Layla tidak tau lagi bagaimana rasanya kue yang dia makan, dia merasa seperti mengunyah pasir. Hatinya sakit dan air matanya terus terjatuh. Dia menyeka air matanya berkali-kali dengan ujung bajunya hingga matanya perih.
"Tidak apa-apa Layla, semuanya akan baik-baik saja." Layla berusaha menghibur dirinya sendiri, dia percaya meskipun semua orang membencinya termasuk ibu mertuanya, selama suaminya ada di sisinya dia masih bisa bertahan. Orang lain sulit untuk menikah, jadi dia yang sudah menikah harus mempertahankannya meskipun sakit dan sulit. Dia percaya bahwa ini adalah ujian untuk rumah tangganya. Tidak apa-apa, dia yakin kesabarannya akan berbuah manis.
Layla kembali mengambil suapan lain, dia mengunyah sambil memikirkan suaminya. 3 tahun lalu, Layla menikah dengan Lucas, dengan teman sekolahnya, dengan pria yang dia cintai. Dia menyukainya selama 6 tahun. Menyukainya sejak masa remaja, sejak masa sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas.
Lucas adalah pria tampan yang populer, dia selalu menjadi idaman para wanita dan Layla juga termasuk di dalamnya, dia diam-diam selalu menyukainya. Dia selalu memperhatikannya dari jauh dari sudut yang tidak terjangkau bertahun-tahun secara diam-diam.
Jika Lucas bermain basket, dia akan duduk diantara para penonton meskipun kehadirannya tidak menonjol. Jika Lucas pergi ke olimpiade fisika dia juga akan segera mendaftarkan diri dan duduk di sudut paling belakang yang tidak terjangkau dan ketika sekolah menengah atas di mulai, dia juga pergi ke sekolah yang sama, berusaha mengejarnya dengan nilai akademik agar dilirik tetapi kehadirannya masih tidak dianggap, kehadirannya tidak ada, dia tidak masuk dalam mata Lucas apalagi dalam hatinya.
Hingga akhirnya dia mulai menyerah pada perasaannya, itu saat Lucas pergi ke perguruan tinggi sedangkan dia tidak dapat lagi mengejarnya. Dia tidak mampu dengan biaya kuliah yang begitu besar meskipun dia bisa mendapat beasiswa tetapi tidak mampu untuk biaya sehari-hari. Ibunya hanya buruh cuci dirumah tetangga dan ayahnya pekerja lepas dengan gaji yang tidak jelas. Pada akhirnya impiannya menjadi seorang dokter juga kandas termasuk impiannya untuk bisa mengejar Lucas.
Tetapi kemudian, mereka bertemu kembali seolah takdir mempermainkan. Wanita yang hendak Lucas nikahi meninggal karena penyakit, Lucas yang dia cintai mengajukan pernikahan padanya dan seperti wanita bodoh pada umumnya dia menerimanya dengan gembira. Meskipun dia tau Lucas tidak menyukainya baginya itu tidak masalah. Dia yakin seiring waktu dan karena kebersamaan Lucas akan menyukainya juga. Jadi, dia berusaha keras untuk mendapatkan hati pria itu. Tetapi pada akhirnya bukan kebahagiaan yang di dapat melainkan kesengsaraan dan kesedihan. Itu adalah pernikahan tanpa keuntungan.
Layla menghela nafas, pada akhirnya ini adalah pilihannya sedari awal.
Saat Layla hendak menyimpan sisa kuenya di lemari es, suara deru mobil terdengar dari luar. Layla menoleh, dia mengusap sudut bibirnya kemudian bergegas pergi keluar.
Saat itu dia melihat suaminya Lucas yang baru saja turun dari mobil. Layla berdiri diambang pintu meremas ujung bajunya dan menatapnya.
'Lucas kembali!' Layla bergumam dalam hati, perasaannya sekali lagi menjadi campur aduk. Dia senang karena Lucas pulang tetapi juga bingung, Lucas tidak pernah datang di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Di saat yang sama Lucas mengangkat kepala dan tatapannya bertemu dengan tatapan Layla.
Lucas mengerutkan dahinya sejenak sebelum wajahnya kembali ke keadaan semula, dingin tanpa ekspresi, seakan tidak bernyawa, seakan Layla di matanya bukan apa-apa selain debu di udara.
Pada saat itu Lucas ingat apa yang dikatakan ibunya di telpon, menatap Layla yang berdiri dengan percaya diri perasaannya menjadi semakin tidak senang.
"Kamu kembali?"
Saat Lucas mendekat ke arahnya, Layla bertanya dengan hati-hati. Dia berpikir Lucas kembali karena mungkin ingat hari ulang tahun pernikahan mereka. Karenanya seperti orang bodoh, dia tersenyum dengan harapan yang tersisa di hatinya. Tetapi, pemikiran itu segera sirna saat Lucas berjalan melewatinya begitu saja tanpa menjawab tanpa meliriknya.
Melihat sikap Lucas yang dingin dan acuh, Layla tidak menyerah. Layla berjalan mengekori Lucas di belakangnya, dia berjalan dan membuat jarak satu meter darinya. "Apakah kamu lapar? Aku sudah memasak makanan kesukaanmu."
Lucas berhenti di meja makan, saat itu dia melihat kue dan meja yang penuh dengan segala jenis hidangan. Dia membaca tulisan diatas kue yang separuhnya sudah terpotong tetapi dia dapat mengerti dengan jelas.
"Apa ini? Apa yang kamu lakukan?"
Lucas berbalik menatap Layla tepat di matanya. Bola matanya yang berwarna coklat seperti pusara yang menyedot Layla ke dalam.
Layla tertegun untuk sesaat, tetapi segera sadar. "Oh, ini kue yang aku buat, ini ulang tahun pernikahan kita yang ketiga. Aku membuatnya dengan terburu-buru, hasilnya memang tidak bagus, tetapi rasanya cukup enak apakah kamu......"
"Ulang tahun pernikahan yang ketiga?" Lucas segera memotong ucapan Layla, ruang diantara alisnya berkerut, dia bingung, dia tidak ingat hari dan tanggal pernikahannya. Dan untuk apa mengingatnya?
"Benar, ini ulang tahun pernikahan kita yang ketiga jadi aku membuatnya untuk sekedar merayakan. Kamu mungkin tidak ingat, tidak apa-apa karena aku ingat, aku akan mengingatkanmu untuk tahun depannya juga, aku juga tau kamu sibuk. Wajar jika tidak mengingat hal-hal semacam ini."
Layla mengakhiri ucapannya dengan senyuman yang dipaksakan, dia berusaha menghibur diri sendiri bahwa suaminya sibuk sehingga tidak ingat hari pernikahan mereka. Dia berusaha yang terbaik untuk mengerti bahkan jika suaminya benar-benar lupa dan benar-benar tidak ingat karena mungkin baginya tidak penting. Dia tau, tetapi dia akan mengerti, dia akan mengingatkan Lucas setiap tahun, perjalanan rumah tangga mereka juga masih panjang, tidak apa-apa selama pernikahannya baik-baik saja.
Namun, kata-kata kejam dari suaminya seakan menampar tepat di wajahnya dan membuat Layla sadar. Senyuman yang dia paksakan sebelumnya segera sirna.
"Kamu melakukan hal yang tidak berguna Layla. Untuk apa kamu melakukan ini?" Lucas melirik Layla yang lusuh dan tampak tidak menarik di matanya. Dari pada seorang istri Layla lebih mirip seorang pelayan. Bajunya sudah usang lebih usang dari baju petugas kebersihan, dia bahkan bisa melihat lubang kecil dibeberapa bagian.
Bukankah ibunya berkata Layla begitu boros, apakah dia menghabiskan uangnya dengan tidak berguna? Ataukah dia sengaja memakai pakaian seperti ini untuk menarik perhatiannya?
Semakin Lucas memikirkannya semakin tidak senang dirinya.
"Layla, dari pada kamu mengurus hal-hal seperti ini, mengapa kamu tidak mencoba mengurus dirimu sendiri? Yah, aku tidak begitu peduli tetapi kamu wanita, jangan terlalu acuh terhadap penampilan. Bajumu sudah seperti itu tetapi masih di pakai. Sebaiknya uangnya gunakan untuk membeli beberapa baju baru bukan melakukan hal yang tidak perlu. Pernikahan kita juga bukan sesuatu yang harus dirayakan. Aku tidak mengerti mengapa kamu melakukan sesuatu semacam ini. Padahal kamu tidak perlu melakukannya. Jangan bersikap melewati batas Layla, aku tidak menyukainya. Aku harap tidak ada yang seperti ini lagi ke depannya."
Layla menunduk, tiba-tiba dia merasakan dadanya sesak seakan ada sesuatu yang meremasnya. Dia berdiri dengan keyakinannya yang perlahan goyah. Dia selalu berpikir jika dia melakukan sesuatu setidaknya Lucas akan melihatnya.
Tetapi, kata-kata Lucas seakan menampar wajahnya dan membawanya pada kenyataan bahwa Lucas menikahinya tanpa perasaan.
Melihat Layla yang mematung, Lucas berpikir Layla tidak mengerti jadi dia kembali melanjutkan. "Layla, kamu bukan anak kecil sehingga sesuatu seperti ulang tahun pernikahan itu harus dirayakan. Kamu tidak perlu melakukan sesuatu seperti ini dan aku tidak menyukainya. Membuat kue dan membuat begitu banyak hidangan hanya pemborosan. Lebih baik gunakan uangnya untuk hal lain, mencari uang juga tidak mudah. Aku lembur setiap hari untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga kita. Berapa banyak kamu memotong anggaran bulan ini? Berhenti melakukan hal-hal seperti ini, cukup lakukan saja tugasmu sebagai istri."