Di saat melihat orang yang kita sayang merasa lebih baik dan lebih bahagia dari gambaran kita sebelumnya membuat kita merasa lebih bahagia dan lebih tenang dari sebelumnya. Di tambah dengan semua cerita yang pernah ia perbuat dan lakukan selama ini di luar keluarga. Karena pada dasarnya setiap orang wajib memiliki sebuah hal dan penjelasan kenapa ini semua bisa terjadi dan mengapa ini semua bisa di lakukan.
-Arthemis Amythyst Matcha.
"Pulanglah sekarang ke rumahmu jangan pusing dengan Arthemis saat ini. Dia akan aman di tanganku. Jika kamu selalu memikirkan hal yang tidak-tidak maka kamu akan mendapatkan semuanya dengan cara yang setimpal. Dengarkan aku baik-baik ya, dia akan aman saat ini. Karena mereka semua tidak tahu siapa dia sebenarnya, di sini juga akan ada Aetos yang akan menjaganya dengan sepenuh hati. Tenanglah semuanya akan aman dengan kami semua."
"Aku tidak ingin pulang rasanya. Aku ingin menemaninya di sini, izinkan aku menunggu dia. Aku ingin sekali tetap tahu keadaan Arthemis dengan sangat baik, aku juga ingin menjaganya seperti kalian yang menjaganya. Aku mohon izinkan aku agar bisa menjaganya bersama kalian," pinta Healer Siska dengan sangat dalam.
"Maaf, kau harus pulang saat ini. Jika kau menginap di sini otomatis semua orang akan curiga siapa sebenarnya Arthemis ini. Aku sudah menyembunyikan begitu pula dengan Aetos. Jadi, aku mohon padamu kembalilah," ucap Bu Hernyme.
"Tidak, aku masih rindu dengan adik cantikku ini. Aku ingin menemaninya, aku ingin menjadi rumah keluh kesahnya, aku ingin menjadi seseorang pendengar yang baik untuknya. Aku tidak mau kalau ia merasa sedih dan merasa tertekan karena orang lain," jelas Healer Siska.
"Tidak akan terjadi, kau kembalilah. Aku akan menjaganya dengan baik. Selama ini aku sudah menemani banyak orang dengan baik. Jadi, kau tidak usah khawatir tentang hal itu. Aku yang akan selalu menjamin keselamatannya dan kesembuhannya. Kembali ke tempat tugasmu dengan tenang dan aku akan selalu mengabarimu dengan sangat sering tentang kesehatan Arthemis," ujar Bu Hernyme.
"Tapi------"
"Tidak ada kata tapi-tapian. Jika kamu akan melakukan itu semua dan mengotot ingin menjaganya akan membuat semua orang menjadi sangat menderita nantinya. Arthemis akan di ketahui banyak orang tentang siapa dia sebenarnya."
Healer Siska menghela nafas dengan sangat panjang dan menutup matanya dengan sangat pelan. Ia mencoba menetralkan perasaannya dan mengikhlaskan adiknya untuk di jaga oleh orang lain saat ini. "Baiklah aku akan menitipkan semuanya kepada kalian semua. Aku akan mendoakan dia dari jauh, aku titip dia sama anda Bu."
"Tenang saja semuanya aman jika bersamaku kau bisa mengatakan semuanya, kau bisa mengirimkan kabar saja kepadaku agar aku bisa membantu adikmu setiap saat. Aku harap kau tidak bilang tentang semua yang Arthemis alami kepada semua orang. Jika sampai ayah dan ibumu tau kita bisa habis saat ini juga. Aku tak mau kena dampak dari semuanya, begitu pula dengan Aetos. Jika memang kita ingin membalas dendam. Maka kita saja yang jalan mereka jangan," jelas Bu Hernyme.
"Aku paham apa maksudmu. Baiklah aku akan pulang ke rumah untuk menetralkan perasaanku saat ini," ucap Healer Siska dengan sangat berat hati meninggalkan Arthemis.
"Baiklah, kembalilah dengan selamat. Aku akan menjaganya dengan baik di sini. Salam kepada keluarga dan suamimu. Aku menunggu barang khusus yang akan ia berikan padaku kemarin."
"Loh, yang lain sudah di kirim Kak. Kakak belum dapat?" tanya Healer Siska dengan bingung.
Bu Hernyme mengerucut bibirnya dengan kesal dan mendengus dengan sebal. "Aku tidak di kirimkan apapun dari suamimu. Tau lah aku kesal dengan kalian. Mau suami dan istri kalian sama saja," ucap Bu Hernyme dengan sebal.
"Hahahaha, baiklah akan aku sampaikan kekesalanmu padamu saat ini. Sudah tidak usah merajuk seperti ini," ucap Healer Siska dengan tertawa pelan.
"Sudah sana pergi dari sini," usir Bu Hernyme.
"Tunggu, aku ingin bertanya padamu. Siapa lawan Arthemis kemarin?" tanya Healer Siska dengan penasaran.
"Kau harus berjanji untuk tidak kaget dengan apa yang ku ucapkan. Karena ini impossible banget menurut ku," jelas Bu Hernyme dengan sangat santai.
"Emangnya siapa? Tinggal bilang aja ko malahan banyak alasan. Serius dulu," ucap Healer Siska dengan kesal.
"Prince Iznti. Itu lawan Arthemis kemarin, untung saja Aetos berada di sampingnya. Jika tidak, Prince Iznti akan kehilangan nyawanya di tangan Arthemis."
"Serius? Bukannya selama ini Arthemis tidak pernah di ajarkan ilmu seperti itu sama paman dan bibi. Kenapa ia bisa melakukan hal itu? Seharusnya kau melarang mereka bertemu. Kekuatan Arthemis dan Prince Iznti tidak bisa di samakan. Mereka berbeda dan mereka sangat jauh dalam tingkatan kekuatan jika di jadikan seorang lawan. Aku tidak sengaja melihatnya dari kekuatannya saat ini," tanya Healer Siska dengan kaget.
"Itulah yang membuatku kaget. Ia bisa hampir membunuh Prince Iznti. Kamu tahu lah bagaimana kekuatan Prince? Dia sangat kuat, selama ini tidak ada yang bisa mengalahkannya di sekolah ini."
"Tapi, datangnya Arthemis ke sini justru membuatnya kalah di hadapan orang lain. Aku benar-benar tidak mengerti lagi dengan mereka semua kenapa bisa mereka memiliki tingkatan yang berbeda tapi, Arthemis yang memenangkannya."
"Aku merasa tidak enak hati padanya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah sudah baik-baik saja? Apa keadaannya sangat parah?" tanya Healer Siska dengan nada khawatir.
"Prince Iznti justru baik-baik saja. Ia sudah bisa beraktivitas pada biasanya tadi pagi. Sedangkan, Arthemis tidak bisa bangun dan membuka matanya dari pagi. Itulah yang membuatku bingung."
"Dokter juga bilang kalau luka pada mereka berdua tidak ada bekas sama sekali. Padahal selama ini setiap pengobatan yang ia lakukan selalu mengalami bekas luka. Namun mereka berdua tidak," jelas Bu Hernyme.
"Hanya ada satu kemungkinan kalau seperti ini, Arthemis sudah sadar dan menemuinya duluan di ruangan ICU. Dokter saja tidak bisa menebak kapan ia akan sadar kemarin dan pada saat satu malam ia terbangun dan sudah pulih."
"Sekarang Arthemis yang tidak bisa bangun karena kehabisan energi Healernya. Itu bisa menjadi alasan utama untuknya karena tidak bangun saat ini," ucap Healer Siska.
Tak lama kemudian tangan Arthemis bergerak dengan pelan. Ia mulai menetralkan matanya untuk melihat sekitarnya. Bu Hernyme yang melihat Arthemis yang sudah terbangun tersenyum senang.
"Halo Arthemis, bagaimana perasaanmu kali ini?" tanya Bu Hernyme sambil menghampirinya.
"Hernyme, dia baru saja sadar. Kau sudah bertanya seperti itu. Berikan dia minum terlebih dahulu, baru kau tanya dengan gila," cibir Healer Siska.
"Ya maafkan aku. Aku tidak tahu," jawab Bu Hernyme.
"Kau ini, sudah bertahun-tahun di sini masih saja tidak paham dengan itu semua. Lebih baik kau berhenti saja menjadi guru, jika kau tidak bisa memahami orang lain."
"Kau ini banyak bicara. Diam dan pergilah dari sini, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Pulanglah suamimu sudah menunggu," usir Bu Hernyme.
"Kau ini, barang butuh saja aku di cari sampai ke lubang semut. Jika aku sudah tidak di butuhkan kau malah membuang ku saat ini. Kau ini punya hati atau tidak sih!" cibir Healer Siska.
"Abaikan saja dia ya Emys. Kau harus cepat sembuh, Nak. Agar kamu tidak ketinggalan pelajaran. Mau makan apa, Nak?" tanya Bu Hernyme dengan lembut.
Arthemis mencoba bangun dari tidurnya, Healer Siska dengan cekatan membantunya untuk duduk dan bersandar di dinding ruangan ini.
"Apa yang terjadi padaku, Bu?" tanya Arthemis dengan bingung.
"Kau tertidur dengan lama tadi. Sekarang aku sangat bahagia sekali kau sudah terbangun."
"Dia siapa?" tanya Arthemis sambil menunjuk Healer Siska dengan sopan.
"Oh ya, kenalkan dia adalah seorang healer. Dia Healer Siska, dia berasal dari Dyrnatous. Dia yang membantumu tadi," jelas Bu Hernyme.
Arthemis tersenyum dengan manis dan menundukkan kepalanya seraya memberi hormat pada Healer Siska. "Terima kasih sudah membantuku Healer Siska. Aku berhutang budi padamu," ucap Arthemis dengan sangat sopan.
"Aku hanya memintamu untuk jaga diri dengan baik. Jangan sampai kau terluka seperti tadi, jaga kekuatan healermu. Jangan gampang menyembuhkan orang lain, namun kamu yang hampir mati di sini. Lebih baik kau jaga diri baik-baik dan jaga kekuatanmu."
"Apakah aku seorang healer?" tanya Arthemis dengan bingung.
"Tidak, kau bukan seorang healer. Kau hanya memiliki kelebihan seperti Healer. Kau hanya bisa menyembuhkan diri sendiri. Jika ingin menyembuhkan orang lain, kau harus memiliki kekuatan yang lebih. Baru bisa kau menyembuhkannya," jelas Healer Siska.
"Sudahlah, kau bisa kembali ke kerajaan. Sudah banyak yang menunggumu di sana," jelas Bu Hernyme.
"Baiklah aku permisi terlebih dahulu. Aku pulang dulu ya Bu Hernyme dan Arthemis. Salam untuk Princess Acna dan Prince Joseph," ucap Healer Siska dengan tersenyum dengan manis.
Bu Hernyme hanya tersenyum dengan manis dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Arthemis melambaikan tangannya dengan pelan ke arah Healer Siska.
"Kau begitu dekat dengannya, Bu?" tanya Arthemis.
"Iya, dia adalah salah satu Healer yang sangat dekat dan sering membantu dokter yang ada di sini. Ia juga sangat dekat dengan beberapa anak yang ada di sini."
"Bolehkah aku meminta ya untuk mengajariku tentang kehidupan seorang Healer?" tanya Arthemis dengan mantab.
"Kau tenang saja. Nanti ada saatnya kau belajar bersamanya. Aku akan memintanya untuk mengajarimu semuanya. Sekarang tidak usah memikirkan hal itu, kau harus sembuh dahulu baru kau memikirkan hal lainnya."
"Baik Bu," ucap Arthemis.
"Sekarang makan dahulu. Akan ibu suapi kamu," ucap Bu Hernyme dengan lembut.
Bu Hernyme mengambil makanan yang ada di pinggir meja dan menyuapi Arthemis dengan telaten. Ia seperti seorang ibu yang sedang merawat anaknya yang sedang sakit. Air mata Arthemis seketika mengembang di pelupuk matanya saat ini. Bu Hernyme yang melihat Arthemis ingin menangis pun kaget dan panik saat melihatnya.
"Kenapa kau ingin menangis? Apakah ada yang sakit?" tanya Bu Hernyme dengan sangat panik.
Arthemis hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum manis ke arah Bu Hernyme. "Terima kasih, Bu. Terima kasih ibu sudah mau mengurusi aku yang sedang sakit ini. Jujur aku sangat bersyukur sekali bahwa ada orang yang peduli dan baik padaku."
"Emangnya selama ini tidak ada yang mengurusmu saat sakit?" tanya Bu Hernyme dengan bingung.
Arthemis menggelengkan kepalanya dengan pelan dan meneteskan air matanya. Ia mengingat semua apa yang terjadi padanya di bumi. Arthemis yang sadar karena mengeluarkan air matanya langsung menghapusnya dengan sangat kasar.
"Ceritakan semuanya jika kau kuat. Tapi, pendamlah dan keluarkan nanti jika kau sudah siap. Aku akan siap mendengarkan semua cerita dan keluh kesahmu. Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita saat ini. Cukup aku memintamu untuk berbicara suatu saat nanti jika kamu siap," jelas Bu Hernyme dengan lembut.
"Selama ini aku tinggal di bumi bersama orang tua angkatku. Ibu angkat dan semua saudara angkatku selalu menyiksaku dengan kejam. Selama ini, aku sering sakit. Namun, tidak ada yang mengurusku. Justru di saat aku terbaring sakit, aku harus di suruh untuk bangun dan membereskan semuanya."
"Aku di paksa untuk membersihkan rumah, dan melayani apa yang mereka suruh. Jika tidak aku layani dan aku penuhi mereka akan menyiksaku seperti binatang yang tak punya hati."