Part 2

1079 Words
['Vreya kamu sedang apa sendirian disini?" Tanya seorang gadis dengan pakaian militer yang sedikit dimodifikasi pada gadis lainya yang bernama Vreya "Ah.. Erika, aku hanya ingin sendiri dulu. Rika apa kamu takut?" Vreya bertanya pada gadis sebelumnya yang ternyata bernama Erika "Nooo.. aku bukannya takut hanya terlalu senang karena ini adalah misi terakhir sebelum kita diizinkan untuk libur. Vreya kamu adalah anggota paling berbakat dan jenius diorganisasi ini tapi bisa bisanya kamu merasa takut?" Erika dengan blak blakan menanggapi pertanyaan Vreya "Hahaha, aku hanya merasa misi yang kelihatannya paling mudah ini adalah misi yang tersulit. Bayangkan saja bayaran menyelesaikan misi ini sangat besar dan bahkan ada bonus liburan selama setengah tahun lalu misi ini hanya diikuti oleh lima besar anggota elit dalam organisasi... Haaah aku benar benar merasa ini tidak akan mudah" Vreya tertawa hambar mendengar perkataan Erika "Benar juga bahkan kamu yang sangat jarang melakukan misi kelompok harus diikut sertakan tapi tenang saja, hacker no.1 didunia ada bersama kita lalu aku dan kak Erik yang notabenenya adalah sniper elit diseluruh galaksi lalu kamu sendiri si jenius multitalenta dan si pembunuh bayangan itu juga ikut jadi kita adalah tim paling hebat dalam sejarah untuk bisa menyelesaikan misi sesulit apa pun" Erika menanggapi Vreya dengan sedikit diselingi candaan "Baiklah... Baiklah... Misi dimulai besok jadi pergilah untuk istirahat" Vreya hanya menggelengkan kepalanya dan segera mengusir Erika dari ruangan pertemuan mereka "Oh iya aku hampir saja lupa memberikanmu hadiah~~" Erika memberikan cake coklat dengan ukiran smile diatasnya kepada Vreya "Apa ini?" "Itu hadiah untuk mu agar menjalankan misi besok dengan semangat~~" Setelah memberikan cake itu, Erika keluar dari ruangan meninggalkan Vreya sendirian "Dasar."] ***** 'Sudah hampir dua bulan aku datang kedunia ini ya walaupun usia dari bayi ini hampir empat bulan tapi baru hari ini memimpikan kehidupanku yang lalu. Seingatku setelah makan kue itu, aku merasa sangat mengantuk lalu saat membuka mata aku menjadi bayi dan parahnya lagi ditempat entah berantah ini. Enak sih jadi tuan putri kalau saja tuan putri yang normal dan bukan anak dari pria gil* yang sedikit sedikit berniat membunuh anaknya sendiri"' Tengah malam yang sunyi sepi, Aristia terbangun karena memimpikan kejadian sebelum dia datang ketempat itu Wusssh 'apa itu?' Batin Aristia waspada saat melihat bayangan kabur yang masuk kekamarnya lewat jendela "Putri yang sangat cantik tapi sayangnya, keberadaanmu mungkin akan jadi ancaman untuk kami jadi sebaiknya kamu kembali kepelukan ibumu" Pria misterius yang mengenakan jubah hitam legam dan hanya memperlihatkan matanya mengangkat pisau kecil dan hendak menusukannya pada Aristia yang saat itu berada dibuaian bayi Jleb Zrasss Suara tikaman dan darah yang terpencar seperti hujan menghiasi kamar Aristia 'eh...? aku.. masih hidup ternyata. fyuu.... syukurlah' Aristia kecil yang sudah siap mati itu, membuka matanya karena tidak merasakan sakit dan diam diam menghela napas lega "Ck... Merepotkan" Kenzo menatap Aristia yang tengah berada dibuaian bayi dan dengan dingin berdecih 'kalau merepotkan kenapa datang menyelamatkan aku?!' ? "Tuan putri!! Tidak perlu takut, semua akan baik baik saja, semua baik baik saja" Luna langsung menggendong Aristia tapi tangan dan tubuhnya gemetaran bahkan wajahnya berubah pucat pasi "Ya.. yang mulia.. terima.. terimakasih telah menyelamat..kan tuan putri" bahkan Eva yang biasanya hanya diam bersembunyi dibelakang Luna membuka suaranya untuk berterimakasih walaupun dengan tubuh yang gemetaran bahkan suaranya pun ikut bergetar "Hmm" setelah berdehem singkat, Kenzo kembali menatap Aristia yang digendongan Luna sedikit lama 'hey ayah mataku sakit, kita tidak sedang lomba menatap jadi berhentilah menatapku, ok' Aristia segera mengalihkan pandanganya dari Kenzo dan mencari posisi nyaman dalam gendongan Luna untuk kembali tidur "Sepertinya anak itu cacat" Kenzo langsung secara blak blakan mengomentari Aristia "Eh? yang mulia?" Luna bertanya sambil masih terus menenangkan Aristia yang digendongannya "Dia tidak menangis dan juga tidak terlihat ketakutan bahkan setelah pembunuh itu hendak menikamnya" Kenzo dengan sabar memperjelas maksudnya "Tuan putri tau bahwa yang mulia pasti datang jadi tidak ada yang perlu ditakutkan tapi mungkin ini akan menyebabkan sedikit trauma pada tuan putri" Luna dengan hormat menambahkan kata kata 'berbunga' untuk menarik perhatian Kenzo untuk Aristia "Jika hal seperti ini saja membuatnya takut,,,bukankah dia tidak pantas hidup, benarkan putriku?" Kenzo melirik Aristia dan bukannya bersimpati malahan mengatakan kata kata sarkastis 'Huh dasar pria gil* yang tidak berperi kemanusiaaan, bisa bisanya mengatakan kata kata seperti itu pada anak kecil. Tapi karena kamu ayahku dan aku akan berbaik hati memaafkanmu"?? Setelah mengatakan kata kata Sarkastis itu, Kenzo langsung saja beranjak pergi "Semoga cahaya keabadian selalu menerangi sang permata Agrea" Luna dan Eva membungkuk dengan hormat pada Kenzo "Tuan putri benar benar sangat hebat, dia tidak merasa takut sedikitpun.." Eva kembali heboh walaupun beberapa saat sebelumnya dia ketakutan setengah mati "Diamlah!" Luna langsung saja membentak Eva padahal dia biasanya adalah wanita yang lembut dan anggun tapi saat ini dia masih saja gemetaran bahkan karena terlalu khawatir dia langsung secara tidak sadar membentak Eva 'haah... Aku baik baik saja ibu Luna.' Aristia menyentuh wajah Luna untuk menenangkan wanita itu tapi diluar dugaan, Luna malah manangis "Tuan putri pasti akan baik baik saja, lihat yang mulia bahkan datang secara khusus untuk tuan putri.. jangan takut ya..." Kata kata menenangkan disela sela tangisan Luna membuat Aristia yang sebelumnya anak yatim piatu merasa sangat tersentuh dengan kasih sayang yang dirasakannya dari orang orang dikehidupan barunya 'Aku pasti melindungi orang orang yang berharga untukku, apapun bayarannya. Pasti.' Batin Aristia bertekad Dan seperti bayi normal biasanya, Aristia kecil kembali tertidur dalam pelukan hangat Luna "Nyonya, tuan putri sudah tertidur lagi." Eva kembali berbicara. "Ya, tapi buaian bayinya ternoda darah... Bagaimana kalau..." Belum selesai kalimat yang akan diucapkan Luna, suara bukaan pintu terdengar Ceklek "Nyonya, yang mulia mengatakan untuk membawa tuan putri keistana awan" seorang prajurit yang membuka pintu itu dengan hormat menyampaikan pesan "Baiklah, terimakasih" Luna berjalan keluar dari kamar Aristia dan menuju keistana awan bersama Eva dan tentunya pemeran utama kita Aristia. Istana awan merupakan istana tempat para putri makhkota tinggal yang artinya saat Aristia dipindahkan kesana itu menunjukkan bahwa Kenzo telah mengakui Aristia sebagai putrinya. Istana awan terletak ditengah danau buatan dan air terjun mini membentuk setengah lingkaran mengelilingi istana awan dari timur keutara dan taman mawar yang seperti labirin di bagian barat istana awan dan satu satunya jalur adalah bagian selatan yang langsung menghadap keistana raja. Kesimpulannya tempat itu benar benar sangat indah dan kenapa disebut istana awan karena setiap pagi embun dari danau itu menutupi seluruh halaman istana dan saat musim dingin istana itu berdiri diantara kristal es yang sangat sangat cantik... Cantik, mempesona, Elegan, dingin. Adalah perpaduan dari penggambaran istana awan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD