Jadwal menanti dilengkapi
Jalanan memanggil langkah kaki
Ruang canda alam tak henti berpuisi
Menanti raga tuk kembali, berlari
Kuota terbeli, registrasi terlunasi
Memorabili, mantapkan hati menapak kaki
Wahai Sang Guru,
Di atas pasir berdebu hamparan tanah berbatu
Sambil menunggu di bangku summit semeru
Memandangi edelweiss lelap tidur di meja kerjamu
Di ruang tunggu kelasmu
Magnesi dan belati jadi alat tulisku
Melukis rumus panthera pardus bertadarus
Di atas buku beralas perdu
Tempatku mengais ilmu
Menggores kapur melukis ranting kayu
Duduk di kursi siku mendengar suara burung melagu
Sambil memandangi portrait-mu
Kutulis surat cinta untukmu,
Di atas gelombang dinginnya ranu
Kulukis bait-bait rindu,
Di kelam pagi yang membeku
Membayangkan wajahmu, didekatku
Semesta berbisik lirih, ditelingaku
Menggambar namamu, pada tanah semeru
Menghempas tanjakan cinta, tanpa ragu
Mata memejam, rintik embun berjatuhan
Kaki menghempas bebatuan, menembus tanjakan
Menggapai harapan, berharap takdir meng-iya-kan
Atas tak gentarnya hati, membelah mitologi
Sebuah nada tercipta sederhana
Dalam birama bernotasi asmara
Menggetarkan jala romantika senja
Yang sudah terdiam begitu lama
Aku belajar candu, dari canda tawamu
Aku menuai sajak-sajak lagu
Yang senantiasa menaungi senyummu
Dalam keheningan waktu, ku bentangkan hatiku
Antara jarak dan rindu, favoritku - cuma kamu
Rindu kamu, rindu mahameru
#
Ruang imajinasi dan visi - 0 mdpl
NRHK