Chapter 11: Kehadiran Adya

1686 Words
Dira POV Setelah entah berapa lamanya Dira berada di kamar mandi, mencuci mukanya berulang kali untuk menghilangkan rasa mualnya, dan memuntahkan sedikit makan malamnya, sembari menangis hingga matanya sembap, Ia akhirnya keluar dari kamar mandi. Melihat Tristan langsung setelah sekian lama berusaha mengubur kejadian memilukan itu cukup membuatnya shock, tetapi Dira sudah puas menangis dan sekarang hanya ingin kembali ke kamarnya untuk tidur. Dira melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 00.15, yang berarti sudah hampir 15 menit ia menyendiri di kamar mandi depan ballroom. “Dira?” Suara Adya mengagetkannya. Dari dalam ballroom masih terdengar Tristan menyanyikan salah satu lagunya yang terkenal, dan suara gemuruh penonton yang masih bertepuk tangan semangat menandai acara masih lama berlangsung.  “Mas Adya? Kok disini?” Tanya Dira pada Adya. Adya hanya diam lalu menyerahkan sapu tangannya, memberi isyarat pada Dira untuk mengelap wajahnya yang masih sedikit basah. “Jangan mas, ini sapu tangan mahal, nanti kotor kalau saya pakai,” Tolak Dira. “Sudah, pakai saja, nanti kamu masuk angin kalau wajahnya dibiarkan basah begitu.” Adya memaksanya. Dira menyerah, lalu mengusapkan sapu tangan bermerek itu ke wajahnya. Sapu tangan berwarna cokelat itu langsung bernoda terkena sisa bedak dan lipstick Dira, tapi Adya sama sekali tidak terlihat keberatan.  “Tadi kamu buru-buru keluar dan lama banget di kamar mandi, aku khawatir ada apa-apa.”  Lanjut Adya. Dira kaget, tidak menyangka Adya akan memperhatikannya. Padahal dia sudah berusaha agar keluarganya tidak ada yang sadar kalau dia tadi benar-benar shock saat Tristan muncul. Baik Lisa maupun Diro tidak ada yang tahu soal pelecehan yang dilakukan Tristan kepadanya empat tahun lalu. Dira sengaja tidak cerita pada siapapun selain pada bu Jovanka waktu itu, ia tidak sanggup harus me-reka ulang peristiwa itu dan karena ia merasa kejadian itu salahnya juga, yang memaksa pergi ke apartemen Tristan sendirian agar kerjaannya cepat selesai. “Mas..” Dira ingin menolak saat Adya tiba-tiba memasangkan jas coklatnya di pundaknya, tapi langsung dipotong oleh Adya. “Pakai Dir, di luar dingin.” “Tapi, saya gak enak, ini jas mahal, nanti kalau kotor bagaimana…” “Dir…” suara Adya terdengar memohon, seperti putus asa dengan Dira yang keras kepala. “Tolong, dipakai saja.”  “Terima kasih mas, maaf saya merepotkan.” Ucap Dira, lagi-lagi menyerah. Adya hanya diam. Ekspresi wajahnya masih terlihat khawatir. “Kamu pasti capek kan. Ayo, kita balik ke kamar.” “Mas ngga mau nonton lagi ke dalam? Acaranya kan masih lama.” Tanya Dira. Adya menggeleng. “Sudah malam, waktunya istirahat. Yuk.” Ajaknya lagi. Dira mengangguk lalu berdua mereka berjalan beriringan. Lobi hotel tampak sepi karena tamu hotel merayakan malam tahun baru dengan berkumpul di ballroom dan di restoran luar. Saat mereka keluar dari gedung utama, angin laut kencang berhembus, membuat Dira agak bergidik lalu merapatkan jas yang dipakaikan Adya. Dalam hati Dira bersyukur memakai jas Adya, bajunya yang agak basah dan rambut serta wajahnya yang masih lembap membuatnya merasa lebih kedinginan dari biasanya.  Di sampingnya, Adya berjalan dalam diam. Suasana jalan setapak menuju cottage sea view kamar mereka cukup sepi, tapi diterangi lampu-lampu taman. Di langit, bulan bersinar terang. Hanya terdengar suara jangkrik dan deburan ombak pasang di kejauhan. “Mas..” Dira memecah keheningan. “Ya?” “Terima kasih, sudah tidak bertanya tadi saya kenapa.” Ucap Dira, sambil menunduk melihat sepatunya. Sejujurnya ia malu pada Adya, dia dan Adya baru kenal resmi hari ini tapi Adya sudah melihatnya dengan keadaan kacau. Rasanya image professional dan riang yang ia bangun menjadi runtuh.  Meski begitu, di sisi lain ia cukup senang bukan Lisa tadi yang bertemu dengannya saat ia keluar dari kamar mandi dengan keadaan mata yang sembap,  muka pucat dan rambut serta gaun awut-awutan. Bisa dibayangkan jutaan pertanyaan Lisa nanti saat mengetahui kondisinya, dan dia tak akan berhenti hingga tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Dira. Belum lagi ketika Lisa dan juga Diro, tahu apa yang diperbuat Tristan empat tahun lalu, mungkin mereka akan mengobrak abrik panggung seketika. “Aku cuma bersyukur, kamu tidak apa-apa.” Jawab Adya pelan. “Aku tidak berhak memaksamu cerita mengenai hal pribadi, apalagi kita baru kenal.”  Tuturnya lagi. Dira terdiam. “Tapi.. aku siap mendengarkan kapanpun kamu mau cerita, soal apapun. Mungkin aku tidak bisa banyak membantu, tapi yang penting, aku akan berusaha jadi pendengar yang baik.” Ntah kenapa, kata-kata Adya yang tulus membuat Dira menitikkan air mata. “Terima kasih, mas.” Ucapnya dengan suara yang bergetar. Wajah Adya langsung pucat. “Maaf! Maaf ya, aku memang kadang suka salah bicara,” ucapnya panik saat melihat air mata Dira kembali mengalir. Dira menggeleng cepat. “Ngga, mas Adya ngga salah bicara. saya seneng malah. Duh maaf, saya lagi mellow banget ya hari ini,” Dira mengibaskan kedua tangannya lalu menghapus air matanya. “Terima kasih banyak ya mas.” Dira tertawa kecil, membuat Adya ikut tersenyum juga. Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan cottage. “Mas Adya besok sarapan jam berapa?” Tanya Dira. Ntah kenapa Dira ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Adya, padahal biasanya dia tidak keberatan melakukan apa-apa sendirian. “Mm, mungkin pagi jam setengah 7. Mau bareng? Kamu mau jam berapa?” “Jam setengah tujuh oke tuh. Yang lain kurasa bakal telat sarapannya, jam segini juga belum pada balik ke kamar.” Jawab Dira. Adya mengangguk. “Oke, istirahat ya. See you tomorrow,” Adya melambaikan tangannya, lalu berjalan ke arah kamar cottagenya yang ada di seberang kamar Dira. “Mas!” Panggil Dira mendadak, membuat Adya menoleh kembali padanya.  “Jas dan sapu tangannya saya laundry dulu ya, nanti saya kembalikan setelah bersih.” “Tidak perlu repot-repot, Dir. Kamu simpan juga tidak apa-apa, lumayan hangat itu jasnya,” Adya nyengir. “Ah mas ini bercanda melulu deh.” Dira terkekeh, lalu membuka pintu kamarnya. “Ya udah, see you tomorrow!” ia melambaikan tangannya pada Adya. Adya POV Adya menutup pintu kamarnya lalu langsung menuju kamar mandi. Sambil membiarkan shower mengalir, dia teringat wajah Dira yang pucat dan muram saat keluar dari kamar mandi. Hatinya masih sedih membayangkan kondisi Dira tadi. Adya bisa merasa kalau keadaan Dira ada hubungannya dengan Tristan, tapi dia tidak sampai hati memaksa Dira cerita. “Lagipula, siapa gue.” Rutuk Adya dalam hati. Apapun yang telah terjadi, Adya hanya berharap kehadirannya tadi bisa sedikit memperbaiki perasaan Dira. Dira POV Pagi harinya.. Setelah tidur yang nyenyak dan berendam di bath tub paginya, perasaan Dira pagi ini sungguh ceria. Dia bertekad ingin mengawali tahunnya dengan bersikap positif. Kemunculan Tristan tadi malam tidak akan ia biarkan merusak awal tahun dan mengganggu liburannya. “Pagi Mas!” Dira melambai semangat saat Adya keluar dari kamarnya, mengenakan celana pendek dan kaos abu serta sandal hotel.  Adya tersenyum. “Pagi-pagi udah semangat ya,” Komentar Adya sembari mereka berjalan beriringan. “Iya dong, hal yang paling saya suka dari menginap di hotel adalah sarapannya, dan menu sarapan disini enak-enak,” jawab Dira, tersenyum lebar. Pagi ini dia merasa kelaparan karena tadi malam lelah menangis dan muntah-muntah, rasanya dia ingin melahap semua menu sarapan. Restoran luar tempat Dira dan Adya sarapan cukup sepi saat mereka tiba. Mayoritas tamu hotel pasti belum bangun karena begadang untuk acara tahun baru tadi malam, jadi hanya 1-2 meja yang terisi. Setelah mengambil menu pertamanya, salad buah dan sayur, dan kopi s**u, Dira memilih meja yang agak di ujung, tidak terlihat banyak orang dan bisa menikmati pemandangan pantai pagi tanpa terganggu. Adya masih mengambil serealnya di buffet sehingga Dira duduk sendirian. Saat baru akan menggigit pepayanya, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya. “Dira?” Suara itu. Dira terdiam. Dia ingat suara itu, tapi ia tidak ingin bereaksi. “Dira kan? Lama banget kita ngga ketemu, kamu makin cantik ya,” Tristan tersenyum lebar lalu duduk di kursi di samping Dira. Ekspresi wajah Dira berubah kaku. Ada apa sih dengan orang ini???? Kok bisa-bisanya masih ingat sama aku, dari sekian banyak cewek yang dia temui, kenapa dia mesti ingat sama aku sih. Dira mengumpat dalam hati. Dia sudah puas menangis tadi malam dan sekarang hanya amarahnya yang tersisa.  Dia bisa menebak akan berpapasan lagi dengan Tristan karena tahu Tristan pasti juga menginap di resort ini, tapi tidak menyangka akan secepat ini. “Kok diam saja sih. Masa kamu lupa sama aku.” Lanjut Tristan, suaranya yang dulu ia anggap ramah kini terdengar palsu bagi Dira, membuat perutnya kembali mual. Dira hanya diam dan memalingkan wajahnya, tidak ingin memandang Tristan. Dira benar-benar heran dengan sikap Tristan yang menyapa Dira dengan santai seperti bertemu teman lama. Sebelum kejadian empat tahun lalu, dia tidak pernah merasa dekat dengan Tristan lebih dari urusan pekerjaan, apalagi Dira telah punya Arya saat itu. Dan Dira mengira setelah kejadian itu, Tristan akan lupa padanya. Jadi Dira heran,  Tristan si penyanyi terkenal dengan belasan juta followers di i********: mengingatnya. Tiba-tiba Tristan memegang pundak Dira, lalu mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hampir menyentuh pipi Dira. “Perlu kuingatkan lagikah? Kita kan masih ada urusan yang belum selesai waktu itu.” Bisiknya di telinga Dira. Dira bergidik, ternyata Tristan masih semengerikan seperti yang ia ingat. Dengan cepat, Dira menarik tangan Tristan dari pundaknya lalu memutar pergelangannya. Akhirnya kelas Taekwondo yang ia ikuti saat baru tiba di Batam ada gunanya juga, tak disangka akan ia gunakan pada orang yang sama yang dulu melecehkannya. Tristan tampak kaget. “Lo,” susah payah Dira menahan amarahnya, “pergi dari depan gue. Sebelum gue bongkar kelakuan busuk lo di depan umum,” ancam Dira. Tapi Tristan malah menyeringai, dan menarik tangan Dira yang menahan pergelangan tangannya kemudian mencium jemarinya. Dira kaget dan langsung berusaha menarik tangannya, tapi lagi-lagi Tristan menahannya.  Tenaganya masih kuat seperti dulu. Lutut Dira mulai lemas. Ini di depan umum dan masih pagi, tapi rasanya Dira makin lemah. “Masih aja jual mahal ya. Ayolah. kamarku di suite nomor 330,” lanjut Tristan santai. Dira masih berusaha menarik tangannya. “Lepas.” Paksa Dira. Tristan menggeleng. “Nope. Janji dulu kamu datang nanti siang,” ucap Tristan sambil memandanginya penuh nafsu. Dira makin lemas, lalu memalingkan wajahnya. Apa yang harus ia lakukan? Orang ini benar-benar gila. Tiba-tiba lengan Dira terasa basah, dan saat Dira sadar, Tristan sudah melepaskan tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD