Bab 1. MOS (Masa Orientasi Sekolah), hari baru, lembaran baru, dan teman baru

3803 Words
Awal mula memasuki tahap baru pembelajaran disekolah tentunya diawali dengan masa-masa pengenalan sekolah dan berisi yang tugas yang sangat melelahkan. Setiap siswa wajib mengikuti kegiatan ini sebagai bentuk diterimanya disekolah yang baru. Tidak sedikit keperluan yang harus dibawa, tidak sedikit tugas yang harus dikerjakan, "tapi semua siswa bisa apa?", tentu saja terdiam dan menerima dengan lapang dada... Hari pertama MOS pun datang, seketika bel berdering begitu keras, siswa-siswi bergerombol menuju lapangan karena akan diadakan pengumuman sekaligus peresmian dibukanya MOS pada tahun ajaran tersebut. Pada pagi itu Opin bangun sangat pagi, dia sangat takut telat datang ke sekolah, bahkan Opin pun sudah berangkat dari jam 06.30 WIB padahal MOS malah dimulai pada jam 07.15 WIB. Opin berdiam disekolah yang masih sepi itu, menunduk, dan kadang merasa bosan karena belum ada temannya yang datang. Seketika Opin berkata.. " Yaampun kalian pada kemana sih guys, apa pada tak takut telat,padahal udah hampir jam 7 :(..." Sembari memasang raut wajah yang terheran-heran. Dan tidak lama kemudian mulailah banyak yang datang, Opin melihat Tifani dan Kiara sudah datang, dan langsung menghampiri mereka. Opin bertemu dengan Tifani dan Kiara sambil bercerita ria dipagi yang sedikit mendung itu. "Loh kalian kok baru datang sih ?..." Ujar Opin "Lah ini loh Pin, Tifani lama banget dandannya, padahal cuma mau ke sekolah " jawab Kiara sambil bercanda Dan Opin berkata "HAHAHAH Tifani kan memang terkenal leletnya dari dulu, udah tau waktu mepet tetap aja kek siput yang lagi jalan, lamanya minta ampun:)..." sambil tetawa lepas Tifani pun selalu senyum-senyum saja mendengar pembicaraan 2 sahabatnya itu, karena dia berpikiran bahwa semua yang dikatakan sahabatnya itu sangat benar. Bel berbunyi begitu nyaring, siswa-siswi berlari menuju lapangan, semua berbaris denga rapi sesuai perintah dari senior yang sedang ada didepan. Ternyata ketika pembagian kakak pendamping Opin dan sahabatnya mendapat pendamping yang sudah dikenalnya sejak sama SMP. Kakaknya memang baik dan ramah, namun suka sekali usil dan bercanda dengan Opin, sampai Opin pun takut untuk dekat dengan kakak itu karena suka bercanda. "Oke semuanya perhatikan perintah dari depan, ikuti arahannya, dan jangan sampai ada yang mencoba berbuat pelanggaran. Sekecil apapun pelanggaran yang kalian buat, kalian akan dipanggil dan diberikan sanksi yang setimpal," Ujar kakak Ketua OSIS SMA Harapan Bangsa dengan sangat lantang.. Semua siswa mulai diperintahkan memakai atribut yang sudah dipersiapakan, atribut yang jadi bahan tawaan semua orang disekolah, mulai dari kalung cabe, rok tali plastik, dan bahkan tas dari karung. Opin sontak saja tertawa melihat masa lalunya yang memakai atribut itu, siapa lagi kalau bukan Orlan. Orlan yang berbeda regu dengan Opin terlihat sangat lucu, mukanya yang sok keren kelihatan sangat kucel ketika menggunakan seluruh atribut itu, tapi Orlan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya heran melihat Opin yang terus saja menertawakannya... Berbeda dengan Havid yang tetap kelihatan cool ketika menggunakan atribut itu, membuat teman-teman ceweknya Opin banyak yang ingin berteman dan berkenalan dengan dia. Tapi entah kenapa tak pernah terlintas dalam hati Opin untuk mendekat padanya, Opin menganggap semuanya biasa saja, tidak ada yang WOW dari dia, hanya seperti cowok pada dasarnya. Mungkin karena wajahnya yang lugu saja jadi ada banyak siswa yang tertarik padanya. Tanpa disadari Opin ternyata seregu dengan Havid, tanpa mendekat padanya, malah Havid yang mulai mendekati Opin, berkenalan, dan akhirnya berteman. Havid terlihat menghampiri Opin dan mengajaknya ngobrol.. Havid : "Hallo, kamu Lovida kan ya...?" Opin : "Iya benar sekali.. kamu bisa panggil Opin aja kek teman-teman yang lainnya.." Havid : "Oh tentu saja Opin, aku senang sekali bisa berkenalan denganmu, mungkin untuk kedepannya kita bisa menjadi teman akbrab ya..." Havid : "Oh iya sampai lupa buat kenalin nama sendir, oh iya kamu bisa panggil aku Havid.." Opin : "Hehehehe tentu saja Havid, semoga kita bisa berteman dengan baik.." Kegiatan dilapangan pun disudahi, semua siswa diperintahkan untuk masuk ke dalam kelas masing-masing yang sudah diberi kode. Akan tetapi, ternyata atribut yang memalukan itu tidak boleh dilepas sampai bel pulang berbunyi. Di hari pertama MOS semua regu diperintahkan untuk menciptakan yel-yel, memikirkan bakat yang akan ditampilkan, dan belajar baris berbaris untuk dilombakan setiap regunya. Opin yang kurang menyukai MOS pun hanya bisa diam, tapi ya dia bisa apa ?. Tentu saja harus tetap mengikutinya. Opin sembari berpikir dan berkata dalam hatinya "Yaampun bakat apa yang harus aku tampilkan ?, aku kan gak bisa apa-apa. Kalau nyanyi suara ku tentu tidak mendukung itu. Apa Melukis ?, yah gak mungkin juga menampilkan bakat lukis disini ya:(.... Aduh ini sedikit membingungkan aku...." Opin memang ceria, suka senyum, dan berusaha selalu terlihat bahagia. Tapi dia tidak bisa mengetahui apa bakat yang dimilikinya. Jangankan bakat, hobby nya saja tidak jelas. Opin memang gadis yang suka menggambar dan melukis, tapi sama sekali tidak suka menyanyi. Karena itulah Opin sangat bimbang dengan bakat yang harus ditampilnya. Ditengah-tengah kebingungan Opin terdengarlah suara pengumuman yang begitu melengking dari depan kelas "Untuk semua teman-teman siswa baru di SMA Harapan Bangsa ini, untuk penampilan bakatnya dapat disiapkan satu saja untuk setiap regunya, tidak perlu semuanya tampil namun cukup satu perwakilan saja" ujar kakak pendamping dari depan. WOW senyuman lebar seperti senyum pepsodent langsung terpancar dari wajah Opin dan teman-temannya. Seketika Opin berkata "Sepertinya rejeki anak sholeh" sambil tertawa. Perpiapaan penampilan bakatpun mulai mereka lakukan, Opin hanya diam dan mendengarkan diskusi. Sampai regu mereka sepakat akan menampilkan baca puisi diiringi dengan musik berupa gitar yang akan dimainkan oleh dua orang teman sekelasnya, mereka mulai berlatih musik, mulai memikirkan nyanyi yel-yel. Dan akhirnya Opin berhasil mengusulkan suatu lirik lagu yel-yel yang disukai oleh semua teman-temannya. Havid sekektika tertawa dengan usulan Opin yang terdengar menarik, dan langsung berteriak kalau dia setuju dengan idenya Opin.. Diskusi berjalan lancar, lirik pun sidah difinalkan, tinggal waktunya untuk menghafalkan. Opin, Tifani, dan Kiara mulai belajar begitu juga teman-teman lainnya sampai waktu pulang pun datang. Hari pertama pun selesai, Opin berlari bahagia ke lapangan untuk baris sebelum pulang, tapi tidak sampai disitu karena MOS akan berjalan 3 hari lamanya. Mungkin menurut orang lain itu sebentar, tapi tidak dengan Opin. Opin berpikiran 3 hari adalah waktu yang sangat panjang untuk bermain dengan beribu tugas MOS yang sangat melelahkan, membuat tidur tidak tenang, dan semangatpun sedikit mulai hilang. Namun Opin selalu berpikir bahwa Tuhan tak akan memberikan ujian melebih batas kemampuannya, Tuhan memberikan itu semua berarti Opin memiliki kemampuan melebihi itu semua. Sembari di jalan pulang ternyata Opin tidak menyadari kalau dia berjalan didekat Havid. Opin langsung menghampirinya dan mengobrol sambil melangkah pulang. Opin berkata "Hai Havid!!, eh bukannya rumah mu didesa sebelah ?, tapi kok kamu pulangnya jalan kaki sih?.." sambil menatap sedikit heran. "Hehehe iya Pin, rumahku lumayan jauh sih dari sini, tapi gapapa aku suka jalan bereng teman-teman, udah biasa juga soalnya.." Ujar Havid dengan tersenyum "Oalah iya benar sekali, jalan kaki sama teman-teman sangat asik sih, apalagi kalau diisi dengan cerita-cerita, bakal lama dijalannya dan ngga terasa capeknya" balas Opin dengan canda tawa "Nah itu Pin, lagian kalau pulang cepat pun dirumahku engga ada orang, jadi yah tetap sendirilah. Nah karena itu mending jalan lama kan banyak teman" Ujar Havid.. Berjalan dengan penuh candaan ditepi jalan raya yang tak kalah ramainya. Menikmati panasnya matahari siang, melupakan lelahnya seharian. Opin dan Havid terus berjalan beriringan. Mereka ngobrol seperti orang yang sudah kenal akrab, padahal masih hari pertaman perkenalan. Ntah kenapa mereka pun merasa bingung satu sama lainnya, tapi yah jelas sih itu semua karena mereka memang suka bercanda dan terkenal cerianya. Waktu berlalu dan jarak rumah Opin pun sudah semakin dekat.. Opin : "Hu akhirnya sudah sampai dirumahku nih Havid, kamu mau mampir dulu ?" Havid : "Oh ini ternyata rumahmu, aku selalu lewat disini Opin ketika berangkat dan pulang sekolah. Jangan dulu Pin, nanti kalau aku mampir bisa ditinggal teman-teman hehehe..." Opin : "Oh iya juga ya, okey gapapa Havid besok-besok deh mampir sesekali, ajak teman mu juga gak masalah kok." Havid : "Asiappp Pin, kalau gitu aku balik dulu ya, sampai ketemu besok di MOS berikutnya. Tetap semangat walaupun meresahkan.." Opin : "Okeyy Havid siapp, semangat juga besok!" Havid pun melanjutkan perjalannya menuju rumahnya yang masih sangat jauh, mungkin ada beberapa tanjakan lagi yang harus dilaluinya. Tapi yah Havid tetap senyum dan bercanda dengan teman-temannya. Sampai saat diperjalanan pun salah satu teman bertanya kepadanya kenapa dia bisa dekat dengan Opin dalam waktu satu hari saja. Havid hanya bisa tersenyum dan seketika berkata "Opin anak yang baik dan asik, dimudah bergaul walaupun dengan orang baru seperti aku, aku merasa dia sangat welcome terhadap siapapun yang mendekatinya. Dia sangat ramah dan pintar, namun semua itu tidak pernah membuat dirinya sombong. Aku gatau apa itu hanya perasaan dan pemikiranku saja, namun aku nyaman berteman dengannya...." Haripun berlalu, malam datang dengan sendirinya. Tidak lama beberapa saat setelah itu pagi memancar dan hari ke 2 MOS telah dimulai. Semua siswa seperti pada hari sebelumnya di bariskan dahulu sebelum memasuki agenda lainnya. Setelah dibubarkan dari lapangan ternyata kegiatan selanjutnya itu adalah penampilan bakat dan yel-yel yang sudah dipersiapkan. Penampilan itu dimulai secara acak sesuai nomor yang terpilih, semua siswa menikmati hari itu dengan keceriaan, kebahagian, dan senyuman. Menikmati setiap penampilan yang sangat menarik perhatian, melihat adanya lelucon yang tak henti-hentinya. Seketika Opin sangat senang melihat penampilan dari regu lain sambil berkata didalam hati " Kreatif sekali ya regu mereka, dapat inspirasi dari mana sih, sampai akupun tak pernah terpikirkan hal yang semenarik itu". Tapi semuanya tidak masalah bagi Opin karena proses setiap orang akan berbeda, dia selalu berpikir apapun proses yang dia alami akan indah jika dilakukan dengan ikhlas. Tidak ada rasa kecemburuan yang ditunjukkannya hanya saja dia ingin menjadikan semua itu inspirasi dalam hidupnya untuk lebih baik lagi. Untuk tidak menutup bakatnya dan lebih mengenal dirinya sendiri. Begitu gembira suasana di SMA Harapan Bangsa pada hari itu. Tiba saatnya untuk istirahat sejenak, dan Tifani berketa " Wih mantep juga kita dah kelar 2 hari MOS, ntar lagi bisa pulang dan tidur" sambil terlihat sangat bahagia. Tetapi, semua bahagianya sepitas langsung menghilang ternyata di hari itu belum selesai, dan ada kegiatan tambahan yang harus mereka semua ikuti. Opin dan Kiara pun sontak mentertawakan Tifani. "Tif kalau mau mimpi, yuk tidur dulu. Masa jam segini dah mau pulang sih...." Ujar Opin pada Tifani "Yaampun apa-apaan ini?. Ini semua membuatku lelah dan mau pingsan. Aku kira dah kelar loh hari ini Pin, tenyata itu tipuan pikiran ku saja..." Jawab Tifani dengan sedikit melesuh "Sudah-sudah yuk kita gabung sama teman-teman yang lain, biar cepat kelar dan bisa pulang" kata Opin Mereka bertiga pun pergi menghampiri teman-teman seregunya. Disana para kakak pendamping memberikan perintah agar semua regu berkumpul dalam satu kelas yang sama, tentu saja semuanya heran kenapa tiba-tiba semuanya digabung. Ada kejutan apa lagi yang akan diberikan kepada mereka.. Sembari semua berkumpul didalam ruangan itu, huh ternyata diadakan kegiatan senang-senang bersama namun cukup menantang. Kegiatan itu seperti menggoper sebuah benda yang diberikan seperti "boneka kecil" sambil diiringi dengan musik yang gembira. Nah ketika musiknya berhenti, maka disaat itu sipemegang boneka harus kedepan menampilkan sesuatu, ntah itu bakatnya, ntah itu membuat lelucon atau bahkan juga menunjuk satu lagi siswa sebagai temannya didepan. Semua seperti pucat sesaat, yang semulanya tertawa tiba-tiba terdiam, dan sontak mereka semua berkata "YAH GAK SERU KAK!!" tapi semua panitianya tetap melanjutkan. Musik pertamapun diputar, dan berhenti disalah satu siswi yang bernama Ninda. Ninda diberi hukuman sesuai yang dia inginkan. Tentu saja semuanya cari aman dan hanya mau menampilkan bakatnya, untung saja Ninda pintar berpuisi sehingga dia tidak merasa takut untuk tampil. Namun bagaimana dengan Opin yang tidak merasa percaya diri dengan bakat yang ada dalam dirinya, dan takut ketika disuruh tampil kedepan. Benar saja ketika musik kedua dimulai, upsss musiknya berhenti ketika boneka dipengang oleh salah satu teman cowok yang tidak disukai oleh Opin karena keusilannya.. Tiba-tiba cowok itu diminta ke depan oleh semua kakak pendamping. Seketika semua terdiam, cowok itupun maju ke depan dan menghampiri kakak-kakak itu. "EHH iya kak..." Ujarnya sambil sedikit takut " HAHAHA santai aja, gausah gemetar, toh aku gak makan orang " Balasnya sambil tertawa "hehe iya kak. Aku harus lakuin apa ya kak ?" Ujar cowok itu kembali " Okey dari tadi kek nya kurang menarik ya hukumannya, nah gimana nih pada mau yang lebih seru gak ?, kapan lagi gitu adain seruan bareng-bareng kayak gini. Besok dah hari terakhir MOS loh, jadi hari ini kita bikin sebuah kejutan:)...." Ujar kakak pendamping dengan penuh candaan. Serentak semua menjawab dengan semangat "SETUJU KAK, SERU PASTINTA" teriakan semua siswa. Dan ternyata kakak tersebut mempunyai ide dapat dikatakan sangat HOT sih. Apa itu ya?, yah semuanya menjadi sangat kepo hehehe... Seorang kakak mulai mengeluarkan barang bawaannya didalam tas, hophop ada sesuatu yang membuat semuanya kaget, hu didalam tasnya ada sebuah benda yang manis dan disukai oleh para wanita. Yah setangkai mawar merah yang berbungkuskan plastik kaca.. Terkaget-kaget melihatnya itulah yang dirasakan Opin dan teman-temannya.... Dalam seketika Kiara berbicara "Weh apaan ini, apa yang bakal terjadi ?. Guys tolong ini kakaknya mulai macam-macam loh, jangan bilang nanti ada yang ditunjuk buat kedepan temenin cowok itu loh. Yakali loh heh aku gasiap banget..." Ujarnya "Eh jangan gitu sih Kiara, bikin takut ih. Ikutan dah gak sanggup kalo ditunjuk, dan pastinya aku gak bakal mau kalau disuruh ke depan sama siapapun itu sekalipun dia tampan atau good looking hahaha..." Ujar Opin pada temannya itu Hmmm tepat saja sontak ketua OSIS tersebut melirik pada Opin yang pendiam. Dan langsung dia berbicara dengan lantang dari depan... " Oh aku dari tadi belum lihat seseorang yang pendiam lo maju kedepan. Aku mau dong yang diam-diam dari tadi buat maju kedepan, biar gak diam mulu nih.. Yang duduk paling belakang kayaknya mau maju nih. Ayok Opin dah siap buat maju kan ya?..." Ujar kakak ketua OSIS Seketika Opin yang awalnya senyum dan ceria, tiba-tiba langsung pucat pasih, merasa takut, dan matanya mulai berkaca-kaca untuk maju kedepan. Opin menolak permintaan dari ketua OSIS itu. Opin tidak mau kedepan, dia berkata " Gak mau kak, aku gak mau maju. apalagi buat dikasih bunga sama cowok. Engga dulu deh kak, pilih yang lain aja dong kak jangan Opin" Ujarnya dengan penuh ketegangan.. Opin terus saja dipaksa kakak-kakak itu diiringi dengan kata-kata candaan. Semua teman-temannya mendukung Opin untuk maju. Tapi Opin tetap tidak mau beranjak dari bangku paling belakang itu, dia terdiam, tertunduk, dan memperlihatkan raut wajah kesal. Dikarenakan Opin yang terus saja menolak dan wajahnya sudah semakin pucat akhirnya kakak tersebut menunjuk teman yang lain. Hingga akhirnya Opin sedikit lega dan bisa kembali bernafas dengan santai... Yap setelah itu teman yang lain menggantikan posisi Opin. Semuanya terbawa suasana dengan adanya adegan memberikan bunga antara mereka berdua yang terkena hukuman. Seketika Opin tertawa dan bicara dalam hati " YaAllah untung bukan aku yang tadi maju, malu banget kalau sampai disuruh adegan kek gitu." Dan berakhirnya hukuman itu ternyata haripun telah menujukkan siang dan saatnya untuk pulang.. Semua bersiap-siap untuk segera pulang. Merapikan kelas, mebuang sampah, dan berbaris sebelum berpisah untuk kembali bertemu di hari esoknya. Semuanya merasa gembira karena mereka berhasil melalui MOS selama dua hari, tak terasa MOS sudah tinggal satu hari lagi... Bernafas lega untuk seketika, menikmati hasil yang sudah dilakukan, dan akhirnya akan ada hari ending yang mereka nantikan. Malam berlalu, mentari pagi pun terbit, datanglah hari dimana semua siswa merasa gembira. Seperti halnya kebahagian besar ketika mereka akan terbebas dari suatu beban besar setiap kali memasuki sekolah yang baru. Yah sungguh mengasikkan hari ketiga MOS sudah tiba, semua dimulai dengan awal yang cerah dan hari yang indah.. Di hari terakhir MOS akan diadakan banyak sekali kegiatan, tapi tetap ada saja kejutan yang bikin gemetar sudah disiapkan oleh para kakak pendamping tersebut. Tiba-tiba kakak tersebut mengatakan bahwa dihari itu akan diadakan acara meminta tangan kepada semua senior dan guru disekolah Harapan Bangsa itu. "Yaampun.... Aku pikir semua ini gak ada, aku pikir ini sudah dihapuskan. Tapi kok tiba-tiba diadain ya. Bukannya kemaren gak ada pengumuman sama sekali.." Ujar Opin dengan wajah sedikit kecewa Hahaha nyatanya perkataan Opin tersebut terdengar oleh Havid. Havid yang berdiri disebelahnya hanya tertawa dengan lebar sekali. "Kenapa Pin ?, gak usah takut kan kita cuma disuruh minta tanda tangan kakak-kakak senior serta guru. Jadi udah Pin bawa santai aja, jangan sampai semua ini jadi beban buat kamu.. Kamu cari aja sebanyak apa yang kamu bisa yang penting sudah mencoba. Tenang aku bakal selalu sama kamu kok. Nanti kita saling bantu biar dapet banyak tanda tangannya.." Ujar Havid dengan semangat "Tapi... Tapi Havid, aku paling takut yang namanya tanda tangan. Paling benci dan gak suka hal beginian. Kenapa setiap MOS ada juga seperti ini..., aku takut nanti gak dapet tanda tangan sama sekali. Aku takut ketika nanti minta tanda tangan sama kakak-kakak yang suka usil ternyata disuruh ini itu yang gak jelas lah.." Balas Opin dengan lemah "Opin gak boleh pesimis dulu, kita harus yakin kita bisa. Kita itu kan siswa baru jadi engga mungkin lah langsung dibully. Kalau kakaknya suruh-suruh yang masih wajar gapapa kita lakuin dulu. Tapi.... kalau kakak nya udah nyuruh yang gak masuk akal yaudah nanti kamu bilang aja gak mau dulu.. Pin aku yakin kok kamu bisa, bahkan aku yakin kamu bakal lebih mudah dapet tanda tangan daripada aku, karena kamu itu selalu sopan Pin terhadap siapapun itu jadi yakinlah..." Balas Havid Seketika Opin memikirkan semua perkataan Havid. Opin meyakini dirinya sendiri untuk mencoba. Apapun itu harus dilaluinya, sedikit berat dan menantang sih. Tetapi Opin tidak bisa apa-apa selain mengikuti perintah tersebut. Kegiatan meminta tanda tangan pun dimulai, Opin yang awalnya ragu, sekarang telah mengeluarkan bukunya untuk memulai dengan kakak-kakak yang dikenalnya dari SMP. Opin sudah mulai mendapati beberapa tanda tangan, walaupun belum banyak tapi dia tak mau menyerah. Dia berpikiran harus beriring dengan jumlah yang teman-temannya dapatkan. Opin terus berjuang, walaupun keringatnya mulai bercucuran ditengah kepanasan.. Semua siswa terlihat asik masing-masing mencari tanda tangan sebanyak mungkin, karena seperti biasanya banyaknya tanda tangan akan membuat mereka terpilih menjadi putra putri terbaik pada periode itu, dan akan membuat mereka dikenal baik oleh senior yang ada disekolah itu. Namun, Opin tetap yakin bahwa dia tak akan bisa menjadi putri terbaik karena banyak sekali saingan yang harus dikalahkan ditambah lagi ada anak kepala sekolah yang juga satu tingkat dengannya. Haripun bertambah panas, matahari semakin naik, membuat semuanya lelah dan letih. Tiba-tiba saja semuanya serasa tidak sanggup melanjutkan kegiatan itu, dimana jam telah menunjukkan pukul 11 yang waktunya sebentar lagi akan pulang.. dan sebelum pulang akan ada pengumuman pemenang berbagai kategori yang diadakan.. Benar saja ternyata kepala sekolah meminta kegiatan meminta tanda tangan tersebut dihentikan saja karena melihat siswa yang mulai kepanasan disebabkan teriknya matahari disiang itu.. "Mungkin untuk kegiatan kali ini dapat kita cukupkan saja, mengingat hari yang semakin siang dan waktu yang tersisa semakin sedikit, sepertinya akan kurang efektif jika kita terus melanjutkan kegiatan ini" Ujar kepala sekolah dari mic pengumuman sekolah. Serentak seketika seperti kembali bersemangat, seperti mendapat hadiah saja mereka semua berdiri dan berucap HORE dengan kompak. Semuanya senang karena mereka telah berhasil mengakhiri kegiatan MOS dengan sangat baik tanpa ada masalah sedikitpun walaupun dalam hatinya lelah, bahunya lemah, dan tubuhnya yang gemetar mereka tetap berusaha menyelesaikannya dengan sangat baik... Sebelum bel pulang, akan ada pengumuman sekaligus penutupan kegiatan MOS pada tahun itu. Semua siswa baru beserta semua panitia dikumpulkan dilapangan, semua siswa baru diminta menggunakan atribut dengan lengkap. Pengumuman pun dimulai oleh kepala sekolah, yang mengucapkan banyak terima kasih pada semua siswa yang sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan MOS itu... " Pejuang yang hebat adalah mereka yang selalu bersemangat. Kapanpun dan dimanapun mereka akan selalu menebar kebermanfaatan" Ujar Kepala Sekolah dengan penuh senyuman.. Setalah beberaoa saat pun, ketika Kepala Sekolah selesai menyampaikan ucapan-ucapannya. Dilanjutkan pengumuman oleh para OSIS SMA Harapan Bangsa... Dimulai dari ucapan terima kasih dan ternyata ada pengumuman sang juara-juara untuk setiap kegiatan yang dilakukan selama MOS berlangsung. "Okeh teman-teman disini kami sangat memberikan rasa apresiasi karena kalian semua keren, mulai dari semangatnya bahkan penampilan bakatnya. Bahkan kami bingung menentukan siapa yang akan mendapatkan gelar sang juara... Namun juara disini bukan berarti yang terbaik tapi beruntung sudah dipilih oleh semua siswa SMA Harapan Bangsa sebagai penampilan terbaik." Kata ketua OSIS " YEY" seketika saat pengumuman itu ternyata yang terpilih menjadi penampilan terbaik adalah regu lain bukan regunya Opin. Tentunya ada sedikit rasa kecewa yang terlihat pada wajah Opin dan teman-temannya. Namun kekalahan adalah hal biasa karena semuanya indah. Dan suatu ketika ada pengumuman regu terbaik, sontak Opin dan teman-teman seregunya memasang wajah penuh keceriaan, tepat sekali regunya Opin lah yang terpilih menjadi regu terbaik dan terkompak selama MOS berlangsung. Mereka bahagia tanpa disadari mereka memang kompak dari awal sampai akhir, tidak hanya mementingkan diri masing-masing, namun saling bergandengan mencapai suatu tujuan yang sama demi satu regu yang lebih baik namanya... Pengumuman dilajutkan dengan putra putri terbaik. Tetapi itu membuat semua siswa heran kenapa bisa ada putra putri terbaik sedangkan kegiatan meminta tanda tangan saja digagalkan. "Loh kok bisa ya guys ini ada beginian?, bukannya itu berdasarkan tanda tangan ?, lah tanda tangan kita aja gak dikumpulin heh..." Ujar Tifani dengan terheran "Loh bener Tif biasanya itu kan tanda tangannya yang dihitung, lah kita kan gak ada yaa... Tapi.... kenapa bisa tiba-tiba diadain gini ?" Sambung Kiara Opin dan dua sahabatnya itu semakin heran, seketika Opin berpikir apa mungkin yang menjadi putri terbaik adalah anak Kepala Sekolah ?... Tapi dia tersadar gak boleh berpikiran jahat dan menuduh tanpa bukti.. Pengumuman dimulai, ternyata benar yang dipikirkan oleh Opin. Tentu saja yang menjadi putri terbaik adalah anak dari Kepala Sekolah. Disaat itu Opin kecewa dan sedih, dia berpikir anak kepala sekolah itu saja tidak mengikuti semua rangkaian kegiatan, dan tak ada perhitungan tanda tangan. Namun kenapa bisa dia yang mendapatkan gelar itu dengan tertawa lebar. Opin merasa dunia tidak adil, semuanya hanya tentang mereka yang terkenal karena kedudukannya, dan Opin berharap tidak akan pernah sekelas dengan anak kepala sekolah itu. Karena semua itu akan membuat kehidupannya sulit, mungkin percaya pada hal yang hanya menurut nalar itu salah tapi ntah kenapa Opin terbawa pemikirannya terus yang kadang takut dan berhati-hati. Opin berpikir jika suatu saat nanti dia sekelas dengan anak kepala sekolah, apakah ada kesempatan untuknya mendapatkan juara satu dikelas ?. Sepertinya itu akan sedikit sulit untuk dipercaya karena semuanya bisa saja berubah dengan sekejap mata, seperti halnya semudah membalikkan telapak tangan tak butuh waktu yang lama. MOS resmi ditutup dan diakhiri semua siswa melepas atribut yang mereka gunakan dan meletakkannya disatu tumpukan yang sama. Setelah itu, dilakukan pembakaran semua atribut itu yang pertanda bahwa semua siswa baru tersebut resmi menjadi siswa di bumi SMA Harapan Bangsa yang akan berjuang menghadapi kerasnya masa SMA yang akan menentukan bagaimana nasih mereka berikutnya. "Titik Awal Perjuangan Dimulai, Lakulan Yang Terbaik Sampai Kalian Menjadi Yang Terbaik". kata orang dunia ini bukan tentang mereka yang terbaik, tapi bagaimana kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Tiga hari lamanya telah berhasil dilewati Opin dan juga teman-temannya. Ada kebahagiaan melewati semua itu. Dan ada juga kesedihan karena sebentar lagi mereka akan merasakan sulitnya dunia putih abu-abu. Bertemu dengan berbagai materi yang sangat susah. Berteman dengan berbagai tugas yang akan melanda. Tapi ini adalah awalnya menuju jalan masa depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD