Malam ini terasa sunyi dan sepi. Gadis berambut sebahu itu memasang tatapan kosongnya, ia duduk disofa kamarnya bersender dipunggung sofa. Kini ia sudah mengetahui segala kebenaran yang selama ini justru dijadikan permainan. Memang seharusnya ia senang semuanya sudah terungkap, namun ada yang masih mengganjal dihatinya. Ia mengingat teman kecilnya yang kini sudah meninggalkan dirinya untuk selamanya bahkan sedari 8 tahun yang lalu, tanpa ia sadari. Sebulir air mata berhasil lolos dari kelopak matanya, ia tak tahan, hatinya terasa tersanyat. Ia ingin menjerit tapi tak mampu, ingin bersuara pun tak sanggup. Pintu kamar terbuka pelan, Alga memasuki kamar Adiknya itu saat ia dapati Iluvia yang terduduk disofa. Alga menghampiri, duduk disebelah Iluvia lalu mengelus pundak sang Adik, seolah

