Permulaan Balas Dendam

1008 Words
Sebuah kamera diatur dengan sedemikian rupa dan diletakkan di atas nakas. Seorang pria bertubuh tinggi semampai memposisikan kamera tersebut, agar bisa menangkap gambaran wanita yang berada di atas tempat tidur, dengan mata terpejam dan juga tubuh yang polos, tanpa ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya. Seorang lelaki nampak bertolak pinggang di dekat ranjang. Memandangi dan mengagumi lekukan tubuh indah yang ada di hadapannya. Rasanya, ia sudah tidak sabar untuk menikmati santapan yang begitu lezat di depan matanya saat ini. Menjelajahi tubuh itu inci demi inci, untuk memuaskan hasratnya yang semakin lama, semakin tak tertahankan lagi. Tatkala melihat lekukan tubuhnya yang begitu mulus itu. Lelaki tersebut meraba kemeja putih yang melekat di tubuhnya. Kancing kemeja putih yang tertaut paling atas dilepaskan satu persatu. Lalu kemeja itu pun ia tanggalkan dan hempas secara sembarang oleh lelaki bertubuh tinggi kekar, dengan sedikit buku halus yang berada di bawah dagu hingga pipi bawahnya. "It's show time!" ucap lelaki tersebut dengan sebuah senyuman menyeringai. Perlahan lelaki itu merangkak naik ke atas tempat tidur. Dan mulai menjelajahi kaki polos wanita yang awalnya terpejam. Hingga akhirnya, kedua bola terbuka lebar-lebar, saat merasakan, tubuhnya disentuh tanpa permisi. "Kamu siapa!!" pekik wanita tersebut dengan mata membulat sempurna, saat melihat lelaki asing yang tengah bermain dengan bebas di bagian depan tubuhnya. Tak ada jawaban. Lelaki itu masih terlihat sibuk dengan aktivitas gilanya. "Lepas!!" pekik wanita itu kembali menggema di dalam ruangan. Dengan sekali dorongan dari wanita yang sedang dipermainkan di bawah kungkungan hewan buas. Lelaki tersebut nampak mulai tersadar. Lalu tersenyum, menatap wanita yang kini ikut menatapnya. "Kamu sudah bangun rupanya? Tapi baguslah. Aku ingin mendengar suara indah mu saat kita bersenang-senang di atas ranjang ini," ucapan yang meluncur bebas dari mulut lelaki, yang bahkan tidak pernah Grizelle temui sebelumnya. Grizelle hendak melarikan diri. Namun, kakinya direngkuh. Ia ditarik dengan kasar dan kembali dikungkung oleh lelaki yang memandang lapar ke arahnya. "Kamu siapa! Kamu apa!" pekik Grizelle dengan sangat lantang. Lelaki itu menyeringai. Ia menatap lekat kepada Grizelle. Sebelum akhirnya, meneriakkan hal yang membuatnya terkejut bukan main. "Tajamkan indra pendengaran mu. Dan ingat namaku baik-baik. Aku, Griffin Lukas Anderson. Dan aku, ingin menjamah tubuhmu sampai puas!!" cetus Griffin dan membuat Grizelle membeliak tak percaya. "Apa!?? Kamu sudah gila! Lepaskan aku!!" Beberapa jam sebelumnya. "Kamu mau pergi kemana??" tanya lelaki yang menatap tajam ke arah wanita berambut panjang bergelombang, hampir sepinggang dan baru saja keluar dari dalam kamarnya. "Reunian di Villa Kak. Sama teman-teman kuliah," jawab wanita tersebut dengan tatapan jengkel. Ia sudah berusia dua puluh lima tahun, sudah bukan anak kecil lagi. Tapi, setiap ingin keluar. Lelaki yang menjadi kakaknya itu begitu posesif terhadapnya. Tidak boleh pulang malam dan selalu menyuruh bodyguard untuk menjaganya. "Bawalah beberapa orang! Dan jangan membawa mobil sendiri!" cetus lelaki tersebut. Putra tertua dari keluarga Livingston, Gerald Antonio Livingston. Decak kesal putri bungsu Livingston pun tercipta dari mulutnya. "Ck! Come on, Kak! I'm not a kid anymore! Stop treating me like a child!" "Penjaga!!" panggilnya dengan pekikan yang cukup keras kepada para bodyguard yang berjaga. Dan pria-pria dengan seragam serba hitam pun datang berhamburan. "Siapkan mobil dan ikuti mobil Nona muda," perintah Gerald, sekaligus merupakan lampu hijau bagi Grizelle untuk membawa mobilnya sendiri. Grizelle tersenyum lebar dan bergelayut manja di lengan sang kakak. "Terima kasih Kakak ku yang baik dan sedikit sombong ini!" Gerald menyunggingkan senyumnya dan meletakkan telapak tangannya di atas kepala Grizelle, lalu mengusapnya dengan lembut. "Ingat! Jangan pulang terlalu larut. Kakak bertugas menjaga kamu dengan baik di sini. Jangan aneh-aneh. Jangan pergi ke club dan jaga nama baik keluarga kita," pesan Gerald kepada adik semata wayangnya. "Siap kakakku! Griz pergi dulu ya, Kak?" "Hm iya. Berhati-hatilah!" cetus Gerald. Grizelle melangkah dengan riang keluar dari mansion keluarga Livingston. Ia bergegas memasuki mobil merah menyala, yang merupakan hadiah di hari kelulusannya. Kini, Grizelle nampak melaju pergi melewati gerbang dengan tiga mobil hitam yang menyusul setelahnya. Selepas kepergian Griz dengan mobilnya. Dua mobil hitam nampak mengikuti dari belakang mobil para penjaga Nona muda Livingston. Saat berada di jalan sisi pegunungan. Mobil tersebut mendekat dan memepet jalan bagi salah satu mobil. Hingga mobil tersebut melewati pagar pembatas dan jatuh ke jurang. Masih ada dua mobil lainnya di depan. Salah seorang berkacamata hitam tersenyum menyeringai. Ia mengeluarkan tangan kanannya dengan sebuah pistol dalam genggamannya. Membidik, lalu menembak peluru pada mobil selanjutnya. Hingga mobil tersebut kehilangan keseimbangan dan menabrak pagar pembatas. Dan sekarang, hanya tinggal satu mobil terakhir yang nampaknya lebih siaga serta sulit untuk dilumpuhkan. Dengan lihainya mobil tersebut berbelok-belok. Berusaha menghindari tembakan maupun gesekan pada mobil. Sementara Nona muda dari keluarga Livingston, masih asyik mendengarkan musik dari earphone, yang sengaja ia pasang dengan volume yang keras, untuk menemani perjalanannya kali ini. Tak curiga dan tak mendengarkan kegaduhan yang terjadi di belakang mobilnya. Hingga sebuah benturan cukup keras ia rasakan di bagian belakang mobil. Membuat Grizelle terpaksa menepikan mobilnya. Grizelle melihat melalui kaca di atas kepalanya. Melihat dua orang keluar dari dalam mobil dan mendekat ke arahnya. Ia masih belum menyadari, bila orang-orang tersebut merupakan ancaman yang siap membawanya pergi, kepada Tuan mereka. Pintu mobil Grizelle buka. Ia melihat ke arah belakang dan tidak menemukan satu mobil pun yang mengiringi kepergiannya tadi. "Kemana mereka semua??" ucap Grizelle. Sebelum salah seorang dari orang asing menyemprotkan sebuah cairan dan membuatnya kehilangan kesadaran. Salah seorang dari orang tersebut langsung menangkap tubuh Grizelle. Sementara satu orang lainnya nampak menghubungi Bos mereka melalui sambungan telepon selulernya. "Tuan. Kami sudah mendapatkan apa yang Tuan inginkan." "Bagus! Bawalah dia ke sini sekarang juga!" cetusnya dengan penuh ambisi. Kembali ke saat sekarang. Tubuh Grizelle terasa remuk redam. Setelah orang yang baru satu kali ini ia temui, meluluhlantakkan tubuhnya. Ia mengais selimut di bawah kakinya dan menutupi tubuhnya yang polos. Sementara lelaki tadi pergi begitu saja meninggalkannya ke dalam kamar mandi. Kedua tangan Grizelle mengepal selimut dengan tenaga yang tersisa. Sudah berusaha berontak. Namun tetap saja, ia tidak berdaya melawan. Hingga harus merelakan tubuhnya dijamah dengan begitu sembarangan. Menjadi tempat pelampiasan, bagi orang yang tidak memiliki hati dan perasaan. Yang berkali-kali mengucapkan kata-kata yang begitu menjijikkan. Disela sebuah penyatuan, yang tidak ia inginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD