Melawan Perampok

1001 Words
"Mas simbol peledak, aku akan maju bersamamu. Mohon bantu kami, Mbak mata cantik," kata pria bersabit itu. "Kita tak saling kenal, tapi aku suka julukan itu." Chicha mundur ke belakang dengan mata sebelah kiri masih ada simbolnya. Majulah para perampok ke depan. Si perempuan ular dan perempuan bersayap bersama mereka. Sebuah sabetan pedang mengarah ke wajah Kazaro. Terlebih dahulu Kazaro menyalakan simbolnya dan membuat ledakan energi yang memukul mundur seorang perampok. Pedang yang tertinggal diinjak ujungnya. Pedang melayang ke udara diambil pria kekar bersabit yang sedang menahan serangan beberapa orang. Kini si pria kekar menggunakan pedang dan sabit. Chicha yang ada di belakang tak tinggal diam. Berlari sambil menyalakan simbol di mata sebelah kiri. Beberapa orang terkena sasar simbol itu menjadi buta sementara. Si pria kekar membuatnya buta permanen dengan sebuah sabetan. Perampok hendak menembakkan senapan ke arah mata Chicha. Tapi terlebih dahulu Chicha membuatnya kehilangan fokus sebab buta sementara. Kazaro membuat ledakan dengan simbolnya. Tapi ada seseorang lolos dari tembkannya. Disiapkan sebuah serangan untuk menghabisi kazaro. Tapi pandangan perampok itu dibutakan oleh Chicha. Kesempatan tak disia-siakan Kazaro, sebuah ledakan simbol mementalkan si perampok jauh mundur. Tubuhnya mengenai sebuah besi yang yang tajam. Dia pun tewas setelah mencabut besi tersebut. Jalanan terwarnai darah tersebut. Si perempuan ular membawa kedua pedangnya hendak memutuskan kepala Chicha. Si pria kekar mengambil ekor ular itu. Diangkat dan diayunkan ular itu. Beberapa perampok memilih mundur untuk menghindari serangan. Perempuan bersayap menyerangnya dari udara. Dengan sebuah ledakan ke bawah Kazaro bisa melompat tinggi dan menyerang di perempuan bersayap. Dengan ledakan itu membuat si perempuan bersayap terpental jauh lagi. Kepuasan hati memainkan dengan manusia ular telah terpenuhi. Dilemparkan perempuan itu ke penembak. Tubuh si ular menimpa penembak. Terjadilah sebuh letupan, peluru mengenai tangan perempuan itu. "Argh!!!" teriaknya. Si sopir bus tak tinggal diam. Dilihatnya ada sebuah mobil yang tidak digunakan para perampok. Segera dia beranjak menuju ke mobil tersebut. Si sopir menyalakan mobil yang mana kuncinya masih tertancap di situ. Mobil dilajukan dan dengan sengaja menabrak para perampok. Beberapa perampok tertabrak mobil tersebut. Kazaro memanfaatkan kesempatan ini dengan melompat dan mendarat ke atas mobil tersebut. Kazaro terus saja membuat ledakan dengan simbol yang ada di tangannya. Chicha berlari sambil menyasar beberapa orang. Mobil yang digunakan si sopir akhirnya bisa terhenti setelah ban terkena sabetan. Kazaro telah kehabisan energinya. Dia melompat jauh ke atas sebuah bus. Di sana dia beristirahat dahulu. Chicha menutup mata kirinya karena sudah terasa panas dan sakit. Si kekar masih saja menahan serangan. Bahkan terkadang serangannya tak terelakan lagi. Tapi tubuhnya dililit oleh perempuan ular. Seorang perampok hendak memenggal kepalanya. Untuk saja Kazaro masih sempat menyelamatkan. Sedangkan si sopir hanya bisa bertahan di dalam mobil tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Mobilnya telah rusak dan tinggal menunggu hancurnya saja. Di saat terdesak itulah polisi datang sambil menembak ke udara sebagai peringatan. "Menyerahlah kalian akan mau sia-sia," kata pimpinan Polisi. Sayang peringatan itu tak digubris sedikit pun. Mereka malah menyerang para polisi. Seorang perampok yang membawa senapan angin menembaki polisi. Para polisi bersembunyi sambil menembaki mereka. Si manusia ular terkena beberapa tembakan dan kini kembali menjadi perempuan biasa. Tubuh bagian bawah yang tak tertutupi terlihat sangat jelas. Para perampok pun memilih untuk menyerah. Polisi meringkus mereka semua satu per satu. Si perempuan bersayap memilih untuk kabur dari sana secara diam-diam. Pertarungan telah berakhir. Kazaro turun dari bus. Dia beristirahat sambil mengirimkan sebuah pesan. Si sopir yang sudah tak terkepung lagi keluar dari mobil yang rusak tersebut. "Pak, terima kasih sudah datang ke sini," kata sopir. "Sama-sama, malah kami bersyukur karena berkah kalian semua kami bisa menangkap perampok ini," kata seorang polisi. "Pak, bagaimana dengan nasib para penumpang?" kata Chicha. "Tenang Dik, sebentar lagi bus lain akan datang," jawab si sopir. *** Kimina terpaksa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sendirian. Motor yang ada dibawa ibunya ke pasar. Malu rasana jika Kimina haru ke sekolah diantar ibunya. Kimina melintasi sebuah jalan pintas. Dilihatlah ada seseorang sedang ditindas para pemuda yang dimana salah satu di antara pemuda itu adalah teman sekelas Kimina sendiri. Bekas noda menghiasi baju orang yang teraniaya. "Maaf semuanya, tolong selesaikan masalah ini dengan tenang. Jangan ada kekerasan di sini, kasihan dia," kata Kimina. "Kasihan ya, kemarilah gadis manis," kata seorang preman. "Kimina, sebaiknya kau tak ikut campur urusan ini. Ini urusan lelaki," kata temannya. "Jadi kau kenal gadis ini," kata pemimpin preman. "Iya Pak, dia itu teman sekelasku," katanya. "Aku tak tahu pasti apa masalah kalian. Tapi yang pasti tolong selesaikan masalah ini dengan cara yang baik-baik," kata Kimina. "Teman-teman, lepaskan dia. Kita sudah punya mainan baru," kata ketua preman. "Hehehe," tawa kecil para preman. Wajah ingin menikmati perempuan terlihat sangat jelas. Langsung saja Kimina berlari menjauhi para penjahat. Diambillah jalan yang ramai berharap ada keamanan dari kejaran para preman. Para penjahat tak tinggal diam mangsanya kabur. Mereka langsung berpencar untuk mengejar Kimina. Dipilihlah beberapa jalan tembus dan jalan rahasia. Mainan mereka sebelumnya ditinggal begitu saja. Jarak lari Kimina dirasa sudah aman dari jangkau para penjahat. Dengan lenggang santainya Kimina mengambil arah lain ke sekolah. Tapi sayang, dia salah perkiraan. Seorang penjahat sudah berada didepannya. Kimina berbalik arah dan dia menjumpai penjahat yang lain. Kimina mencari arah yang lain dan lagi-lagi ada penjahat. Kini Kimina terkepung oleh beberapa penjahat. "Ayo Sayang, kemarilah. Kita tak perlu kejar-kejaran lagi. Serahkan tubuhmu agar bisa kami nikmati," kata seorang pemuda. Wajah para preman semakin lama terlihat semakin nafsu saja. Kimina sudah terpojok. Dilihatnya sebuah peluang untuk berlari. Ketika beberapa pemuda mendekat Kimina menggulingkan badannya ke area kosong. Rambut panjang nan indah menjadi kusut dan kotor terkena benda yang ada di atas permukaan tanah. Langsung saja Kimina berlari menjauhi para pemuda. Lagi-lagi Kimina dikejar oleh para pemuda. Kini seorang preman berada tak jauh darinya. Hal yang tidak mengenakkan bagi Kimina, jalan raya sedang ramai saat dia sedang berada diujung jalan. Sambil mengatur waktu yang tepat Kimina menyeberangi jalan beraspal yang penuh dengan kendaraan berkecepatan tinggi. Hampir saja bajunya dipegang seorang pemuda. Tak mau melepaskan mangsanya begitu saja si penjahat nekad menyeberangi jalan yang berbahaya. Naas sebuah mobil telah mendekat padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD