Tubuh Stella remuk, ia lelah sampai akhirnya jatuh rak sadarkan diri disaat Bryan belum selesai dengan apa yang dilakukannya. Sedangkan Bryan, ia tampak kesal karena Stella terpejam disaat ia sedang akan mencapai puncak berikutnya. Padahal mereka melakukannya sampai waktu sudah pagi, tapi Bryan masih belum puas.
"Sialan! Kenapa dia malah tidur?" desis Bryan emosi. Ia menampar nampar pipi Stella, berharap wanita itu akan segera bangun. Namun, wanita itu tetap tidak membuka matanya. Bryan benar-benar kesal dibuatnya, sampai akhirnya ia sudah tidak b*******h lagi seperti tadi.
Lantas, Bryan pun beranjak dari tempat tidurnya sambil menatap Stella dengan tajam. Tak peduli tubuh wanita itu penuh dengan jejak yang ditinggalkan olehnya, atau kedua pangkal paha yang berceceran dengan cairan vanilla miliknya ataupun keadaan Stella yang sudah mengenaskan. Bryan tetap marah pada wanita itu yang sudah menolak menikah dengannya dan akhirnya ia melakukan cara kasar ini.
"Ini akibatnya karena kau menolak menikah denganku!" seru Bryan dongkol. "Kau beruntung aku tidak membunuhmu, b***h!" ucapnya lagi.
Ia pun melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tanpa memperdulikan Stella lagi ataupun sekedar untuk menutupi tubuh wanita itu yang mungkin kedinginan, karena saat ini Stella tak memakai sehelai benang pun ditubuhnya.
Sedangkan di luar sana, Jonas terlihat sedang mondar-mandir tak jauh dari depan kamar tuannya itu. Sementara Lucius sedang duduk diam dengan wajah khawatir.
"Duduklah. Apa kau tidak lelah menajdi setrikaan yang mondar-mandir seperti itu?" tegur Lucius pada kawannya itu. Kemudian Jonas mendekati Lucius dan duduk disampingnya.
"Jelas-jelas tadi nona itu berteriak kesakitan. Sudah pasti tuan memaksanya bukan? Apa tuan berubah menjadi dirinya yang lain lagi?" tanya Jonas dengan wajah khawatir sambil melihat ke arah Lucius yang raut wajahnya tak terbaca olehnya.
"Kemudian nona itu berhenti berteriak. Apa mungkin tuan yang lain membunuhnya?"
Lucius baru menunjukkan reaksi saat Jonas mengatakan kalau sisi tuannya yang lain sudah membunuhnya. Bagaimana bila itu benar? Tuannya yang lain lebih kejam dari tuan yang satunya. Lucius dan Jonas tahu itu, bahwa tuan mereka memiliki dua kepribadian berbeda. Kadang menjadi tuan yang seperti biasanya yang tidak terlalu kejam, walaupun sosok ini bersikap dingin dan tidak banyak bicara, kadang juga tuannya menjadi sosok pria yang kejam tanpa ampun, mudah marah pada apapun yang ada di depannya. Namun, diantara keduanya, karakter kejam dan pemarah ini yang sulit ditangani.
Ketika kedua orang itu sedang duduk di sana, tiba-tiba saja pintu kamar Bryan terbuka dan memperlihatkan sosok tuannya yang sedang berdiri di sana. Lucius dan Jonas langsung menundukkan kepala mereka, memberi hormat pada sang tuan. Namun, diam-diam kedua bawahan Bryan itu memperhatikan raut wajah Bryan dengan seksama.
"Pagi Tuan," sapa Lucius dan Jonas dengan sopan.
Bryan keluar dari kamarnya hanya dengan memakai memakai kimono handuknya saja. Rambutnya juga terlihat masih basah, bahkan tetesan airnya mengenai bahunya beberapa kali.
"Apa kalian tahu apa yang aku lakukan pada wanita yang ada di dalam sana?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Bryan, sontak saja membuat Lucius dan Jonas saling melirik. Mendengar dari nada bicaranya, mereka tahu kalau tuannya sudah menjadi sosok pertama, yaitu Bryan.
"Dia adalah wanita yang menolongku, bukan? Lalu kenapa dia berada dalam keadaan mengenaskan seperti itu di atas ranjangku?" tanya Bryan dengan bingung. Seolah-olah ia tidak ingat semua yang ia lakukan semalaman pada Stella.
Lucius dan Jonas masih belum berbicara, mereka juga tak tahu apa yang dilakukan Bryan pada Stella semalam? Yang mereka dengar hanya jeritan, erangan dan desahan dari dalam kamar. Tapi dari kata-kata Bryan tentang 'Stella yang mengenaskan di atas ranjang' mungkin Stella terluka oleh sosok lain Bryan yang bernama Maxime.
"Bukankah aku sudah suruh kalian menyelamatkan wanita yang sudah menyelamatkanku. Apa kalian tidak mendengar kata-kataku? Atau kalian terlambat menyelamatkannya?" cecar Bryan dengan kedua mata berwarna abu-abunya yang menatap tajam pada Lucius dan Jonas.
"Tuan, apa tuan tidak ingat apa yang terjadi semalam?" Pertanyaan Jonas, malah membuat Bryan terdiam dan wajahnya berubah menjadi pucat. Ia benar-benar tidak ingat kejadian apapun semalam, yang ia hanya ingat hanya ia tertidur setelah meminta anak buahnya untuk menyelamatkan Stella dari tempat hiburan.
"Apa dia seperti itu karena Maxime?" tanya Bryan pada kedua anak buahnya. Ia pun meminta kepada mereka berdua untuk menjelaskan apa yang mereka tahu tentang semalam.
Lucius dan Jonas menceritakan apa yang mereka dengar dari luar kamar ini. Mendengar penjelasan Lucius dan Jonas, ia yakin kalau semalam ia berubah menjadi Maxime. Sisi dirinya yang liar, lebih kejam dan penggila wanita.
"Sialan! Maxime." Bryan meremat rambutnya dengan kesal. Ia bahkan tak ingat apa yang dilakukan oleh Maxime, sisi kepribadiannya yang lain itu.
Sedangkan Lucius dan Jonas, hanya bisa diam dan menatap tuannya dengan prihatin, karena bukan hanya satu atau dua kali sosok Maxime ini berbuat ulah.
"Siapkan pakaian wanita untuknya dan bawa dokter wanita kemari!" titah Bryan pada kedua anak buahnya itu.
Tersirat rasa bersalah di wajahnya saat ia baru saja dari kamar mandi tadi. Ia melihat Stella tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjangnya dengan kondisi tidak memakai pakaian dan penuh luka hampir di seluruh tubuhnya. Terlebih lagi saat ia mendapati banyak darah dipangkal paha wanita itu.
Lucius mengangguk patuh, begitupun dengan Jonas. "Baik Tuan."
***
"Eungh."
Suara lenguhan keluar dari bibir Stella, kedua matanya yang semula terpejam mulai terbuka perlahan-lahan. Samar-samar, Stella melihat cahaya dari lampu yang berada di atasnya.
"Kau sudah sadar?"
Suara bariton rendah yang terdengar cukup dekat itu, sontak saja membuat Stella tercekat. Kedua matanya membola menatap seseorang yang sudah merenggut kesucian yang selama 21 tahun dijaganya itu. Stella langsung beranjak duduk, matanya menyorot tajam pada Bryan yang sedang berjalan menghampirinya. Ia menatap pria itu seolah-olah dirinya bukan manusia.
"Berhenti disitu! Jangan mendekat ke arahku, b******n!" ujar Stella dengan suara seraknya, ia meminta Bryan untuk berhenti ditempatnya. Namun, Bryan tetap mendekat ke arahnya dengan wajah datarnya.
Tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang masih terasa sakit, Stella turun dari atas ranjang demi menghindari Bryan.
Bruk!
Alhasil, Stella pun jatuh terduduk di atas lantai. Barulah ia merasakan tubuhnya sakit, kedua kakinya lemas sampai tak ada tenaga.
"Aku akan minta seseorang untuk membawakan makanan kemari," ucap Bryan dengan dinginnya.
Mendengar kata-kata Bryan, membuat Stella semakin kesal padanya. Pria itu terdengar dingin dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya.
"Bangunlah. Lantainya dingin." Bryan mengulurkan tangannya pada Stella, tapi wanita itu hanya menatapnya dengan sinis.
"Jangan pura-pura peduli padaku. Kau itu iblis b******k!" desis Stella dengan emosi yang bergemuruh dari hatinya.
TBC