"Terserah kamu, Mas. Tapi apa kamu sanggup tinggal di sini bersamaku." Resty menatap suaminya, raut wajahnya terlihat berubah. Ardan seakan ragu jika benar-benar harus tinggal di rumah istrinya yang sangat jauh berbeda dengan rumahnya yang megah itu.
"Demi kamu dan anak kita, aku sanggup. Aku mau tinggal di sini bersama dengan kalian." Ardan mengangguk. Resty akan melihat, apa suaminya benar-benar yakin bisa tinggal bersamanya. Karena secara level mereka sangat jauh berbeda, ibarat bumi dan langit.
"Ok, terserah kamu saja, Mas. Sayang sekarang kita makan dulu ya." Resty mengajak putrinya masuk ke dalam. Melihat istrinya masuk ke dalam, Ardan mengikutinya.
"Ibu mana?" tanya Ardan.
"Sudah pergi ke sawah, pekerjaan ibu dari dulu kan memang di sawah," jawab Resty, sementara Ardan hanya mengangguk.
"Ya sudah, aku berangkat ke kantor dulu ya. Sayang papa kerja dulu ya." Ardan mencium pipi dan kening putrinya, tak lupa ia juga mencium kening istrinya.
"Aku pergi dulu ya, assalamu'alaikum." Ardan berpamitan.
"Wa'alaikumsalam." Resty mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu Ardan bergegas keluar. Sementara Resty kembali fokus untuk menyuapi putrinya.
Dalam perjalanan, Ardan terus memikirkan cara agar Resty mau pulang ke rumah, dengan begitu ia tidak perlu lagi berpura-pura untuk bersedia dan sanggup tinggal di rumah mertuanya. Ardan mendesah, terlalu rumit kehidupan rumah tangganya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, kini Ardan tiba di kantor. Usai memarkirkan mobilnya, Ardan beranjak turun, setelah itu ia melangkah memasuki gedung, jujur semenjak kejadian di mana Resty membongkar kedoknya. Banyak karyawan yang menatapnya dengan tatapan seperti tidak suka.
Kini Ardan sudah tiba di ruangannya, lelaki berjas hitam itu berjalan menuju meja kerjanya lalu menjatuhkan bobotnya di kursi. Ada tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani, Ardan menghela napas, setelah itu ia bersiap untuk memulainya.
"Masuk." Ardan bersuara saat mendengar pintu ruangan diketuk. Sedetik kemudian pintu terbuka, terlihat seorang wanita yang tak lain adalah kakaknya sendiri berjalan menghampirinya.
"Ada apa, Kak?" tanya Ardan menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Kamu ada uang nggak, Dan. Alfan lagi minta beli sepeda yang baru, aku juga butuh untuk bayar arisan," jawab Mita. Semenjak suaminya selingkuh dan pergi entah ke mana, semua kebutuhan memang Ardan yang menanggung.
"Untuk saat ini Ardan belum ada uang, Kak. Kemarin untuk bayar dekorasi saja minjam sama Serly. Memangnya uang bulanan yang untuk Alfan sudah habis? Setiap bulan Ardan sudah menjatah Alfan serta Lala," ungkap Ardan, mendengar itu Mita terdiam sejenak.
"Kalau ada nggak mungkin aku minta sama kamu," sahut Mita, seketika Ardan memijit pelipisnya karena pusing, kakak dan ibunya memang sering membuat Ardan bingung.
Ardan menghela napas. "Nanti Ardan usahakan, Kak. Tapi Ardan nggak janji."
"Ya sudah, kalau begitu kakak pergi dulu ya." Setelah itu Mita beranjak keluar dari ruangan Ardan. Sementara lelaki berjas hitam itu bertambah pusing dengan masalah yang ada.
***
Di rumah Resty nampak sedang sibuk karena pesanan cukup banyak. Walaupun hanya berjualan, tetapi hasil yang Resty dapat lumayan. Selain bisa untuk ditabung, tetapi juga bisa ia gunakan untuk kepentingan putrinya, membeli s**u dan juga pampers.
"Alhamdulillah, sekarang banyak yang pesen. Aku harus bisa nabung, biar nanti bisa buka usaha sendiri," ungkap Resty, sambil mengurus anak tetapi masih bisa mendapatkan penghasilan.
"Aku harus membuktikan pada keluarga mas Ardan, kalau aku bisa sukses tanpa uang dari mereka," gumamnya. Walaupun ia terlahir dari keluarga yang sederhana, tetapi Resty akan membuktikan jika ia mampu seperti mereka.
Tiba-tiba saja terdengar suara deru mobil yang berhenti di pelataran rumah, Resty yang sedang duduk di teras seketika mendongak. Wanita berambut panjang itu menyipitkan mata, karena Resty sama sekali tidak mengenali mobil tersebut.
"Siapa, pemilik mobil itu," batin Resty. Seketika ia bangkit saat melihat seseorang keluar dari mobil tersebut. Seorang wanita dengan pakaian yang cukup seksi berjalan menghampiri Resty, tak lupa sebuah kecamatan hitam bertengger di atas hidungnya.
"Apa benar ini rumahnya Resty, anaknya ibu Rahayu?" tanya wanita itu.
"Benar, anda siapa ya? Dan ada keperluan apa," jawab Resty, seketika wanita itu melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas kepala.
"Saya Serly, calon istrinya mas Ardan. Saya harap kamu jangan mengganggu mas Ardan lagi, dan tolong lepaskan dia," ungkap Serly. Sedetik kemudian Resty terdiam, walaupun sempat terkejut tetapi itu wajar. Karena memang sejak dulu keluarga suaminya tidak ada yang setuju Ardan menikah dengannya.
"Oh, jadi kamu calon istrinya mas Ardan." Resty menelisik penampilan wanita yang ada di hadapannya. Cantik dan juga seksi dan mungkin terlahir dari keluarga yang berada. Tapi sayangnya suka dengan barang bekas.
"Iya, aku harap kamu lepaskan mas Ardan, karena kita tidak selevel. Aku dan mas Ardan terlahir dari keluarga berada, dan kamu .... "
Resty tersenyum. "Iya, tidak perlu dijelaskan, jika kamu memang sangat menginginkan mas Ardan. Silahkan saja kamu ambil, lagi pula aku kan sudah meninggalkannya, tapi mas Ardan sendiri yang ngejar aku ke sini."
"Sayang ya, cantik-cantik tapi kok suka dengan barang bekas. Seperti tidak ada barang yang orisinil saja," ujar Resty dengan tatapan meremehkan. Mendengar itu seketika Serly naik pitam.
"Dan satu lagi, aku memang terlahir dari keluarga sederhana dan sangat jauh dengan kalian. Tapi aku masih punya harga diri, karena aku tidak merebut lelaki yang jelas-jelas masih menjadi suami orang. Sedangkan kamu yang mengaku dari keluarga berada dan terhormat. Namun sama sekali tidak punya harga diri," ungkap Resty. Detik itu juga Serly bungkam, raut wajahnya seketika panik.
"Kalau kamu memang ingin mengambil mas Ardan silahkan saja, aku tidak akan menghalangi. Walaupun sesungguhnya aku lebih rela mas Ardan diambil oleh Tuhan (Allah) ketimbang diambil sama pelakor seperti kamu," ungkapnya lagi. Dan untuk yang kali ini benar-benar membuat wajah Serly merah padam karena menahan amarah.
"Sepertinya wanita ini adalah pilihan ibu, baguslah. Dengan begitu aku bisa dengan mudah untuk lepas dari mas Ardan." Resty membatin, sementara Serly masih diam, tetapi sorot matanya menunjukkan rasa amarah yang mungkin sudah menguasai dirinya.