Malam hari adalah waktu yang tepat untuk melepaskan letih setelah seharian beraktivitas. Tidur dengan nyaman didalam rumah yang hangat. Bersama keluarga tersayang. Namun, hal itu tidak berlaku malam ini.
Di Kerajaan Semanggi, tengah terjadi p*********n secara tiba-tiba dari para penyihir. Dari para pemula hingga para Kaisar mereka turut datang menyerang Kerajaan Semanggi. Kobaran api dan teriakan histeris para elf menyatu malam itu. Kerajaan Semanggi sedang berada diujung kehancuran.
Rumput-rumput dimalan itu telah dikotori oleh tumpahan darah penduduk pribumi-nya. Tak ada jalan keluar. Suasana yang sangat mencekam.
"Fire Ball!!" Ucap para penyihir yang membakar hampir seluruh kerajaan.
"Kaisar! Kami tidak mampu menahan para penyihir itu!" Teriak seorang kepala prajurit yang melapor keadaan menggunakan sebuah miki-miki, alat komunikasi berbentuk cangkang kerang.
Semua pasukan kerajaan bertarung dengan para penyihir. Para selir juga ikut turun ke medan tempur.
"Hai, Nona cantik." Goda seorang penyihir pada Lady Ribbie, selir pertama Kaisar Dompchang. Kaisar yang memimpin Kerajaan Semanggi sekarang.
"Diam kau b*adab!" Teriak Lady Ribbie.
"Ouh main kasar ya? Sayangnya kecantikanmu akan berakhir disini." Tutur si penyihir, lalu mengangkat tangannya ke atas. Bersiap mengeluarkan sihirnya.
"Aru~Fu~Ma!" Telapak tangan penyihir itu mengekuarkan cahaya yang membentuk sebuah pedang besar. Tanpa pikir panjang, pedang itu langsung dilontarkan ke Lady Ribbie. Dan.. Jleb. Pertahanan yang kurang kuat tidak mampu menahan pedang itu. Alhasil, pedang itu menembus tubuh Lady Ribbie dan membuatnya mati seketika.
Perang semakin sengit. Banyak prajurit dan penduduk kerajaan berjatuhan. Sang Kaisar tak kunjung membantu. Entah dimana Kaisar itu bersembunyi, tak ada yang tahu.
•Di tempat lain, didalam sebuah hutan. Seorang laki-laki tengah tertidur pulas didalam goa. Bermodal-kan gulungan dan anyaman daun sebagai bantal dan selimut. Disaat dia tidur, kampung halamannya tengah berada dalam keadaan genting. Dimana semua penduduknya tengah berjuang untuk bertahan hidup.
Kebisingan dan bau asap dari kampung halamannya tidak sampai terdengar bahkan tercium ke dalam hutan tempat laki-laki itu tidur. Sehingga tidurnya tidak terganggu sedikitpun. Nyenyak dan nyaman seperti biasa.
'Ayo cepat sembunyi!'
'Cepat! Sebelum para penyihir itu datang!'
'Ibu!!'
'Cepat bodoh!'
'Cepat!! Pssttt!'
Baru saja dikatakan kalau dia tidur nyenyak. Ternyata salah. Suara berisik sebuah percakapan dari luar terdengar oleh Nathan. Beberapa orang tengah bercakap-cakap didepan mulut goa.
Awalnya Nathan membiarkan suara itu. Ia mencoba kembali memasuki dunia mimpinya yang sempat terusik.
'Ayah!!'
'AYO CEPAT!!'
'CEPAT BERSEMBUNYI!!'
'huhu~ ibuu'
Sepertinya tidak bisa didiamkan. Dengan perasaan kesal Nathan bangun dari tidurnya. Berjalan gontai mendekati asal suara.
Para pembuat kebisingan tadi tengah berkumpul didepan goa. Duduk melingkar memeluk lututnya seperti orang yang dilanda ketakutan.
"Ada apa ini?" Batin Nathan.
Orang-orang ini nampak aneh, mereka terlihat begitu ketakukan, anak-anak mereka menangis tanpa suara.
Karena diberi sihir pelindung, goa Nathan jadi tak terlihat. Itulah alasan mengapa mereka berkumpul didepan goa. Mereka tidak menyadari ada goa disana.
"Permisi?" Ucap Nathan yang membuat sekelompok orang itu terlonjak kaget setengah mati.
Mereka semua langsung menatap Nathan. Beberapa memegang s*****a yang siap digunakan kapan-pun jika Nathan bersikap aneh.
"Tunggu, ada apa ini? Seharusnya kalian berada di desa." tutur Nathan.
Mendengar kata desa, membuat mereka sedih. Mengingat kampung halaman yang telah hancur lebur oleh para penyihir.
"Desa kami hancur, Kerajaan Semanggi sudah hancur." Lirih seorang remaja laki-laki yang berusaha menyeka air matanya yang terus menetes.
"Tunggu, maksudmu?" Nathan bertanya karena dia belum mengerti. Tidak, dia berharap ini mimpi.
"Aku tak tahu jam berapa p*********n itu dimulai, aku masih tertidur lelap tadi. Lalu aku mencium bau asap dan mulai batuk-batuk sesak nafas. Saat aku membuka mataku, kilat-kilat kobaran api terlihat dari jendela. Diluar, begitu mencekam. Aku bangkit dan berlari tak tentu arah hingga bisa sampai kesini dan bertemu mereka." Jelas laki-laki itu.
"Memangnya para prajurit kerajaan kemana? Kaisar tidak menolong?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Nathan langsung membuat ekspresi wajah mereka berubah.
"Aku tak tahu."
"Baiklah, ayo masuk saja, aku tak tega melihat kalian." Ujar Nathan lalu berjalan duluan memasuki rumahnya.
Awalnya mereka tak percaya pada Nathan. Namun, dinginnya malam memaksa mereka untuk masuk ke dalam goa aneh itu. Semuanya melangkah masuk. Anak-anak duluan dan para orang tua terakhir.
Saat menapak diinti goa ini, semua orang itu nampak terkagum-kagum melihat isinya. Bukan ruang gelap yang diterangi oleh api unggun, melainkan ruang yang isinya seperti rumah mewah. Ada makanan, tempat tidur, cahaya dari lampu, eh? Lampu?
"Anu.. Tuan, bagaimana lampu bisa menyala didalam sebuah goa?" tanya seorang remaja Laki-laki.
"Haha, maaf jika ini semua membuat kalian bingung. Tapi semua yang lihat disini adalah hasil dari sihirku." Jelas Nathan.
"Tadinya hanya ada satu tempat tidur. Tapi, kedatangan kalian membuatku harus mempersempit ruangan ini." Keluh Nathan dengan sedikit sindiran. Tentu saja itu hanya becanda.
"Anu.. Tuan,"
"Hahaha, santai saja, aku hanya bergurau. Kalian boleh menganggap ini rumah sendiri." Ucap Nathan, lalu mempersilahkan para tamu-nya untuk beristirahat. Sementara ia dan beberapa tamu wanita memasak makanan.
***
Ditempat lain, jauh diluar hutan. Sebuah kerajaan masih sibuk mengurusi para musuh yang menyerang. Suasana begitu panas, tak ada celah untuk memukul mundur para penyihir.
"Sudah tak ada jalan! Kita akan mati!" Teriak seorang penduduk desa sambil berlari tunggang langgang mencari tempat sembunyi yang entah dimana bagusnya.
"Lari! Ayo lari ke hutan!" Seru seorang penduduk yang membawa golok ditangannya.
Orang-orang yang mendengar seruan itu langsung mengikuti arahan. Mereka berlari secepat mungkin, masuk kedalam hutan. Kegelapan dihutan tak semenakutkan cahaya api yang berkobar di Desa mereka.
Belasan dari puluhan penduduk berhasil menapak, menginjakkan kaki kedalam hutan. Berlari ke dalam, bersembunyi didalam kegelapan. Berharap gelapnya hutan dan malam tanpa rembulan ini bisa menyelamatkan nyawa mereka.
Sebelum genap 20 orang, sebuah bola api datang dari atas. Membakar jalanan yang akan mereka lewati. Beberapa orang penyihir datang dengan menaiki sapu terbang. Berjubah hitam dan mengeluarkan sebuah bola api dari telapak tangannya.
"Mau kemana kalian?" Tanya salah seorang penyihir.
Orang-orang yang berstatus sebagai penduduk itu hanya diam mematung. Sudah tak ada jalan keluar. Mereka akan mati disini. Tak ada celah untuk berlari. Mungkin, jika mereka bergerak selangkah saja, bola api itu akan membakar tubuh mereka.
"Santai saja, kalian tak perlu takut." Ujar salah satu penyihir. Suaranya terdengar seperti seorang wanita.
"A-apa mau kalian? Bi-biarkan kami lewat! Ka-kami ma-masih ingin hidup! Tolong kasihani kami." Pinta seorang penduduk yang memegang golok ditangannya. Ternyata dia belum masuk kedalam hutan.
Penyihir itu turun dari sapu terbangnya. Mendekati kelompok elf dihadapannya yang semakin mundur ketika ia mendekat.
"Dengar, kami disini bukan tanpa alasan. Kami akan membebaskan kalian, tapi dengan syarat." Penyihir itu mencoba menenangkan para penduduk yang ketakukan.
"Kami ingin-"
SRATT!!
"Arrrghhhh!!!!" Teriak penyihir itu ketika sebuah pisau menggores kulitnya yang mulus.
"Elf tak tahu diri!"
Para pengikut penyihir wanita itu murka. Sudah baik kedatangan mereka untuk mengajak bernegoisasi, malah luka yang pemimpin mereka dapatkan.
○TBC○