Foto Lama 3

1232 Words
Tok tok tok Ketukan pintu kamar membuatku menoleh, beberapa saat lalu aku mengistirahatkan diri dengan tidur. Begitu nyenyak sekali, apa mungkin karena aku tidur di atas ranjang yang empuk sampai tidak menyadari kalau hari sudah menuju malam. Bangun tidur, aku langsung ke kamar mandi, menyegarkan tubuh dan berganti pakaian. Kubukan pintu kamar dan Bi Ningrum yang tersenyum hangat menatapku. “Sudah di tunggu makan malam, Den.” Aku meringis, merutuki diriku, seharusnya aku ingat kalau sedang bersama dengan keluarga Kakek Wiryo, pasti mereka menungguku. Bagaimana nanti kalau Kakek Wiryo menganggap aku sebagai anak lelaki yang tidak tahu waktu dan malas-malasan. Untuk makan malam pun sampai membuat yang lain menunggu. “Maaf, Bi. Tadi Faisal tidurnya lama. Pasti Kakek udah nunggu lama ya,” ucapku pada Bi Ningrum. “Tidak, Tuan baru saja di ruang makan dan menyuruh Bibi buat panggil Den Faisal.” “Terima kasih, Bi.” Bi Ningrum mengangguk kemudian mengajakku untuk bergegas ke ruang makan di mana Kakek Wiryo dan mungkin saja Anggun berada di sana. Atau juga anggota keluarga lainnya yang sudah berkumpul di sana. Aku jadi gugup karena bertemu dengan semua anggota keluarga Kakek Wiryo. Hendak menuruni tangga, aku berpapasan dengan Anggun yang juga akan turun menuju ruang makan, ia menyapaku dengan begitu ramah kemudian mengajakku untuk turun bersama. Sementara Bi Ningrum berjalan di belakang kami. Suasana di ruang makan tiba-tiba hening saat aku bergabung dengan yang lain, Bi Ningrum tampak kembali dengan tugasnya menyiapkan air putih, menuangkannya ke dalam gelas kemudian memberikannya kepada kami satu per satu, lalu dua orang wanita berbeda usia tampak menatapku penuh kerutan. Sepertinya mereka keheranan karena aku ada di sini, lelaki asing yang tiba-tiba hadir di tengah keluarga mereka. “Nah, Faisal dan Anggun sudah turun. Ayo duduk, kita makan malam bersama. Ayo, Sal. Duduk di sini di samping Kakek,” ucap Kakek Wiryo begitu riang menyuruhku untuk segera duduk di sampingnya. Dengan ragu namun tak urung aku menuruti apa yang Kakek katakan. Agak canggung apalagi bukan hanya ada Kakek tetapi seluruh orang rumah di sini. Tanpa sengaja kulihat seorang gadis yang usianya mungkin sama seperti aku dan Anggun tampak menatap sinis. Sepertinya orang pertama yang tidak suka dengan kehadiranku di sini. Mungkin dia cucunya Kakek Wiryo sama seperti Anggun. Aku duduk dengan sedikit kaku, tidak biasa makan malam seperti ini. Melingkari meja makan yang cukup mewah dengan sajian yang begitu lengkap, bahkan dulu saat bersama dengan mendiang ibuku, makan malam beralaskan tikar dan makan dengan lauk seadanya sudah membuatku senang, karena bagiku yang penting bisa menikmati makan malam dengan orang yang kusayangi, bersama ibuku. “Ayah nggak bilang kalau ada orang asing di rumah kita.” Perkataan wanita yang duduk di hadapanku membuat kunyahanku terhenti, bahkan rasanya sulit sekali untuk menelan makanan yang sudah kukunyah. Daging yang dimasak oleh Bi Ningrum seolah tertahan di tenggorokanku. Kakek Wiryo tampak tenang, kembali menyantap makanannya tanpa membalas pertanyaan yang terlontar dari mulut anak perempuannya. Ya kupikir wanita yang seumuran mendiang Ibu itu adalah anaknya kakek. “Ayah ...” “Nanti kita bahas, kita sedang makan malam,” sela Kakek membuat wanita itu urung melanjutkan kalimatnya, namun bisa kurasakan bagaimana kedua matanya yang begitu tajam menatapku, aku hanya pura-pura tidak tahu dan melajutkan makan malamku bersama dengan yang lain. Kupikir yang paling penting sekarang adalah keberadaanku di sini keinginan Kakek dan aku hanya tinggal menurutinya saja. Lagipula kembali ke pemikiranku yang berlalu, kalau tidak di sini, ke mana aku harus mencari tempat untuk berteduh, bukan memanfaatkan Kakek, tetapi memang ini sebuah kesempatan emas kan. ** “Sekarang saya akan menjelaskan siapa Faisal.” Kami sudah berada di ruang tengah, selesai makan malam dengan keheningan yang menyelimuti kami tadi, Kakek akhirnya menyusuh semua orang untuk berkumpul di ruang tengah, termasuk dengan asisten rumah tangga dan pekerja lainnya yang berada di rumah ini. Aku sendiri sekarang duduk di samping Kakek, merasa gugup karena semua orang melihatku dan mungkin dengan pertanyaan dalam benak mereka, siapa aku sampai tiba-tiba datang dan bergabung di rumah mewah ini. “Dia orang yang menolong saya saat tergeletak di jalanan.” Perhatian semuanya tertuju padaku, semakin tidak nyaman saja ketika semua mata tertuju padaku. Sungguh, aku tidak pernah berada di situasi seperti ini di mana semua pandangan terpusat kepadaku, kecuali kalau aku sedang mengikuti perlombaan dan berada di atas panggung untuk menerima piala, tetapi situasinya beda kan. “Faisal akan tinggal di rumah ini bersama kita.” “Apa?! Ayah kok bisa orang asing tinggal di rumah kita?” tanya seorang wanita yang kutahu adalah Bu Ambar yang ternyata menantu Kakek. Tampak melayangkan protes karena perkataan Kakek. Tadi Kakek sempat menjelaskan sebelum kami berkumpul di ruang tengah. Bahwa wanita itu adalah Ambar yang merupakan menantunya, sementara sang anak lelaki belum pulang karena ada keperluan di luar kota, kalau aku tidak salah ingat, namanya Pk Burhan. Sementara perempuan yang seumuran Anggun, yang menatapku sinis tadi di ruang makan adalah Rima yang tak lain adalah anak dari Bu Ambar dan Pak Burhan. “Kenapa? Nggak ada yang bisa protes karena ini rumah Ayah,” balas Kakek membuat Bu Ambar bungkam. “Dan yang lainnya, perlakukan Faisal sama seperti Anggun dan Rima, karena dia juga cucu saya mulai sekarang. Satu lagi, Faisal mungkin harus beradaptasi dengan situasi baru dan mohon bantuan kalian.” “Baik, Tuan.” Semua yang di sini berucap kompak. “Dan mulai besok, Faisal akan berkuliah di Universitas yang sama seperti Anggun dan Rima. Kalian berdua bisa membantu Faisal selama di kampus, terutama Anggun karena jurusan kalian sama.” Anggun tampak mengangguk paham, sementara aku masih begitu dibuat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Kakek. Beliau menganggap aku cucunya dan semua pekerja di sini harus memerlakukan aku sama seperti yang lain, seperti Anggun dan Rima. Sungguh, sekali lagi kukatakan, aku bermimpi apa sampai keadaannya sekarang begitu luar biasa. Aku, anak kampung yang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan dan mencari ayahku, sekarang di terima dengan begitu baik oleh seorang pria paruh baya, oleh Kakek Wiryo bahkan menjadi bagian dari keluarganya. “Kakek, apa nggak berlebihan kalau Faisal kuliah? Faisal bekerja di sini saja, tidak apa-apa,” ucapku. Tidak enak sekali apalagi melihat bagaimana tatapan Bu Ambar dan Rima kepadaku, terlihat penuh ketidaksukaan dengan keberadaanku di sini dengan di perlakukan begitu baik oleh Kakek. Namun dari tatapan Kakek Wiryo, aku tahu kalau keputusan Kakek sudah bulat, aku tidak bisa menolak lagi ketika Kakek keukeuh ingin aku melanjutkan pendidikanku. Kakek memang pernah bilang sayang kalau nilai yang aku raih selama sekolah hanya sampai di situ saja, selagi ada kesempatan aku harus bisa mengambilnya. Aku akhirnya pasrah saja, menerima apapun keputusan yang sudah dikatakan oleh Kakek Wiryo. Selagi itu keputusan yang baik, terutama untuk masa depanku, aku tidak ingin membuat Kakek kecewa dan aku akan melakukan yang terbaik karena Kakek sudah memberikan kesempatan itu. Keputusan Kakek tentu saja membuat Bu Ambar tidak suka, beliau menatapku dengan tajam. Pun dengan Rima yang sama seperti Bu Ambar. Namun tentu saja mereka tidak bisa protes lagi, apalagi Kakek begitu tegas seperti tadi. Pembicaraan itu selesai, semuanya kembali dengan kegiatan masing-masing, namun tidak denganku yang masih bersama dengan Kakek di ruangan ini. Kakek memintaku untuk diam di sini, katanya ada hal yang akan beliau katakan lagi kepadaku. "Faisal maafkan Kakek kalau keputusan Kakek tadi begitu memaksa, seperti yang Kakek katakan, nilai kamu yang bagus sangat disayangkan kalau kamu hanya tamatan sekolah menengah atas, masa depan kamu masih panjang, kamu memiliki banyak kesempatan jika melanjutkan pendidikan kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD