Hari itu, untuk pertama kalinya kami bertemu setelah peristiwa itu. Aku masuk ruang kelas dengan ekspresi dan sikap yang seperti biasa. Percaya atau tidak, kalau orang bilang remaja selalu meluap-luap emosinya, tidak denganku. Aku lebih memilih mengurung diri di kamar, melakukan kegiatan yang aku suka di kamar atau di rumah dan setelahnya aku akan melangkah keluar rumah seperti tidak ada badai yang menerjang kehidupanku.
"Hai," Bintang menyapaku, sedari aku di muka pintu sampai aku duduk tak lepas pandangannya dariku.
"Jangan liatin mulu, kalau mau ngomong sesuatu bilang aja"
"Tentang kejadian itu, apa kamu udah maafin aku? kamu udah nggak marah?"
Marah? sudah pasti. Maafin? aku maafin, tapi bukan berarti lupain begitu saja. "Kita bicarain ini sepulang sekolah aja ya," jawabku sambil tersenyum, "dan sebelum itu, tolong jangan bicara apapun sama aku selama di kelas, untuk hari ini aja, sampai nanti sepulang sekolah". Perlahan aku menoleh ke arahnya dan menatap matanya.
"Oke, sampai ketemu nanti di rumahku," dia terlihat kaget melihatku menatapnya
"Nggak, kita ketemu di kafe dekat sekolah aja"
"Oke, kalau gitu sampai ketemu di parkiran, kita berangkat bareng aja". Bareng? boncengan? sebenarnya gengsi mau ikut tapi daripada repot-repot pakai gojek. Nebeng dia aja deh, toh sepulang dari sana akan pulang sendiri.
Sesampainya di cafe kami duduk berhadapan. Sejak berangkat sampai kami duduk di ujung ruangan cafe tak ada satupun kata yang keluar dari mulut kami
"Ini pesanannya, Iced Coffee dan Lemonade" Pelayan cafe memecahkan keheningan di antara kami. Segera setelah pelayan itu pergi aku mulai berbicara.
"Sebaiknya kita akhiri aja"
"Oke". Wow, aku pikir akan ada diskusi alot. "Kamu mau aku pindah tempat duduk?," tambahnya
"Ga perlu sekestrim itu, kalau kamu mau kita juga masih bisa temenan kok". Bintang tersenyum sinis mendengar ucapanku, "Bagi kamu kayaknya semua mudah banget ya, sebenernya kamu nerima aku karena kamu sayang sama aku atau karena kamu takut kehilangan tongkat pegangan aja di sekolah?".
"Mudah kamu bilang? setelah kamu pulang kamu nggak tahu kan berapa lama aku nangis? berapa banyak tisu yang aku habisin, berapa lama aku teriak-teriak nyanyi kaya orang gila?!"
"Setidaknya aku tahu ada banyak pria yang hibur kamu, aku lihat kok mereka keluar dari gerbang rumahmu, dan kamu nganter mereka sampai ke mobil".
Wah ini cowok udah mulai nggak beres, pikirku. "Itu temen kakakku, dan waktu aku nganter keluar pun ada kakakku juga kan, jangan playing victim deh, mau kamu tuh sebenernya apa sih?"
"Aku mau kita nggak putus, aku juga nggak salah apa-apa kok, aku nggak selingkuh dari kamu, aku mutusin cewek itu demi kamu, jadi kenapa kamu memperlakukan aku seolah-olah aku ini penjahat"
"Kamu emang nggak selingkuh dari aku, karena aku yang selingkuhan kamu. Selama dua minggu kamu pacaran sama aku kamu masih pacaran sama dia".
"Tapi kan aku udah putusin dia, terus masalahnya apa?"
"Masalahnya aku nggak mau suatu hari nanti diperlakukan seperti itu sama kamu"
"Aku nggak akan pernah gituin kamu Na, you're perfect for me"
"Bukannya tadi kamu udah oke kita putus, kenapa sekarang jadi berkelit panjang lebar dan ngerayu aku?"
"Aku nggak bisa, aku nggak kebayang cuma temenan aja sama kamu, aku nggak sanggup lihat kamu sama cowo lain"
Andai saja saat ini aku punya buku panduan tentang apa yang harus kulakukan pada kondisi seperti ini, mana yang harus aku pilih dengan benar sehingga aku tidak perlu kena masalah. Nyatanya aku tidak punya. Bagiku dunia di luar kamar seperti malam, gelap, hanya sedikit cahaya dari bintang. Bintang pun jauh, sulit untuk digapai dan tidak cukup terang untuk menuntunku ke jalan yang mulus. Aku hanya terdiam dan melihat ke arah lemonade yang tersaji di depanku.
Melihat dia memohon sampai seperti itu dengan mata berkaca-kaca membuatku tak tega untuk bersikap egois dan tetap minta putus. Kami baru berpacaran selama 3 minggu, aku rasa terlalu dini untukku menilainya sejahat itu.
"Oke, kita coba lagi, tapi tolong janji ke aku, aku mau kamu komitmen, kalau ada yang kamu nggak suka dari aku tolong bilang dan kita perbaiki sama-sama, jangan pergi gitu aja. Aku juga nggak akan nahan kamu kalau kamu mau pergi dari aku atau ketemu sama perempuan yang lebih baik dari aku. Jadi aku harap kalau itu terjadi tolong bilang ke aku dan jangan sembunyi-sembunyi di belakang aku"
"Aku nggak akan lakuin itu Na, i promise"
Pada akhirnya kami memulai lagi. Semoga saja ini yang terbaik bagi kami. Mulai hari itu kami kembali berpasangan seperti sebelumnya
"Kalian udah baikan ya?," Erin menghampiri kami yang sedang makan di kantin, ia bertanya penasaran melihat kami bersikap seperti biasanya.
"Iya dong, makasih ya" Bintang menjawab sembari menggenggam tanganku
"Duuh gerahnya lihat kalian berdua, berasa kita nggak ada orang lain di dunia ini," timpal Mira
Aku hanya tersenyum kecil. Sejujurnya banyak kekhawatiran yang ada di benakku sampai sekarang. Apakah ini keputusan yang tepat? apa yang akan terjadi nanti? apakah aku tidak akan tersakiti?. Aku tidak tahu, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.Aku tetap harus menjalaninya neskioun dihinggapi banyak kecemasan
Bintang mengantarku pulang. Saat aku baru mengulurkan satu kakiku untuk turun dari motornya..TIN! terdengar suara klakson mengagetkanku. Hampir saja aku terjatuh. Aku berpegangan ke Bintang turun dari motornya dan segera menoleh ke belakang. Mobil kak Alan. "Minggir!, mau masuk nih," teriaknya
"Kak Alaan bisa nggak sih klaksonnya pelan, aku hampir jatuh tahu"
"Alah hampir doang, nggak jatuh beneran kan". Aku melotot dan bergegas membukakan gerbang pintu. Bintang pun melambaikan tanggannya kemudian pergi dengan motornya. Keliatannya dia belum berani berhadapan dengan kak Alan. Dia pergi tanpa menyapa kak Alan.
Kak Alan membanting pintu mobil dan mengejarku, "Dek kamu balikan lagi sama dia? yang bener aja sih kamu dek, masa yang kayak gitu kamu pertahanin, aku tahu dia pacar pertamamu dan kamu dari dulu nggak mau gonta ganti pacar kayak aku, aku ngerti kamu pengen nemu orang yang tepat dan pacaran sekali tapi bukan begini dek, ini namanya kamu maksain diri, apa kamu nggak mikirin diri kamu sendiri, jangan karena gengsi kamu balikan sama dia" Ocehan kak Alan tidak membuatku berhenti. Aku terus berjalan ke dalam rumah menuju kamarku. Kak Alan terus membuntutiku sambil mengoceh tanpa henti. Saat aku hendak menutup pintu, kak Alan menahannya dengan tangan dan kaki kanannya. "Kita belum selesai bicara"
"Kita? bukannya daritadi yang bicara cuma kakak ya, cuma kamu kak, nggak ada aku, jadi nggak ada tuh 'kita' bicara," sanggahku
"Maaf, aku butuh respon kamu, aku akan berhenti ngomong, jadi bisa kan kita ngobrol sebentar" Suara kak Alan terdengar lebih lembut.
"Yakin mau dengerin?," tanyaku. Kak Alan mengangguk. "Tanpa seenaknya mehakimi aku dan nahan semua komen judgemental kakak?". Kak Alan kembali mengangguk dan menyodorkan keliking tangan kanannya ke depanku. Aku menyambutnya dengan kelingkingku dan mengaitkannya.
Kami berdua duduk di kasurku. Aku menceritakan semuanya. Kak Alan memang tidak seperti kebanyakan kakak laki-laki. Aku dengar dari beberapa teman bahwa kakak laki-laki mereka cuek, jahil dan tidak peduli pada mereka. Sedangkan kak Alan meskipun jahil dia tetap peduli padaku. Dia akan selalu menanyakan ketika raut mukaku terlihat sedih atau bahkan marah. Dia akan duduk dan mendengarkan keluhanku. Mungkin karena kami lebih sering berdua jadi kami tanpa sadar jadi bergantung satu sama lain. Aku pun belajar untuk lebih mendengarkan orang lain seperti yang kak Alan lakukan padaku. Berusaha menemukan hobi yang aku suka dan melepaskan stresku di sana, seperti kak Alan. Tanpa aku sadari aku banyak meniru dia.
"Kamu sadar nggak sih semua perkataan dia cuma tentang dia, nggak ada tuh tentang kamu, semua demi kepentingan dia".
Ucapan kak Alan menyadarkanku. Harusnya saat itu aku sadar kalau itu sudah tanda bahwa ia adalah orang yang egois. Tak satupun dari alasannya yang menjurus untuk kepentinganku. Semua yang dia katakan hanya 'aku nggak bisa, aku nggak mau, aku nggak sanggup', semuanya 'aku' bukan kami atau bahkan tak satupun tentangku ia sebut sebagai alasanya. Bahkan dia tidak bertanya perasaanku.
"Udah terlanjur aku terima balik, kami jalani aja dulu," aku menjawab sambil merebahkan tubuhku ke kasur. Perlahan aku ambil bantal dan menutupnya ke mukaku. "Aaargghh" Aku berteriak dengan kencang di balik bantal.