“Ada kiriman untuk miss Lamia,” seorang kurir berdiri di ambang pintu dan Zara segera menghampirinya.
Zara sempat kaget melihat bucket bunga indah yang di serahkan kurir tersebut untuk dirinya.
“Terima kasih, “ ucap Zara setelah menandatangani serah terimanya. “Siapa yang mengirim bunga indah ini.”
Di dalam bucket terlihat sebuah kartu. Zara berjalan menuju meja di bagian belakang meja kasir. Ia menyimpan bunga yang cukup berat dan besar itu di atas meja dan mengambil kartu namanya.
Dinner to night...
Rivaldo
Zara menjatuhkan kartu itu, seketika rasa takut menyeruak di dalam dirinya. Nama itu sungguh membuatnya bergetar dan ketakutan itu kembali mempengaruhi dirinya.
Zara terus berjalan mundur dengan tatapan ketakutan, ia berpegangan pada dinding yang ada di belakangnya.
“Miss?” Sahira yang kebetulan melewat bergegas mendekati Lamia. “Anda baik-baik saja?”
“A-aku-“ Zara mendadak seperti orang linglung. Tatapannya menjadi siaga dan penuh ketakutan. Keringat dingin bercucuran di tubuhnya.
“Miss-?” Sahira merasa bingung dengan apa yang terjadi pada Zara.
“Miss?” Zara melepaskan pegangan Sahira dan berlari begitu saja ke lantai atas membuat Sahira kebingungan. “Ada apa dengannya?” Sahira berjalan mengambil kartu yang jatuh di ubin. Ia mengambilnya dan membaca isinya. “Tidak ada yang aneh, dan bunganya juga sangat bagus. Kenapa miss Lamia begitu ketakutan?”
Di dalam kamarnya Zara mengurung diri dan duduk bersembunyi di balik ranjang dengan memeluk kedua lututnya.
Si Cacat
Dia bukan keluarga kita
Cacat! Kau harusnya tau diri siapa dirimu!
Dasar Cacat! Gara-gara kau, kak Alfa memukulku!
Kau pembawa sial...
Kau harusnya mati...
Kau tak pantas ada di keluarga kami!!!
“Aaaahh hentikan!” teriak Zara menangis terisak seraya menutup telinganya dengan kedua tangannya. “Ku mohon hentikan! Hikzz...”
Zara merasa kepalanya sakit sekali saat kepingan kenangan masalalu yang menyakitkan berseliweran di kepalanya, hingga tanpa sadar Zara memukuli kepalanya dengan keras. Cukup lama seperti itu hingga ia jatuh tak sadarkan diri.
Ω
Alfa tengah menangani sebuah kasus. Seseorang jadi tersangka pembunuh dan dia merupakan teroris. Ia sudah rapi dengan jas hitamnya lengkap dengan jubah hitam hakimnya. Ini adalah persidangan final dari orang ini, dan dia harus segera mengambil keputusan menurut hasil persidangan beberapa waktu lalu, bukti dan saksi yang telah di panggil semuanya.
Orang-orang di dalam ruang persidangan berdiri dari duduknya saat ia dan beberapa orang lainnya memasuki ruangan. Saat ia dan yang lain duduk di kursi masing-masing, semua orang kembali duduk di tempatnya. Sang tersangka yang merupakan seorang wanita tua.
“Selamat siang, ini adalah persidangan final dari Ny. Merliana Swedda.” Alfa menatap tajam pada tersangka di depannya.
“Ada yang ingin anda sampaikan, Ny. Sebelum keputusan pengadilan di bacakan?” tanya Alfa.
“Sudah saya katakan sebelumnya, saya bukanlah seorang teroris. Saya hanya melakukan pembalasan dendam pada orang-orang yang sudah membunuh suami dan anak-anakku! Suamiku adalah tentara Amerika tetapi dia dihukum mati karena dia di fitnah. Tak ada keadilan kepada kami! Dan kami di tuduh sebagai teroris, bahkan anak-anakku mati saat pembantaian teroris 15 tahun lalu.”
Deg
Alfa mematung di tempatnya dan ia mengepalkan kedua tangannya saat ia mengingat kalau adiknya pun korban pembantaian teroris.
“Alasan anda tetaplah tidak bisa di benarkah. Anda telah membunuh lebih dari 10 orang dan beberapa di antaranya merupakan aparat Negara.” Alfa berucap dengan tegas.
“Baiklah, saya akan membacakan hasil keputusan hakim. Setelah menelaah semua bukti dan keterangan dari para saksi, hakim memutuskan Ny. Merliana Swedda akan di hukum mati!” setelah itu terdengarlah suara ketukan palu sebanyak tiga kali di sana sebagai keputusan akhir.
Di ruangan persidangan itu mulai ricuh oleh para orang-orang yang datang.
“Persidangan berakhir.” Alfa menutup persidangan dan berdiri dari duduknya diikuti yang lain. Dan semua orang pun berdiri sebagai penghormatan.
“Tunggu pak Hakim, selain aku, masih ada gadis yang selamat dari pembantaian teroris itu. Mungkin dia juga akan membalaskan dendamnya sama seperti aku. Dia gadis malang, dia sudah memiliki kaki pincang dan harus di tuduh sebagai teroris oleh keluarganya, “ teriak Ny. Merliana.
Deg
Mendengar itu mata Alfa melotot sempurna, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ny. Merliana.
“Siapa maksud anda?” pekik Alfa berjalan mendekati Ny. Merliana membuat semua orang kaget dengan sikap Alfa.
“Katakan Ny, siapa nama anak itu? Dan dimana dia sekarang? Apa benar dia selamat?” pekik Alfa membuat Ny. Merli sedikit bingung dan takut.
“Saya tidak tau, setelah berhasil melarikan diri, kami berpisah.”
“Siapa? Siapa nama gadis itu?”
“Itu-“
“Tenangkan diri anda, Mr.”
Semua mata tertuju pada Alfa yang kini berdiri di dekat Ny. Merliana dengan emosi yang tidak terkontrol. Tiga orang polisi membawa Ny. Merli untuk keluar dari ruangan.
“Tunggu! Katakan siapa namanya?” teriak Alfa yang terus mengikuti Ny. Merli yang ketakutan.
“Mr. Tolong bersikaplah dengan baik, ini di pengadilan!” ucap seseorang menahan Alfa yang seakan melupakan segalanya.
“Katakan siapa nama gadis itu!” sekali lagi Alfa menghadang langkah mereka dan mengabaikan asistennya.
“Azahra Lamia.”
Alfa merasa kedua lututnya bergetar. Ia merasa senang, bingung mendengarkan semua itu. Tiga polisi langsung membawa Ny. Merliana pergi meninggalkan Alfa yang kini berdiri dengan berpegangan pada dinding di sampingnya.
“Mr.” Raji yang merupakan asisten Alfa segera menghampirinya.
“Dia masih hidup, Adikku,” gumam Alfa dengan rasa haru.
“Aku harus segera mencarinya, Raji.” Alfa bergegas pergi meninggalkan Raji dengan perasaan senang dan haru, bahkan tanpa sadar matanya basah karena air mata.
Ω