Episode 8

1473 Words
“Mr. Alfa?” seru Sahira saat ia keluar dari rumah dan mendapati sosok pria yang namanya selalu ada dalam doa nya. “Kau melupakan sesuatu,  hmm?” seru Alfa. “Maksud saya,  Alfa. Ngomong-ngomong ada apa,  pagi-pagi sekali sudah datang?” tanya Sahira yang sudah lengkap dengan pakaian dan kerudungnya. “Kau mau berangkat kerja?” tanya Alfa yang di angguki Sahira. “Kalau begitu naiklah,  aku akan mengantarmu.” “Eh?” Alfa sudah berjalan meninggalkan Sahira dengan keterpakuannya. Ia hendak menaiki mobil,  tetapi gerakannya terhenti saat kembali melihat ke arah Sahira yang tak bergerak dari posisinya. “Apa kau akan tetap berdiri di sana,  seperti itu?” tanya Alfa menyadarkan Sahira. Hanya dengan cengiran lebar yang di perlihatkan Sahira,  ia bergegas naik ke dalam mobil Alfa. Ω Zara menatap pantulan dirinya di depan cermin. Wajahnya tak ada yang berubah,  masih cantik dan imut seperti dulu. Hanya saja sekarang jauh lebih dewasa dan lebih cantik. Zara mengambil spons bedak dan menekan pelan ke wajahnya. Saat sampai di sudut matanya,  ia berhenti menggerakkan tangannya. Luka bekas pecahan gelas masih tampak terlihat di sana. Kepingan bayangan masalalu kembali mengusik pikirannya,  Zara memejamkan matanya dengan nafas yang terengah-engah. Dan ia bergegas memakai kerudung dan cadarnya dan berpaling dari cermin. Kenapa ya Allah? Kenangan pahit itu masih terasa begitu sakit,  bahkan rasanya baru terjadi kemarin. Selama bertahun-tahun Zara tak pernah bisa menatap dirinya di depan cermin. Setiap dia mandi,  tak pernah sedikitpun ia menatap badannya sendiri. Bekas luka yang ada di tubuhnya bagaikan cambuk yang selalu saja mencambuki dirinya setiap saat. Rasa takut itu semakin menguasai dirinya. Tak hentinya bibir Zara beristigfar dan berdzikir. Ia memohon perlindungan dan pertolongan hanya dari Allah swt. --- Selang 15 menit,  akhirnya Zara sudah merasa lebih tenang dan lebih baik. Ia beranjak menuju meja sudut dan meneguk air di dalam gelas yang tersimpan di sana. Setelah menghabiskan satu gelas air,  ia akhirnya merasa jauh lebih baik. Berkali-kali dia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Begitu berulang kali,  sampai ia merasa jauh lebih baik dan nyaman. Zara berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ke bawah dimana tokonya akan segera di buka. “Pagi semuanya,“ sapa Zara pada kedua karyawannya yang sedang bersiap-siap untuk buka toko. “Sahira belum datang?” “Belum Miss.” Zara mengangguk paham dan berjalan menuju pintu keluar. Ia membalikkan tulisan Close menjadi Open. Seketika gerakannya terhenti saat melihat sosok Sahira menuruni sebuah mobil sport. “Assalamu’alaikum,  selamat pagi Miss.” Sapa Sahira diiringi senyumannya. “Wa’alaikumsalam,“ jawab Zara. Belum sempat Zara melanjutkan kata-katanya,  seseorang datang mendekati mereka bertiga. “Tasmu tertinggal.” Deg Tubuh Zara oleng ke belakang saat melihat pria di depannya. “Ah Alfa,  terima kasih banyak. Aku ini memang sangat pelupa, “ kekeh Sahira. Zara yang tak sanggup menahan dirinya untuk tak segera memeluk Alfa dan mengatakan ini adalah Zara,  adik kesayangannya. Perlahan Zara berbalik dengan perasaan sakit dan rindu menjadi satu. Kak Alfa... “Emm Alfa,  kenalkan ini atasan saya. Miss Lamia,  ini Alfa,  emm-“ Sahira kebingungan harus menyebut Alfa sebagai siapa untuk dirinya. “Alfa,  boyfriend Sahira.” Mendengar ucapan Alfa barusan,  sungguh pipi Sahira merona di buatnya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum. Zara berbalik kembali ke arah mereka dengan pandangannya yang menunduk,  ia takut Alfa mengenalinya. “Assalamu’alaikum,  saya Lamia. Senang berkenalan dengan anda. Permisi, “ setelah mengucapkan itu,  Zara bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Alfa atau Sahira. Alfa tertegun di tempatnya mendengar suara itu. ‘Suara ini tak asing bagiku?’ batin Alfa. “Emm,  apa kamu tidak akan terlambat untuk bekerja?” tanya Sahira. “Ah iya,  kalau begitu aku pergi dulu. Sampai nanti,“ jawab Alfa. Sebelum ia pergi,  ia kembali melihat punggung Zara yang kini tampak menaiki undakan tangga. Zara berusaha tetap berdiri tegak tanpa gemetar menaiki tangga. Saat ia sampai di ujung tangga,  ia masuk ke dalam ruangan dan tubuhnya merosok ke lantai setelah menutup pintu. “Kak Alfa...” Rasa rindu yang menggunung semakin menyesakkan dadanya. Ia ingin sekali memeluk Alfa dan meluapkan rasa rindunya. Tetapi ia tidak bisa,  ia tidak bisa menemui Alfa. Selain rasa traumanya, dan rasa takut untuk bertemu keluarga Abraham kembali. Zara juga tak ingin merepotkan Kakaknya lagi,  ia tidak ingin membebani Kakaknya lagi. Zara juga ikut senang kalau Alfa dekat dengan Sahira,  Zara tau kalau Sahira perempuan yang sangat baik dan sholehah. Ω Alfa baru saja mendaratkan pantatnya di atas kursi kebesarannya. Suara tadi kembalu terngiang di telinganya. Suara itu begitu mirip dengan Zara,  adiknya. Benarkah itu Zara? Atau itu hanya kekeliruannya saja seperti pemikiran dia pada Sahira. Interkomnya berdering menyadarkan lamunan Alfa. Ia menekan tombol hijau yang ada di interkom. “Hmm?” “Mr. Georgio datang ingin bertemu, “ seru sekretarisnya. “Biarkan dia masuk.” Tak lama pintu kokoh coklatnya terbuka dan menunjukkan sosok pria tampan dengan postur badan yang tinggi dan brewok tipisnya. “Kau membawa kabar?” tanya Alfa to the point. “Ya,  tapi bisakah kau buatkan aku secangkir kopi hangat? Di luar sangat dingin,“ serunya seraya duduk santai di kursi yang berada di depan Alfa. Alfa beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja sudut. Ia memasukkan biji kopi ke dalam mesin pembuat kopi dan menyuguhkannya pada dua gelas. Tak butuh waktu lama,  kini gelas kopi dengan kepulan asap sudah tersaji di hadapan mereka berdua. “Apa yang kau dapatkan?” tanya Alfa. “Ku pikir inilah saatnya kau menyerah,  Alfa.” “Apa maksudmu,  Gio?” tanya Alfa sedikit membentak. “Kau bisa membaca isi dokumen ini. Dan ada foto-foto korbannya di dalam sana.” Alfa meraih dokumen yang di serahkan Gio,  ia bergegas membuka dan membacanya dengan tak sabaran. “Semua anak dan sekumpulan orang yang di anggap teroris telah di lenyapkan tanpa ada sisa. Itu foto-foto semua tetoris yang di bunuh,  wajah mereka tak dapat di kenali karena mereka di bakar juga. Tetapi aku menemukan satu sosok yang usia dan ciri-cirinya sama dengan adikmu,  Zara. Foto terakhir itu adalah Zara,  dia di lenyapkan paling terakhir. Menurut saksi,  gadis itu memakai kerudung violet terakhir dia di lenyapkan.” “Tidak mungkin, “ gumam Alfa meremas dokumen di tangannya. “ tidak mungkin Zara meninggal!” “TIDAK MUNGKIN!” bentaknya menggerbak meja dan berdiri dari duduknya. “Kau berniat menipu,  Gio?” “Tenangkan dirimu,  Al. Aku sudah berusaha mencarinya selama 3 tahun ini. Dan untuk apa aku membohongimu,  itu bukti-buktinya ada di dalam sana semua.” “Zara,  tidak mungkin!” tubuh Alfa roboh dan kembali terduduk di kursi dengan perasaan yang sangat hancur. “Yang kuat Al,  setidaknya kau tau sekarang kondisi adikmu. Dia sudah tenang di sana, “ ucap Gio. Ω “Abraham!” teriak Alfa saat masuk ke dalam rumah yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia datangi. Semua mata menoleh ke arahnya. “Kak Alfa!” seru Meyza berdiri dari duduknya begitu juga dengan Abraham dan Miranda. Bug Tanpa kata,  Alfa langsung meninju rahang Abraham hingga ia tersungkur ke sofa. Meyza dan Amanda hanya bisa menjerit kaget. “Apa yang kau lakukan?” Pekik Amanda. “Kau tak pernah pulang,  dan sekalinya pulang kau memukul ayahmu sendiri. Kau menjadi begitu sombong dan angkuh setelah menjadi hakim yang terkenal!” seru Abraham bangkit dari duduknya. “Kau sialan! Kau harusnya mati dan membusuk di Neraka!” amuk Alfa kembali ingin meninju Abraham tetapi Rival datang dan menahan Alfa. “Apa yang kau lakukan,  Kak?” bentak Rival. “Kalian semua,  harusnya kalian semua membusuk di penjara!” amuk Alfa. “Apa kau masih waras! Kau baru saja datang dan mengutuk kami!” pekik Miranda. “Kalian membunuh Zara! Karena kau Abraham,  Zaraku mati!” pekik Alfa dengan emosi yang memuncak dan mata yang memerah. “Karena gadis cacat itu!” amuk Rival. “Sampai kapan kau seperti ini,  Kak? Kau memisahkan diri dari keluargamu hanya karena anak cacat itu!” Bug “Jaga ucapanmu,  Rival!” amuk Alfa yang juga meninju rahang Rival. “Cukup Alfa! Kau sungguh menjadi sangat angkuh! Sekarang kau keluar dari rumah ini! Kau membangkang kepadaku hanya karena anak pembawa sial itu!” amuk Abraham. Alfa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. “Kalian bisa tersenyum sekarang! Jangan harap aku akan diam saja. Tunggu pembalasan dariku, Abraham!” setelah mengatakan itu,  Alfa berlalu pergi meninggalkan rumah itu. Ω Malam semakin larut,  Alfa baru saja sampai di apartementnya dengan menenteng jas kerjanya. Ia berjalan masuk ke dalam apartement setelah memasukan kode nya. Ia melemparkan jasnya ke arah sofa dan duduk di depan sofa tepat di atas permadani. Air matanya mengalir tanpa terasa saat kepingan kenangan dirinya bersama Zara memenuhi kepalanya. Ia juga terus mengutuk dirinya sendiri yang gagal menjaga Zara. Bagaimana bisa Zara meninggal dalam keadaan mengenaskan? “Hikzz...” Tak mampu lagi menahan gejolak dan dorongan emosi di dalam dirinya. Akhirnya pertahanan Alfa roboh dan tangisnya pecah. “Zara.. Hikzzz....” Ω  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD