SATU

1823 Words

PROLOG


“Denger-denger Pak Ervan katanya udah punya istri dan anak. Patah hati berjama'ah kita,” ujar Ayu tiba-tiba.

"Ah, yang bener lo? Kata siapa?" tanya Lily penasaran. Aku pun begitu, tapi aku lebih memilih untuk diam saja mendengarkan.

"Ada yang bilang gitu, dan gue dengar."

"Gue penasaran kalau memang dia udah menikah, istrinya kayak apa, sih? Pak Ervan itu 'kan dingin, mana galak juga. Kalau sama istrinya dia gimana, ya?" Diana kali ini yang tampak penasaran juga. Lily, Ayu, Diana dan satu lagi Maya, sang sekretaris CEO memang selalu antusias jika berbicara tentang atasan kami itu.

Aku tentu saja terkejut mendengar teman-teman di divisiku sedang mengghibah mantan kekasihku itu. Hampir setiap hari mereka membicarakan atasan kami yang terkenal dingin dan arrogant itu.

Apakah benar Ervan sudah menikah?

Rasa nyeri tiba-tiba saja menghantam dadaku. Kenapa rasanya sesakit ini? Di saat aku masih berusaha mencari tahu penyebab sikap dinginnya kepadaku, aku malah dihadapkan pada kenyataan lain.

Tapi, bisa saja itu hanya sekadar gosip, bukan?

"Sama istrinya beda kali! Wah, gue yakin kalau istrinya pasti cantik banget. Bisa jadi sekelas model atau artis,” ujar Lily.

"Pasti lah. Mana mungkin Pak Ervan mau sama orang yang punya wajah pas-pasan kayak kita. Ya nggak, An?" Temanku yang bernama Siska meminta pendapatku.

"Iya." Aku mengangguk, tanpa mau berkomentar panjang lebar.

Dulu, aku tak ambil pusing mengenai perbedaan antara aku dengan lelaki bernama Ervan itu. Tak ada yang mencolok persis. Hanya saja, dia yang tentunya lebih kaya dari padaku. Dan sekarang, aku rasa, aku berbeda jauh darinya. Ervan sekarang menjadi seorang CEO perusahaan, yang mana aku yang hanya merupakan karyawan biasa terlihat kerdil di matanya. Belum lagi, wajah tampan lelaki yang sudah beranjak dewasa itu. Rahangnya yang tegas, hidung mancung dan alis yang tebal menunjukkan sosok lelaki dewasa yang tegas pada dirinya. Hal itu tentunya membuat perempuan mana pun akan tertarik pada pesonanya. Tak peduli betapa dinginnya sikap lelaki itu, justru hal itu yang membuat perempuan semakin penasaran.

Aku masih berharap bahwa yang dibicarakan teman kantorku itu hanya sekedar gosip saja. Hingga kenyataan pahit menamparku. Teman-temanku berhenti menggosip saat objek yang baru saja mereka bicarakan muncul. Dan... dia membawa seorang anak kecil.

"Ini kantor Papa? Asik... banyak aunty di sini, rame nggak kayak di rumah, sepi."

Jantungku serasa diremas ketika mendengar suara anak kecil itu yang memanggil Ervan dengan sebutan papa.


***


Tujuh tahun yang lalu...

Ervan hari ini mengajakku jalan-jalan seharian karena keesokan harinya dia akan melanjutkan study-nya ke luar negeri. Cukup jauh, di benua Amerika sana.

"Kita beneran putus?" tanya Ervan, pacar sekaligus cinta pertamaku itu. Dia menatapku dengan tatapan nanarnya. Saat ini kami sedang berada di dalam mobilnya setelah puas menghabiskan waktu dari pagi hingga malam, mulai dari jalan-jalan, nonton di bioskop, makan, dan banyak hal lainnya.

"Iya," jawabku tanpa menoleh. Aku menatap lurus ke depan—ke arah jalanan yang tampak sepi.

Ervan memutar bahuku agar aku menoleh padanya.

"Tapi, kenapa harus putus, Yang? Kita bisa coba dulu jalanin, siapa tahu berhasil."

Aku menggelengkan kepala lemah. "Enggak, Van. Itu nggak mungkin. Aku nggak mau nanti kuliah kita yang malah terganggu. Kamu tahu 'kan perbedaan waktu antara di sana dengan sini jauh banget? Aku waktunya istirahat, kamu baru mulai beraktivitas nanti di sana."

Aku hanya ingin berpikir yang realistis saja. Hubungan LDR itu jarang yang berhasil. Aku tidak ingin hubungan kami yang terhalang jarak dan waktu akan membuat rumit semuanya. Tidak mau mengganggu aktivitas kuliah kami dan juga menambah beban pikiran. Kami berdua masih muda, ada banyak hal yang ingin kejar. Jangan sampai cinta menghancurkan impian kami. Lebih tepatnya impian Ervan dari Sekolah Menengah Pertama yang ingin sekali kuliah di sana. Aku tidak boleh egois melarang untuk mengejar impiannya.

Aku meraih pergelangan tangan Ervan dan menatapnya sambil tersenyum manis. "Percaya lah, ini yang terbaik. Demi masa depan kita."

Terdengar helaan napas dari Ervan. Dia melepas pegangan tanganku.

"Ya udah. Tapi kamu harus janji dulu sama aku."

"Janji apa?"

"Janji kalau kita ketemu lagi nanti setelah aku lulus kuliah, kita akan balikan. Gimana?"

Aku tertawa kecil. "Kita nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, Van. Kalau kamu nanti ketemu perempuan lain di sana, gimana?"

"Nggak bakalan! Aku akan fokus belajar aja, supaya cepat lulus dan ketemu kamu lagi."

"Gimana kalau aku yang ternyata punya pacar di sini?" Di dalam hati, sungguh aku tak berminat untuk mencari pengganti Ervan di sini. Aku juga akan fokus pada kuliahku.

"Aku nggak yakin. Kamu itu tipe cewek yang setia."

"Yakin amat?"

Ervan berdecak. "Gini aja. Kita kembali bersama jika masing-masing dari kita nggak punya pasangan. Setuju?"

"Umm... gimana, ya?"Aku pura-pura berpikir, padahal tentu saja aku mau.

"Kamu harus setuju!"

"Maksa amat."

"Biarin."

Aku terkekeh dan mengulurkan tangan padanya. "Oke, aku setuju."

"Nah, gitu dong!" Raut wajah Ervan berubah serius. Dia meraih tanganku dan menatap kedua bola mataku lekat. "Aku yakin, kita bakalan bersama lagi suatu saat nanti.

Ervan mendekatkan wajahnya, kemudian mencium bibirku dan melumatnya. Ervan mengambil ciuman pertamaku!

"Maaf," ucapnya setelah melepas tautan bibir kami. "Sebagai perpisahan, karena besok nggak mungkin aku cium kamu di depan banyak orang saat di bandara.

Pipiku merona.

Ervan menyalipkan anak rambutku ke belakang telinga, lalu meraihku ke dalam pelukannya. “Sayang banget sama kamu, Anita.”

Aku tersenyum getir di dalam dekapan lelaki itu. Jangan ditanya, aku juga mempunyai perasaan yang sama dalamnya seperti Ervan. Berat rasanya melepas cinta pertamaku yang membuat masa putih abu-abuku penuh warna.

Aku menghela napas membayangkan Ervan yang akan pergi meninggalkanku besok entah kapan ada waktu untuk pulang. Tapi aku berjanji pada diriku akan setia menunggunya di sini. Ah, andai saja aku mampu kuliah di luar negeri juga, tentu aku akan mengambil kampus yang sama dengan Ervan, namun tetap sesuai dengan jurusan yang aku minati. Tapi saat ini aku hanya sanggup kuliah di dalam negeri saja. Aku mengalah dari adikku. Neta, adikku yang usianya terpaut 2 tahun di bawahku, sudah mempunyai keinginan untuk kuliah kedokteran ketika lulus nanti. Dan itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Aku tak mau menambah beban papa dengan kuliah di luar negeri yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

***

"Gue nggak rela banget rasanya Pak Arman diganti sama CEO baru," ujarku pada salah satu teman satu divisiku.

Aku bekerja di sebuah perusahaan e-commerce yang bernama Orani. Perusahaan yang termasuk dalam 10 besar e-commerce terbesar dan web yang banyak dikunjungi di Indonesia, dan beberapa bulan ini berada di peringkat ke-7. Posisiku di perusahaan ini adalah sebagai senior business development setelah 3 tahun lebih bekerja semenjak lulus kuliah. Menerima salary yang cukup besar di sini dan juga lingkungan kerja yang nyaman dengan atasan yang baik, tak membuatku berminat mencari pekerjaan di tempat lain.

Sebelumnya, aku memiliki seorang CEO yang sangat baik dan loyal kepada karyawan. Pak Arman, pria berusia 50 tahun itu tiba-tiba saja mengatakan bahwa dia mengundurkan diri menjadi CEO dan akan digantikan oleh keponakannya. Aku dan beberapa karyawan lainnya tentu saja sedih ditinggal pemimpin seperti itu.

CEO baru nanti belum tentu sama baiknya seperti Pak Arman. Tapi, mereka masih ada hubungan persaudaraan. Semoga saja sikapnya tak jauh berbeda dari sang paman. Aku berharap begitu, semoga saja…

"Sama, gue juga nggak rela," sahut temanku. "Takut dia nggak royal nanti kalau ngasih bonus."

Tak dipungkiri, anak marketing seperti kami memang senang sekali jika membahas bonus. Itu hal wajar, karena perusahaan ini sedikit banyaknya mendapatkan klien kan juga atas perjuangan kami, tim yang berada di divisi marketing dan pengembangan ini. Terutama aku dan ketiga rekanku yang berjuang keras untuk menjalin kerjasama dengan berbagai macam pihak. Ada yang bilang, marketing itu ujung tombak dari sebuah perusahaan.

"Ya, semoga aja," ucapku penuh harap.

"Eh, tapi, dengar-dengar, keponakannya Pak Arman ini ganteng loh, An."

Aku memutar bola mata. Teman kerjaku yang bernama Ayu ini, jika sudah membahas perihal lelaki tampan, dia paling menggebu-gebu.

"Kita bisa kerja sambil cuci mata deh setiap harinya," lanjut Ayu lagi.

"Lo aja, gue enggak."

Ayu mencibir.

"Lo mah, payah. Nggak seru kalau diajak bahas cogan. Gue heran, lo suka sama cowok nggak, sih?"

Aku melotot tajam.

"Sembarangan kalau ngomong!"

"Habisnya lo kayak nggak semangat gitu kalau kita-kita lagi bahas cowok. Lo betah amat ngejomblo. Udah berapa tahun, sih? Keburu karatan nanti," ledek Ayu.

"Gue masih 24 tahun dan imut-imut gini. Lebih muda 1 tahun dari pada lo malahan.

“Iya deh, yang baby face.”

Ayu beranjak dari kursi yang berada di sebelahku, yang biasanya ditempati Lily. Rekan kerjaku yang sedang memantau event di luar kantor hari ini.

"Lihat deh, An, ke arah pintu masuk! Pantesan heboh banget." Ayu kembali duduk dan menyenggol lenganku dengan mata yang terarah ke pintu utama. Pintu utama di lantai 15 ini maksudku.

Ada dua ruangan yang saling berhadapan di lantai 15 ini, seperti lantai-lantai lainnya di Gedung Marawa ini. Dan perusahaan tempatku bekerja sekarang, telah memiliki 2 lantai secara resmi, tanpa menyewa dari pihak gedung. Divisi marketing dan pengembangan, ada di lantai 15 sebelah kiri. Terdapat 3 ruangan di sini yaitu, ruangan CEO, HRD dan divisi marketing yang merupakan ruangan bebas tanpa sekat. Sedangkan di sebelah kanan lantai ini, ada bagian finance dan accounting, ruang meeting serta bagian IT. Dan di lantai 14, terdapat bagian operational dan logistik serta customer service.

"Apaan, sih?" tanyaku tak begitu berminat.

"Itu CEO baru kita kayaknya yang dateng, An. Gila… ganteng banget!"

Memang tak ada penyambutan khusus untuk CEO baru kami itu. Kata Pak Arman, keponakannya itu ingin kami semua bekerja seperti biasa dan tak perlu ada penyambutan khusus untuknya.

"Lihat dulu, An!" Ayu tampak antusias sekali, tapi tidak denganku. "Dia jalan ke dekat sini, mau masuk ke dalam ruangannya."

Aku pun dengan memutar kepala hanya karena tak ingin Ayu yang terus-terusan berisik mengguncang lenganku saking hebohnya. Seketika, mataku membola saat mendapati seorang lelaki berjas yang berjalan ke arah kami—lebih tepatnya ke arah ruangannya yang pastinya akan melewati meja kami. Seseorang yang baru aku lihat lagi setelah sekian tahun lamanya tidak bertemu. Mantan kekasihku sekaligus merupakan cinta pertamaku, Ervan.

Tanpa bisa kucegah, hatiku membuncah seketika. Sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman. Di saat yang sama Ervan juga menoleh padaku, dia tampak terkejut. Aku tersenyum manis kepadanya. Namun, siapa sangka kalau dia berjalan begitu saja melewatiku—tanpa membalas senyumanku.

Senyumku luntur seketika.

"Kalau CEOnya begitu, gue bakalan betah di kantor lama-lama," ucap Ayu sambil senyum-senyum.

"Gimana menurut lo, An? CEO kita yang baru, oke banget, 'kan?"

Aku hanya menjawabnya dengan sebuah deheman.

Aku tak fokus lagi dengan ocehan Ayu selanjutnya karena pikiranku fokus pada Ervan yang tak kusangka menjadi CEO baru di kantorku. Tak bisa dipungkiri, aku merasa senang dengan kenyataan itu. Tapi, aku sedikit bingung dengan sikap cuek yang ditunjukkan Ervan baru saja padaku. Aku menggelengkan kepala dan berusaha berpikir positif. Mungkin saja Ervan tak mau karyawan lain tahu tentang kami yang pernah ada hubungan spesial. Bagaimana pun, dia adalah orang baru di sini. Dia pasti akan menjaga imejnya. Mungkin saja...

Aku akan berbicara dengan Ervan nanti. Ada banyak yang ingin aku tanyakan padanya. Terutama mengenai dia yang tak lagi menjawab pesan, panggilan dan email yang kukirim padanya setelah tahun keduanya kuliah di benua Amerika sana.

quotes
Author's note
notes
Hai readers... selamat datang di cerita baruku, semoga kalian suka. Jangan lupa tap love agar tidak ketinggalan cerita ini update dan tinggalkan komentar kalian di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd