Bryan alias Maxime tersenyum sinis, tatapannya dingin dan menusuk. Air mata Stella membasahi pipinya, tetapi Maxime tak bergeming. Ia semakin mendekat, tubuhnya yang kekar menaungi Stella yang meringkuk ketakutan di pojok mobil. Mobil itu terasa seperti sebuah peti mati yang sempit dan pengap baginya. "Apa yang akan kau lakukan?" suara Stella bergetar, campuran ketakutan dan amarah. "Lepaskan aku! Aku tidak bersalah!" Tamparan keras mendarat di pipi Stella. Dia meringis, menahan rasa sakit yang menusuk. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Rasanya, seluruh tubuhnya berdenyut nyeri. Ia merasakan kepedihan yang tak tertahankan. "Kau tidak pantas menatapku seperti itu," Maxime berdesis, suaranya dingin dan penuh ancaman. "Kau milikku, hanya milikku." Kata-kata itu terasa mutlak tak t

