Dua hari kemudian di ruangan tamu istana Aristia selain Aristia dan ibu asuh serta pelayannya, ada wajah baru dan orang itu adalah
"Saya Eden mulai hari ini akan menjadi tangan kanan dan pelindung tuan putri Aristia" Eden berlutut dengan satu kaki didepan nyonya Luna atau lebih tepatnya didepan Aristia yang berada digendongan Luna
'Anak ini baru berusia sekitar 12-13 tahun tapi dari kata kata ayah beberapa hari yang lalu sepertinya anak ini sangat hebat. Tapi kenapa bibi Luna yang biasanya lembut dan hangat malah menatap anak ini dengan tatapan dingin dan aku sendiri bisa merasakan ada sedikit kebencian dalam tatapan bibi luna. Ya semenjak hari itu bibi Luna sedikit pendiam. Seberapa banyak rahasia dilingkungan keluarga kerajaan ini yang aku belum tahu?' Aristia terus bermonolog sendiri sampai suara nyonya Luna terdengar
"Tolong lindungi tuan putri tapi jarakmu dari tuan putri harus selalu sepuluh langkah"
Walaupun ada kata 'tolong' dalam kalimat nyonya Luna tapi tidak dapat menghapus dinginya kalimat itu
Sebenarnya setiap pangeran dan putri baru akan mendapat kasatria pelindung mereka saat berusia 5 tahun tapi karena kasus Aristia sedikit unik jadi saat baru berusia tiga bulan pun kasatria pelindungnya sudah ditetapkan
"Baik" jawaban Eden yang singkat dan tegas lagi lagi membuat tatapan nyonya Luna semakin tajam walaupun hanya sekilas
"Berdirilah" nyonya Luna menanggapi dengan acuh lalu berbalik kearah Eva
"Eva tunjukan kamar yang akan ditempati 'tuan kasatria' mulai sekarang " Luna berbicara untuk menyuruh Eva tapi menekankan kata 'tuan kasatria' lalu beranjak dari tempat itu
Eden tetap tinggal sejenak dan terus menatap kearah perginya Luna dengan tatapan yang mengandung kerinduan tapi juga dengan sedikit kesedihan tapi semua emosi itu hanya lalu sekilas dalam mata berwarna coklat gelap itu
" tuan kasatria, mari kita pergi" Eva walaupun lebih tua dari Eden tapi karena mendengar rumor 'baik' mengenai Eden menjadi sedikit takut untuk berlama lama ditempat yang sama dengan Eden
-=-=-=-=-=-
Dikamar Aristia, Luna terus berjalan mondar mandir dengan gelisah sambil sesekali melirik kearah pintu masuk
Ceklek
"nyonya?" Eva membuka pintu dan merasa bingung setelah melihat wajah gelisah Luna
"bagaimana dengan Eden? " Luna bertanya pura pura tenang
"tuan kasatria sedang beristirahat dikamarnya. Nyonya tidak perlu khawatir terhadap tuan kasatria, kaisar yang merupakan ayah tuan putri saja mempercayai tuan kasatria jadi nyonya tidak perlu khawatir " Eva yang tidak paham dengan situasi sebenarnya dan hanya berpikir bahwa Luna gelisah karena memikirkan tuan putri jadi mencoba menenangkan Luna
"Diamlah! Aku tidak butuh nasihatmu. " untuk pertama kali Luna yang lembut, sopan, bermartabat dan anggun membentak Eva dengan dingin
Eva yang terkejut dengan bentakan tiba tiba Luna langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya
"Uuh.. Maaf, kepalaku sedikit pusing dengan masalah kasatria pelindung tuan putri jadi emosi ku pun tidak stabil" Luna dengan lemah mememijat kepalanya dan berjalan kearah sofa dan meminta maaf dengan alasan yang cukup bisa diterima
"Nyonya tidak perlu meminta maaf pada saya. Apa nyonya ingin meminum teh untuk menghilangkan sakit kepala? " Eva tersenyum dengan lembut mendengar kata kata Luna dan melupakan masalah benatakan dari sebelumnya lalu menawarkan teh untuk Luna
"Baiklah mungkin minum teh akan membuatku sedikit nyaman." Luna mengangguk dan berdiri dari tempatnya
Bahkan sebelum Eva beranjak dari pintu untuk pergi membuatkan teh untuk Luna, dia dihentikan
"Eva tolong kamu yang menjaga tuan putri, tuan putri baru saja tertidur jadi tidak akan terbangun dalam beberapa waktu. Aku ingin beristirahat sebentar" Luna tersenyum lembut pada Eva yang membuat gadis kecil itu terpana dan tanpa sadar mengangguk
Luna memang sangat cantik jadi tidak heran jika saat tersenyum bisa membuat orang lain terpikat
"Baiklah, selamat beristirahat nyonya" Eva membungkuk kearah Luna
"Ya" satu kata dari Luna sebelum menghilang dibalik pintu
"wah~~ Nyonya luna memperlakukan tuan putri seperti putrinya sendiri bahkan mengkhawatirkan keselamatan putri hingga sakit. Andai saja aku memiliki ibu seperti nyonya luna pasti aku akan jadi orang yang paling bahagia didunia ini" Eva dengan heboh berceloteh sendiri setelah memastikan bahwa Luna benar benar telah pergi
Tentu saja tidak ada yang sadar bahwa sedari tadi Aristia tidaklah tidur tapi terus berpikir banyak kemungkinan yang terjadi antara Eden dan Luna sampai akhirnya dia kembali kedunia nyata setelah mendengar celotehan polos dari Eva
'Dasar bodoh'
"Tuan putri pasti akan sangat senang walaupun ibu kandung tuan putri tidak ada lagi tapi nyonya Luna sudah seperti seorang ibu yang lembut, penuh kasih sayang dan jangan lupa dengan perhatiannya lalu..... Dan..... "
Ocehan Eva yang panjang menjadi seperti sebuah dongeng pengantar tidur untuk Aristia.
Sedangakan topik utama yang dijunjung setinggi langit oleh Eva sedang duduk berhadapan dengan kasatria pelindung Aristia dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil
" Untuk apa kamu meminta kaisar memindahkanmu menjadi kasatria pelindung tuan putri" Luna bertanya dengan dingin dan tidak lupa kebencian yang secara terang terangan terpancar dari tatapan Luna
"Saya juga tidak tahu karena yang mulia tiba tiba memanggil saya dan memberi perintah untuk menjadi kasatria pelindung tuan putri dua hari yang lalu" Eden mengatakan yang sebenarnya karena saat melihat reaksi berlebihan Luna saat itu membuat Kenzo meneggaskan keputusannya untuk menugaskan Eden sebagai kasatria pelindung Aristia
Brak
"Jangan berbohong! Kamu yang memintanya bukan?! " Luna langsung menggebrak meja didepannya dengan geram
Fasad cantik, anggun, lembut, bijaksana, bermartabat dari seorang Luna Seera langsung hancur seperti kaca tipis yang terkena kerikil
"Ibu, Aku..."
Sebelum Eden bahkan menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras sudah lebih dulu menyambutnya
Plak
"Aku. Bukan. Ibu. Mu'' kata kata dingin dan tanpa perasaan menyusul setelah tamparan tersebut
"Jangan pernah memanggil ku ibu karena sampai kapanpun aku Luna Seera tidak akan pernah mengakuimu sebagai anak ku. Melihatmu saja membuatku mengingat penghinaan yang dilakukan pria br*ngs*k itu. Sebelumnya saat mendengar wilayah Bellian hancur ditangan Kenzo aku merasa sangat senang karena akhirnya aku tidak perlu hidup dalam bayang bayang penghinaan pria itu tapi sekarang kamu, kamu yang membuat ku mengingat pria itu harus datang katempat ini. Jika aku bisa aku sangat sangat ingin membunuh mu" Setiap kata yang dikeluarkan oleh Luna ditemani dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajah cantik wanita itu
Saat itu Anton Bellian yang merupakan adik kembar tuan Bellian sekarang menculik Luna yang baru berusia 17 tahun dan melakukan tindakan tidak senonoh namun yang mengetahui itu hanyalah tuan Seera dan tuan Bellian karena itu Anton Bellian dihukum mati secara tersembunyi dan anaknya yang dikandung oleh Luna menjadi putra kedua tuan Bellian yang kebetulan hari kelahiran Eden dan Aiden sama persis jadi bagi orang luar yang tidak tahu masalahnya, mereka berdua adalah anak kembar.
"Maaf" satu kata yang diucapkan Eden sebelum dia meninggalkan Luna yang masih menangis sendirian.