Aku menaruh topi lebar berwarna hitam di atas kepalaku. Topi itu senada dengan gaun hitam yang kukenakan. Aku tidak bisa berdiam diri terus, siang ini aku berencana menemui seorang informan. Aku ingin mencari tahu orang tuaku yang sebenarnya. Enam tahun terakhir aku melupakannya, padahal sebelumnya aku gigih mencarinya. Ini semua karena lelaki yang mereka sebut Yang Mulia itu.
"Beritahu Lucio, aku menghadiri pertemuan sosial." Aku melirik Hera dan Amita sebentar, lalu berjalan keluar kamar. Aku sengaja tidak berpamitan langsung dengan Derich, dia pasti sedang sibuk. Sebelumnya kami memang jarang bertemu walaupun berada di atap yang sama.
Begitu keluar, Riel sudah menyambutku dengan sebuah senyuman di wajahnya. Ada apa dengan orang ini? Jangan bilang kalau dia akan mengikutiku. Aku melengos dan berjalan dengan hati-hati, tapi pria itu tepat berada di belakangku. Sepertinya Derich menyuruhnya membuntutiku. Sial.
Tak lama kemudian aku sampai di luar istana dan menaiki kereta kuda milik Raja. Kereta kuda berwarna putih itu tampak klasik dan mewah, tapi dimana kereta yang biasa kunaiki? Derich sengaja menyiapkan ini untukku? Ini semakin aneh.
Riel duduk di seberangku dalam kereta kuda itu. Bagaimana ini? Pria itu tidak boleh tahu kalau aku akan menemui Red Wolf. Aku memang berniat untuk menghadiri pertemuan bangsawan kelas atas, tapi yang pertama kulakukan adalah membeli informasi terlebih dahulu.
Red Wolf adalah suatu organisasi yang memperjual-belikan informasi penting. Mereka seperti mata-mata, mengetahui apa saja yang terjadi di setiap sudut Barbaria. Baru dua tahun didirikan, organisasi itu berkembang dengan sangat pesat. Kabarnya sekarang mereka menjual informasi dengan harga yang fantastis, tapi itu tidak jadi masalah buatku. Ayah angkatku seorang Grand Duke dan kekasihku adalah Raja di sini.
"Turunkan aku di persimpangan, aku ingin membeli bunga dulu."
"Apakah maksud Anda Toko Bunga Madam Madilyn?" Riel sedikit kebingungan.
"Ya... aku akan berjalan kaki ke sana." Aku tersenyum lirih. Tidak ada rencana untuk membeli bunga, aku hanya harus berpisah dari pria itu.
"Baiklah, saya akan menemani Anda."
"Tidak... Ada permintaan khususku pada Madam Madylin, jadi sebaiknya kau menungguku di kereta saja." Aku berharap pria berambut coklat itu tidak mencurigaiku, tapi dia diam saja seperti memikirkan sesuatu.
"Baiklah, jika kau mau mengikutiku."
"Tidak, Lady. Saya akan menunggu Anda." Aku tersenyum dalam hati saat pria itu akhirnya menurutiku. Tak lama kereta kuda yang kutumpangi itu berhenti persis di tempat yang kusebutkan.
Toko bunga Madilyn tidak jauh dari persimpangan jalan besar itu. Riel membantuku turun dan aku berjalan pelan menuju tempat yang penuh dengan bunga-bunga di dekat sana. Sesekali aku menoleh ke belakang memastikan Riel tidak mengikutiku, tapi mata pria itu terus mengekor ke arahku. Sial.
Aku terpaksa memasuki toko bunga yang kini sudah ada di hadapanku. Seorang gadis berambut pirang terlihat terkejut melihatku. "Se-selamat datang, Lady Winterson." Gadis itu langsung menundukkan kepalanya dan terlihat gugup.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Apa semua orang begitu takut berhadapan denganku? Aku lalu tersenyum lirih, "Maaf aku tidak membeli bunga kali ini. Aku harus keluar dari sini." Aku melirik ke arah luar, di balik jendela terlihat Riel setia menungguku. Aku tidak bisa keluar dan melengos begitu saja darinya. Apa yang harus kulakukan?
Aku lalu menatap gadis yang ada di depanku lagi. Dia terlihat bingung dan melihat ke arah jendela yang tadi kupandangi. Dia seperti membulatkan mulutnya, kemudian berjalan ke belakang rak yang berisi bunga-bunga di sana.
"Anda bisa keluar lewat sini." Secercah cahaya sedikit menyilaukan mataku saat dia membuka sebuah pintu kecil di sebelahnya. Gadis itu rupanya mengerti keadaanku. Aku langsung tersenyum padanya. Biasanya aku tidak terlalu menyukai karyawan Madam Madilyn itu, tapi hari ini aku bisa mengandalkannya.
"Jika pria itu mencariku katakan kalau aku keluar melalui pintu yang sama." Aku berjalan ke arahnya dan melalui pintu yang di pegangnya. Gadis itu mengangguk sambil menatap ke bawah.
"Siapa namamu?" Aku menghentikan langkahku sejenak dan menoleh padanya lagi.
"Thala... Lady." Dia sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Dia seperti takut menatap mataku.
"Terima kasih, Thala." Aku lalu berbalik untuk melanjutkan perjalananku. Rupanya pintu rahasia itu terhubung ke jalanan sempit yang terletak di antara bangunan belakang toko itu. Aku tidak perlu memutar otak untuk lari dari Riel. Semoga gadis itu benar-benar merahasiakan kepergianku.
Aku sengaja mempercepat langkahku karena aku tidak ingin Riel menemukanku di sini. Aku hanya perlu bergegas menemui Red Wolf dan kembali pada Riel untuk menghadiri pertemuan bangsawan itu. Aku berjalan mencari penjual koran di dekat sana. Tidak ada yang tahu dimana Red Wolf berada kecuali mereka, pasalnya organisasi itu berpindah-pindah tempat setiap hari.
Tidak susah untuk menemukan penjual koran di sana, aku mendekati pemuda yang mengenakan topi seniman yang sedang memegangi beberapa kertas. Tanpa basi-basi, aku mengeluarkan dompet kecil yang berisikan koin emas, "Antarkan aku padanya."
Pemuda tadi langsung mengambil dompet itu dan menyerahkan satu koran padaku. Kemudian berjalan tanpa mengatakan apa-apa. Dia mengodekan sesuatu dengan matanya, menyuruhku mengikutinya. Aku pun menurutinya, tapi anehnya dia mengarahkanku pada kedai minum kecil yang tidak kokoh. Aku menuruni tangga dan akhirnya sampai ke ruangan kecil berisi kursi dan minuman-minuman. Ada seorang penjaga kedai yang sudah cukup tua dan seorang pria berpakaian rapi sedang duduk di salah satu meja di sana.
Pemuda yang mengantarkanku tadi berbisik pada pak tua itu dan kemudian menunduk padaku sebelum meninggalkanku di sana. Jadi pria tua itu adalah anggota Red Wolf? Lalu siapa pria berambut coklat yang sedang duduk itu? Apa sama sepertiku? Pencari informasi...
Aku berjalan dengan hati-hati mendekati pria tua itu. Dia tersenyum ramah padaku, seperti sudah mengenaliku. Yah, itu bukan hal yang tidak mungkin karena aku terkenal dengan sebutan kekasih Raja.
"Ada yang bisa saya bantu, Lady?"
Aku melirik ke arah pria yang duduk di sana sebelum menjawabnya. "Tenang saja, identitas Anda akan kami rahasiakan. Jadi... informasi apa yang Anda cari?" Pria tua itu rupanya menyadari kewaspadaanku.
"Aku ingin mencari tahu tentang Ilsa Winterson." Pria itu mengangkat alisnya dan berpikir sejenak. Sepertinya dia bingung kenapa aku menyebutkan namaku sendiri. Ya, aku ingin tahu semua hal tentang diriku yang tidak kuketahui, termasuk orang tua kandungku.
"Temukan informasi tentang keluarga asliku." Kataku lagi sambil mengeluarkan kotak perhiasan kecil dari dalam tas tanganku.
Dia lalu mengangguk dan tersenyum saat melihat isi di dalam kotak itu. Itu adalah batu ruby yang cukup besar dan langka, hadiah yang sudah lama kudapat dari Derich. Batu semewah itu tidak akan dijumpai di toko perhiasan manapun, bahkan benda itu adalah salah satu benda yang diperebutkan seantero kerajaan.
"Butuh waktu yang agak lama, tapi secepatnya akan kami kabari." Pria tua itu langsung menggapainya dan mengamatinya dengan kaca pembesar miliknya. Dia tampak sangat menyukai batu itu, aku pun begitu, tapi aku merelakannya untuk sesuatu yang lebih besar.
"Satu lagi..." aku membuka mulutku lagi dan berbicara lebih pelan dari sebelumnya, "Apa kau punya data pria bangsawan yang sedang mencari pasangan?"
Pria itu langsung mengangkat kepalanya. Wajahnya tampak kebingungan seperti mengatakan padaku, 'buat apa seorang kekasih raja membutuhkannya?'
Tapi kemudian mengangguk dengan cepat dan berkata, "Tunggu sebentar, Lady."
Dia lalu memasuki pintu kecil yang ada di deretan botol minuman yang terletak di belakangnya. Aku tahu informan sehandal Red Wolf pasti memiliki informasi itu.
Tanpa kusadari sepasang mata sedang menatap ke arahku. Pria berambut coklat yang tadinya duduk membaca koran, menutup korannya dan berjalan perlahan mendekatiku. Aku hanya meliriknya dengan tatapan sinis. Siapa dia? Apa dia menguping pembicaraanku?
"Kenapa Anda membutuhkan data itu?" Pria itu akhirnya membuka mulutnya dengan ekspresi datar. Suaranya sangat berat, hampir sama dengan Derich. Aku lalu memalingkan wajahku darinya. Kurasa aku tidak harus menjawabnya.
"Saya hanya ingin tahu karena sepertinya data itu sedang banyak di cari sekarang." Katanya lagi. Sekali lagi aku tidak menghiraukannya. Aku benci pria yang sok kenal sepertinya.
Untungnya pria tua tadi kembali, tapi anehnya dia mengerjapkan mata pada pria yang berdiri di sampingku. Pria berambut coklat itu lalu tersenyum dan menoleh lagi padaku, "Semoga hari Anda baik, Lady."
Kemudian dia berjalan memasuki pintu yang sama dengan pria tua tadi. Siapa dia? Apa pria itu juga merupakan anggota Red Wolf?
***