9. Terpesona

1024 Words
Simi yang baru saja mendapatkan sepeda baru dari Remix ingin sekali mencoba sepeda barunya ini, gadis itu akhirnya menaiki sepedanya dan menjalankannya menuju rumah Jayanti. Niatnya ia ingin mengajak Jayanti main dan sedikit pamer dengan apa yang didapatkannya pada saat ini, dengan menaiki sepedanya, Simi berhenti tepat di depan rumah Jayanti. "Jaya! Main, yuk!" teriak Simi dari depan rumah Jayanti. "Jaya!" teriak Simi lagi ketika tak ada respon dari Jayanti. "Jayantul!" teriak Simi lagi. "Apaan sih lo, Sim? Teriak-teriak kagak jelas. Ganggu orang lagi tidur aja lo," ujar Jayanti sambil keluar dari rumahnya. Penampilan Jayanti saat ini sangat berantakan karena memang ia baru saja bangun tidur setelah semalaman menyelesaikan deadline ceritanya. "Baru bangun lo? Gíla lo, Jay!" ujar Simi. "Niatnya hari ini gue seharian mau tidur, semalam gue nggak tidur karena kejar target." Tak mau dikatakan orang yang sangat pemalas, Jayanti langsung menjelaskan. "Jangan tidur dong, mendingan kita main hari ini." Simi memang teman laknat tak berperasaan, bisa-bisanya ia tetap mengajak Jayanti pergi di saat dirinya tahu kalau Jayanti saat ini butuh istirahat. "Males ah, lo pergi aja sendiri. Gue capek," ujar Jayanti berniat kembali masuk ke dalam rumahnya. "Eh, Jay! Tunggu bentar dong. Jangan langsung masuk aja, lo nggak lihat kalau hari ini ada yang beda dari gue?" Simi kembali menahan Jayanti membuat gadis itu menatap Simi dengan malas. "Apaan? Paling lo mau pamer kalau baju lo baru lagi?" Jayanti membalikkan tubuhnya dan menatap Simi dengan seksama, hingga ketika ia melihat ke bawah Simi, matanya membelalak. "Sepeda baru!?" tanya Jayanti tak percaya. Simi mengangguk seraya tersenyum. "Coba lo tebak, ini sepeda pemberian dari siapa," ujar Simi. "Emak lo yang beliin?" Simi menggeleng. "Emak gue nggak mungkin beliin gue ini sepeda, lo nggak lihat kalau sepeda ini beda dari sepeda gue yang rusak?" Mendengar perkataan Simi membuat Jayanti langsung menghampiri Simi agar ia bisa memperhatikan sepeda itu lebih dekat. "Woah, bagus banget sepedanya. Gaji gue setahun dari nulis aja belum tentu bisa kebeli sepeda ini, orang baik mana yang ngasih sepeda mahal ini ke lo?" tanya Jayanti masih terpukau dengan sepeda Simi. "Yang ngasih gue ini sepeda, calon jodoh gue dong," jawab Simi dengan senyum lebar. "Hah!?" "Lo jangan ngibulin gue deh, Sim, nggak mungkin CEO gue yang ngasih sepeda ini ke lo. Dalam rangka apaan coba dia?" Jayanti jelas saja tak langsung percaya dengan perkataan Simi. "Nyebelin lo, Jay, lo sama kayak emak gue dan kakak gue. Dia juga bilang hal yang sama pas gue ngasih tahu ini." "Ya gimana gue nggak merasa ragu kalau orangnya adalah lo, lo 'kan banyak ngehalu gara-gara baca novel yang gue tulis. Bisa jadi nih lo lagi ngehalu." Simi berdecak kesal mendengarnya, sehina itukah dirinya? Benar-benar teman yang menyebalkan. "Lo ingat nggak sama cerita gue tentang gimana sepeda gue rusak?" Jayanti mengangguk. "Nah itu tuh karena ulahnya calon jodoh gue, dia nggak sengaja nabrak gue dari belakang. Yang bawa gue ke rumah sakit itu dia, terus tadi pagi tiba-tiba ada kurir yang nganterin sepeda ini. Ada surat yang bilang kalau sepeda ini buat ganti rugi sepeda gue yang rusak, siapa lagi coba yang tahu tentang rusaknya sepeda gue? Cuma dia doang. Lo kalau nggak percaya, bisa lihat sendiri nih suratnya. Gue masih bawa," ujar Simi sambil memberikan kertas surat itu pada sang sahabat. Jayanti menerima surat itu, ia terperangah ketika kata-kata yang diucapkan Simi adalah benar. "Gíla! Lo keren, Sim, sekarang ini lo selangkah lebih dekat sama jodoh lo," ujar Jayanti. Simi yang mendengar pujian itu merasa bangga dengan dirinya sendiri. "Makanya itu, untuk ngerayainnya ayo kita ke kafe, Jay. Pesta-pesta kecil gitu, ngemil sambil minum," ujar Simi. "Kayak lo aja yang mau neraktir, palingan juga lo nyuruh gue yang bayar," sindir Jayanti membuat Simi menyengir. "Hehehe, tahu aja deh lo, Jay. Ayo dong, lo 'kan udah banyak duit. Nggak ada salahnya 'kan neraktir gue yang pengacara ini," ujar Simi berusaha membujuk Simi. "Huh, ya udah deh gue siap-siap dulu." "Asyik, makasih, Jaya! Gue tunggu di rumah ya!" teriak Simi kemudian menjalankan sepedanya kembali menuju rumah. "Dasar tuh anak." Jayanti memasuki rumahnya untuk bersiap-siap. Setelah siap, Jayanti berjalan menuju rumah Simi yang berjarak beberapa rumah dari rumahnya. Ia tidak akan menaiki sepedanya karena kafe yang biasanya sering mereka kunjungi itu cukup jauh dan bahkan hampir dekat dengan kantor perusahaan tempatnya mendapatkan gaji. "Sim, ayo!" ajak Jayanti pada Simi yang duduk di kursi teras rumahnya. "Mak, Simi sama Jaya mau nongkrong ya, Mak. Jangan cariin Simi!" ujar Simi berteriak kencang dari luar rumahnya agar emaknya yang berada di dalam rumah bisa mendengar. "Jangan lama-lama tapi! Nanti kalau Emak butuh kamu gimana!?" Emak Meriam balas berteriak. "Nanti Emak bisa minta bantuan Kak As aja, Mak. Udah ya, Mak, Simi sama Jaya berangkat. Assalamualaikum!" "Waalaikumsalam!" "Jaya, ayo!" Simi berjalan lebih dulu mendahului Jayanti. "Nggak masuk dulu nih, Sim? Biar pamit langsung sama emak lo." "Nggak perlu, emak gue lagi sibuk di dalam. Yang ada nanti kita dipaksa bantuin, lagian tadi gue udah pamit," ujar Simi. Jayanti hanya mengangguk,. keduanya berjalan menuju jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Setelah naik angkutan umum kurang lebih tiga puluh menit, Simi dan Jayanti akhirnya sampai di sebuah kafe yang berjarak tak terlalu jauh dari perusahaan milik Remix. Keduanya langsung memasuki area kafe yang saat ini cukup ramai karena ada banyak beberapa pegawai kantor yang ke sini untuk sarapan. "Rame banget hari ini, Jay, untungnya kita masih kebagian tempat duduk," ujar Simi pada Jayanti. "Iya lo benar." Jayanti mengangguk. Mata Simi mengedar untuk melihat setiap sudut kafe, hingga ketika matanya menoleh ke arah pintu masuk, bertepatan itu juga Remix memasuki area kafe. "Jaya! Calon laki gue itu," Simi memekik tertahan sambil menggoncangkan tubuh Jayanti hingga membuat Jayanti sedikit pusing. "Apaan sih lo, Sim!?" Jayanti menepis tangan Simi. Ia melihat ke arah Simi yang masih terpukau dengan keberadaan Remix, gadis itu menoleh ke arah apa yang Simi lihat. Pantas saja sikap Simi seperti itu, ternyata ada seseorang yang menjadi gebetannya. Sedangkan Simi sendiri merasa terpesona dengan penampilan Remix saat ini, pria itu terlihat tampan, selalu tampan dengan penampilannya yang rapi itu. Keberadaan Remix meluluhlantakkan hatinya sampai lumer tak terbentuk. Sungguh, saat ini Simi ingin sekali berlari menghampiri Remix kemudian memeluk pria itu begitu erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD