"Kenapa aku harus sembunyi? Memangnya aku salah apa?" tanya Bryan pada Stella karena ia menolak bersembunyi. Toh, ia bukan maling yang harus bersembunyi.
"Salahnya, Tuan ada di rumahku. Sudah, anggap saja kalau kau melakukan permintaanku ini ... maka kau sudah menyelamatkan nyawaku sama seperti yang sudah aku lakukan untukmu."
Mendengar ucapan Stella dan melihat bagaimana sorot matanya yang tampak begitu memohon, Bryan pun tak punya kuasa untuk menolak. Ia akhirnya melakukan apa yang Stella minta tanpa bertanya lebih lanjut.
"Buka pintunya, Wanita Sialan!"
Suara gedoran pintu itu semakin kencang tak sabaran dan ingin segera dibukakan. Stella pun menyembunyikan Bryan di dalam lemari bajunya yang berukuran kecil itu. Lemari tua yang sebagian kayunya sudah keropos dimakan rayap.
Bryan bersembunyi dan meringkuk di dalam lemari tua itu, sedangkan Stella buru-buru membuka pintunya.
"Ibu?" Stella terkejut melihat ibu dan adik perempuannya yang sudah berdiri di hadapannya. Mereka berdua menatap Stella dengan tajam. Sepertinya ibu dan adiknya baru pulang berlibur.
"Dasar! w************n!" sarkas Griselda seraya menarik rambut panjang Stella ke belakang dengan kasar. Sampai-sampai kepala Stella mendongak ke atas.
Rasa perih, sakit, akibat jambakan ibunya itu, seakan membuat rambutnya akan tercabut dari kepalanya. "Argh ... sakit, Bu! Tolong lepaskan aku!"
"Ikut kami sekarang!" sentak Griselda tanpa melepaskan tangannya dari rambut panjang Stella.
Dari celah kecil di lemari itu, Bryan bisa melihat perlakuan keluarga Stella kepada wanita itu. "Sial, harusnya aku bisa menolong dia saat ini. Cih, aku benar-benar tidak suka jika harus berhutang budi."
Sayangnya, Bryan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sedang terluka parah dan tidak bisa keluar dari tempat persembunyiannya. Lagi pula, tadi ia juga sudah berjanji pada Stella untuk bersembunyi.
***
Inilah hukuman yang diberikan ayahnya, atas kesalahan yang bahkan tidak pernah ia lakukan. Menghilangkan sepatu mahal milik ibunya dan menggoda kekasih Evelyn. Ia diseret oleh ibu dan adiknya ke dalam sebuah tempat hiburan malam bernama Golden Club. Sekuat ttenaga Stella berusaha untuk tidak masuk ke dalam sana.
Wanita itu juga mencoba untuk mengelabui Griselda dan Evelyn, tapi ujung-ujungnya ia tetap tertangkap juga oleh anak buah ayahnya yang lain.
"Aku mohon. Aku tidak mau ada di sini. Aku bersedia dihukum, tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku akan dihukum tanpa makan dan minum di gudang, disuruh cuci piring, dipukul, dicambuk, atau apa pun itu, tapi aku tidak mau ada di sini," tutur Stella dengan suara gemetar. Keringat dingin juga mulai terlihat di wajah cantiknya.
"Ini hukuman dari suamiku. Kau seharusnya bersyukur karena suamiku tidak menghukummu dengan menyakitimu. Namun, suamiku menghukummu dengan cara yang akan menyenangkanmu sendiri, Stella." Griselda merasa kalau seharusnya Stella bersyukur, karena ia tidak dihukum dengan cara disakiti seperti biasanya.
"Benar ... di sini kau akan bertemu dengan pria baik. Dia juga bersedia memenuhi semua kebutuhanmu. Kau tidak usah khawatir," sambung Evelyn dengan seringai di bibirnya.
Stella menggelengkan kepalanya dengan kuat. "A-aku tidak mau. Kumohon."
Tanpa peduli dengan Stella yang memohon, ia tetap diseret masuk ke dalam kamar VVIP itu dan dikunci dari luar. Sedangkan ibu dan adiknya terlihat senang setelah menerima uang dari seseorang yang ada di sana.
"Silahkan bersenang-senang di dalam sana, Kakakku Sayang," ucap Evelyn mengejek Stella yang berada di dalam ruangan berpintu merah itu.
"Tidak! Tolong buka pintunya, tolong!”
"Argh …!"
Suara Stella tenggelam saat tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Tolong lepaskan saya, Tuan!”
Wanita itu semakin memundurkan tubuhnya dengan gelisah, menghindari pria yang saat ini sedang mencoba untuk melakukan sesuatu kepadanya. Stella tahu, apa maksud dari tatapan dan gestur tubuh pria itu kepadanya. Intinya, akan terjadi hal buruk di sini, jika ia tidak segera menghindar.
"Tenang saja cantik. Aku akan memperlakukanmu dengan lembut, asal kau menurut," kata pria berumur dengan perut buncit itu, sambil meneteskan air liurnya yang menjijikan ke atas ranjang. Ia terus mendekati Stella yang terlihat gemetar ketakutan.
Tatapan pria itu terlihat lapar kepadanya, ia diibaratkan makanan lezat yang siap disantapnya sampai habis. Tatapan itu sangat menjijikan dan Stella bergidik melihatnya.
"Tidak! Jangan dekati aku, kumohon Tuan. Pikirkan anak dan istrimu di rumah," ucap Stella sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, saat pria itu mulai melucuti pakaiannya sendiri.
"Tidak apa-apa, jangan pikirkan mereka. Sekarang ... lebih baik kita memikirkan dengan gaya seperti apa, yang akan kita lakukan malam ini. Bagaimana cantik?"
Sekarang, pria itu sudah setengah telanjang. Ia semakin mendekat ke arah Stella dan akhirnya ia berhasil mengukung tubuh Stella. Tentu saja Stella tidak tinggal diam. Ia mencoba melakukan perlawanan sekuat tenaganya.
"Lepas! Jangan sentuh aku! Lepas!" teriak Stella sambil memukul-mukul d**a pria itu yang berjarak sangat dekat dengannya. "Aku takut, kumohon siapapun tolong aku," kata wanita cantik itu dalam hatinya.
Pria itu mulai kesal dengan perlawanan yang dilakukan oleh Stella, ia pun memegang kedua pergelangan tangan Stella dengan mudah dan ia letakkan di atas kepalanya.
"Aku sudah menduga, kalau kau memang tidak jinak. Tenang saja, aku akan membuatmu jinak setelah malam ini," dengus pria itu dengan tatapan tajam pada Stella. Ia menggilai wanita cantik yang ada di bawah tubuhnya ini dan sudah tak sabar ingin menikmatinya.
"Tidak!"
Tepat saat bibir pria itu akan menyentuh bibirnya, tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari luar yang membuat pria itu terpaksa harus menghentikan kegiatannya.
"Sial!"
"Siapa orang yang berani menggangguku?" desisnya dengan kesal. Meskipun ia sudah tak sabar dengan Stella, tapi rasa emosi menguasainya, membuat pria itu tak sabar ingin membuka pintu dan menghajar orang yang sudah mengganggu kesenangannya.
Ia pun beranjak dari tubuh Stella, yang seketika membuat wanita itu merasa sedikit lega. Ya, walaupun degup jantungnya masih tidak karuan. Ia masih belum lepas dari bahaya.
"Siapa b******n yang sudah—"
Baru saja pria gemuk itu membuka pintunya dan belum selesai ia berbicara, seseorang yang ada di depan pintu sudah lebih dulu memberikan bogem mentah kepada wajahnya. Bogem itu mampu membuat tubuh besarnya jatuh tersungkur ke lantai.
Mendengar suara keras itu, membuat Stella yang berada di atas ranjang, terperanjat karena terkejut. Ia beranjak dari ranjang tersebut dan melihat ada dua orang pria bertubuh tinggi tiba-tiba saja datang ke kamar ini dan menghajar si gendut hingga tak sadarkan diri.
Saat salah seorang dari pria itu berjalan mendekati Stella. Refleks, Stella mengambil vas bunga kaca yang ada di sana. Ia mengangkat vas bunga itu ke atas dan hendak mengarahkannya pada pria didepannya ini.
"Jangan berani mendekat! Atau saya akan melempar vas bunga ini," ujar Stella mengancam. Namun, pria itu sama sekali tidak takut dengan ancaman Stella karena saat ini Stella terlihat ketakutan dan ia hanya pura-pura berani.
"Apa kau Stella Lousier?" tanyanya pada Stella.
"Bu-bukan, saya bukan Stella!" sangkal Stella dengan gugup.
Meski pria bertubuh tinggi itu sudah menyelamatkannya dari laki-laki hidung belang itu, Stella merasa takut jika pria itu juga punya maksud jahat padanya. Di tengah rasa takutnya, terselip sebuah pertanyaan besar, sebenarnya siapa pria yang telah menyelamatkannya itu? Dan, bagaimana bisa dia tahu namanya?
TBC