Bab 4: Rasa yang Terungkap

1132 Words
Sudah tiga hari sejak makan malam yang menguak kembali bayang-bayang masa lalu Radit. Dan selama tiga hari itu pula, Kirana mencoba bertingkah seperti biasa tersenyum, bekerja, menyapa rekan-rekan yayasan, dan pulang tepat waktu seperti istri yang tahu batas antara rumah dan pekerjaan. Tapi hatinya tidak bisa diam. Felicia masih ada. Proyek Silvana masih berjalan. Dan lebih dari itu, Kirana belum benar-benar yakin seberapa dalam hubungan masa lalu suaminya dengan wanita itu. Di rumah, Radit bersikap lebih perhatian dari biasanya. Ia mencoba menunjukkan bahwa ia memilih Kirana sepenuhnya. Setiap malam, ia akan menjemput Kirana dari kantor, membuatkan teh hangat, bahkan sesekali memasak makan malam. Tapi justru karena itulah, Kirana semakin merasa bahwa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar mantan kekasih yang muncul kembali. --- Hari itu, saat sedang mengecek stok bantuan makanan di gudang yayasan, Kirana menerima telepon dari nomor tak dikenal. “Bu Kirana?” suara wanita, pelan dan ragu. “Iya. Maaf, ini siapa?” “Saya... Santi. Saya dulu staf administrasi proyek Silvana di Jogja. Saya dengar ibu yang sekarang menjadi pengelola proyek baru di Jakarta.” Kirana menegang. “Iya. Betul. Ada yang bisa saya bantu?” “Maaf kalau ini mengganggu, tapi saya hanya ingin bilang... hati-hati dengan Felicia. Dulu, dia menggunakan nama perusahaan untuk membeli tanah atas nama orang terdekatnya. Banyak yang dirugikan. Saya akhirnya mengundurkan diri karena tidak tahan melihat kecurangan itu.” “Kenapa baru sekarang bicara?” tanya Kirana hati-hati. “Saya takut. Tapi saya dengar ibu adalah istri Pak Raditya. Dan saya pikir… hanya ibu yang bisa membuatnya membuka mata.” Sambungan terputus. Kirana berdiri mematung, tangannya masih memegang ponsel. Napasnya memburu. Ia tahu, ini bukan sekadar proyek. Ini bisa jadi permainan besar yang melibatkan nama suaminya dan bahkan reputasinya sendiri. --- Malamnya, di ruang tengah apartemen, Kirana meletakkan dua cangkir teh di meja. Radit baru pulang dan masih membuka laptop. “Kamu sibuk?” tanya Kirana pelan. “Lumayan, tapi buat kamu... selalu bisa berhenti,” jawab Radit sambil tersenyum. “Aku dapet telepon tadi. Dari mantan staf Silvana.” Radit langsung menegakkan tubuh. “Siapa?” “Namanya Santi. Dia bilang Felicia pernah menyalahgunakan nama perusahaan untuk membeli tanah. Dia juga bilang banyak orang dirugikan.” Radit memejamkan mata sejenak. “Aku tahu soal itu. Tapi waktu itu belum ada cukup bukti. Aku pilih untuk hentikan proyeknya, bukan laporin. Aku pikir... itu cukup.” “Dan sekarang? Kamu pikir membiarkan dia kembali adalah keputusan tepat?” Radit menatap Kirana. Wajahnya lelah. “Aku tidak membiarkan. Aku cuma berpikir… aku bisa mengendalikan dia. Tapi kamu benar. Mungkin aku terlalu percaya diri.” “Radit, aku nggak minta kamu usir dia. Aku cuma mau kamu jangan meremehkan bahaya orang seperti dia. Karena dia bukan cuma mengincar proyek aku rasa dia juga masih mengincar kamu.” Radit terlihat terkejut mendengar kalimat itu. “Kamu masih mencintai dia?” tanya Kirana langsung. Radit diam. Lalu perlahan menjawab, “Tidak. Tapi aku pernah. Dan aku rasa dia belum selesai dengan itu.” Kirana mengangguk pelan, meski hatinya seperti ditusuk. “Aku butuh kamu jujur. Kalau memang ada yang lebih besar, aku siap bantu. Tapi jangan biarkan aku jadi istri yang dibodohi.” Radit menggenggam tangan Kirana. “Aku janji. Mulai sekarang, nggak akan ada yang aku tutupi lagi.” --- Keesokan harinya, Kirana memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Ia meminta bantuan seorang kenalan lama yang bekerja di bidang hukum, Dani, untuk mengecek kembali dokumen tanah dan kontrak lama Silvana. Dani menyanggupi dengan cepat. Beberapa hari kemudian, Dani mengirimkan hasil analisis awal. > “Beberapa dokumen pembelian atas nama rekan Felicia, termasuk satu yang mirip dengan nama keluarganya. Ada potensi konflik kepentingan yang bisa diperkarakan kalau bukti tambahan ditemukan.” Kirana menghela napas panjang. Ia menatap langit senja dari balik jendela yayasan. Ia tahu langkah ini berisiko, tapi jika ia diam, Felicia bisa kembali merusak bukan hanya proyek tapi juga kehidupan rumah tangganya. --- Suatu malam, saat Radit tengah rapat daring, Kirana menerima undangan pertemuan dari Felicia. > “Besok jam 4 sore. Aku tunggu di lobi Hotel Harsono. Aku tahu kamu sudah mulai menggali. Sebelum kamu teruskan, lebih baik kita bicara.” Kirana mengernyit. Mengapa Felicia tiba-tiba terbuka? Ia ragu. Tapi ini bisa jadi kunci untuk tahu sejauh mana Felicia menyimpan permainan. --- Sore itu, Kirana tiba di hotel. Felicia sudah duduk di sudut ruangan, mengenakan setelan blazer putih dan rok panjang berwarna gading. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tetap tajam. “Terima kasih sudah datang,” ucap Felicia, tersenyum tipis. “Apa yang mau kamu bicarakan?” “Langsung saja, ya. Aku tahu kamu sedang selidiki proyek Silvana. Aku juga tahu kamu sudah tahu sedikit tentang masa laluku dengan Radit.” Kirana menatapnya tanpa gentar. “Jadi?” “Aku datang bukan buat minta maaf. Aku hanya ingin kamu tahu… aku tidak akan berhenti sampai aku dapat apa yang seharusnya jadi milikku.” “Radit?” tanya Kirana sinis. “Bukan hanya dia. Tapi juga posisi, reputasi, dan pengaruh. Kamu pikir dengan jadi istrinya, kamu bisa jaga semua itu?” Kirana menggenggam tasnya erat. “Aku nggak datang untuk main-main, Felicia. Kalau kamu melanggar hukum, aku akan buka semua ke publik.” Felicia tersenyum. “Silakan. Tapi kamu harus siap... karena kadang, membuka masa lalu, bisa menghancurkan lebih dari yang kamu kira.” Kirana berdiri. “Aku nggak takut. Karena aku bukan kamu.” Ia meninggalkan ruangan dengan langkah tegap, meski di dalam hatinya gemetar. Felicia bukan hanya ancaman bagi proyek… tapi juga untuk rumah tangganya. Dan Kirana tahu, perang ini baru saja dimulai. Setelah keluar dari pertemuan itu, langkah Kirana terasa berat. Meski ia mencoba tegar di hadapan Felicia, hatinya masih terguncang. Ucapan terakhir wanita itu masih terngiang jelas di telinganya: "...karena kadang, membuka masa lalu, bisa menghancurkan lebih dari yang kamu kira." Kirana memanggil taksi online dan naik tanpa banyak bicara. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam memandangi jendela. Pikirannya penuh. Bukan hanya soal proyek Silvana, bukan hanya soal masa lalu Radit dan Felicia tapi juga tentang dirinya sendiri. Kenapa ia merasa seperti terseret dalam permainan yang tidak ia pahami sepenuhnya? Saat tiba di apartemen, langit sudah gelap. Radit belum pulang. Kirana mengganti baju, lalu duduk di ruang tengah sambil membuka catatannya. Ia mulai menulis. Sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan. > “Aku bukan perempuan yang sempurna. Tapi aku tahu satu hal: ketika aku memilih mencintai seseorang, aku akan berdiri di sisinya, bahkan ketika dunia mencoba menjatuhkannya. Tapi untuk bisa berdiri di sisimu, Radit… aku harus tahu semua. Aku harus tahu seberapa dalam luka yang kamu sembunyikan.” Air matanya menetes perlahan. Ia tak sanggup menahannya. Malam itu, Kirana tertidur di sofa, dengan kertas berserakan di pangkuannya. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh. Tapi satu hal kini ia yakini ia tidak akan menyerah. Bukan hanya demi rumah tangganya. Tapi demi dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD