Saat Faza terbangun dia sangat terkejut karena ada seseorang disampingnya. Tadinya Faza akan berteriak, tapi langsung dia urungkan ketika melihat wajah seseorang yang terlelap disampingnya.
“ Kak Alea.” Panggilnya. Karena ini pertama kalinya Alea tidur dengan Faza. Dan saat mendengar panggilan Faza membuat Alea yang tidur langsung menggeliat bangun. Matanya langsung terbuka dan memandang kesekitar, dia pun jadi bingung karena ruangan ini bukan kamarnya. Tak lama kemudian, pandangannya langsung tertuju pada Faza yang masih setia menatap Alea. Dengan gerak cepat bangun, dia langsung berubah cuek pada Faza.
“ Jangan geer dulu, kakak numpang tidur disini karena semalam di kamar kakak ada tikus. Karena kakak takut jadi ngga sengaja masuk ke kamarmu dan tidur disini.” Jawabnya yang tidak ingin melihat Faza bahagia karena bisa tidur bersamanya, dia pun gengsi untuk mengakuinya.
“ Ngga apa-apa kok Faza seneng kak Alea mau tidur disini. Nanti malam kakak tidur disini lagi ya nemenin Faza.” Ajak Faza yang langsung terlihat ceria.
“ Ihhhh malas banget, kalau ngga terpaksa kakak sih malas tidur disini.” Balas Alea yang langsung keluar dari kamar Faza, mendengar ucapan Alea pun membuat Faza kecewa dan murung lagi.
Setelah keluar dari kamar Faza, Alea masih berdiri di depan pintu tersebut. Dia pun merasa menyesal mengatakan ucapan yang terdengar menyakiti perasaan Faza, terlebih lagi dirinya merasa bersalah saat melihat ekspresi wajah Faza tadi sebelum dia keluar.Padahal semalam dirinya memang sengaja menghampiri Faza, karena entah mengapa hatinya terus gelisah saat mengingat kalau sebentar lagi Faza akan pergi dari rumah ini. Alea bahkan tidak bisa tertidur, maka dari itu dia putuskan untuk masuk ke kamar Faza, dan tanpa sadar dia tertidur disamping Faza.
“ Mafin kakak de.” Batinnya
“ Le.” Panggilan itu menyadarkan Alea.
“ Kak Azzam.”
“ Kamu ngapain, subuh-subuh begini berdiri di depan kamar Faza.” Tanya Azzam yang curiga, terlebih lagi melihat ekspresi Alea yang langsung gugup.
“ Ngga ngapa-ngapain kok.”
“ Bohong, wajahmu tuh kalau bohong keliatan banget.” Balas Azzam.
“ Tumben kak Azzam tidur di rumah.” Elak Alea yang mengalihkan pertanyaan Azzam.
“ Ditanya malah balik tanya, dasar kamu.” Balas Azzam dan Alea hanya cengengesan dan langsung lari ke kamarnya. “ Aneh.” Ucap Azzam yang berniat mau membuka kamar Faza, untuk menghilangkan rasa penasarannya dengan apa yang Alea lakukan. Namun baru mau membuka, pintu kamar tersebut udah terbuka dan keluarlah Faza dari dalam.
“ Kak Azzam.” Ucap Faza yang langsung terjengkit karena terkejut melihat Azzam ada di depannya. Begitu pula dengan Azzam, dia langsung salah tingkah karena ketahuan. “ Kak Azzam lagi ngapain di depan kamar Faza.” Tanyanya.
“ Depan kamar kamu itu jalan, mau kakak kesini kek, mau kesana ya terserah kakak dong. Kan kaki kaki kakak kenapa kamu tanya-tanya.” Jawab Azzam dengan keras. Dan Faza yang sudah terbiasa mendapat jawaban seperti itu dari Azzam pun langsung berjalan menjauh dan mengatakan kata maaf dengan sangat lirih.
“ Maaf.”
“ Kamu mau kemana subuh-subuh begini.” Tanya Azzam yang heran melihat Faza subuh-subuh begini keluar dari kamarnya.
“ Mau sholat subuh bareng bibi.” Jawabnya dan langsung melanjutkan jalannya. Mendengar jawaban Faza membuat Azzam tersenyum tipis.
Dan dalam hatinya langsung berkata. “ Mama memang ngga pernah salah dalam mendidik anak-anaknya, makasih ma.”
***
Untuk pertama kalinya pagi ini ruang makan pun terdengar ada suaranya karena Azlan dan ketiga adiknya makan bersama. Bi Arum yang melihat hal itu pun menangis bahagia.
“ Bi Arum kenapa.” Tanya Alea.
“ Bi Arum seneng non, karena bisa melihat semua berkumpul seperti ini lagi.” Jawaban bi Arum membuat semuanya terhenti makan, dan langsung diam.
“ Bi, apa bisa kalau kita lagi makan seperti ini ngga bahas masalah yang bisa membuat nafsu makan kita hilang.” Jawab Azlan dengan tegas.
“ Maaf mas, bibi Cuma seneng aja. Bibi janji ngga akan ngulangin lagi. Maaf ya mas Azlan.” Balas bi Arum yang langsung kembali ke dapur.
“ Bukan bi Arum yang menghilangkan nafsu makanku tapi kakak.” Jawab Azzam yang langsung meneguk air minumnya dan pergi begitu saja meninggalkan ruang makan.
“ Tunggu kak Azzam, Alea ikut.” Ujar Alea yang langsung menyusul Azzam agar bisa menumpang ke sekolahnya.
Dan di ruang makan saat ini hanya tersisa Azlan dan Faza. Disana, Faza mencuri-curi pandang menatap Azlan. Dia pun terlihat takut dan juga tidak berani mengatakan apapun pada Azlan.
“ Apa kamu sudah selesai makan.” Tanya Azlan, dan Faza hanya mengangguk. “ Kalau udah selesai langsung masuk mobil, hari ini biar kakak yang anterin kamu ke sekolah.” Balas Azlan yang langsung bangun dari duduknya. Sedangkan Faza masih duduk bingung.
“ Kok, non Faza masih duduk, kan kak Azlan udah keluar.”
“ Apa kak Azlan mau nganterin Faza.” Tanyanya dengan ragu.
Bi Arum tahu dan langsung mengangguk meyakinkan Faza kalau kakaknya benar-benar mengantarkannya ke sekolah. Dengan gerak cepat, Faza pun langsung mengambil tasnya dan bergegas menyusul Azlan.
***
Selama dalam perjalanan menuju ke sekolah, Faza terus mencuri-curi pandang untuk menatap Azlan. Walaupun berusaha untuk tidak ketahuan, tetap saja Azlan menyadarinya, dia hanya tersenyum sinis melihat tingkah Faza.
“ Mau sampai kapan kamu ngliatin kakak terus.” Tanya Azlan, sehingga membuat Faza langsung menunduk.
“ Fa… za Cuma mau bi…lang makasih ke kakak karena udah mau nganterin Faza ke sekolah.” Ucapnya tanpa berani memandang kearah Azlan.
“ Hmmm. Kita udah sampai. Nanti siang, kakak akan jemput kamu. Kakak akan ajak kamu ke suatu tempat.” Ucap Azlan
“ Kemana kak” Tanya Faza yang penasaran sekaligus bahagia karena hari ini kakaknya mau mengantar serta menjemputnya.
“ Ngga usah banyak tanya, tinggal ikut aja.” Balas Azlan dan sebelum turun Faza mendekat kearah Azlan untuk bersalaman, melihat uluran tangan Faza membuat dia balas uluran tangan tersebut. Dan tanpa diduga tiba-tiba Faza mengecup pipi Azlan.
“ Makasih kak Azlan, Faza sayang kakak.” Ucapnya yang tersenyum ceria.
Mendepat kecupan dari Faza membuat Azlan terbengong dan hanya bisa menelan ludah sambil memegangi pipi yang baru saja di kecup oleh Faza. Namun dia kembali menyadarkan dirinya.
“ Ngga…. Ngga boleh seperti ini. Keputusanku sudah bulat.” Ucap Azlan yang terbesit muncul keraguan untuk niatannya itu.
***
Ketika baru sampai di kantor, Azlan langsung di hadang oleh pak Guntur. Raut wajah pak Guntur benar-benar terlihat berbeda dari biasanya, dia terlihat begitu serius.
“ Om.” Ucap Azlan yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, namun pak Guntur tidak membalasnya, tatapannya terus memandang kearah Azlan.
“ Untuk apa kamu menyuruh Yusuf mencari tempat panti asuhan.” Tanya om Guntur. Dan Azlan langsung paham apa yang membuat wajah pak Guntur begitu serius.
“ Kita bicarakan masalah ini di kantor Azlan aja ya om, ngga enak disini diliatin banyak karyawan.” Ajak Azlan yang akhirnya dituruti oleh pak Guntur. Dari kejauhan Yusuf langsung menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah pada Azlan. Karena dirinya yang kurang hati-hati sehingga membuat pak Guntur tahu masalah ini. Padahal Azlan tidak ingin orang lain tahu dulu sebelum dirinya menjalankan rencananya.
“ Apa sebenarnya niat kamu lan.” Tanya om Guntur.
“ Om, Azlan minta maaf karena ngga merundingkan dulu masalah ini dengan om. Karena Azlan pikir ini hanya masalah sepele yang ngga perlu om tahu.” Jawabnya.
“ Kamu jangan main-main ya lan. Ngga lucu kalau sampai kamu….”
“ Om, Azlan tahu pasti om akan marah dengan keputusan Azlan ini. Tapi Azlan ngga punya pilihan lain om.”
“ APa maksud kamu ngga punya pilihan lain lan, dia itu sudah menjadi tanggung jawabmu. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan lan.”
“ Om, Azlan sama sekali ngga berniat untuk membuat kesalahan. Justru Azlan mengambil keputusan ini pun untuk masa depannya.”
“ Tapi ngga begitu lan, masa depannya ada bersama keluarganya, yaitu kamu para kakaknya.”
“ Apa om pikir mudah untuk Azlan mengatasi semuanya, sedangkan Azlan pun sendiri terkadang rapuh om. Semua ini ngga mudah buat Azlan jalani, terlebih lagi menjaganya. Memang benar mama mengangkatnya, tapi apa salah kalau Azlan juga berpikir untuk masa depannya. Dia masih terlalu kecil untuk melewati masa-masa seperti ini om. Coba bayangkan, Faza harus di rumah setiap hari sendirian. Dia terus menangis karena merindukkan mama. Kita sebagai orang dewasa dan belum bisa menghadapi nak kecil seperti Faza pun ngga bisa memahaminya sepenuhnya om.”
“ Tapia pa kamu memikirkan gimana perasaan Faza, saat dia tahu dan paham kalau dirinya telah di buang oleh keluarganya.”
“ Azlan sama sekali ngga berniat membuang Faza. Azlan akan terus memantau Faza dimanapun dia om, walaupun nanti Faza disana, Azlan ngga akan lepas tangan begitu aja om. Sampai benar-benar Faza memiliki kehidupan atau orang tua yang layak, maka sampai itu juga Azlan akan terus mengurusnya walau ngga secara langsung.” Balas Azlan yang terus memberikan alasan dan meyakinkan pak Guntur.
“ Tapi om benar-benar ngga setuju dengan keputanmu ini lan. Om sangat berharap kamu bisa merubahnya.”
“ Azlan sudah dewasa om, jadi Azlan pun mengambil keputusan ini sudah dengan banyak pertimbangan dan persetujuan dari Azzam dan Alea. Dan kita bertiga udah setuju dengan jalan ini.”
“ Lan.”
“ Om, Azlan mohon dengan sangat. Kalau om akan bisa menerima keputusan Azlan ini.”
“ Om mengatakan dan melarangmu karena om benar-benar ngga yakin kalau ini bukan jalan keluar yang baik lan. Apalagi untuk Faza yang masih begitu kecil. Dan om yakin dia akan jauh lebih bahagia tinggal bersama kalian.” Ucap om Guntur yang masih saja berusaha membujuk Azlan, namun wajah Azlan terlihat bersikekeuh dan tidak ingin merubah keputusannya.
“ Azlan akan tetap mencobanya om.” Balasnya yang langsung menyibukkan diri dengan tumpukan berkas-berkas yang harus dia lihat di depannya. Mendengar jawaba itu, om Guntur pun langsung pergi keluar dengan hati yang masih geram pada Azlan.
Setelah om Guntur pergi, Azlan baru bisa bernafas lega karena dirinya takut akan terus menerus bersitegang dengan om Guntur.
***
Siang harinya, Azlan benar-benar menjemput Faza, namun dirinya menunggu Faza di mobil, karena tidak ingin terlihat oleh banyak orang. Dan Faza yang sudah hafal dengan mobil milik Azlan.
“Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.” Balas Azlan yang langsung memakaikan sabuk pengaman saat Faza sudah duduk.
Sekitar setengah jam, akhirnya Azlan dan Faza pun sampai ke tempat yang di tujunya.
“ Kakak kita ada dimana.” Tanya Faza sambil melihat-lihat keluar jendela. Dia melihat banyak anak yang sedang berlari dan bermain bersama.
“ Apa Faza mau main bareng mereka.” Tanya Azlan yang langsung keluar dari mobil untuk mengajak Faza supaya bisa bergabung dengan anak-anak tersebut.
“ Tapi kak, Faza ngga kenal sama mereka.”
“ Kalau sering main pasti juga kenal kok.” Jawabnya yang kemudian mendekatkan Faza dengan anak-anak panti yang sedang bermain.
Dan ternyata tidak butuh waktu lama untuk Faza bisa bergabung dengan mereka, memang masih terlihat malu-malu tapi Faza sudah bisa mulai menikmati keadaan ini.
“ Jadi itu yang namanya Faza.” Tanya ibu panti asuhan.
“ Iya bu, tapi bukan hari ini saya akan bawa dia kesininya. Saya hanya sedang memperkenalkan dan mendekatakan dirinya dengan lingkungan yang akan ditinggalinya.”
“ Apa nak Azlan yakin.”
“ Melihat senyumannya saat bersama dengan teman-temannya sekarang membuat keputusan saya semakin yakin. Karena ini pertama kalinya dia bisa tersenyum seperti itu setelah kepergian mamanya.”
“ Baiklah kalau itu memang sudah keputusan dari nak Azlan.” Balas bu panti yang kembali meninggalkan Azlan sendirian.
Saat ini Faza terlihat seperti anak kecil yang tidak memiliki beban dan bisa bermain sesukanya. Kali ini Azlan memang sengaja membawa Faza kesini dulu sebelum dia benar-benar meninggalkan Faza disini.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, senyuman pun terus terlihat di wajah Faza. Azlan yang melihat itu pun membuatnya lega, karena dia yakin kalau saat nanti Faza disana dia akan baik-baik saja.
“ Assallamualaikum.” Salam Faza dengan ceria.
“ Waalaikumsalam.” Balas bi Arum dan Alea yang melihat Azlan dan Faza baru pulang di jam sore seperti sekarang.
“ Bibi, tadi kakak bawa Faza ketemu sama teman-teman baru.” Ucapnya yang mulai kembali bercerita tentang kesehariannya ini.
“ Oh ya, kemana.”
“ Ke panti asuhan.” Jawaban Faza membuat bi Arum langsung beralih memadang Azlan. Namun dengan cepat Azlan langsung mengalihkan perhatian bi Arum.
“ Udah ceritanya nanti aja, ini udah sore kamu langsung mandi.” Ujar Azlan. Kemudian, Faza buru-buru menarik tangan bi Arum untuk menemaninya mandi.