Bab 02

1072 Words
02 Semenjak saat itu Viana selalu hadir setiap hari. Terkadang dia muncul di waktu petang. Duduk manis di seberang meja makan sambil menemaniku bersantap. Kadang pula dia hanya muncul selintas di halaman, bolak-balik dari ujung kiri ke kanan sambil memegangi payung putih berenda khas Noni Belanda. Malam ini, seperti hari-hari sebelumnya Viana sudah duduk di kursi seberang meja. Dia memandangiku seraya mengulaskan senyuman, sambil merapikan rambut panjangnya yang tergerai, dengan jemari lentik berpoles pewarna merah. Kali ini Viana mengenakan pakaian yang berbeda. Bila biasanya dia akan menggunakan gaun panjang dengan warna-warna cerah, tetapi kali ini berbeda. Gaun biru tua itu tidak terlalu panjang dan kuperkirakan hanya sebatas betis. Aksen renda putih di bagian bawah d**a dan tiga buah kancing mutiara sebagai aksesori tambahan, menjadikan tampilannya sangat anggun. Saat Bu Ismi, istrinya Pak Tono meletakkan minuman hangat untukku di meja, tiba-tiba saja Viana memunculkan diri sambil memasang seringai jahil di wajahnya. "Astagfirullah!" seru Bu Ismi, sambil memelototi kursi seberang. "Kenapa, Bu?" tanyaku sembari menghentikan gerakan menyuap. "Itu ... hantu itu ...." gumam Bu Ismi sambil menutupi mulut dengan tangan kiri. Tatapannya mengarah lurus ke seberang meja, tempat di mana sosok Viana balas menatap sembari menaikkan alis. Aku berdehem untuk mengalihkan perhatian Viana, dan saat dia menoleh aku langsung menggerakkan dagu, untuk memberikan kode agar dia segera pergi. Viana mengerucutkan bibir dan melipat kedua tangan di depan da-da. Mengangkat hidung bangirnya tinggi-tinggi, sebelum sosoknya perlahan menghilang. "Hantu yang mana?" tanyaku pura-pura lugu. Padahal dalam hati aku ingin tertawa. Bu Ismi yang tadi sempat memejam, membuka mata kanan untuk mengintip. Kemudian, menurunkan tangan dan mengusap da-da beberapa kali. "Hantu cewek bule. Berbaju biru. Rambutnya panjang," jelas Bu Ismi. Matanya berputar ke sekeliling ruangan untuk memastikan Viana telah tidak ada. "Emang, dia sering muncul?" "Iya. Konon katanya, rumah ini dulu adalah rumah orang tuanya," jawab Bu Ismi sembari menarik kursi di sebelahku. Beliau duduk dan menuangkan air ke dalam gelas, kemudian meminumnya hingga habis. Aku memandangi Bu Ismi dan menunggunya melanjutkan obrolan. Cerita awal mula vila ini memang sangat ingin kuketahui. Terutama, karena kemunculan Viana, dan beberapa makhluk tak kasatmata lainnya, yang beberapa kali tertangkap mataku, tengah melintas di halaman depan ataupun belakang. "Ibunya dulu Nyai Belanda, istri simpanan gitu. Saat ayahnya kembali ke Belanda, Viana dan ibunya tidak diajak serta. Mereka tetap tinggal di sini sampai ibunya wafat. Makamnya ada di bukit itu," terang Bu Ismi sambil menunjuk bukit di samping kanan villa. "Terus, Viana gimana?" tanyaku. Sangat penasaran dengan lanjutan ceritanya. "Viana menjual rumah ini dan pindah ke kota. Lama tidak terdengar kabar beritanya. Ada kali puluhan tahun," jelas Bu Ismi. "Pembeli villa pertama, Pak Dirga menjual villa ini ke Pak Ridwan, orang tuanya mas Farid. Terus ibu dan keluarga diajak tinggal di sini untuk mengurus vila," sambungnya. Aku manggut-manggut mendengar penjelasannya. Kemudian, aku melanjutkan makan malam yang tertunda sambil mendengarkan dongeng Bu Ismi dengan saksama, berharap ada setitik informasi yang bisa membuka tabir tempat ini. Berbelas menit berikutnya, Bu Ismi pamit pulang ke rumahnya. Aku memandangi punggung perempuan paruh baya itu hingga sosoknya menghilang, di balik kabut tebal yang menyelimuti area sekitar vila. Udara yang sudah dingin makin membekukan tubuh. Aku merapatkan jaket berbahan babytery yang cukup mampu melindungi dari dinginnya malam. Aku meraih topi rajut dari meja bufet ruang tamu dan mengenakannya hingga menutupi tengkuk. Aku menarik senter yang digantung di dinding belakang pintu, dan menyalakan benda itu hingga sinarnya cukup terang. Aku menutup dan mengunci pintu depan, lalu jalan ke luar. Aku menyusuri jalan di depan villa hingga sampai di pagar yang sudah terkunci. Aku membuka gembok dan mengangkat ujung pintu yang sedikit macet, sebelum membuka pagar dan menutupnya kembali. Aku meangayunkan tungkai melalui jalan sepi. Melewati dinding berlumut dari tembok pembatas dengan rumah sebelah. Penghuni rumah di sebelah kanan ini adalah seorang pria tua yang ditemani seorang asisten rumah tangga dan dua orang satpam, yang merupakan warga dari kampung sekitar tempat ini. Selama hampir satu bulan tinggal di sini, hanya sesekali aku bertemu dengan penghuni rumah. Selain, karena aku yang keluarnya tidak tentu, mereka juga memang jarang keluar bila tidak ada keperluan. "Mau ke mana, Mas Anto?" tanya Pak Rohim, satpam rumah sebelah, sesaat setelah aku tiba di dekat pagar. "Mau ke warung, Pak. Pengen ikutan ngobrol sama warga yang suka nongkrong di sana," jawabku seraya menyunggingkan senyuman. "Nongkrong di sini aja, bareng Bapak. Kita ngopi sambil ngemil ini," tukas Pak Rohim sambil mengangkat piring berisi makanan yang masih mengepul. Aku terdiam sesaat, kemudian melangkah mendekati beliau dan mendudukkan diri di kursi samping kanan. Pak Rohim dengan cekatan menuangkan kopi hitam dari termos kecil yang selalu beliau bawa. Lalu dia memberikan gelas itu padaku, kemudian dia menggeser piring berisi singkong ke tengah-tengah bangku panjang yang kami duduki. "Pak Iman, ke mana? Tumben Bapak cuma jaga sendirian?" tanyaku basa basi memecah kesunyian. "Iman lagi sakit. Demam turun naik dari kemarin," jawabnya. "Kayaknya sih karena sawan, ketempelan hantu cewek itu," lanjutnya yang membuatku terkesiap. "Ketempelan?" "Iya, dia bilangnya, sih, gitu, Mas. Dua malam yang lalu, dia kebelet buang air. Udah nggak kuat nahan, mau ke kamar mandi di dalam rumah juga udah nggak sanggup, katanya. Akhirnya dia pipis di bawah pohon itu," terang Pak Rohim sambil menunjuk ke pohon jambu air yang rimbun. Sebagian batang pohon itu menjorok ke arah halaman vila yang kutempati. "Terus, habis itu dia kayak melihat hantu Noni Belanda itu lagi duduk di batang pohon yang ke arah vila. Langsung lari tunggang langgang si Iman. Ngebangunin Bapak yang lagi tidur di kursi," ungkapnya sembari mengarahkan jari telunjuk pada kursi berbahan kulit yang sudah pudar warnanya yang berada di sudut kanan pos satpam. "Pulangnya dia mengeluh nggak enak badan. Ehh, demamnya jadi keterusan sampai sekarang," sambung Pak Rohim sambil memerhatikan sekeliling. Mungkin beliau takut obrolan kami ini didengar oleh orang lain. Aku hanya bisa manggut-manggut mendengarkan beliau terus berbicara. Hal seperti ini baru pertama kalinya aku dengar. Sementara keluarga Pak Tono mengaku hanya beberapa kali melihat kelebatan makhluk astral di sekitar vila, tetapi mereka tidak pernah ditakut-takuti. Kabut kian tebal dan suhu udara makin menurun drastis. Kendatipun sudah mengenakan jaket tebal dan kepala tertutup, tetap saja aku kedinginan. Pak Rohim yang melihatku menggosok-gosokkan kedua telapak tangan, mengajakku pindah ke ruangan kecil yang merupakan tempatnya beristirahat yang letaknya tepat di samping kiri garasi. Kami melanjutkan pembicaraan sambil menikmati cangkir kopi kedua. Sekali-sekali aku memindai sekitar, dan menuruti intuisi kali ini aku memandangi pohon jambu air di bagian atas. Tatapanku bersirobok dengan sepasang mata beriris biru di salah satu dahan tinggi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD