Selama semalaman Dewa tidak bisa memejamkan kedua matanya. Pikirannya masih terus teringat dengan kejadian di restauran tadi. Sungguh ia tidak pernah menduga jika anak laki-laki yang dia lihat di toko buku tempo hari adalah anak Caca. Dewa saat ini bingung, dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Sebenarnya kehadiran Kai tidak masalah bagi dirinya. Ia bisa menerima Caca dalam keadaan apa pun. Namun, jika mengingat mamanya, apa perempuan yang telah melahirkannya itu bisa menerima Caca dan putranya. “Aakkhhh … sialan!” teriak Dewa. Kepalanya seakan ingin pecah. Jika mamanya memiliki pemikiran yang terbuka mungkin ia tidak akan sepusing sekarang. Mamanya sangat menjaga pandangan sosial terhadap dirinya. Sebagai orang tua, tentu ia harus bisa menjaga nama baik keluarga besarnya. Apalagi

