4. Ketulusan Hati

2405 Words
Azlan dan kedua adiknya benar-benar syok mendengar berita yang baru saja mamanya ucapkan. Dia tida menyangka ternyata masalah inilah yang selama beberapa hari ini ingin mama bicarakan dengannya dan kedua adiknya. Karena Azlan pikir mamanya tidak akan mengambil keputusan konyol seperti ini, hal ini tidak pernah terpikirkan oleh mereka bertiga. “ Ma, ini bukan waktunya bercanda ya ma. Azlan tahu mama ngeluh karena waktu kita sekarang lebih banyak di luar. Tapi jangan sampai mengambil keputusan seperti ini dong ma. Ini ngga lucu, dan Azlan ngga setuju ma.” Ungkap Azlan. “ Kali ini Azzam juga setuju dengan kak Azlan ma. Mama udah punya kak Azlan, Azzam dan Alea, jadi buat apa sih ma, mama mengadopsi anak lagi. Apa tiga anak bagi mama itu kurang.” Balas Azzam yang juga menentang keputusan sang mama. “ Mama udah mengambil keputusan ini, mama sudah minta pendapat kalian. Tapi apa kalian lupa apa yang kalian ucapkan, kalau apapun keputusan yang mama ambil kalian akan setuju.” “ Itu kita bilang karena kita ngga tahu kalau keputusan yang mama maksudkan adalah mengadopsi seorang anak. Ma, tolong dong ma, jangan ambil keputusan seperti ini.” Pinta Azlan. “ Kalian ngga merasakan apa yang mama rasakan sekarang lan, setelah papa meninggal kalian semua benar-benar berubah. Kalian semua menjauh dari mama. Mama rindu akan kehangatan rumah ini, mama rindu akan anak-anak mama. Tapi apa yang terjadi sekarang, kalian seperti ngga menganggap mama. Dan saat pertama kali mama menatap Faza, mama seperti melihat kehangatan itu lan, Faza sudah membuat mama jatuh cinta padanya.” Balas mamanya yang kekeuh mempertahankan keputusannya. “ Apa mama fikir hanya mama yang merasakan itu, Alea pun sama ma. Rumah ini seperti bukan rumah lagi buat Alea. Seolah mama bilang kalau hanya mama yang terluka, Alea pun terluka ma. Apalagi keputusan mama ini benar-benar membuat Alea merasa, kalau mama udah ngga sayang lagi sama Alea.” Balas Alea yang langsung meninggalkan ruangan tersebut untuk pergi ke kamarnya. “ ALEA.” Panggil mamanya yang berusaha mencegah Alea, namun tidak berhasil. “ Mama lihat kan, keputusan mama ini benar-benar ngga bisa kita terima ma. Sebaiknya mama pikirkan kembali ma. Jangan sampai mama menyesalinya.” Balas Azlan yang langsung meninggalkan rumahnya dengan perasaan yang benar-benar kacau. Azzam pun sama, dia juga keluar dari rumahnya. Tinggal mamanya sendiri, hatinya sakit mendengar berbagai ucapan yang anak-anaknya lontarkan padanya. Dia sebenarnya tahu, keputusannya ini pasti akan di tentang oleh ketiga anaknya, apalagi dengan sifat mereka yang keras. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dirinya sudah terlanjur mengadopsi Faza, jadi mau bagaimanapun dirinya akan mempertahankan dan membujuk anak-anaknya untuk bisa menerima kehadiran Faza di rumah ini. Mama Azlan tidak mungkin mengembalikan Faza ke panti asuhan. “ Bu, yang sabar ya bu.” Ucap bi Arum yang tahu kalau majikannya sekarang sedang bersedih akan penolakkan dari ketiga anaknya. “ Apa yang harus saya lakukan untuk membuat anak-anak bisa menerima Faza bi, saya ngga mungkin mengembalikkan Faza ke panti asuhan bi. Saya sayang ke Faza, saya kasihan ke dia. Ya Allah kuatkan hamba.” Ungkap mama Azlan yang menangis mengingat kejadian tadi. “ Saya yakin bu, kalau sekarang yang anak-anak butuhkan waktu bu. Mereka anak-anak ibu dan bapak, mereka anak-anak yang baik. Kalau ibu terus memberi mereka pengertian pasti mereka lama kelamaan akan bisa menerima keputusan ibu dan menerima kehadiran Faza di rumah ini.” Balas bi Arum. “ Terima kasih ya rum, karena kamu selalu mau mendengarkan keluh kesah saya. Saya ngga tahu kalau kamu ngga ada rum, mungkin hati ini begitu sakit memikirkan anak-anak.” Balas mama Azlan yang memeluk bi Arum, dia sudah menganggap bi Arum seperti saudaranya. “ Sama-sama bu, keluarga ini sudah seperti keluarga saya sendiri bu.” “ Oh ya, Faza gimana.” “ Dia sedang tidur bu, mungkin lelah karena terus terusan nangis.” Balas bi Arum. Kemudian, mama Azlan pun beranjak dari duduknya untuk ke kamarnya melihat Faza. Sesampainya di kamar, dia melihat wajah polos dan tak berdosa Faza yang terlelap begitu pulas. Dengan pelan mama Azlan mengecup kening putri kecilnya. “ Maafin mama ya sayang, karena pertengkaran mama dan kakak-kakakmu pasti sudah buat kamu takut, sampai kamu nangisnya kencang banget. Mama janji sayang, mama akan terus mempertahankan Faza, Faza akan tetap disamping mama dan kakak-kakak Faza. Mama sayang Faza nak.” Balas mamanya sambil mengusap kepala Faza. Tidak lama kemudian, dirinya terpikirkan oleh Alea. Apalagi mendengar kata-kata Alea tadi, maka mama Azlan langsung menyuruh bi Arum untuk mengambilkan makanan. Dia ingin membawanya ke kamar Alea, karena dia tahu tadi Alea belum jadi makan siang. “ Assallamualaikum sayang, ini mama. Apa mama boleh masuk.” Panggil mama Azlan yang mengetuk pintu kamar Alea. Dia mencoba membuka pintu, mungkin saja tidak terkunci. Dan syukurnya kamar Alea tidak di kunci. Mama Azlan pun langsung masuk pelan-pelan sambil membawa nampan berisi makanan. Disana terlihat Alea menutupi dirinya dengan selimut. “ Sayang, mama bawa makan siang. Tadi kan Alea belum jadi makan nak. Siang ini mama udah masak makanan kesukaan Alea lho.” Ucap mama Azlan sambil duduk di pinggir ranjang Alea. Namun tidak ada sahutan dari Alea, dirinya masih saja menutup diri dengan selimut tanpa ada niat bangun saat mendengar suara mamanya. “ Mama tahu, Alea pasti marah besar ke mama. Mama tahu keputusan mama ini membuat semua syok nak. Tapi Alea harus percaya sayang, kasih sayang mama pada Alea ngga akan pernah berubah, ada atau ngga adanya Faza, mama akan tetap sayang ke Alea, Alea adalah princessnya mama dan papa. Kalau papa disini dan liat Alea nangis, pasti dia akan jauh lebih terluka dan menangis, karena papa kan paling ngga bisa liat princessnya ini nangis.” Bujuk mamanya. Dan selimut itu mulai bergetar, mama Azlan tahu kalau saat ini putrinya sedang menangis. Melihat hal itu, mama Azlan langsung memeluk putrinya dan menagis bersama dalam pelukan itu. Tak lama kemudian, Alea mulai membuka suaranya. “ Mama bohong… mama bohongin Alea. Kalau mama sayang Alea, mama ngga akan mengadopsi seorang putri lagi. Mama bilang kalau sampai kapanpun Alea akan jadi princess satu-satunya.” Ucap Alea yang langsung bangun dan menjauh dari mamanya. “ Sayang, hadirnya Faza ke rumah ini ngga akan mengubah apapun sayang, termasuk kasih sayang mama terhadap Alea, kak Azzam dan kak Azlan. Kasih sayang mama akan tetap sama pada anak-anak mama.” “ Tapi kenapa dia harus ada ma, mama punya kak Azlan, Azzam dan Alea ma. Kita sayang ke mama.” “ Mama tahu kok, anak-anak mama sayang ke mama. Mama mohon sekali ke kamu nak, dengarkan mama dulu. Mama dulu adalah anak yatim piatu nak, dan saat mama melihat Faza, mama langsung teringat akan diri mama sendiri nak, mama sedih karena anak sekecil Faza harus ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.” “ Tapi dia bisa tinggal di panti asuhan ma, disana pasti banyak yang akan sayang ke dia, bahkan akan ada orang tua yang mengadopsinya ma. Mama ngga sendiri mama punya Alea, kak Azzam dan kak Azlan. Alea janji Alea akan sering nemenin mama di rumah, jadi mama bisa balikin Faza ke panti asuhan.” Pinta Alea, dan mamanya langsung menggeleng. “ Ngga sayang, mama ngga bisa. Mungkin saat ini keputusan yang mama ambil belum bisa Alea terima. Tapi mama yakin suatu saat Alea akan bisa terima kehadiran Faza sebagai adik Alea.” “ Sampai kapanpun Alea ngga pernah punya adik, Alea anak bungsu papa dan mama, sampai kapanpun Alea ngga akan terima dia.” Teriak Alea yang kekeuh menolak kehadiran Faza. “ Cukup Alea, mama tahu sekarang Alea masih butuh waktu. Mama akan beri Alea waktu. Dan jangan lupa buat makan ya, mama udah masakin makanan kesukaan Alea.” Balas mamanya yang mencoba tidak menghiraukan renegkan Alea. *** Saat mengikuti rapat Azlan benar-benar tidak bisa fokus, dia tidak habis pikir tentang jalan pikiran mamanya yang bisa-bisanya mengambil keputusan untuk mengadopsi seorang anak. “ Lan.” “ Iya om.” “ Apa kamu ada masalah.” Tanya pak Guntur. Dan Azlan hanya menggeleng dengan tersenyum. “ Kalau memang ngga ada masalah terus kenapa kamu tadi ngga bisa fokus saat mengikuti rapat. Ingat ya lan, proyek ini salah satu proyek yang akan menunjukkan kemampuanmu. Jangan sampai karena masalah pribadimu membuat apa yang sudah kita rencanakan gagal.” Ucap pak Guntur yang menasehati Azlan. “ Iya om, Azlan akan selalu ingat itu kok. Azlan Cuma kecapean aja . Jadi tadi kurang fokus.” Balasnya yang masih menutupi masalahnya di rumah. “ Ya, namanya saja kamu sedang berjuang lan. Om yakin kalau kamu sungguh-sungguh dalam menekuni apa yang kamu kerjakan sekarang maka usahamu ngga akan sia-sia. Papamu pasti bangga padamu lan.” Ucap pak Guntur yang terus menyemangati Azlan. Azlan pun teringat akan papanya yang sudah benar-benar meninggalkannya sendiri, namun akan keyakinan sang papa padanya membuat dirinya yakin kalau dia mampu menjadi seperti papanya yang berhasil dalam karir serta menjaga keluarganya. “ Azlan janji pa, Azlan janji kalau Azlan akan benar-benar menjaga apa yang sudah papa percayakan pada Azlan. Azlan akan berusaha dan ngga akan mengecewakan papa. Makasih pa, karena papa sudah menjadi bagian dalam hidup Azlan. Azlan sayang papa.” Batin Azlan yang teringat akan banyak kenangannya bersama sang papa. Karena dia ingin menjadi sang papa yang tidak pernah mengecewakan orang-orang yang dia sayangi. *** Waktu makan malam pun tiba, dan mama Azlan masih setia menunggu ketiga putranya untuk makan bersama. Namun tetap saja tidak ada yang keluar dari kamar mereka. Tapi tak lama kemudian, Azlan pun keluar dari kamarnya. Tapi tidak menuju ruang makan melainkan pergi ke ruang kerjanya. Mama Azlan yang melihat itu pun hanya bisa menghela nafas, dia kecewa akan sikap ketiga anaknya yang masih saja keras kepala dengan penolakan mereka akan kehadiran Faza. Akhirnya mama Azlan pun mendatangi Azlan ke ruang kerjanya, mau bagaimanapun dia harus menyelesaikan masalah ini. “ Assallamualaikum.” Salam mamanya sambil membuka pintu ruangan Azlan. “ Waalaikumsalam.” Balas Azlan yang hanya melirik sebentar. “ Apa mama ganggu kamu.” Tanya sang mama sambil mendekati putra sulungnya. “ Ngga kok ma, tapi kalau mama datang kesini mau membahas tentang anak itu maka jawaban Azlan tetap sama seperti tadi siang.” Jawab Azlan yang sudah menebak tentang apa yang ingin mamanya bicarakan dengan dirinya. “ Mama tahu kamu dan adik-adikmu kecewa dengan keputusan yang mama ambil ini lan. Tapi kalau papa disini mama yakin sekali kalau papa akan setuju dengan keputusan mama ini. Karena apa, karena papamu orang yang begitu menyukai anak kecil. Bahkan impiannya dulu membangun sebuah panti asuhan untuk anak-anak yang kurang beruntung lan.” Balas sang mama. “ Tapi papa ngga akan pernah mengambil keputusan sepihak seperti ini. Bahkan dia akan jauh lebih mempertimbangkan apa yang kita sukai ma.” Ujar Azlan. “ Ok kalau kamu memang dan adik-adik masih bersikekeuh seperti ini, mama pun akan mengambil keputusan lain.” Ucap mamanya yang balik menantang Azlan. “ Apa maksud mama.” “ Mama akan merawat Faza di tempat lain. Bahkan, mama bisa merawat anak-anak lainnya disana.” Ucapnya yang langsung meninggalkan ruang kerja Azlan dengan kesal. Mendengar kata-kata sang mama membuat Azlan takut kalau apa yang dia pikirkan sekarang benar-benar terjadi. Kemudian dia pun mengejar sang mama. “ Ma … mama mau ngapain. Apa yang akan mama lakukan.” Tanya Azlan yang mencoba mencegah mamanya pergi. “ Mama akan melakukan apapun untuk membuat kalian puas dan bahagia. Kalau kalian ngga ingin mencoba menerima kehadiran Faza, maka mama akan membawanya pergi dari sini. Tapi kalau kalian tidak memperbolehkan Faza disini, maka sama saja kalian juga ngga menginginkan kehadiran mama, karena mulai hari ini mama adalah mama Faza juga.” Tantang sang mama. “ Ma … tolong dong mama. Jangan bicara sembarangan seperti ini. Azlan Cuma minta mama mengembalikkan Faza ketempat dia. Azlan ngga mau mama pergi.” Balasnya. Perdebatan Azlan dan mamanya pun membuat Azzam dan Alea ikut keluar mendekati mereka berdua. “ Ada apa ini.” Tanya Azzam yang melihat kakaknya bicara lantang pada sang mama. “ Bagus kalau kalian semua keluar. Mama tahu kalian semua kecewa dengan keputusan mama. Jadi mama akan mengambil keputusan lain, untuk merawat Faza di tempat lain.” “ MAMA.” TeriaK Azzam dan Alea yang terkejut dengan keputusan mamanya ini. “ Kenapa mama tega sekali mengambil keputusan seperti itu. Padahal anak itu baru hadir dalam kehidupan mama. Mama lebih memilih dia dibandingkan kita, anak-anak mama sendiri.” Ucap Azzam yang kecewa akan keputusan mamanya ini. “ Ma, Azlan Cuma ngga mau mama menyesalinya ma. Kita ngga tahu Faza itu siapa, dia anak siapa. Gimana latar belakang keluarganya. Mungkin saja dia anak dari keluarga yang bermasalah.” Balas Azlan. “ AZLAN.” Teriak mamanya yang tidak menyangka kalau Azlan mampu mengatakan kata-kata seperti itu. “ Mama sama papa ngga pernah mengajarkan kalian untuk menuduh orang lain seperti ini. Mama mengadopsi Faza, karena mama ikhlas ingin merawatnya. Dia berhak untuk bahagia, tadinya mama yakin kalau lewat keluarga inilah dia akan mendapatkan keluarga yang bisa menyayangi dan melindunginya. Tapi ternyata mama salah menganggap tentang kalian.” Ucap sang mama yang kembali berjalan menuju kamarnya. “ Ma … mama mau kemana. Mama ngga boleh pergi kemanapun.” Ucap Alea yang mengejar mamanya. Azzam dan Azlan hanya saling pandang, mereka berdua frustasi dengan mamanya yang juga bersikeras mau meninggalkan rumah ini dengan Faza. Didalam kamar sang mama mulai mengepak baju-bajunya kedalam koper. Alea terus saja membujuk mamanya untuk tidak pergi. “ Ma, mama ngga boleh pergi dari rumah. Apa mama ngga sayang sama Alea, kenapa mama lebih memilih dia dibandingkan Alea. Alea anak mama sendiri.” Ucapnya yang menunjuk kearah Faza yang terlelap diatas ranjang. “ Mama melakukan ini karena mama sangat menyanyangi Alea, mama ngga mau Alea kecewa dengan mama. Mama pun janji akan sering datang kemari buat nengokin Alea, Alea kan anak mama.” Balas sang mama. “ Ma … kenapa sih ma, masalah ini harus membuat keluarga kita seperti ini.” Ujar Azlan. Mamanya berhenti dan menatap ketiga putranya. “ Mama ngga akan mengambil keputusan segila ini kalau kalian ngga memancingnya. Sekarang keputusan ada di tangan kalian bertiga, kalau kalian tetap menentang maka mama akan tetap pergi, tapi kalau kalian mau mencoba menerima kehadiran Faza, maka mama akan tetap tinggal.” “ Ok… Alea akan coba terima dia, yang penting mama ngga pergi. Alea udah kehilangan papa dan Alea ngga mau kehilangan mama juga.” Ucap Alea yang langsung memeluk sang mama. Mamanya hanya tersenyum dan mengelus kepala putrinya, sedangkan tatapan mamanya sekarang beralih kepada kedua putranya yang masih berdiri di depan pintu. Helaan nafas Azlan dan Azzam pun menunjukkan kalau mereka menyerah dengan perdebatan ini. Mamanya pun tersenyum bahagia, karena akhirnya ketiga anaknya bisa menerima anggota keluarga baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD