Raisha bangun dari tidurnya, waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Raisha bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelahnya bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya dan juga bersiap untuk bekerja. Revan terbangun dari tidurnya saat melihat Raisha tengah memakai make up sederhana di meja rias.
“Pagi Sayang,” sapa Revan mengecup puncak kepala Raisha.
“Pagi.”
Revan memasuki kamar mandi.
“Van, aku akan turun ke bawah duluan. Pakaianmu sudah aku siapkan di atas ranjang,” seru Raisha.
“Oke.”
Raisha pun berjalan keluar kamar.
Raisha masuk ke dapur dan terlihat Ibu mertuanya tengah memberi arahan pada asisten rumah tangga memasak sarapan. Ia juga terlihat tengah menyiapkan teh hangat dan kopi.
“Selamat pagi ma,” sapa Raisha.
“Ck, seorang istri baru bangun jam segini,” seru Ibu mertuanya dengan nada sinis membuat Raisha terdiam.
Tanpa kata Raisha pun mengambil gelas dan membuatkan teh untuk Revan. Terdengar suara berisik di meja makan, menandakan orang-orang sudah berdatangan.
Raisha berjalan keluar dari dapur dan membantu asisten rumah tangga menata makanan di atas meja. Setelah siap, ia pun mengambil gelas teh untuk Revan dan membawanya ke arah Revan.
“Pagi semua,” sapa Revan.
“Pagi Bang.”
“Revan, ini Mama sudah membuatkan kamu teh hangat, minumlah selagi hangat,” seru Ibu mertua Raisha seraya menyimpannya di atas meja, membuat Raisha menghentikan langkahnya untuk memberikan teh itu kepada Revan.
“Terimakasih, ma.” Revan tersenyum kearah mamanya dan mengambil duduk di sana.
Raisha menatap teh dalam genggamannya. Ia pun hanya bisa menghela nafasnya dan membawa teh itu bersamanya seraya duduk di dekat Revan. Akhirnya teh yang ia buat, ia minum sendiri karena ternyata tak ada yang membuatkannya minum.
Raisha hendak mengambil piring Revan untuk mengambilkan nasi goreng, tetapi Ibu mertuanya lebih dulu mengambilnya dan menuangkan nasi goreng ke dalam piring Revan.
“Makan yang banyak, supaya pekerjaanmu lancar,” seru Ibunya seraya menyimpan piring itu di hadapan Revan.
“Terimakasih, ma.”
Raisha hanya diam membisu dan akhirnya mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Ia merasa transparan dan tidak bisa menjadi seorang istri yang sempurna.
♥
Revan telah sampai di kantor Diamond, beberapa karyawan yang dulu sempat di rekrutnya telah hadir dan bekerja seperti biasa. Tak begitu banyak karyawan di kantor, hanya sekitar 15 orang yang memiliki tugas di bagian masing-masing dan juga salah satu manager yang selalu mengontrol jalannya perusahaan game mereka.
“Selamat pagi, Bos,” sapa seorang pria dengan kemeja putihnya.
Revan yang tampak begitu tampan dengan kemeja putihnya yang bagian lengannya di lipat hingga siku.
“Pagi, Yogi. Sebelum meeting di mulai, aku ingin bicara denganmu dulu di ruanganku,” seru Revan yang di angguki Yogi yang merupakan manager di sana.
“Wih penganten baru udah dateng nih,” goda Jovan. “Gimana malam pertamanya, Bro?”
“Apa gak ada pertanyaan lain selain itu, Van?” seru Revan memutar bola matanya.
“Ck, padahal lu udah sering ngelakuin hubungan intim dengan cewek lain, masih aja tanya gimana,” seru Rico yang juga baru datang.
“Ck, gue bedalah. Kalau gue pan itu menuhin hasrat aja, atau biasa di bilang s*x bukan bercinta. Si Van kan beda,” seru Jovan.
“Kepo banget!” seru Abimanyu yang juga sudah berada di antara mereka.
Mereka berempat tak merasa canggung bercanda dan berbincang begitu akrab di depan para karyawannya. Apalagi sebagian karyawan di sana, adalah salah satu teman mereka saat di kampus dulu, yang sengaja di rekrut untuk membantu mereka berempat mengembangkan game yang mereka ciptakan.
“Masih pagi, apa gak ada pembahasan yang lebih berfaedah?” seru RevantakhAbispikir. “Gue ada perlu dulu dengan Yogi. Ayo Gi,” seru Revan yang di angguki Yogi masuk ke dalam ruangannya.
“Ck, bocah itu sengaja menghindari pertanyaan gue,” seru Jovan yang duduk di atas meja seraya melipat kedua tangannya di d**a.
“Lagian tumben lu bisa datang lebih awal, Van? Biasanya lu selalu ngaret,” seru Rico yang juga mengambil duduk di sana.
“Gue kan kangen sama penganten baru, dan mau kepoin malam pertamanya,” kekeh Jovan.
“Seneng banget kepoin urusan orang! Benar-benar gak adakerjaan,” seru Abimanyu selalu hanya mengeluarkan beberapa kata tetapi langsung mengena ke hati.
“Males gue ngomong sama lu, Penyu!” seru Jovan beranjak pergi meninggalkan Rico dan Abimanyu.
Rico hanya bisa terkekeh melihatnya, sudah biasa Jovan dan Abimanyu selalu saja ribut.
“Ngomong-ngomong gimana hubungan lu sama pacar lu itu?” tanya Abim.
“CK, lu juga kepoin hidup orang,” seru Rico tampak malas membahas mengenai kehidupan pribadinya. “Udah ah gue mau lihat pekerjaan gue dulu.”
Di dalam ruangan, Yogi tengah menunjukkan beberapa laporan kepada Revan.
“Peningkatannya lumayan pesat,” seru Revan menatap laptop di depannya. “Sepertinya kita memang harus mengembangkan dan meningkatkannya lebih baik lagi,” seru Revan yang di angguki Yogi.
“Kita akan bahas ini nanti saat meeting,” seru Revan. “Emm Yogi,”
“Iya Boss?”
“Selama aku ambil cuti, apa ada kabar lagi dari perusahaan Asklar mengenai kesepakatan kerjasama kita?” tanya Revan.
“Belum ada Boss, tetapi sepertinya mereka tidak akan mengingkarinya,” seru Yogi yang di angguki Revan.
“Baiklah kalau begitu beritahu yang lain, 10 menit lagi akan di adakan meeting.”
“Baik,” seru Yogi kemudian pergi meninggalkan Revan sendirian.
♥
Raisha baru saja istirahat, hari ini pasien sangat banyak sekali, sampai dia harus terlambat istirahat.
Raisha bukanlah tipikal Dokter yang mematok jumlah pasien dalam sehari. Dia akan terus melayani dan menolong pasiennya selama waktu dirinya praktek berlangsung. Walau harus terlambat pulang atau istirahat, dia pun tidak masalah. Karena baginya, pasien adalah yang utama.
Raisha memasukan beberapa biji kopi ke dalam mesin pembuat kopi dan menuangkan airnya ke dalam gelas keramik putih. Saat ini dirinya berada di dalam ruangannya. Tanpa ada Revan, Raisha jarang makan keluar, dia akan bekal dari rumah hasil masakannya sendiri.
Raisha meneguk kopi miliknya seraya memejamkan matanya.
“Aroma kopi ini selalu mampu menenangkanku dan sedikit membantu menghilangkan rasa lelahku,” serunya yang kini duduk di atas sofa yang ada di ruangannya.
“Revan sedang apa yah,” gumamnya mengambil iphone nya dan memanggil panggilan video kepada suaminya.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Revan yang terllihat masih berada di kantornya.
“Masih di kantor?” tanya Raisha.
“Iya, masih mengerjakan beberapa pekerjaan. Kamu sudah makan?”
“Ini mau, kamu sudah makan?” tanya Raisha.
“Rico sedang memesan grabfood,” ucap Revan yang di angguki Raisha.
“Hallo Kakak Ipar!” di samping Revan tiba-tiba muncul wajah tampan Jovan.
“Hai Van,” sapa Raisha.
“Wah wah, perubahannya jelas sekali,” seru Jovan.
“Eh? Perubahan apa?” tanya Raisha merasa bingung.
“Perubahan wajahnya, cahaya dalam diri Kakak ipar mulai terpancar. Duh sang bunga udah di petik nih,” goda Jovan membuat wajah Raisha mendadak tersipu malu.
“CK, apa di kepala lu hanya memikirkan hal itu?” seru Revan kepada Jovan.
“Ck, jangan sewot dong. Kan kata orang kalau sang bunga udah di petik, wajahnya bersinar,” seru Jovan.
“Sok tau kamu,” seru Raisha.
“Oh iya Kakak Ipar, besok malam datang yah. Kita ngadain acara makan malam bersama,” seru Jovan.
“Aku sih gimana pak Bos saja,” seru Raisha menunjuk kepada Revan dengan matanya.
“Harus datang yah, kalau gak ikut nanti kamu harus curiga kenapa si Revan gak ajak kamu,” seru Jovan memanas-manasi.
“Ck, kenapa lu cerewet banget sih Van,” seru Revan merasa sebal membuat Raisha terkekeh. Mereka selalu saja berdebat begitu. “Sayang, kalau kamu hamil nanti, harus jauh-jauh dari si Jovan dan harus banyak-banyak bilang amit-amit,” seru Revan.
“Ck, kalian bakalan rugi kalau gitu. Gue pan pria tampan dan begitu mempesona,” seru Jovan dengan percaya dirinya membuat Raisha terkekeh melihatnya.
“Merepotkan sih iya,” seru Revan.
“Sirik tanda tak mampu, benar gak Kakak Ipar,” seru Jovan membuat Raisha terkekeh.
“Kamu mentertawakanku? Awas saja nanti malam yah kamu,” seru Revan.
“Eh, apa sih kamu. Malu tau,” seru Raisha dengan wajah yang memerah.
“Si Revan kan nggak punya malu,” kekeh Jovan membuat Revan melemparkan pen ke arahnya yang sudah menjauh.
“Sudah aman sekarang,” seru Revan saat Jovan sudah berlalu pergi.
“Kalian ini kapan bisa akurnya,” kekeh Raisha.
“Lagian si Jovan bukan hanya ke aku nyari-nyari masalah, tapi sama semuanya. Apalagi si Rico, udah sampai dongkol di ejekin dia,” seru Revan membuat Raisha terkekeh.
♥
Raisha baru saja sampai di rumah mertuanya. Ia pulang larut malam karena ada banyak pekerjaan. Ia sudah mengabari Revan sebelumnya. Awalnya Revan akan menjemputnya tetapi Raisha menolaknya karena ia membawa mobil sendiri. Ia tau Revan tidak ada jadwal di rumahsakit, jadi ia membawa mobil sendiri.
“Assalamu’alaikum.” Raisha memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam. Baru pulang jam segini?” seru Ibu mertuanya yang saat itu tengah berada di ruang keluarga bersama suaminya.
“Iya ma. Ada banyak pekerjaan yang harus Raisha selesaikan,” seru Raisha.
“Istri macam apa yang pulang larut malam. Bahkan suamimu sudah pulang sejak tadi. Kasian sekali Revan, punya istri yang tidak bisa mengurusinya, saat dia pulang bahkan tidak ada istrinya,” seru Ibu mertuanya yang selalu ketus.
“Ma, mama ini ngomong apasih. Raisha kan kerja, lagipula dia pasti sudah mengabari Revan makanya Revan santai-santai saja,” seru Papa mertuanya.
Raisha tersenyum kecil walau hatinya menjerit karena rasa sakit dari perkataan ibu mertuanya itu.
“Kalau begitu Raisha masuk ke kamar dulu, permisi.” Raisha menekan rasa sakit di dalam hatinya. Ia berusaha sabar dan ikhlas, ia berharap suatu saat nanti ibu mertuanya itu akan menyukainya. Mungkin dia ketus seperti ini karena putra yang ia cintai menikah. Benar kata Revan kalau mamanya masih belum bisa melepaskan Revan menikah. Ya, Raisha akan berusaha ikhlas dan sabar.
Raisha memejamkan matanya dan menghirup udara cukup banyak sebelum masuk ke dalam kamarnya.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam, baru pulang, sayang?” sapa Revan yang tengah duduk di atas sofa tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Raisha tersenyum hangat kepadanya. “Ya, aku baru sampai.”
“Kamu terlihat sangat lelah, Sayang.”
“Aku baik-baik saja. Aku akan membersihkan diri dulu,” seru Raisha yang di angguki Revan.
Raisha menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Ia teringat kata-kata Ibu mertuanya. Ibu mertuanya memang sudah biasa mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatinya. Sejak awal memang Ibu mertuanya tidak menyukainya, tetapi kalau seterusnya serumah seperti ini, Raisha tidak bisa bersabar terus menerus. Belum lagi, di rumah ini Raisha tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya. Ia di anggap transparan oleh Ibu mertuanya. Tetapi di belakang, mertuanya itu menjelekkannya dan mengatakan kepada tetangga kalau Raisha wanita karier yang egois dan tidak perhatian kepada suaminya. Raisha benar-benar tidak tahan kalau seperti ini terus menerus.
“Sayang, kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali?” seru Revan terdengar mengetuk pintu kamar mandi.
Raisha menghapus air mata di pipinya dan berusaha menampilkan senyumannya. Ia membuka pintu kamar mandi dan sosok suaminya sudah berdiri di sana dengan wajah cemasnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Revan kembali.
Raisha tersenyum lebar. “Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan,” seru Raisha.
Raisha melangkah lebih dekat kepada suaminya dan ia memeluk suaminya. Ia menyandarkan kepalanya di d**a bidang Revan.
“Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?” tanya Revan.
“Tidak ada. Aku hanya merasa lelah saja. Biarkan aku seperti ini untuk beberapa saat. Aroma tubuhmu membuatku tenang dan nyaman,” gumam Raisha memejamkan matanya.
Revan tersenyum dan membelai punggung juga lengan istrinya itu.
“Aku ingin selalu merebahkan kepalaku di sini,” gumam Raisha masih memejamkan matanya. “Ini adalah tempat favoritku."
“Ya, ini milikmu. Semua yang ada padaku adalah milikmu,” seru Revan membuat Raisha tersenyum.
‘Setidaknya aku memiliki suami yang begitu baik dan perhatian seperti Revan. Aku tidak boleh mengeluh mengenai Ibu mertuaku, yang penting Revan selalu mencintaiku dan berada di sampingku,’ batin Raisha semakin menyusupkan wajahnya ke d**a.
“Jangan sampai ada orang lain yang menempati tempat favoritku,” gumam Raisha membuat Revan terkekeh.
“Tidak akan untuk sekarang. Tapi suatu saat nanti sepertinya kamu harus berbagi tempat ini dengan orang lain,” seru Revan membuat Raisha membuka matanya dan melepaskan pelukannya.
“Apa maksudmu?” serunya dengan wajah tercengang dan itu membuat Revan terkekeh karena gemas.
“Jangan marah dulu,” kekehnya.
“Kamu berniat menikah lagi!” tuduh Raisha dengan wajah sendu dan semakin membuat Revan gemas dan ia menjadi tak tega.
“Bukan begitu maksudku, Sayang. Kita tidak mungkin seterusnya berdua, bukan. Akan ada anak hadir dalam kehidupan kita,” seru Revan membawa tangan Raisha ke dalam genggamannya. “Dan kamu harus berbagi d**a ini dengan putra putri kita nanti.”
“Kamu,” seru Raisha tersipu malu.
“Jangan asal menyimpulkan dulu. Aku tidak mungkin menyukai wanita lain lagi. Hanya kamu seorang wanita yang aku cintai dan aku jamin tak akan ada wanita lain lagi,” seru Revan membelai kepala Raisha.
Raisha tersenyum dan kembali memeluk Revan.
“Semoga kita segera di beri kepercayaan oleh Tuhan untuk segera memiliki momongan,” seru Raisha.
“Hmm…” Revan tersenyum seraya mengeratkan pelukannya pada Raisha.
♥