“Cind,” panggil Rey setelah membuka pintu kamarku dengan napas tersengal-sengal. Aku sempat tersentak dan menatapnya terkejut.
“Ayo, pakai mantelmu yang paling tebal. Aku tunggu kau di dalam mobil.” Ujarnya, dia hendak menutup pintu namun aku berhasil mencegatnya. “Hei,” kataku.
“Okay, ma’af, aku datang terlambat dan aku tahu ini sore menjelang malam. Tapi, aku janji aku akan membawamu ke tempat yang layak kau datangi.” Aku menatapnya bengong. Dia menutup pintu dan aku masih membeku sesaat sampai akhirnya senyuman kegembiraan mengembang di bibirku.
Tanpa menunggu waktu yang lama, aku menuruti perintah Rey untuk memakai mantel bulu yang paling tebal dan memakai topi kupluk untuk melindungi telingaku. Aku membuka pintu van kuno merah miliknya. Aku menatapnya, “Mau kemana kita?”
“Kemana saja yang penting jalan-jalan.” Jawabnya mengalihkan pandangan ke jalan seraya menyalakan mesin mobilnya.
***
Aku senang Rey mengajakku ke Brooklyn Bridge Park walaupun malam ini begitu dingin hingga gigitan kedinginannya menembus tulang. Aku menyesap kopi instan yang dibeli Rey di sebuah coffe shop sebelum sampai ke sini. Kehangatan sejenak menjalari tubuhku. Aku menyesap lagi. Lagi dan lagi. London tidak pernah sedingin ini.
Kami duduk di bangku taman sambil melihat pemandangan indah Manhattan di seberang sungai sana. “Dulu, tempat ini adalah salah satu tempat favoritku untuk menyendiri.” Aku memiringkan kepala menatap Rey, nada suaranya terdengar serius dan muram.
“Aku tidak tahu,” dia tersenyum miring. Senyum getir. “tempat ini seakan menyihirku untuk selalu mengunjunginya. Sudah beberapa tahun ini aku tidak pernah ke sini dan entah kenapa ketika kau—” dia menoleh dan menatapku, “meminta jalan-jalan aku teringat tempat ini. Hanya tempat ini yang terlintas di pikiranku.”
“Kau punya kenangan yang indah di sini, Rey.” Dia menatapku lagi, kali ini lebih dalam.
Dia tersenyum. Senyumnya seakan seperti lukisan indah di awan. Lukisan yang tidak bisa dilihat sembarang orang. Mata birunya tampak sendu. “Kau tahu?” Aku tertawa sejenak. “Setiap orang yang selalu ingin mengunjungi suatu tempat—lagi dan lagi, itu artinya tempat itu istimewa. Karena menyimpan kenangan indah yang sulit di lupakan.” Aku menyesap kembali kopi.
“Ya, aku punya kenangan indah di sini.” ujarnya menatap ke arah sungai seakan melihat sesuatu yang indah di pelupuk matanya.
“Apa itu tentang Melissa?” tanyaku begitu saja. Rey menatapku tajam. Dan aku menyesali pertanyaanku itu.
“Kau tahu Melissa?” tanya Rey, ada tuntutan dalam nada suaranya.
“Waktu aku jatuh di ranjang, kau memelukku dan memanggil-manggil nama Melissa.” Aku takut mood Rey berubah buruk karena aku mencoba menanyakan seseorang bernama Melissa itu.
Rey tidak menjawab. Aku menelan ludah cepat-cepat aku mencari topik lain agar atmosfer ketegangan dan kekakuan ini hilang. “Eumm, Rey,” dia menoleh tapi tidak menyahut. “Tadi setelah kau pergi ke kantor, keluarga Sanders datang ke rumah.”
“Keluarga Sanders? Ada Noah?” tanyanya dengan sebelah alis terangkat.
“Tidak, hanya Mr dan Mrs. Sanders.”
“Oh.”
“Aku tahu maksud dari ucapanmu kemarin malam, Rey.”
Rey menatapku.
Hening.
“Mr dan Mrs. Sanders memberitahuku soal perjodohan. Dan aku paham, mungkin itu alasan Dad mencariku selama hampir 18 tahun ini. Dia tidak sepenuhnya merindukanku.” Perkataanku terdengar melankolis.
Rey masih diam. Dia menyesap kopinya.
Rey berdeham. “Kau tahu Noah?”
“Ya, aku pernah melihatnya. Di London bersama seorang model, aku lupa nama model itu. Tapi yang jelas dia cantik dan seksi.”
Dahi Rey mengernyit tebal. “Bersama seorang model?” tanyanya seakan meyakinkan diri akan ucapanku.
“Ya,” jawabku seraya mengangguk. “Kenapa?”
“Tidak.” ucapnya, menggeleng.
“Dia tampan, kan?” kali ini suaranya terdengar ganjil.
“Ya.”
“Kau pasti akan menerima perjodohan itu.” terkanya enteng seperti menerka kedatangan hujan saat mendung.
“Ya,” jawabku, menuai senyuman sinis Rey.
“Tidak heran, semua wanita menginginkan Noah. Dia tampan, kaya dan sempurna. Tak peduli bagaimana sikap pria itu.” Aku seolah melihat sesuatu semacam dendam, sakit hati, kecewa atau apalah. Agaknya Rey pernah punya urusan dengan si Noah itu.
“Kau salah menilaiku, Rey.”
Aku menarik napas dalam. Aku menceritakan apa yang aku dengar dari Olivia. Gadis polos yang—mungkin dia ingin aku tahu apa yang terjadi dengan keluarga Davidson ini.
Setelah makan siang, aku memanggil Olivia untuk menemaniku mengobrol. Dia tidak sibuk dan bersedia menemani majikan barunya ini.
“Non sudah tahu kalau non akan dijodohkan dengan Tuan Noah yang super kaya itu?” Aku mengangguk.
“Sebenarnya... kondisi perusahaan Tuan Davidson sedang bermasalah karena Tuan Rey.”
“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Pernikahan antara Non dan Noah akan memperbaiki perusahaan yang nyaris kolaps jika tidak dibantu Mr. Sanders. Maksudku, Non bisa menyelamatkan semua aset perusahaan jika Nona Cind menikah dengan Noah. Nyonya Kelly pernah bilang kalau Tuan Davidson memiliki riwayat penyakit jantung beberapa tahun lalu sebelum aku bekerja di sini. Nyonya Kelly sebenarnya cemas akan keadaan Tuan Davidson. Ya Tuhan, jika perusahaan kolaps, bagaimana nasib ribuan karyawan dan bagaimana nasibku dan seluruh orang yang bekerja pada Tuan Davidson?” Olivia berkata seakan-akan jika perusahaan benar-benar kolpas adalah kiamat bagi seluruh umat. Aku melihat kecemasan dan setengah permohonan tidak langsung dari tatapan matanya. Permohonan agar aku menyetujui pernikahan itu.
Apabila aku menyetujui perjodohan ini, itu karena aku memikirkan Dad dan seluruh orang yang bekerja pada Dad. Aku memejamkan mata sejenak dan membayangkan komentar yang meluncur dari bibir tipis Lizzy.
“Kau, kakakku Cind!”
“Kau hebat Cind!”
“Aku bangga sebagai adikmu, Cind. terima kasih atas penerimaan perjodohan terkutuk itu, kau sudah menyelamatkan kehidupan banyak orang. Kau terbaik Cind.”
Mataku terbuka perlahan dan aku melihat Rey menatapku. Sorot mata birunya seakan menarikku ke kedalaman tatapan matanya. Sadar Cind, hei, dia kakakmu! “Well,” Rey beranjak dari kursi kayu. Dia tersenyum miring lalu menatapku kembali. “aku tidak percaya alasan kau menerima perjodohan ini. Aku paham dengan isi otak para wanita.”
“Jika aku harus memilih, aku pasti memilih menolak perjodohan ini. Kau mungkin paham dengan isi otak semua wanita yang pernah kau kencani. Tapi, apakah kau benar-benar paham isi otak gadis 18 tahun yang dijodohkan dengan tanggung jawab ‘jika menolak pernikahan, perusahaan kolaps dan kau adalah gadis picik dengan lebih memilih egomu sebagai remaja’. Kau tidak tahu sepenuhnya isi otakku, Rey.” Aku mendongak dan menatap wajahnya yang kering seperti gurun sahara walaupun di sini musim dingin. Aku merasa dingin. Sangat dingin.
***