(2 tahun kemudian) “aaaaarrgghhh...hhhh...” “Tarik nafas dan buang perlahan.” Himbau dokter itu kepada Bianca yanh saat ini sedang berjuang melahirkan putranya ke dunia. Arwanda menggengam tangan Bianca, memberi semangat kepada istrinya dengan wajah pucat yang di aliri keringat. Binirnya tak berhenti memberikan semangat kepada Bianca dan berdoa dalam hati. “kamu biss sayang.” “Arrrrrgggghhhhh” “oek...oek...oek...” Arwands tersenyum lega mendengar suara putranya yang mengelegar mengisi ruang persalinan. “Terima kasih, terima kasih.” Bisik Arwanda mengecup seluruh permukaan wajah Bianca. Matanya memerah menahan haru melihat perjuangan Bianca melahirkan anaknya. “Baby nya laki-laki, sehat dan tampan seperti Ayah nya.” Ujar dokter itu tersenyum dan meletakkan baby nys untuk meras

