Awan hitam bergelayut manja menaungi langit Kota Kembang. Seperti cermin yang menyembunyikan wajah cantiknya. Senja tak terlihat, tertutup awan gelap. Tanah liat mulai basah tersentuh rintik hujan. Petrikor menguap, mengundang kenangan hangat tentang ingatan masa yang pernah singgah. Dengan posisi bersandar pada bantal, wajah cantik gadis itu masih berbalut pilu. Hujan pun turun menyejukkan relung hati dengan rintikannya yang bermelodi. Air hujan tercurah, mengingatkan kembali gadis itu pada sebuah tragedi. Ilma mencoba memejamkan mata, tak ingin mengingat peristiwa yang pernah dialaminya. Saat hujan deras mengguyur kota, dirinya tengah bersama pria itu. Dalam kepanikan dan ketakutan yang teramat luar biasa. Hujan ini adalah wakil air mata atas kesedihan yang tak dapat terlukiskan

