Lagi-lagi Azlan harus mendapatkan berita yang tidak baik di hari seharusnya dirinya berhasil mendapatkan penghargaan karena menjadi pengusaha yang memiliki prestasi. Azlan terus berlari menuju koridor rumah sakit, dia sudah tidak memperdulikkan lagi pandangan orang terhadapnya. Hatinya benar-benar hancur ketika adiknya mengabari kalau mamanya masuk ke rumah sakit. Saat sampai di ruangan dimana mamanya sedang ditangani dokter, Azlan melihat ketiga adiknya menangis di depan ruangan tersebut. Azlan pun seperti flashback ketika papanya meninggal dulu. Dia benar-benar takut kalau hal itu benar-benar akan terulang lagi.
“ Kakak.” Panggil Alea yang langsung berlari memeluk Azlan. “ Mama kak… mama kak … dia…” Alea sudah tidak lagi sanggup mengatakan keadaan mamanya sekarang.
“ Kenapa keadaan mama seperti ini. Tadi pagi dia baik-baik aja le.” Tanya Azlan pada Alea.
“ Azzam ngga tahu kronologinya. Azzam pun baru datang di kabari bibi kak.” Jawab Azzam karena dia tahu kalau Alea sudah tidak lagi bisa menjawabnya.
“ Kakak yakin mama akan baik-baik aja, mama kuat le.” Ucap Azlan yang terus menguatkan adik-adiknya. Sedangkan dia melihat Faza yang masih menangis dalam pangkuan bi Arum.
“ Kenapa bibi bawa Faza kesini.” Tanya Azlan.
“ Bibi bingung mas Azlan, tadi di rumah ngga ada siapa-siapa buat jagain Faza. Jadi kita bawa Faza.” Jawab bi Arum dengan tangannya yang gemetar karena dia melihat sendiri dan yang membawa majikannya ke rumah sakit.
“ Kenapa mama seperti ini, tadi pagi mama udah baik-baik aja bi.” Tanya Azlan.
“ Bibi ngga tau jelas mas, karena bibi sama Faza udah nemuin ibu pingsan di kamar mandi. Langsung aja kita bawa ibu ke rumah sakit.” Jawab bi Arum. Faza yang memang tidak berani bicara dengan Azlan pun terus memeluk erat bi Arum.
“ Kenapa bibi tinggalin mama sendirian.”
“ Tadi bibi.. bibi disuruh sama ibu buat nyiapin makan siangnya Faza mas. Jadi bibi keluar.”
“ Keadaan mama jauh lebih penting dibandingkan makan siang anak ini, apa bibi lupa. Bibi dibayar untuk jagain mama bukan buat ngurusin anak manja ini.” Bentak Azlan yang semakin emosi.
Emosinya pun langsung terhenti ketika, dokter yang memeriksa mamanya keluar dari ruang pemeriksaan.
“ Dok, gimana keadaan mama saya.”
“ Lan, mama kamu…” Ucapan dokter terhenti dan hal itu membuat Azlan dan yang lainnya ketakutan terlebih lagi melihat raut wajah dokter tersebut. “ Allah lebih sayang mama kamu lan.”
Ucapan dokter tersebut membuat Azlan dan adik-adiknya menangis histeris mengetahui kalau mamanya telah tiada, dia sudah meninggalkan dunia ini seperti papa mereka. Azlan yang rapuh pun tidak sanggup untuk menenangkan adik-adiknya. Seharusnya dia yang harus mampu, tapi nyatanya dia sendiri sekarang tak sanggup berdiri tegak saat harus menerima kenyataan kalau dirinya dan adik-adiknya kembali harus kehilangan orang yang begitu mereka sayangi.
Alea langsung berlari keruangan dimana jasad mamanya masih disana. Alea berusaha keras untuk membangunkan mamanya.
“ Bangun ma…. Mama ngga boleh bercanda seperti ini ma. Mama, Alea janji Alea ngga akan nyusahin mama lagi, Alea janji akan jadi kakak yang baik buat Faza seperti apa yang mama minta, Alea akan jadi anak yang paling nurut apa kata mama. Tapi Alea mohon ma, mama bangun Alea ngga mau mama seperti ini ma. Alea mohon ma, bangun.” Teriak Alea yang terus berusaha membangunkan mamanya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Azlan pun mencoba kuat saat melihat Alea seperti itu. Dia mendekati Alea dan memeluknya. “ Kakak tahu kita ngga pingin mama pergi le, tapi Alea ngga boleh seperti ini. Kakak pun ingin mama kembali, tapi Allah lebih memilih mama bersamanya le.”
“ Ngga kak, Alea yakin mama sekarang lagi bercanda. Dia semalam masih peluk Alea, dia senyum ke Alea kak. Mama pasti Cuma pingsan kak. Dokter pasti salah.”
“ STOP Le, stop. Kamu menyakiti mama le.” Ucap Azzam yang tidak suka Alea terus menggerakkan tubuh mamanya yang sudah meninggal.
“ Kak Azzam kenapa marahin Alea, harusnya kak Azzam ikut bangunin mama. Mama seperti ini karena mama lagi bercanda kak, mama ngga serius.” Bentak Alea.
Kemudian, Azlan pun membawa Alea keluar. Dia tidak bisa membiarkan adiknya itu terus seperti ini.
“ Cukup le, cukup.” Bentak Azlan ketika Alea masih meronta-ronta. Sampai akhirnya Alea luruh ke lantai.
“ Alea ngga mau kehilangan mama seperti Alea kehilangan papa kak. Kenapa harus sekarang, kenapa kak.” Pertanyaan Alea membuat hati Azlan terluka, dia pun bertanya-tanya kenapa harus sekarang.
“ Andai kakak punya jawaban itu pasti akan kakak jawab le, hanya Allah Yang Maha Tahu le.”
Berjam-jam Azlan, Azzam dan Alea masih terus menangisi kepergian mamanya. Mereka duduk di kursi tunggu bertiga dengan mengingat semua kenangan manis bersama dengan mamanya. Tidak pernah terbayangkan oleh mereka bertiga kalau hari seperti ini akan kembali mereka alami. Hari paling membuat kebahagiaan mereka seakan berhenti karena perginya orang yang paling mereka sayang. Azlan sampai menyesal karena sering melukai hati mamanya dengan kata-katanya yang baginya kasar. Semua ini seperti mimipi buruk yang ia harap akan berakhir saat hati telah berganti.
“ Kak, ini Cuma mimpi kan. Besok mama masih sama kita kan kak. Dia akan kembali kan. Kalau kita bangun mama akan kembali kan.” Tanya Alea yang masih tidak percaya kalau mamanya sudah benar-benar meninggal.
“ Banyak hal yang ingin Azzam tunjukkan ke mama. Azzam ingin mama liat, ma. Azzam ingin mama tahu kalau Azzam bisa, Azzam mampu ma.” Ungkap Azzam yang akhirnya tidak lagi bisa menahan sakit dihatinya karena kepergian mamanya yang selalu percaya dengan apa yang dilakukannya. Mama yang ngga pernah ragu, mama yang selalu bisa melihat kebenaran hanya dari melihat matanya.
“ Mas Azlan.” Panggilan bi Arum membuatnya terkejut. Karena dia pikir bi Arum sudah pulang terlebih dahulu.
“ Kenapa bibi balik. Azlan kan udah suruh bibi buat pulang dan menyiapkan segala sesuatunya.”
“ Bibi belum pulang mas, di depan rumah sakit Faza nangis sampai bibi ngga bisa nanganin mas. Dia ngga mau pulang dan bersikekeuh buat ketemu ibu. Dia nolak pulang mas.”
“ Ya Allah bi, nanganin anak kecil satu aja ngga bisa sih.” Ucap Azlan yang terlihat emosi dengan keadaan sekarang. “ Zam kamu jagain Alea dulu, kakak mau lihat Faza dulu. Jangan sampai anak itu buat masalah lagi.” Pinta Azlan yang akhirnya mengikuti bi Arum keluar rumah sakit untuk membantu menenangkan Faza.
Dan benar saja, disana Faza terus meronta ronta serta memberontak dari pegangan pak Andri, bahkan dirinya menjadi tontonan banyak orang. Melihat keadaan Faza sekarang pun membuat dia sakit, karena dia tahu apa yang Faza rasakan sekarang. Apalagi usia Faza masih terlalu kecil untuk mengerti kalau dirinya tidak akan bisa lagi bertemu dengan mama yang begitu menyayanginya dan selalu melindunginya. Mama yang selalu ada untuknya telah tiada.
“ MAMA…. MAMA …. FAZA MAU KE MAMA. FAZA MAU KETEMU MAMA” Teriaknya berkali-kali. Sambil memberontak saat pak Andri terus memeganginya
Azlan perlahan mendekat, dan untuk pertama kalinya tangannya ia ulurkan pada Faza. Melihat tangan kakaknya pun membuat dia ragu untuk meraihnya. Namun anggukan Azlan membuat Faza berani meraih tangan Azlan. Setelah Azlan menggenggam tangan Faza dan mensejajarkan tubuhnya sedang Faza, sedikit demi sedikit tangisan Faza mereda, namun permintaannya terus dia ucapkan.
“ Faza mau ketemu mama kak, mama sakit. Faza mau jagain mama. Kalau Faza sakit mama juga selalu jagain Faza, Faza mau seperti mama.” Pinta Faza.
Mendengar itu, membuat hati Azlan tergerak untuk menghapus air mata yang membasahi wajah kecil Faza.
“ Apa Faza sayang mama.” Tanya Azlan, dan Faza langsung mengangguk. “ Kalau Faza sayang mama, Faza akan ikutin apa kata kak Azlan kan. Mama pun ngga akan suka liat keadaan Faza seperti sekarang, kalau Faza seperti ini, Faza akan buat mama sedih.” Faza kembali mengangguk. “ Sekarang Faza ikut bi Arum sama pak Andri pulang dulu. Kak Azlan pun sebentar lagi akan pulang.”
“ Tapi mama. Apa mama juga akan ikut pulang.” Tanya Faza dan dengan ragu Azlan mengangguk.
“ Mama akan ikut pulang kok.”
“ Kak Azlan janji ya, bawa mama pulang. Faza sayang mama.”
“ Kak Azlan janji akan bawa mama pulang.” Akhirnya Faza pun menurut apa kata Azlan. Dan sebelum dia pergi dengan bi Arum, Faza memeluk serta mengecup pipi kakaknya. Bagi Azlan ini pertama kalinya dia bisa bersikap seperti kakak pada Faza.
***
Azlan dan adik-adiknya saat ini harus kembali terduduk sambil memegangi gundukan tanah kedua orang tua mereka. Ikhlas dan merelakan butuh proses yang lama saat mereka kehilangan papa, dan sekarang mereka harus melewati lagi proses tersebut.
“ Le, zam kita pulang sekarang ya.” Ajak Azlan yang masih berusaha membujuk kedua adiknya untuk kembali ke rumah. Namun, hal itu masih belum dijawab oleh Azzam dan Alea. Mereka masih saja duduk disamping makam kedua orang tua mereka. “ Kakak tahu kalian sedih, kakak pun seperti itu. Sulit untuk menerimanya, itu udah pasti. Tapi kakak mohon jangan buat mama sedih dengan melihat keadaan kalian sekarang seperti ini. Jadi kita pulang sekarang ya.” Ajak Azlan lagi yang kali ini berusaha membangunkan Alea yang begitu lemah.
“ Alea sayang mama, Alea janji akan sering datang kemari buat nemenin mama. Alea benar-benar sayang mama.”
“ Zam.” Panggil Azlan yang melihat Azzam masih duduk.
“ Azzam masih mau disini kak, Azzam janji nanti Azzam akan pulang.” Ucapnya yang menolak ajakan Azlan.
“ Kakak akan tunggu kamu di rumah.” Balasnya.
Sesampainya di rumah, Azlan dan Alea hanya bisa menghela nafas karena kembali mendengar tangisan Faza yang belum juga berhenti.
“ Kakak akan antar kamu ke kamar ya.”
“ Alea bisa jalan sendiri kok kak, sebaiknya kakak urus Faza. Dia masih kecil, bahkan dia lebih kecil dibandingkan saat Alea kehilangan papa. Saat itu, Alea masih masih punya mama. Tapi sekarang Faza ngga punya siapa-siapa.” Ucap Alea yang tidak bisa membayangkan keadaan Faza saat ini.
“ Kenapa mama pergi bi, pasti karena Faza nakal ya. Faza juga sayang mama, Faza mau jagain mama. Kenapa harus Allah yang jagain mama bi, kenapa mama ngga dijaga disini aja. Ada kak Azlan, ada kak Azzam, ada kak Alea dan juga ada Faza. Kita kan bisa jaga mama sama-sama.”
“ Faza dengerin bibi, mama orang yang baik sekali. Maka dari itu Allah ingin langsung jagain mama disina. Kalau Faza kangen sama mama, Faza berdoa sama Allah. Faza bilang ke Allah kalau Faza kangen mama. Insyaallah nanti Allah akan sampaikan rasa kangen Faza ke mama.”
“ Apa Faza ngga akan bisa ketemu sama mama lagi. Apa mama ngga mau ketemu sama Faza lagi.”
“ Insyaallah, kalau Faza terus berbuat baik dan jadi anak yang nurut. Pasti kelak Faza akan bisa bertemu sama papa dan mama. Walaupun mama udah jauh, dia akan selalu ngliat Faza dari sana. Mama selalu mengawasi Faza, jadi Faza harus tetap jadi anak yang baik ya supaya mama juga bahagia disana.” Jawab bi Arum.
Azlan hanya bisa mendengarkan percakapan bi Arum dan Faza. Awalnya dia ingin membantu bi Arum untuk menenangkan Faza, tapi terdengar suara tangisan yang lama kelamaan mereda pun membuat Azlan menghentikan langkahnya dan berdiri di balik pintu.
“ Ma, doakan Azlan supaya Azlan mampu dan kuat untuk menghadapi semua ini. Azlan sendiri ragu pada diri Azlan apa Azlan bisa jalanin semua ini tanpa mama disamping Azlan. Azlan seperti sudah kehilangan harapan terbesar Azlan. Bagaimana Azlan menghadapi adik-adik kalau Azlan sendiri lemah seperti ini ma, dulu mama yang selalu mengingatkan dan memperbaiki langkah Azlan. Sekarang siapa yang akan selalu mengingatkan Azlan kalau apa yang Azlan lakukan ngga benar ma, Azlan kangen mama, Azlan sayang mama. Andai waktu bisa berputar, Azlan akan selalu disamping mama, nemenin mama dan ngga akan membiarkan mama kesepian disaat-saat terakhir mama. Azlan rapuh ma, Azlan ngga sekuat yang mereka lihat. Hanya didepan mama Azlan bisa menunjukkan kelemahan Azlan. Apa yang harus Azlan lakukan sekarang ya Allah.” Ungkapan hati Azlan yang begitu terluka karena kehilagan sosok seorang mama.
***