Lebih Memilih Cinta Pertama

1333 Words
Laras memeriksa ponsel setiap detik saat dia tidak ada kerjaan. Sudah sampai rumah Hafid tidak menghubungi sama sekali. Setidaknya dia menanyakan keberadaan Laras dimana, sayangnya tidak ia lakukan. Atau mungkin saja Hafid marah karena Laras meninggalkannya tanpa izin darinya. Entahlah, rasanya Laras bingung setengah mati. Perasaan bersalah terus menghantui, memikirkan Hafid. Bodohnya Laras juga tidak memulai percakapan, atau menghubungi Hafid terlebih dahulu. Hal itu tidak tercatat di kamus kehidupan Laras. Sampai besok juga Laras tidak akan menghubungi Hafid terlebih dahulu. *** Seusai lembur bekerja, Laras menyempatkan diri duduk di depan lobi. Menyaksikan setiap orang-orang yang melewatinya. Laras disini menunggu kedatangan Hafid, lebih tepatnya ingin bertemu Hafid. Sayangnya, dia belum juga melihat pria yang sudah dekat dengannya selama 6 bulan lebih. Dengan rasa kesal, Laras berniat meninggalkan tempat ini, untuk kembali ke rumah. Namun, dia melihat seorang wanita sedang menghentikan sepeda motor di depan gedung perkantoran, dan terlihat jelas wanita itu sedang mengobrol dengan Hafid. Laras dapat mengetahui kalau itu Hafid. Pakaian dan tinggi badan menjadi ciri khas yang dimiliki oleh Hafid, bahkan potongan rambut. Jarak mereka memang sedikit jauh, tapi Laras yakin kalau itu Hafid. Kalau benar itu Hafid, lalu siapa wanita yang bersamanya. Laras penuh percaya diri segera menghampiri Hafid. Wajahnya terlihat santai dan belum terlihat kesal. Setelah berdiri di belakang Hafid, wanita yang sedang mengobrol dengan Hafid mengetahui keberadaan Laras. "Hai?" Laras menyapa terlebih dahulu, karena wanita yang bernama Desi itu hanya melihatnya saja. "Mas, kok ngobrolnya disini?" "Hah?" Hafid terkejut melihat Laras berada di belakangnya. Cekatan, Hafid berdiri sejajar dengan Laras. "Iya, karena Mas masih ada kerjaan jadi ngobrol disini." Laras melirik tas kain yang dibawa wanita itu, isinya seperti kotak makan siang. Desi mengikuti bola mata Laras yang melihat tas miliknya. Desi rupanya tahu hubungan antara Laras dan Hafid. Lalu, dia sengaja berbuat hal yang membuat Laras cemburu. "Mas, ini nasi goreng buatanku, spesial." Desi menyodorkan kotak makan, diberikan kepada Hafid. Hafid menggaruk kepala yang tidak gatal, merasa bersalah pada Laras. Begitupun dengan Laras, dia menaikkan sebelah alis sambil menatap tajam Hafid. "Terima kasih sudah repot-repot segala." Hafid menerima dengan senyum lebar, sesekali melirik Laras. Laras menahan amarah, siapa tahu dia hanya teman Hafid saja. Kalaupun ada hubungan spesial, itu menjadi alasan kenapa Hafid tidak mengajak Laras berpacaran. Pikiran itu mulai menghantui Laras. Selama 6 bulan hubungannya dengan Hafid tidak jelas. Perasaan Laras seperti dipermainkan oleh pria itu. Setelah isi otak memikirkan hal itu, Laras pergi begitu saja meninggalkan Hafid. Aneh yang didapatkan Laras. Jarak mereka belum jauh tapi Hafid tidak menahan kepergian Laras. Menjelaskan kata-kata saja tidak dilakukan Hafid sama sekali. Setelah menjauh, Laras sengaja menoleh ke belakang. Hafid dan Desi masih saling mengobrol, mengabaikan Laras. Perasaan Laras hancur, benar-benar merasa dipermainkan oleh Hafid. *** Laras kecewa pada Hafid. Beberapa hari ini dia tidak menghubungi Laras sama sekali. Dipastikan kalau Hafid meninggalkan Laras begitu saja. Apa semua pria seperti Hafid. Padahal Hafid termasuk pria baik, lemah lembut, hangat dan terlalu sempurna bagi Laras. Tapi semua hanya palsu. Dia memiliki sifat yang memuakkan. *** Laras datang bekerja menggunakan kemeja hitam, celana jeans biru muda. Rambutnya terurai begitu saja. Membuat wajah cantiknya semakin mempesona. Dia melihat Hafid di depan lobi, seakan menunggu seseorang. Laras mengira kalau Hafid menunggu dirinya. Wanita itu melewati Hafid begitu saja tanpa sapaan sama sekali. Laras mendengus kesal, Hafid tidak sedang menunggunya. Bahkan, Hafid yang melihat keberadaan Laras hanya diam, tidak berbicara sama sekali. Laras kesal. Mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh. Hitungan detik dia berbalik arah, menuju Hafid. Sial sekali bagi Laras. Hafid sudah berhadapan dengan Desi. Mereka tampak mesra. Herannya, Hafid berani berbuat seperti itu di saat semua orang tahu akan kedekatan antara Hafid dan Laras. Tentu yang dirugikan Laras, bukan Hafid. Merasa kesal setengah mati, Laras memberanikan diri untuk meminta penjelasan. Dia harus rela membuang rasa malu di hadapan semua orang termasuk Hafid dan Desi. "Mas?" Panggil Laras sedikit ketus. Alisnya bertaut penuh ketidaknyamanan. "Bisa bicara sebentar?" Hafid dan Desi berhenti bicara. Lalu, menoleh paksa ke arah Laras. "Iya, ada apa?" Hafid awalnya tersenyum dan tampak ceria saat berhadapan dengan Desi. Sekarang wajahnya tampak tegang. "Bicara aja disini. Silakan." Laras menggeleng tidak setuju. Masih dalam wajah serius. "Aku mau ngomong berdua aja tanpa ada orang lain." Pinta Laras, mulai memelas karena sudah menurunkan nada bicara. Hafid akhirnya setuju. Dia meminta izin untuk keluar dari gedung perkantoran pada Desi. Kemudian, dia mengikuti langkah Laras dari belakang. "Ada apa, Ras?" Tanya Hafid penasaran. Pertanyaan konyol membuat Laras membuang wajah dengan senyum kecewa. Setelah memfokuskan pandangan ke arah Hafid, Laras mulai serius lagi. "Dia siapa, Mas?" "Dia Desi, udah lama aku enggak ketemu sama dia." Hafid menjelaskan dengan santai. Sebelah tangan dimasukkan ke saku celana. "Aku calon istri Mas Hafid. Dan aku cinta pertamanya." Tidak disangka Desi muncul diantara mereka. Mendengar penuturan Desi secara langsung, Laras hampir terjatuh karena tubuhnya melemas. Beruntung Laras berhasil menenangkan diri. Tidak tampak raut kekecewaan pada wajah Laras. Wanita itu menarik napas panjang sebelum menjawab penjelasan dari Desi. Sesekali melirik Hafid yang memilih diam seribu bahasa. "Maaf, tapi aku ada urusan sama Mas Hafid. Aku ingin bicara berdua saja sama dia." Jawab Laras, terdengar bijaksana dan tegas. "Tapi dia calon suamiku, aku berhak ikut campur." Desi meninggikan suara, agar Laras paham apa yang diinginkannya. "Aku tidak akan merebut calon suamimu." Sungguh sakit berkata baru saja. Laras berusaha menguatkan hati dan tenaga agar tidak jatuh, bahkan air mata tidak dibiarkan menetes sedikitpun di depan Hafid dan Desi. Kalimat baru saja tidak seharusnya Laras ucapkan kalau saja Hafid mengajaknya berpacaran atau menikah. Jadi, memang benar alasan Hafid tidak memutuskan menjalin hubungan dengan Laras. Karena dia sudah memiliki calon. "Aku ingin menyelesaikan urusanku dengan Hafid, itu saja." Hafid masih diam. Sedikit terpukau oleh cara bicara Laras yang bijaksana dan berhasil menahan emosi. Hafid memang salah, mempermainkan perasaan Laras. Tapi setidaknya, dia harus menyelesaikan urusan dengan Laras, setelah itu dia bisa memulai atau melanjutkan hubungan dengan Desi. "Urusan kalian sudah selesai." Masih saja Desi menjadi juru bicara Hafid, si pria payah. Si pria yang tidak memiliki nyali untuk menjelaskan semua. "Jadi tidak ada yang perlu dibicarakan, lagi." "Tidak." Laras masih tidak terima akan perlakuan Hafid padanya, sungguh. Dia ingin Hafid menjelaskan semua sekarang. "Mas, jangan diem aja. Ayo, kita bicarakan semua ini berdua tanpa ada dia." Laras mulai merengek, berharap Hafid mengasihinya. "Mas, kamu pilih aku atau dia?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Desi, semakin membuat Hafid kebingungan. Wajahnya marah, takut kalau Hafid akan lari dari hidupnya. Padahal, Laras hanya ingin penjelasan saja dari Hafid, tidak lebih. "Ras, dia calon istriku. Dia juga cinta pertamaku. Aku punya impian untuk menikahinya." Setelah menunggu lama, Hafid akhirnya mengeluarkan kalimat penjelasan ke Laras. Lantas, untuk apa dia mendekati Laras. "Lalu, untuk apa Mas deketin aku selama ini? Untuk mempermainkan perasaan aku?" Kening Laras berkerut, suaranya masih lantang dan tidak ada kekecewaan di dalam kalimatnya. Hafid menggeleng. Kesedihan tersirat dalam kedua bola mata Hafid saat menatap Laras. Tatapan itu mematikan bagi Laras, dapat membunuh perasaannya secara perlahan. Perasaan bersalah mulai masuk ke dalam diri Hafid. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Hafid menghela napas panjang. "Apa kamu mau maafin aku, Ras?" Laras tersenyum lebar. Dia masih tegar, tidak ada kesedihan di wajahnya. "Tentu saja. Aku maafin Mas. Aku manusia yang punya banyak salah. Tuhan aja memaafkan umatNya, kok." "Ras, kamu jangan nekat ya?" "Nekat gimana? Aku masih normal." Laras tersenyum semakin lebar. Membuat Hafid menaikkan sebelah alis. "Perjalananku masih panjang, tidak mungkin aku jatuh karena pria sepertimu, Mas." "Aku emang enggak pantes buat kamu, Ras." "Benar. Aku terlalu baik untukmu." Laras mnghela napas panjang, lagi. "Jadi, kita sudah selesai ya meskipun kita tidak ada hubungan sama sekali. Setidaknya, aku sudah tidak menunggu lagi kabar darimu setiap malam." Kalimat itu menjadi sebuah perpisahan antara Laras dan Hafid. Laras berbalik, meningalkan Hafid dan Desi begitu saja. Sungguh, Laras meneteskan air mata ketika memutar tubuh, membelakangi Hafid. Kepalanya tidak tertunduk. Dia berusaha berdiri tegak agar tidak diremehkan. Disana banyak orang yang menjadi penonton dadakan, menyaksikan drama percintaan Laras dan Hafid secara gratis. Laras ikhlas dan tegar jika berakhir seperti ini, sangat memalukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD