Sehari setelah mengetahui rahasia besar saudara kembarnya membuat perasaannya benar-benar berubah. Setiap ingat keluarganya suasana hatinya langsung berubah, dia akan langsung menangis. Apalagi semalam, dia tidak bisa tidur. Masalah ini benar-benar sudah membuatnya bingung. Dia harus mencari cara supaya dia bisa melakukan keingian saudara kembarnya.
“ Ya ampun kok mukaku jadi aneh begini ya.” Ucapnya sambil memandang ke ceriman saat dia sedang belajar mengenakan jilbab. Karena ini pertama kalinya dia kembali mengenakan hijab selain mukena.
“ Hul… Hulya.” Panggil Mila yang langsung masuk kedalam kamar Hulya. Dan dia langsung terhenti ketika melihat apa yang sedang dilakukan oleh Hulya. “ Hul, apa yang sedang kamu lakukan, mau kamu apakan semua jilbab Halwa, sampai berantakan begini.”
“ Kamu ngga liat aku lagi belajar pakai jilbab ini, kok sulit banget ya Mil. Kenapa aku kalau liat kamu pakai tuh jilbab mudah banget, kenapa sekarang aku ngga bisa makainya.” Ucapan Hulya membuat Mila mengerjap-ngerjapkan matanya dan terus membuka tutup telinganya, takut dirinya salah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Hulya.
“ Kamu lagi ngejek aku.” Ucap Hulya yang merasa tersinggung melihat ekspresi Mila.
Mila langsung tersenyum melihat Hulya yang mulai kesal. “ Ngga kok Hul, maaf… maaf deh. Tapi aku terkejut banget lho saat kamu bilang kalau kamu mau belajar pakai hijab. Aku ngga menyangka Allah akan secepat itu kasih kamu hidayah.”
“ Apaan sih Mil, aku pakai ini tuh karena aku mau belajar seperti Halwa, aku mau menjalankan rencanaku Mil.”
“ Aku seneng kamu mau seperti Halwa yang memakai jilbab Hul, tapi rencana apa yang kamu maksudkan.” Tanya Mila yang penasaran.
“ Aku akan menjalankan rencanaku Mil, aku sudah yakin kalau aku akan menjalankan apa yang Halwa inginkan. Aku aka nada disamping Faza dan menjaganya menggantikan Halwa yang ngga sempat buat jagain Faza.”
“ Iya aku tahu kamu akan melakukan itu, tapi tadi kamu bilang kamu mau menjalankan rencanamu, memang apa rencana yang sudah kamu buat, supaya kamu bisa menjalankan keingian Halwa.” Tanya Mila.
Dan Hulya langsung menghampiri Mila, dia menggenggam erat tangan Mila seolah meminta dukungan dari sahabatnya itu. “ Aku akan menjadi Halwa, Mil.” Ucap Hulya.
Mata Mila langsung terbelalak, dia langsung terperanjat dan menjauh dari Hulya. Bahkan Mila langsung mondar mandir kebingungan setelah mendengarkan rencana yang akan dilakukan oleh Hulya.
“ Gila…. Kamu udah benar-benar gila Hul. Ngga, aku ngga setuju dengan idemu itu Hul. Itu terlalu membahayakan kamu Hul. Gimana kalau sampai mereka tahu kamu itu bukan Halwa. Aku ngga bisa membiarkanmu ada dalam masalah lagi Hul. Cukup Hul, jangan pernah kamu lanjutkan rencanamu ini.”
“ Mil, tenang dulu dong Mil. Dengerin aku dulu.” Ucap Hulya yang langsung mendudukkan Mila di ranjang. “ Ngga ada cara lain yang lebih baik dari cara itu Mil.”
“ Pasti ada cara lain Hul, kenapa kamu ngga bilang aja kalau kamu ini kembarannya Halwa. Itu cara yang terbaik Hul.” Balas Mila. Dan Sekarang gentian Hulya yang langsung mondar mandir sambil tertawa hambar medengar ide yang keluar dari mulut Mila.
“ Kamu yang gila Mil, kalau aku mengatakan aku ini Hulya, maka mereka akan langsung tahu siapa aku, aku saudara kembar Halwa yang sudah pernah keluar masuk penjara beberapa kali. Apa kamu mau mereka tahu tentang aku yang sebenarnya. Kalau aku mengatakan siapa diriku yang sebenarnya pada mereka sama saja aku membuang kesempatanku untuk bisa bersama dan menjaga Faza, Mil.” Ucapan Hulya yang ternyata sudah memikirkan hal ini sejak semalam.
“ Tapi Hul, kalau sampai kamu menyamar jadi Halwa, itu pun bahaya buat kamu.” Balas Mila yang masih belum setuju walaupun apa yang dikatakan Hulya ada benarnya juga.
“ Aku tahu itu sangat berbahaya untukku Mil, tapi setidaknya aku sudah punya kesempatan untuk bertemu dengan Faza, Mil. Aku bisa melihat seperti apa ponakanku Mil. Aku bisa memenuhi janjiku pada Halwa. Aku ingin melakukan satu kebaikan untuk Halwa. Selama ini aku belum pernah melakukan apapun untuknya Mil, sedangkan dia sudah banyak berkorban untukku, termasuk hidupnya sendiri dia korbankan untukku Mil.” Ungkap Hulya yang mulai kembali berkaca-kaca.
“ Iya aku tahu, kamu ingin sekali memenuhi keinginan Halwa. Tapi aku juga khawatir dengamu Hul, aku ngga mau kamu kenapa-napa lagi.” Balas Mila yang masih belum setuju dengan keputusan Hulya.
“ Aku ngga peduli Mil, sekarang hanya Faza keluargaku Mil, aku ngga mungkin meninggalkannya sendiri. Aku janji Mil, aku akan sangat berhati-hati. Biarkan aku dekat dengan Faza, Mil.” Ucap Hulya yang begitu berharap kalau Mila akan menyetujui keingianannya itu.
“ Ok… ok aku akan bantu kamu. Tapi kamu harus janji, kalau sampai ada hal-hal yang ngga baik, atau kamu ketahuan, kamu harus langsung kasih tahu aku Hul. Aku janji, aku akan datang da nada buat kamu.” Balas Mila. Hulya pun langsung memeluk sahabatnya itu, dia sangat beruntung karena memiliki Mila disampingnya.
“ Makasih ya Mil, Cuma kamu yang aku punya. Cuma kamu yang selalu ada buatku. Kamu memang sahabat terbaikku.”
“ Aku seperti ini karena aku sayang kamu Hul, aku ngga mau kamu terluka atau kenapa-napa lagi.”
“ Aku janji, kalau aku akan sangat berhati-hati Mil.”
“ Terus apa rencanamu untuk hari ini.”
“ Aku mau berziarah ke makam Halwa, Mil. Setelah itu aku akan menemui anak suami Halwa Mil. Dan sekarang semua barang-barang Halwa adalah milikku. Termasuk ini.” Ucap Hulya yang menunjukkan jilbabnya.
“ Kamu beneran mau pakai ini.”
“ Ya, biar nanti mereka yakin kalau aku itu Halwa. Karena kan diantara aku dan Halwa memang sangat sulit di bedakan.”
“ Kalau aku sih bisa banget bedain kamu sama Halwa.”
“ Yaelah, kalau kamu sih aku ngga tanya.”
“ Udah jangan banyak bicara, ajari aku pakai jilbab ini. Biar aku terbiasa dan bisa memakainya walau ngga ada kamu.” Mila pun langsung berdiri dan mengajari Hulya berbagai cara memakai jilbab.
***
Setelah dari makam Halwa, Hulya langsung saja ke kantor milik Azlan. Dan saat tiba di depan perusahaan, Hulya dan Mila terus bengong dan geleng-geleng kepala saat melihat gedung yang menjulang tinggi di depan mereka ini. Mereka kembali saling pandang, dan meyakinkan satu sama lain kalau mereka akan tetap melanjutkan rencana mereka ini.
“ Apa kamu sudah siap Mil.”
“ Si….ap Hul.” Jawabnya.
“ Jangan terpengaruh dengan semua ini Mil, tujuan utama kita sekarang adalah bertemu dengan Faza Mil. Ini harus benar-benar berhasil. Dan hanya dengan cara ini kita bisa masuk kedalam keluarga pak Ibrahim Mil.”
Mila pun berkali-kali menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa paniknya. Sebenarnya Hulya pun panik, namun dia tidak ingin menujukkannya pada Mila, kalau sampai Mila tahu betapa takut dan paniknya dia, pasti Mila akan langsung menyuruh Hulya untuk mundur.
Kemudian mereka berdua bergandengan tanga masuk ke perusahaan Azlan. Saat sampai di bagian resepsionis, Hulya pun langsung bertanya.
“ Assallamualaikum, mba.”
“ Waalaikumsalam, iya mba ada yang bisa saya bantu.” Tanya resepsiois tersebut.
“ Saya mau tanya dong mba ruangan pak Azlan di lantai berapa ya.” Tanya Hulya dengan nada yang terdengar kurang sopan. Mila langsung memelototinya. Dan mencubitnya. “ Aww, sakit Mil. Kamu kenapa sih.”
“ Sopan dikit dong Hul, katanya mau berubah.” Nasehat Mila.
Dan Hulya pun kembali tersenyum sambil menatap resepsionis tersebut.
“ Maaf sebelumnya mba, apa mba sudah buat janji dengan pak Azlannya.” Tanya resepsionis perusahaan.
“ Belum, memangnya harus buat janji dulu ya.” Tanya Hulya.
“ Benar mba, mba harus membuat janji dulu jika mau bertemu dengan pak Azlan.”
“ Tapi ini penting mba, tolong dong ma kasih tahu pak Azlannya kalau saya ada disini. Saya yakin deh kalau pak Azlan pasti akan langsung menyuruh saya menemuinya.”
“ Tapi tetap ngga bisa mba.” Kekeuh resepsionis yang mulai kesal dengan Hulya.
“ Mbanya kok udah bilang ngga bisa, kan belum nyoba telfon mba. Coba dulu dong mba, kasih tahu pak Azlan kalau saya ada disini. Saya dari jauh mba, apa mba ngga kasihan sama saya.” Bujuk Hulya yang akhirnya dengan kekesalan resepsionis tersebut mencoba menghubungi ruangan Azlan.
“ Selamat siang pak Yusuf.”
“ Iya ada apa.”
“ Ini pak, ada yang ingin bertemu dengan pak Azlan.”
“ Siapa.” Tanya Yusuf. Dan Hulya langsung menyebut namanya dengan Halwa. “ Dia Halwa, pak.”
“ Ok, saya akan langsung menemuinya.” Ucap pak Yusuf yang langsung bergegas menemui Hulya.
Setelah mendengarkan itu, Hulya pun menunggu seseorang yang akan menemuinya. Tak lama kemudian, Yusuf menghampiri Hulya.
“ Mba Halwa.” Panggil Yusuf dan Hulya langsung menoleh.
“ Iya.”
“ Anda bisa ikut saya untuk bertemu dengan pak Azlan.”
“ Kenapa bukan dia langsung yang menemui saya.” Tanya Hulya.
“ Saat ini pak Azlan masih rapat mba, Jadi saya akan bawa mba Halwa untuk menemui pak Azlan disana.” Ajak Yusuf yang langsung mempersilahkan Hulya.
Hulya dan Mila menunggu Azlan di sebuah ruangan kosong. Dan sekitar setengah jam kemudian, ada dua orang laki-laki yang masuk kedalam ruangan tersebut. Hulya langsung berdiri, karena dia tahu laki-laki, yang memarahinyalah yang pasti bernama Azlan.
“ Ada urusan apa kamu datang kemari.” Tanya Azlan dengan begitu angkuh.
Melihat ekspresi Azlan membuat Hulya kesal, apalagi melihat wajahnya yang begitu songong dan sombong. Namun, Hulya terus menahan dirinya, untuk tidak terpancing emosi.
“ Saya mau bicara dengan anda.” Jawab Hulya.
“ Waktu itu anda dengan sombongnya mengusir saya dan sekarang dengan santainya anda ingin bicara dengan saya.”
“ Waktu itu saya masih terkejut dengan kedatangan anda yang begitu tiba-tiba. Dan sekarang saya, sudah siap untuk mengatakan apa yang ingin saya katakan pada anda.”
“ Bicara apa.”
“ Saya mau bertemu dan menjaga Faza.” Ucap Hulya. Dan Azlan langsung menatap Hulya dengan tatapan dan senyuman sinis.