." Viola mengatakan semuanya dengan penuh semangat. Ia tidak sabar ingin kembali bekerja.
"Tiga kartu yang saya kasih tadi malam tidak cukup untuk kamu?"
"Ini bukan soal uang Ezra. Aku memang mau bekerja saja, emangnya salah ya?"
"Salah! Tugas kamu di rumah ini juga ada Viola. Kamu tidak bisa sesuka hati kamu memutuskan semua ini sendiri!" Suara Ezra sudah mulai meninggi. Suasana di meja makan sudah mulai memanas.
"Tugas apa? Masak udah ada mbak Dila. Ngurus rumah juga ada yang ngerjain. Aku gak ada perannya di rumah ini selain jadi ibu untuk Thalia kan? Lagian Thalia sekolah sampai sore. Jadi untuk apa aku di rumah yang besar ini sendiri tanpa melakukan apapun? Bosen. Hak aku kan mau kerja atau enggak. Kamu gak berhak untuk melarang aku," ucap Viola. Ia menyampaikan isi hatinya kepada Ezra.
"Saya berhak untuk melarang kamu Viola. Saya suami kamu kalau kamu lupa. Dan saya tidak mengizinkan kamu untuk bekerja."
Perkataan Ezra seperti tidak terbantahkan lagi. Ia bahkan sudah memukul meja makan dengan cukup kuat yang membuat Thalia tersentak.
"Aku tidak suka di kekang, Ezra. Terserah kamu mau kamu setuju atau tidak. Aku akan tetap pada keputusan aku yaitu Kerja." Viola menekan kata Kerja ketika berkata. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil tas Thalia yang berada di bawa kursi.
"Ayo sayang kita berangkat," ajak Viola pada Thalia. Thalia pun bangkit dari duduknya dan memberikan tangannya untuk digandeng oleh Viola.
Baru lima langkah mereka berdua berjalan, Ezra sudah berhasil meraih lengan Viola dan menghentikannya. Viola dan Ezra untuk sesaat saling bertatapan. Bukan tatapan cinta, tetapi tatapan penuh amarah dan kekesalan.
Ezra melepaskan tangan Viola dari genggaman Thalia. Wajah Thalia tidak berekspresi apapun. Ia seperti sudah sering menyaksikan kejadian ini. Sebenarnya Viola tahu ia tidak boleh bersikap seperti ini di depan Thalia. Tetapi menyaksikan Ezra yang membuat keputusan sesukanya membuat amarah Viola naik. Mungkin ia akan meminta maaf pada Thalia setelah kejadian ini berlalu.
"Kamu tidak perlu mengantar Thalia. Saya bisa mengantar anak saya sendiri," tutut Ezra. Penuturan Ezra tentang anak membuat Viola tersentak. Ia seolah tersadarkan jika Thalia bukanlah anaknya.
"Dila.. Jika ibu keluar satu langkah dari rumah ini, kamu akan saya pecat!" sambung Ezra. Ia berbicara kepada Dila tetapi tatapannya tetap fokus ke Viola. Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Ezra melangkah pergi sembari membawa Thalia. Meninggalkan Viola yang masih terdiam mencerna perkataan Ezra.
Tak lama, suara mobil Ezra menjauh dari rumah menandakan jika pria itu sudah pergi meninggalkan rumah ini. Mendengar suara itu Viola meneteskan air matanya. Perasaan kesal dan marah tercampur di dalam hatinya.
Tersadar dengan air mata yang ia keluarkan, Viola menghapus air matanya dengan kasar. Langkahnya berjalan ke depan, ia akan tetap dengan pendiriannya. Tapi sekali lagi, sebuah lengan menghentikan langkahnya. Viola dapat melihat Dila sudah berada berada di depannya dengan wajah yang penuh kasihan.
Ia menggelengkan kepalanya kepada Viola, menandakan bahwa Viola tidak boleh keliar dari rumah ini. Viola berusaha untuk meyakinkan dirinya agar ia tidak terpengaruh dengan wajah polos Dila. Ia berusaha untuk bersikap tidak perduli dengan semuanya.
Viola menghempaskan tangan Dila dari lengannya dan kembali melangkah maju. Lagi dan lagi Viola ditahan oleh Dila. Kali ini Viola merasakan perasaan iba kepada Dila.
"Tolong jangan keluar bu. Saya gak punya pekerjaan lagi kalau di pecat dari sini."
***