○Desa Carrot

1098 Words
Dari sebagian luas wilayah Kerajaan Semanggi, terdapat satu wilayah yang dihuni oleh elf berdarah putih. Elf darah putih adalah sebutan untuk para elf yang memiliki sihir lemah. Mereka tidak bisa bertarung sendiri. Mereka selalu meminta perlindungan pada elf berdarah biru. Ada empat macam darah elf di Kerajaan Semanggi. Pertama: elf darah putih/white blood adalah elf dengan sihir rendah. Kedua: elf darah biru/blue blood adalah elf dengan sihir satu tingkat lebih tinggi dari white blood. Ketiga: elf darah merahed blood adalah elf dengan sihir dua kali lebih tinggi dari elf blue blood, biasanya mereka dijadikan prajurit kerajaan. Dan keempat: elf darah hitam/ black blood adalah elf dengan sihir paling kuat, mereka adalah anggota keluarga kerajaan. Disini, di Desa Carrot, tempat para elf white blood hidup. Desa ini terletak disebelah barat Kerajaan Semanggi. Dekat dengan hutan. Desa Carrot adalah tempat Nathan dilahirkan dan dibesarkan. Namun, meskipun Nathan tinggal dikerumunan elf white blood, Anak itu sebenarnya memiliki darah merah. Hanya saja orang tuanya merahasiakan itu agar si Anak tidak dipisahkan dengan orang tua-nya. Desa Carrot adalah desa yang damai. Tidak, seluruh penjuru kerajaan adalah tempat yang damai. Kami hanya dibedakan oleh ras. Jika soal berteman, semua elf selalu akur. Semuanya ramah terhadap sesama rakyat kerajaan. Nathan memiliki banyak teman, salah satunya adalah Emma dan Grizzly. Dari sekian banyak teman Nathan, hanya mereka berdua-lah yang terbaik. Baik disaat susah maupun senang, mereka selalu ada di sisi Nathan. Selalu mendukung Nathan dikala ia mendapat musibah. Hari ini, Desa Carrot nampak sibuk mempersiapkan segala macam dekorasi untuk menyambut perayaan tahunan di Kerajaan Semanggi. Seluruh penduduk desa sibuk menata hiasan disetiap rumah dan disepanjang jalan menuju Kerajaan. "Semoga perayaan kali ini juga tidak ada masalah," ucap Emma sambil memasang lampion-lampion kecil disetiap sudut ruangan ini. Ruangan dirumahku yang biasa kami pakai untuk berkumpul. "Semoga saja, aku juga berharap begitu," sahut Grizzly yang sedang memakan camilan. Tunggu, apa? Camilan? "Hey Grizzly! Kau itu hanya makan saja dari tadi! Tolong bantu kami sedikit saja bisa tidak?" aku menegur Grizzly, kesal rasanya jika salah satu dari kami tidak ikut merasakan lelah. "Kau ini, iya iya aku bantu! Sini, mana yang harus ditempel?" Grizzly kesal. "Tidak perlu, sudah selesai," kata Emma sambil menepuk-nepuk bajunya yang berdebu. Grizzly kembali duduk, menyantap camilannya. Entah sudah berapa bungkus dia habiskan selama aku dan Emma bekerja. Perutnya itu, kapan kenyangnya? "Ayo kita lihat persiapan diluar!" ajakku pada kedua temanku. Mereka mengangguk, lalu mengikuti langkah ku dari belakang. Mengikutiku bagai ekor ular haha. "Woaahh cantik sekali!" Emma berseru, kagum melihat indahnya cahaya lampur warna warni disetiap penjuru Desa. Kami bertiga berjalan menyusuri setiap jalan di Desa, semuanya begitu terang dan berwarna! Sudah malam, tinggal menunggu kembang api dinyalakan oleh anggota kerajaan maka pesta perayaan bisa dimulai. Piw... Dor! Suara tembakan pertama kembang api! Akhirnya pesta bisa dimulai! Orang-orang bersorak ria lalu mulai memainkan musik, berdansa, makan, dan hal lainnya. "Ayo berdansa bersamaku Nathan!" ajak Emma padaku diiringi senyumnya yang manis. "Baiklah," sahut-ku lalu meraih tangan Emma dan mulai berdansa dibawah cahaya lampu dan terangnya rembulan, diiringi oleh alunan musik melodis yang membuat malam ini begitu menyenangkan. Kebahagiaan terpancar dari manik setiap orang yang aku lihat, begitu juga dengan Emma. Semua orang menikmati malam ini. Emma begitu lihai berdansa, berbeda denganku yang sedikit kaku-kaku. Piw.. blarrr! Ditengah kebahagiaan semua orang, tiba-tiba tercium bau terbakar. Semua orang melihat ke arah rumah yang atapnya sedang dilahap kobaran api. Semuanya panik, melihat