WARISAN ISTRIKU (7)
(Aku Tak Tahu Istriku Banyak Warisan Saat Kutalak Tiga Dirinya)
"Nggak, Mas!"
Aku menarik jemariku dengan cepat karena jujur ada rasa tak nyaman saat mendapati Mas Danu melakukan itu.
Tidak! Tidak semudah itu aku bisa memberinya maaf. Hati ini masih terasa nyeri dan sakit mengingat ucapannya siang tadi, saat dengan penuh keyakinan dia melontarkan ucapan talak tiga dan mengatakan jika dia melakukan itu karena sudah tak tahan hidup susah denganku.
Ia juga mengatakan akan menikah dengan Bu Sonia karena berpikir menikah dengan perempuan itu adalah solusi bagi kebahagiaan hidupnya.
Dan tiba-tiba ia berubah lalu berbalik arah setelah mendengar dan tahu aku mendapat warisan uang ganti rugi dari hasil bapak jual tanah yang jumlahnya tidak sedikit.
Tentu saja aku tidak sepolos itu untuk tidak tahu apa maksud dibalik semua perubahan sikap Mas Danu ini.
"Kenapa, Ras? Ayolah, kita masih bisa memperbaiki perkawinan kita ini. Mas nggak melarang kamu pulang kampung besok pagi. Malah mas sudah siap-siap mau menemani. Mas sudah pak pakaian juga dalam tas. Mas sudah memutuskan nggak akan menikahi Sonia. Itu sebabnya, mas juga akan ikut kamu, sekalian memenuhi permintaan bapak dan ibumu agar pulang sama-sama ke kampung.
Ras, mas ini ingin jadi menantu yang baik, yang tidak mengecewakan harapan kedua mertua begitu saja. Karena bagaimana pun, mertua itu sama kedudukannya seperti orang tua sendiri. Mas harus berbakti kepada mereka juga seperti mas berbakti pada orang tua mas sendiri.
Apalagi bapak dan ibu kamu selama ini sudah begitu baik sama mas, masak mas tega mengecewakan harapan mereka berdua? Nggak mungkin kan, Ras? Jadi, jangan khawatir lagi ya. Mas ikhlas kok menemani kamu pulang kampung karena mas juga nggak mau membuat kalian semua merasa kecewa dengan sikap mas kalau sampai mas tidak ikut pulang menemani kamu," ujar Mas Danu lagi sambil berusaha menahan jemariku.
Namun, mendengar ucapannya, aku menggelengkan kepalaku.
"Nggak, Mas. Sekali lagi, aku nggak mau merepotkan kamu. Biarlah aku pulang sendiri saja karena bagaimanapun kita sudah bercerai dan kamu juga mau menikah dengan Bu Sonia. Besok aku akan bicara baik-baik sama bapak dan ibu supaya mereka nggak kecewa dan nggak marah sama kamu, oke? Sudah ya, Mas. Sudah malam. Aku mau tidur lagi," ujarku menolaknya sambil menarik selimut dan kembali menutupi tubuhku tapi Mas Danu menahannya.
"Ras, dengar ini dulu. Mas akan membatalkan rencana menikah dengan Sonia! Masa kamu nggak seneng dengarnya? Ayolah, Ras jangan bohong sama mas, kamu bahagia kan mendengar mas batal menikah sama perempuan itu?" tanya Mas Danu sambil menatapku dengan wajah berseri-seri dan penuh percaya diri.
"Mas sadar kalau mas masih cinta sama kamu. Begitu pun kamu sama mas, mas tahu betul itu. Jadi, apalagi yang membuat kita nggak segera rujuk lagi? Syaratnya gampang kok, kalau kamu bersedia menemani mas ke kamar sekarang juga, maka kita akan jadi suami istri lagi dan bisa sama-sama pulang kampung untuk mengurus warisan dan uang ganti rugi yang ibu dan bapak berikan padamu itu. Gimana?" sambung Mas Danu lagi sembari menggenggam tanganku erat-erat lalu menarikku ke dalam pelukannya, tetapi dengan sekuat tenaga berusaha kutepis.
*****