Anita tersenyum, dia membayangkan putrinya Layla yang tersenyum ke arahnya. Layla cantik dengan lesung pipi yang menambah kecantikannya. "Aku juga baik-baik saja, ayahmu juga."
Pada saat itu suaminya Anton yang berada di sisinya terbatuk. Suaminya tidur sambil meringkuk dan menutupi dirinya dengan selimut. Sudah dua hari suaminya demam dan batuk, demamnya sudah mereda tetapi batuknya tidak juga hilang.
Layla mendengar suara batuk ayahnya dan menjadi khawatir karenanya.
"Ibu, apa yang terjadi? Apakah ayah sakit?"
"Ayahmu hanya batuk, dia terserang flu. Itulah sebabnya aku memintamu untuk merawat dirimu dan menjaga kesehatanmu. Tidak perlu cemas, ini tidak parah, dia sudah meminum obat, sekarang dia sedang tidur."
Layla menghela nafas lega, setidaknya itu bukan penyakit parah.
"Layla...."
Anita memanggil kembali putrinya, kali ini nadanya menjadi lebih lembut dan penuh kasih sayang.
"Ya Ibu...!"
"Apakah kamu bahagia nak? Bagaimana sikap suamimu dan ibu mertuamu?"
Layla terdiam, apakah dia bahagia? Dia menikah dengan pria yang dia sukai, seharusnya dia memang bahagia. Tetapi, dia lebih banyak merasa tertekan.
Tetapi, dia tidak bisa mengatakannya. Dia tidak bisa mengatakan bahwa keluarga suaminya tidak menyukainya, dia tidak ingin ibunya khawatir.
"Aku menikah dengan pria yang aku cintai, tentu saja aku bahagia. Lucas juga bersikap baik padaku. Dan keluarganya juga sangat baik. Ibu tidak perlu cemas. Aku baik-baik saja di sini, aku makan dengan enak hingga perutku buncit dan aku mengenakan pakaian dan perhiasan yang bagus. Aku pasti membuat para wanita iri. Semuanya tersedia di sini, Bu. Aku bahkan tidak melakukan pekerjaan rumah. Aku seperti seorang putri, di sini ada pelayan yang menyiapkan segalanya. Aku tidak kekurangan apa pun dan hidup berkecukupan."
Layla mengakhiri ucapannya dengan satu tarikan nafas.
Anita tersenyum mendengar Layla yang begitu bersemangat berbicara. Dia menghela nafas lega. Kehidupannya sudah sulit, dia tidak ingin putrinya mengalami apa yang dia alami.
Sebelumnya ada seorang pria yang menyukai Layla, dia anak kepala desa, tidak begitu tampan memang tetapi dia pria sopan dan seorang pria yang baik. Hanya saja Layla tidak menyukainya. Padahal dia berpikir pria itu cocok untuk Layla, dia tentu saja mengharapkan kehidupan putrinya lebih baik dari pada dia. Pria itu juga bekerja di desa, gajinya memang tidak besar, tetapi cukup untuk makan dan biaya untuk hidup sehari-hari.
Jadi, dia menasehatinya, jika pria itu baik tidak ada salahnya untuk mencoba dekat. Jangan bersikap terlalu sulit, karena mencari pria baik yang pekerja keras itu sulit. Pria itu juga terlihat sangat menyukai Layla. Sayangnya Layla benar-benar tidak menyukainya. Kemudian, Layla mengatakan dia akan menikah dengan pria yang diam-diam disukainya. Dia tentu saja senang, tetapi pria itu terlalu jauh untuk dijangkau, perbedaan status mereka terlalu tinggi, dia khawatir putrinya akan berakhir tersakiti. Untunglah, jika mereka memperlakukan Layla-nya dengan baik.
"Syukurlah, aku senang jika mereka memperlakukanmu dengan baik. Aku merasa khawatir karena kita berasal dari keluarga biasa. Suamimu orang kaya dan memiliki rumah yang bagus, sedangkan rumah kita gubuk yang hampir runtuh. Aku khawatir kamu ditindas. Tetapi syukurlah, jika mereka memperlakukanmu dengan baik. Kamu harus lebih menghormati suamimu dan juga perlakukan ibu dan ayah mertuamu sama seperti kamu memperlakukan kami. Tidak ada bedanya diantara kami. Mereka orang tuamu juga. Tetapi, jangan bersikap malas hanya karena ada pelayan. Kamu harus memasak untuk suamimu, jangan biarkan pelayan yang melakukannya. Dan lakukan tugas-tugas kecil sendiri. Jangan melemparkan semua tugas kepada pelayan. Jangan malas hanya karena orang lain melakukan semua tugas untukmu."
Kata-kata ibunya seolah tidak pernah habis, tetapi Layla sama sekali tidak bosan mendengarkan. Ucapan ibunya seperti penghiburan baginya.
"Aku mengerti Bu, aku menghormati mereka seperti katamu, aku melayani suamiku seperti yang kamu ajarkan, aku melakukan apa yang harus aku lakukan sebagai seorang istri. Aku juga memasak dan melakukan tugas kecil lain sendiri. Aku tidak melimpahkan semuanya kepada pelayan. Tidak perlu khawatir, putrimu ini sangat luar biasa."
Anita tertawa pelan. "Aku ingin berkunjung, tetapi aku khawatir itu akan mengganggumu."
Senyum di wajah Layla menghilang. Selama ini dia selalu berkunjung ke rumah ibunya, tetapi tidak pernah sekalipun ibunya berkunjung ke rumahnya. Itu bukan karena dia tidak ingin, dia menumpang di rumah mertua dan perlakuan mereka padanya tidak begitu baik. Dia khawatir ibunya tau dah lebih khawatir jika mertuanya tidak memperlakukan ibunya dengan baik juga. Dia takut ibunya tidak diterima.
"Aku saja yang berkunjung, tidak perlu repot-repot kemari. Rumah suamiku jauh, dari pada berpergian hanya untuk melihatku lebih baik gunakan waktumu untuk bersenang-senang bersama ayah. Pergilah ke pantai sesekali, jangan bekerja terlalu lelah. Tidak perlu memikirkan aku, jika ibu rindu, aku yang akan berkunjung dan melihatmu."
"Anak ini... apakah kamu tidak suka ibumu berkunjung?"
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin ibu lelah. Perjalanan kemari cukup jauh. Aku masih muda, jadi akulah yang seharusnya berkunjung bukan sebaliknya."
Anita tersenyum lagi, mendengar kata-kata putrinya dia merasa putrinya menjadi wanita dewasa. Itu terlalu cepat, dia menyukai putrinya yang kecil dan manis.
"Baiklah, baiklah, aku tidak akan berkunjung. Kamu sangat melarang ku, apa yang bisa aku lakukan jika kamu begitu melarang?"
Layla terkekeh pelan. Berbicara dengan ibunya membuat perasaannya membaik.
"Layla...."
Sekali lagi Anita memanggilnya, kali ini nadanya terdengar khawatir.
"Ya Ibu!"
"Anakku. Jika.... ini hanya jika... Jika suatu saat kamu lelah, jika suami dan keluarga mertuamu tidak memperlakukanmu dengan baik. Pulang saja ke rumah. Ibu masih bisa memberimu makan, meskipun mungkin kadang-kadang kita harus menahan lapar tetapi itu lebih baik dari pada menjalani pernikahan yang tidak bahagia. Anakku, aku senang saat kamu mengatakan bahwa kamu akan menikah dengan pria yang kamu cintai, tetapi sebagai ibu, aku tidak bisa untuk tidak khawatir. Itu karena pria yang kamu cintai berbeda dengan kita. Karena kita miskin dan tidak punya apa-apa aku selalu takut kamu dihina dan ditindas. Karena itu, jika suatu hari kamu merasa lelah, pulanglah. Ibu dan ayah akan selalu menyambutmu. Tidak peduli bagiamana kamu, kamu adalah putriku. Kamu selalu diterima di sini, Ibu akan selalu menjadi tempat untuk kamu pulang dan tempat untukmu bersandar."
Anita berhenti sesaat, dia menghela nafas kemudian melanjutkan. "Anakku, Ibu ingin kamu bahagia. Ibu ingin kamu mengenakan pakaian bagus dan makan tanpa harus menahan lapar. Ibu ingin kamu bisa mengenakan perhiasan dan berdandan. Ibu ingin melihatmu seperti itu, tetapi Ibu tidak bisa mewujudkannya. Ibu tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu, itu karena Ibu bodoh dan kurang didikan. Dengan fisik dan pengalaman yang Ibu miliki, ibu tidak bisa mencari pekerjaan yang layak supaya kamu bisa sekolah. Maafkan Ibu, kamu seharusnya bisa pergi ke universitas dan melanjutkan sekolahmu. Jika saja Ibu memiliki uang, jika saja Ibu bekerja lebih keras, Ibu mungkin bisa menyekolahkan mu dan membuatmu menjadi dokter seperti mimpimu. Itu karena Ibu tidak mampu, itu salah Ibu."