kumpulan orang berjubah hitam terbang menaiki sapu lidi. Para penyihir itu menembakkan bola api ke sembarang arah. Semua orang berlari ketakutan mencari tempat berlindung. "Tolong!! Ada penyihir tolong!!" Orang-orang berteriak ketakutan, berlari tak tentu arah, aku tidak terlalu panik. Hanya Emma yang terus menarikku berlari. Lambat! Aku langsung menggendong Emma ala bridal style, karena aku laki-laki, aku berlari lebih cepat dari Emma. "Pegangan!" titah-ku pada Emma. Emma mengalungkan tangannya dileherku. Aku berlari mencari tempat bersembunyi. Sedangkan para penyihir itu terus menembakkan bola api, membakar desa ini. "Kesini!" teriak seseorang yang berdri disamping sebuah gerobak yang ditarik oleh seekor kuda. Tidak hanya satu gerobak, banyak gerobak lain yang akan membawa para elf di Desa Carrot. Orang-orang berlari. Para elf blue blood berdatangan. Elf blue blood bertarung dengan kumpulan penyihir. "Jangan berebut! Semuanya akan terbawa!" ujar orang tadi. "Emma, kau tunggu disini! Nanti aku akan menyusul!" titah-ku pada Emma. "Tapi? Kau mau kemana?" tanya Emma, nampaknya dia khawatir padaku. "Aku janji aku tak akan lama, ada hal yang tertinggal disana," kata-ku sambil menunjuk desa yang sedang dilahap kobaran api. "Ta-tapi-" "Aku akan menyusul, Emma, Grizzly juga, tolong jaga Emma," tutur-ku, lalu menatap Grizzly. "Baiklah, jaga dirimu Nathan," sahut Grizzly. Lalu mereka menjalankan gerobaknya, meninggalkan ku disini. Tanpa pikir panjang, aku berlari ke dalam desa yang tengah dibakar itu. Elf blue blood nampak kelelahan. Tapi bala bantuan belum juga datang. "Bunyikan terompet!!" titah seorang elf blue blood dihadapanku pada temannya. Tuuuuuuuuttttt truuuutututttuttt Terompet ditiup dua kali, menandakan ras elf blue blood meminta bala bantuan pada kerajaan. Pasukan elf blue blood mulai kelelahan, mereka berjatuhan satu persatu. Bala bantuan belum datang! Tunggu, kenapa aku menonton? Bodoh! Harusnya aku ikut bertarung! Shadow's katana! Aku mengeluarkan pedang bayanganku, berlari menuju para elf blue blood, membantu mereka. Semoga. Aku melompat dan menyerang dengan lincah, pedangku berhasil melukai beberapa penyihir. "Siapa anak itu?" tanya seseorang. Tak peduli, aku terus menyerang kawanan penyihir itu. Mereka mulai berjatuhan, para elf blue blood menyerang mereka yang berjatuhan. Biarlah mereka tahu darahku, aku tidak perlu menyembunyikannya lagi. "AAAAAAAAAAH!!!! NATHAN!!!!" Teriakan Emma! Tidak! Aku menoleh ke belakang. Blarrrrr! Gerobak yang menarik para penduduk Desa terbakar. Semuanya terbakar! "Emma!!!!" aku berteriak, berbalik ke belakang mengejar Emma, berharap dia masih hidup. "Jangan pergi kau bocah!" ucap seorang penyihir dibelakangku. Fire Ball!! Penyihir itu menembakku dengan bola api-nya. "Awh!" s**l, aku terkena serangannya! Tidak peduli, aku harus cepat ke tempat Emma! "Paman! Tolong halangi dia, aku akan melihat peduduk apakah masi hidup atau tidak!" titah-ku pada elf blue blood disampingku. Tanpa menunggu jawaban aku langsung berlari. "Emma!!" aku berteriak kencang melihat gaun Emma dan Grizzly yang mulai terbakar. "Tidak! Emma! Grizzly! Lihat aku!" aku menepuk-nepuk pipi kedua sahabatku. Grizzly tak bergeming. Emma mulai membuka matanya yang terpejam. "Nathan.." "Emma!? Kau masih hidup?" aku bersyukur Emma selamat. "Aku.. sudah lama menyukaimu.. tapi.. sepertinya.. kita berpisah disini.." ucap Emma dengan suaranya yang Lemas. "Tidak Emma! Jangan berbicara seperti itu!" "Terimakasih." Mata Emma kembali menutup. "Emma!!!!!!!" Aku berteriak histeris. Menangis tersedu-sedu meratapi kepergian Emma dan Grizzly. "Emma.. Grizzly.." lirihku. Aku melepaskan Emma dari pangkuanku. Aku menatap ke arah Desa yang akan hangus terbakar. "Penyihir s****n!" Umpatku penuh kekesalan. Aku berlari dengan menyeka air mata yang terus keluar. Aku akan membalas kematian sahabatku! ○TBC○
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD